Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 167 - Lie


__ADS_3

Hari-hari mulai berlalu....


Rayn tampak serius duduk santai diruang santai sembari menonton tayangan di televisi. Sebuah berita kriminal terkini perihal penangkapan seorang anak pengusaha kaya yang terlibat perdagangan obat terlarang narkotika. Tidak hanya itu, kasus ini menjadi besar karena melibatkan beberapa orang penting negara.


Lusia menghampiri Rayn dengan membawa potonagan buah segar untuk Rayn. Lusia duduk tepat disamping Rayn, ia melihat wajah Rayn yang tampak sangat menikmati tayangan yang ia tonton. "Kau menonton sebuah berita?" tanya Lusia sedikit merasa heran. Karena Rayn biasa hanya menonton tayangan kartun.


Lusia pun akhirnya ikut menyaksikan berita yang sedang diberitakan. Terlihat seorang pria muda dengan tubuh kurus yang sangat menunjukan jika dia seperti seorang penjandu. "Apa dia sungguh hanya seorang pengedar? tapi terlihat jika dia juga seperti seorang pemakai" gumam Lusia.


"Dia yang paling terburuk dari semuanya..." celetuk Rayn dengan nada santai.


Berita itu menampilkan penangkapan terhadap beberapa orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka. Lusia sangat terkejut saat melihat salah satu dari tersangka itu adalah orang yang sangat ia kenal. Rayn mengurai senyum tipis seolah puas saat pria itu mulai disorot.


Jarry, ya pria itu adalah Jarry. Dia ditetapkan menjadi tersangka yang memiliki peran menjual barang haram itu ke beberapa klien yang berasal dari kalangan orang kaya. Bahkan hasil pemeriksaan menyatakan jika Jarry seorang pemakai yang memiliki tingkat kecanduan sangat tinggi.


"Bukankah itu Jarry...?" tanya Lusia untuk meyakinkan dirinya lagi jika pria itu benar adalah Jarry yang baru-baru ini terlibat perkelahian dengan Rayn.


Lusia pun seketika menjadi panik. "Rayn, apa yang harus kita lakukan?" tanya nya serasa menatap ke arah Rayn lalu memandang Arka yang berdiri tidak jauh dari sofa. Rayn tidak mengerti apa yang membuat Lusia menjadi panik tiba-tiba.


Lusia gelisah karena dalam penangkapan itu terlihat wajah Jarry yang masih memiliki berapa lebam akibat pemukulan yang dilakukan Rayn. Apa yang akan terjadi pada Rayn jika selama penyidikan Jarry menceritakan kepada polisi bagaimana ia bisa memiliki wajah mengerikan itu. Bagaimana jika jarry juga melaporakn insiden saat itu. Hal inilah yang mebuat Lusia kahwatir jika Jarry akan membawa Rayn dalam masalah. Lusia bertanya kepada Rayn haruskah dirinya memberitahu Mickey hal ini untuk mengurusnya.


"Apa yang harus ku urus?" tanya seorang pria yang tiba-tiba berbisik ditelinga Lusia.


Lusia sotak terkejut dan Rayn segera meraih pundaknya untuk lebih dekat. Pria itu adalah Mickey, Mickey pun mengerutkan keningnya dengan bibir cemberut melihat reaksi Rayn yang seolah takut istrinya dirampas. Mickey pun langsung meraih potongan buah dan duduk disalah satu sofa kosong.


"Jangan khawatir, setelah aku membuatnya masuk penjara dia tidak akan berani bertindak lebih bodoh. Karena dia tahu, sekali lagi berulah, aku akan membuatnya lebih sengsara lagi dan membusuk disana." lanjut ucap Mickey dengan raut wajah bak seorang psikopat.


Lusia langsung menatap ke arah suaminya. Jika benar yang dikatakan Mickey itu artinya semua yang dilakukan Mickey sudah pasti jelas atas perintah Rayn. Apa mungkin itu alasan kenapa Rayn sangat menikmati berita itu. Karena dia juga menjadi bagian dalam penangkapan itu.


Rayn langsung mematikan televisi, ia meraih garpu ditangan Lusia yang masih tertancap potongan aple dan menyuapkan potongan aple itu ke mulutnya sendiri. "Sampai kapan kau akan membiarkan aple itu tertancap disana" ucap Rayn lalu mengunyahnya. Ia mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Rayn, kenapa aku merasa jika diriku semakin tidak mengenalmu" ucap Lusia dengan wajah serius. "Kau tahu seberapa besar rasa khawatirku terhadap dirimu? Apa semua itu hanya kekhawatiran yang sia-sia?" lanjut tanyanya.


"Bukan tidak mengenalku, tapi belum sepenuhya mengenalku. Meskipun begitu, aku tidak ingin mengakuinya karena aku ingin hanya kau satu-satu oarang yang sangat tahu diriku. Dan aku sedang dalam tahap menunjukkannya kepadamu" sahut Rayn.

__ADS_1


Mickey tersenyum seraya menyandarkan tubuhnya pada punggung sofa untuk lebih santai. "Tapi sayangnya tidak ada yang bisa kau lakukan Lusia, karena sekarang pria misterius ini sudah menjadi suamimu" sahut Mickey.


Mendengar hal itu, Rayn sontak menusukkan garpu pada potongan buah aple dengan kasar lalu mengacungkannya kepada Mickey. "Kau juga mau merasakannya? Aku tidak yakin ini akan semanis harapanmu" potong Rayn.


"Lagi pula ada apa tiba-tiba kau datang kemari?" lanjut tanya Rayn.


Mickey menghela nafas menunjukkan kekecewaannya. "Wah tiba-tiba katamu? Apa sekarang aku dianggap sebagai tamu? Jangan lupa, aku juga sudah tinggal disini bertahu-tahun. Aku pulang bukan datang..!. Lagi pula bagaimana aku bisa tenang, saat aku tidak ada banyak masalah terjadi bahkan setiap pagi aku harus mengompres bawah kepalaku karena memikirkannya.


"Masalah? Kau bicara seolah ingin menyudutkan jika aku tidak bisa menjganya" gumam Lusia


"Saya juga merasa seperti itu Nyonya Lusia" sahut Arka yang merasa seolah dirinya dianggap gagal.


"Wah, aku mencium aroma akan terjadinya pemberontakan" gerutu Mickey.


Mengabaikan hal itu, Lusia kembali fokus dengan permasalahan Rayn. "Tapi Rayn, apa kau benar-benar yang melakukannya? Membuat Jarry masuk penjara dan juga bagaimana kau bisa tahu jika dia terlibat narkoba?" tanya Lusia.


Dengan santai Rayn menjawab" Secara tidak langsung dia sendiri yang memberitahuku, aku hanya menebak tapi ternyata dugaan ku benar" hanya itu


Lusia merasa jika semua ini seperti palsu, Rayn, Mickey, Arka, bukankah mereka orang yang selalu bersama dan aku seperti hanya tokoh baru diantara mereka.


Jarry dan temannya kerap mengadakan pesta narkoba, tidak hanya itu mereka juga menyediakan jasa layanan wanita untuk memuaskan hasrat para klien sebagai layanan dari mereka. Seperti saat itu, ia berencana membawa Lusia ke pesta dan menukarkan dengan barang haram itu.


Pembicaraan itu pun berlalu, Lusia berhenti menunjukkan rasa pensaraannya. Ia tidak membahasnya lagi seolah menganggap tidak ada hal serius terjadi.


.


.


Hari berganti malam...


Waktu masih menunjukan jam 11 malam. Lusia bangun dari tidur nya. Ia mengendap berjalan keluar meninggalkan Rayn yang tertidur lelap. Lusia pun pergi keluar Villa menuju ruang pengawas yang berada tidak jauh dari Villa uatama. Disana Lusia disambut tunduk oleh dua orang yang bertugas mengawasi cctv Villa selama 24 jam bergantian dengan 2 staf lain.


Lsuia meminta mereka memutar beberapa clip. Lusia ingin tahu apa yang dilakukan Rayn selama dirinya bekerja di Cafe. Apa mungkin Rayn sering meninggalkan Cafe atau melakukan hal lain yang tidak biasa. Lusia sangat penasaran, kenapa sangat mudah bagi Rayn melakukan semua itu. Bagaimana Rayn bisa menyeret pria itu ke penjara.

__ADS_1


Yang Lusia tahu selama ini Rayn hanya menghabiskan waktunya melukis, membaca buku dongeng atau pekerjaan sederhana lain untuk mengisi waktu kekosongannya yang membosankan.


Setelah memeutar beberapa Hari terakhir, Lusia tidak menemukan sesuatu yang aneh. Ia pun menyudahinya karena tak cukup waktu untuk memeriksa semua. Tapi saat pemutaran dihentikan dan CCTV menunjukkan waktu real time sekarang, Lusia melihat Rayn yang sudah duduk di meja ruang baca. Dia menyandarkan tubuhnya pada kursi dan tampak santai menatap layar komputer.


Lusia tidak tahu apa yang sedang Rayn lihat karena cctv tidak menyorot bagian layar Rayn. CCTV itu hanya menyorot bagian depan. Lusia lalu meminta pengawas memutar kembali bener apa waktu secara random.


Ternyata Rayn aktif dengan komputernya. Rayn melakukannya disaat Lusia bekerja di Cafe atau bahkan terkadang tengah malam Rayn tiba-tiba tampak sibuk di depan komuter seperti saat ini.


Lusia terusmemutar beberapa hari beberapa minggu kebelakang. Ia tidak menyangka jika Rayn banyak menghabiskan waktu didepan compuer bisa selama 3-4 jam lamanya rutin 4-5 hari sekali.


Lusia mengembalikan pada waktu real time sekarang. Ia pun menatap Rayn yang masih berada disana. Pengawas menampilkan titik itu dalam satu tampilan layar penuh.


"Kesibukan apa yang dia lakukan, bahkan saat ini?" tanya Lusia dalam hati.


Ditengah rasa penasarannya, Lusia melihat Rayn sedang meraih ponselnya tampak menghubungi seseorang. Lusia terkejut saat mendengar ponsel miliknya berdering, Rayn sedang memanggilnya. Tidak ingin Rayn terlalu curiga, Lusia pun menjawab panggilan Rayn.


"Lusia, kau ada diamana? Ada hal yang ingin aku tunjukan padamu, tapi aku tidak menemukanmu di Villa" tanya Raym tanpa nada cemas seperti biasanya.


"Aaah, aku sedang mencari udara segar, aku akan segera kembali" sahut Lusia sembari pamit kepada parang pengawas.


"Baiklah" sahut Rayn.


Rayn mematikan ponselnya lalu kembali menatap layar pc dimana menampilan sebuah tampilan cctv ruangan pengawas saat ini.


Sedarii tadi  ternyata Rayn sedang melihat Lsuia yang berada disana. Bahkan ia melihat bagaimana Lusia berbohong kepadanya dengan mengatakan sedang mencari udara segar.


"Kau berbohong kepadaku" ucap Rayn seraya melihat Lusia meninggalkan ruangan pengawas.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2