Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 181 - Jawaban Penantian


__ADS_3

Rayn dan Lusia akan kembali ke apartemen dengan bersepeda lagi, Keduanya pergi mendapatkan sepeda mereka kembali, namun disana sudah ada Mickey yang menunggunya. "Cuaca yang sangat bagus untuk bersepeda" ucap Mickey.


Mickey yang baru saja tiba langsung menemui mereka langsung dari bandara. "Mari kita kembali dengan mobil" ucap Mickey membukakan pintu mobil yang di kemudikan Arka untuk Rayn dan Lusia.


Tanpa banyak kata Rayn mempersilahkan Lusia untuk masuk lalu diikuti Rayn yang duduk disebelah Lusia, sementara Mickey duduk di kursi depan. "Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Rayn langsung pada intinya.


"Memang apa yang terjadi? Aku hanya merindukan kalian" balas canda Mickey dengan tersenyum.


Namun sayangnya Rayn sangat serius, ia menatap ke arah depan dengan tatapan tajam dan tegas. Tatapan yang terlihat jelas pada spion depan. "Kau kembali lebih cepat dari waktu yang perlukan untuk mengurus lelang. Kau mengatur pengawalan ketat tapi mengkonfirmasinya melalui Lusia. Dan juga Yayasan, kau orang yang memberi perintah untuk mengnonaktifkan kegiatan, bukan ayahku. Apa aku salah?" tanya Rayn.


"Jangan khawatir, aku akan membereskannya" sahut Mickey.


Lusia terdiam mendengar pembicaraan mereka. Ia tidak menyangka jika Rayn sudah mencurigai semua namun terlihta tetap tenang seolah tidak tahu apa yang terjadi. "Apa mungkin dia juga tahu soalnya Ayah Mickey?" tanya Lusia dalam hati.


Sesampai di kediaman Anderson, Rayn langsung masuk ke dalam kamarnya diikuti Lusia yang berjalan dibelakanganya. Rayn bahkan mengambaikan sapaan Bibi Adeline dan beberapa staf lain.


"Rayn..." panggil Lusia usai menutup pintu kamar.


Rayn menghentikan langkahnya lalu berbalik meoleh memandang Lusia yang menatapnya. "Aku tidak akan bertanya apa kau juga terlibat dengan urusan Mickey atau kau sungguh tidak tahu. Aku tidak akan bertanya. Bahkan, tentang apa itu, aku juga tidak akan bertanya. Aku percaya, kau selalu akan lebih bijak dalam memutuskan sesuatu daripada diriku. Tapi ini akan menjadi peringatan bagi Micky, kedepannya untuk tidak melibatkanmu dalam urusannya dibelakangku. Karena itu membuatku sangat khawatir" ucap Rayn.


"Maafkan aku, aku hanya berpikir jika semua akan baik-baik saja" sahut Lusia.


Rayn menghampiri Lusia lalu memeluknya tanpa kata. Meskipun Rayn memiliki kecurigaan jika sedang terjadi sesuatu, namun dia masih belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tentang Ayah Mickey yang kabur dari penjara, tentang ancaman keselamatan dirinya, Rayn masih belum tahu.


.


.


.


Malam hari Rayn keluar dari kamarnya, ia pergi ke ruang perapian dan melihat tirai teras yang tertiup angin karena pintu kaca yang terbuka. Diluar sana berdiri Mikcey dengan segelas wiski ditangannya. Rayn menghampiri Mickey, ia lalu berdiri disudut dengan jarak yang tidak jauh dari Mikcey.

__ADS_1


Mickey menoleh melihat kehadiran Rayn lalu kembali menatap ke arah puncak pepohonan yang bergoyang karena terpaan angin. Rayn pun menatap arah pepohonan yang sama dengan yang Mikcey pandang saat ini. Mickey kembali meneguk wiksy lalu tersenyum kecil. Ia menghela nafas perlahan dan mengatakan apa yang ada dipikirannya saat ini kepada Rayn.


Miceky tidak menyangka akan datang hari seperti hari ini. "Aku bahkan masing ingat dengan jelas saat di Villa, bagaimana dulu kau selalu berdiri di luar setiap malam, menatap pohon-pohon dengan tatapan seperti itu dengan sebotol wain ditanganmu" ucap Mikcey menghela nafas kasar menatap gelas ditangannya. "Kini aku mengerti" lanjutnya lalu kembali menatap ke depan.


"Apa yang sudah kau mengerti sekarang?" tanya Rayn masih tetap memandang ke arah pepohonan.


"Penantian...." sahut Mickey. "Kau menantikan dimana hari melelahkan itu akan berakhir" lanjutnya.


"Kau menyerah dengan phobia yang kau derita tapi menunggu seseorang akan datang menggenggam tanganmu. Kau benci menjadi boneka bisnis ayahmu, tapi membiarkannya menyeretmu dalam dunia itu. Kau ingin mengakhiri hidupmu, tapi terus berapa ada seseorang yang akan menyelamatkanmu dari tebing kematian itu."


"Ada saat kita tidak mengerti dengan perasaan kita sendiri dan apa yang benar-benar kita benci atau yang kita inginkan. Ada kalanya sesuatu yang selama ini kita percayai bukanlah yang sebenarnya harus kita pertahankan. Terkadang kita berada dalam putusan yang membingungkan, haruskah menyerah atau terus menantikan sesuatu yang tidak pasti. Tapi saat memikirkan hal itu, kita hanya melakukan hal-hal yang bodoh."


Mickey memandang ke arah Rayn. Lusia, bukankah dia adalah jawaban yang mengakhiri semua penantianmu itu? Sudah saat nya kau menjadi dirimu sendiri dan buat dia menjadi bagian dari dirimu itu. Dan bagiku, Lusia.... juga adalah jawaban dari penantianku" ucapnya.


Rayn meraih botol wiski yang ada di meja belakang ia berdiri. Ia meneguk langsung minuman itu dari botol. Rayn menghela nafas lalu bertanya kepada Mickey. "Apa yang kau nantikan?" tanyanya.


"Kebebasanmu...."


"hemmm beban yang sangat berat...." sahut Mikcey lalu tertawa. "Ahh, dan juga aku selalu menantikan kapan kau memanggilku kakak" lanjut ucapnya.


Rayn kembali meneguk wine ditangannya. "Apa kau tahu kenapa aku selalu memiliki banyak alasan menolak untuk memanggilmu kakak ?" tanya Rayn.


Mickey mejawab jika dia tahu. Ia mengatakannya seolah memang benar-benar sudah tahu alasan Rayn. Mickey mengatakan kepada Rayn alasan itu. Saat itu, Mickey mendengar pembicaraan Rayn dan ibunya. Ny. Angelina membujuk Rayn untuk mau menerima dan memanggil Mickey sebagai kakaknya. Rayn menolak saat itu dengan alasan yang begitu bijaksana.


Rayn menganggap Mickey adalah orang yang sangat penting dan juga teman baginya, Ia hanya tidak ingin membebani Mickey. Mengganggapnya sebagai seorang kakak artinya memberi beban baru bagi Mikcey untuk menjaga dan melindunginya. Bagi Rayn sudah cukup bagi keduanya seperti itu , maka mereka akan bisa saling melindungi.


"Dengan alasan itu aku juga aku menolak untuk menjadi bagian dari keluarga Anderson secara hukum. Tapi, sejak saat itu juga aku sudah menjadikan dirimu adikku" ucap Mickey.


Rayn merasa jika mereka telah melewatkan banyak hal hingga terjebak seperti sekarang. "Aku baru menyadari, jika sedari kecil kita sudah saling terlalu banyak berpikir. Seharusnya kita nikmati saja masa itu selayaknya seorang anak diusianya. Tidak perlu bersikap seperti orang dewasa, lakukan saja apa yang ingin kita lakukan, katakan saja semua yang ingin katakan. Bukankah begitu?" jelas Rayn.


Rayn dan Mickey, mungkin mereka terlihat memiliki hubungan yang rumit antara putra korban dan juga putra tersangka. Tapi Mickey sangat menyayangi Ryan layaknya adiknya sendiri, dia begitu setia menjaganya bahkan rela jika harus mempertaruhkan nyawanya demi Rayn. Semua itu dibuktikan dari bagaimana Mickey menjaga dan berada disisi rayn hingga saat ini. Tidak hanya Mickey, begitu juga dengan Rayn.

__ADS_1


"Tapi ada satu hal yang aku benci darimu sekarang" ucap Rayn.


"Apa kau baik-baik saja" tanya Mickey yang melihat Rayn tampak mulai berdiri tidak seimbang.


"Aku benci dan akan sangat membencimu jika terus melibatkan Lusia, ingat itu !!" ucap Rayn mengambil langkah lalu terjatuh.


Rayn mabuk, Mickey heran kenapa sekarang Rayn menjadi sangat lemah dengan minuman alkohol. Mickey menjadi panik karena Rayn yang masih setengah sadar membuatnya tidak berani menyentuh Rayn. Tidak ada pilihan lain, Mickey meninggalkan Rayn untuk memanggil Lusia.


Melihat Lusia yang berdiri didepannya, Rayn langsung memeluknya. "Jangan pernah dekat dengannya, dia pria licik" perintah Rayn kepada Lusia untuk tidak memiliki hubungan dekat dengan Mickey.


"Rayn, kau mabuk" ucap Lusia lalu berusaha membantu Lusia untuk kembali ke kamarnya.


Didalam kamar, Rayn semakin meracau. "Lusia, kau membawaku ke kemar disaar ada dia. Apa kau ingin aku menghangatkanmu?".


Lusia meminta Rayn untuk diam karna itu sangat memalukan. Lusia tersenyum kaku kepada Mickey, ia lalu meminta Mickey untuk membantunya menutup pintu karena ia akan menanganinya sendiri.


"Rayn...." ucap Lusia jatuh diatas tempat tidur bersama Rayn.


Rayn menyentuh perut Lusia. "Teruslah menjadi semakin agresif, karena aku akan membuatnya hadir diantara kita.


Rayn membuka sebagian baju yang menutupi perut Lusia. "A...yahhh.... Ayah akan terus berjuang meciptakanmu didalam sana" ucap Rayn lalu mengecup perut Lusia.


"Raynn...." dessah Lusia merasakan sentuhan dibagian lain.


.


.


.


*** To Be Continued ****

__ADS_1


__ADS_2