Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 66 - Dia Wanitaku


__ADS_3

Keesokan hari.


.


Di pagi hari Rayn bangun lebih awal dari biasanya. Ia menuruni tangga dan melihat Mickey yang baru saja memasuk Villa. Rayn menghentikan langkah kakinya, ia menatap Mickey dengan memikirkan hal sulit yang mungkin akan mereka hadapi nantinya.


“Mengapa kau menyembunyikannya dariku? Aku akan menahan diriku untuk tidak bertanya kepadamu. Aku akan mencaritahu nya sendiri. Aku harap ingatan itu salah dan kau tidak sepenuhnya terlibat karena aku masih menghormatimu, seperti ibu yang juga selalu menyayangimu” ucap Rayn dalam hati menatap tajam Mickey yang juga memandangnya turun dari tangga.


Rayn ingin mencari tahu lebih, sejauh apa Mickey tahu dan sejauh mana keterlibatannya dengan insiden kecelakaan dan pembunuhan ibunya. Mengapa Mickey menyimpan ponsel milik Rayn yang dalam ingatan Rayn jika ponsel itu ada ditangan sang pembunuh. Begitu juga yang masih menjadi misteri bagi Rayn, mengapa pembunuh ibunya mengatakan jika semua itu terjadi karena salah Rayn.


“Kau sudah kembali?” tanya Rayn kembali melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga dengan wajah tersenyum.


Berbeda dengan Mickey yang masih memandang Rayn serius. “Apa kau baik-baik saja?” tanyanya.


“Seperti yang kau lihat” jawab Rayn berjalan melewatinya begitu saja untuk pergi ke dapur. “Sebaliknya, aku lihat sepertinya kau yang terlihat tidak baik-baik saja. Apa ayahku akhir-akhir ini banyak menyulitkanmu?” lanjut tanya Rayn dengan membuka kulkas lalu meraih sebotol air mineral.


Rayn terlihat seolah tidak ada sesuatu yang terjadi, ia bersikap seperti biasa kepada Mickey. Hal itu dilakukannya karena Rayn masih ingin percaya, jika Mickey tidak akan menghianati dirinya dan ibunya.


“Kau tahu sendiri jika ayahmu…” jawab Mickey, belum sampai ia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh teriakan Lusia.


"Hya.... Hentikan !” teriak Lusia dengan mengacungkan ponselnya. “Hentikan se...mua i..tu, itu” lanjut ucap Lusia menjadi gugup saat melihat keberadaan Mickey. Perlahan ia menurunkan nada suaranya dengan menggaruk kepala yang tidak gatal dengan ponselnya.


Keduanya dikejutkan oleh Lusia yang tiba-tiba membuka pintu kamarnya keluar dengan berteriak. Lusia keluar kamar karena menyadari adanya suara Rayn di luar. Ia bermaksud berteriak kepada Rayn yang terus mengirimnya pesan jahil tentang apa yang terjadi diantara mereka semalam. Namun, ia tidak menyangka jika ternyata Mickey sudah datang.


[Aku penasaran, dengan apa yang akan kau ucapkan pertama kali kepadaku saat melihatku setelah pengakuanmu semalam?] – Rayn.


[Aku tidak percaya jika ternyata kau.... ] – Ryan.


[Jika kau…**sudah punya rencana menyerangku**] – Rayn.


[Wahh… aku bahkan sampai tak berkutik terhadapmu] – Rayn.


Rayn terus mengirim Lusia pesan-pesan yang membuat Lusia merasa malu pada dirinya sendiri.


“Apa yang harus aku hentikan?” tanya Mickey dengan reaksi bingung karena Lusia berteriak tepat saat dirinya akan menjawab pertanyaan Ryan.


“Kau… kau, kau…. Bagaimana kau bisa ada disini?” tanya Lusia panik.


Mickey mengerutkan keningnya akan pertanyaan Lusia. “Menurutmu? Bagaimana lagi aku bisa ada disini jika bukan masuk lewat pintu itu” jawab Mickey dengan menunjuk pintu.


Lusia terlihat sangat malu dengan situasinya. Sementara Rayn menyandarkan tubuhnya di kulkas, ia hanya tersenyum melihat tingkah Lusia. Rayn tampak gemas, seolah ia hanya ingin terus melihat dan tidak berniat membantunya. Rayn lanjut meneguk minuman yang sudah dari tadi nganggur ditangannya dengan santai.


“Bukan itu” jawab Lusia semakin panik.

__ADS_1


“Bukan itu, apa maksudmu? Jika kau tidak berteriak kepadaku lalu kepada siapa lagi kau berteriak? Dia?” tanya Mickey menunjuk Rayn.


Mickey mulai mengambil langkah mendekati Lusia. “Hah, aku tidak yakin kau berani kepada orang yang sudah menggajimu” ucap Mickey dengan terus mendekat.


“Ha.. haha... kau benar, mana mungkin aku berani berteriak kepadanya. Sepertinya aku hanya mengigau. Aku belum sepenuhnya mengumpulkan nyawaku dari tidurku. Maafkan aku” jawab Lusia membungkukan badanya kepada Mickey. Dengan kedua tangannya, ia mempersilahkan Ryan dan Mickey untuk melanjutkannya. “Kalian bisa lanjutkan obrolan kalian kembali” ucapnya lalu dengan gerak cepat hendak kembali masuk kamarnya.


“Kenapa aku mencium bau-bau yang aneh” sahut Mickey dengan menarik hoodie Lusia, sehingga Lusia gagal kabur masuk kamarnya. Mickey lalu dengan cepat meraih gagang pintu dan menutupnya sehingga Lusia tidak bisa kabur.


“A… a.. apa yang aneh? Tidak ada yang aneh” sahut Lusia dengan mendekap ponsel dan menggelengkan kepalanya berulang kali.


"Kau menghubungiku berulang kali dan mengirim pesan jika sesuatu terjadi dengan Rayn. Tapi, dia mengatakan kepadaku jika baik-baik saja dan bahkan kini kau berani beteriak kepada orang yang kau cemaskan itu. Apa ada suatu kejadian yang terlewat olehku?” tanya Mickey dengan semakin mendekatkan tuhuhnya sehingga memojokkan Lusia. Lusia yang semakin panik ingin menghindar, namun tubuhnya dikunci oleh kedua tangan Mickey yang menghalanginya untuk lari.


Kreeteeekkkkk.. !!


Terdengar jelas suara remukan botol air mineral. Rayn dengan sengaja meremas kemasan botol air mineral


yang habis ia minum dengan kasar. Ia tampak geram melihat Mickey sangat dekat dengan Lusia. Mickey dan Lusia sontak menoleh dan memandang ke sumber suara itu berasal.


Rayn membuang botol ke tempat sampah, lalu dengan santai berjalan menghampiri keduanya.


“Minggir !” perintah Rayn meminta Mickey menyingkir. Tubuh Mickey telah menghalangi sehingga membuatnya tidak bisa melangkah lebih dekat lagi dengan Lusia.


Mickey otomatis menyingkir dari hadapan Lusia. Rayn langsung menghampiri Lusia dengan wajah yang sangat tenang, ia lalu meraih ponsel Lusia.


"Apa yang akan dilakukannya?" tanya Lusia dalam hati. Ia curiga dengan sikap Rayn yang tidak sepanik dirinya akan ketahuan Mickey.


“Apa yang kau lakukan?” bisik Lusia kepada Rayn.


Melihat wajah Lusia yang semakin panik, membuat Rayn semakin menjadi-jadi, jiwa usilnya langsung meronta.


“Apa katamu tadi? Hya….? Hentikan! Itu ucapan yang ingin kau ucapan pertama kali kepadaku setelah….?” Tanya Rayn perlahan memperlambat ucapannya untuk semakin memancing reaksi Lusia.


Ryan mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Lusia “Tiba-tiba kau membuatku ragu dengan pengakuanmu semalam" bisik Rayn.


Rayn lalu berpindah memposisikan wajahnya menjadi lurus menatap wajah Lusia. "Bolehkan aku memastikannya sekali lagi?” tanya Rayn . “Memastikan dengan….” lanjut ucapnya mulai menurunkan tatapan matanya ke bibir Lusia.


“Hya…!” Teriak Lusia. Ia langsung berpikir jika maksud dari ucapan Rayn adalah ingin membuktikan dengan mengulang ciuman itu.


Ryan tersenyum lalu mengambil langkah mundur. “Bersiaplah" ucapnya.


"Apa maksudmu dengan bersiap? Berani kau macam-macam" ancam Lusia dengan suara lirih takut terdengar Mickey.


"Bersiaplah untuk temani aku pergi olahraga” sahut Rayn dengan menjentikkan jarinya mendarat dikening Lusia. Dengan tersenyum, ia mengusap bibirnya dengan jari karena usai minum lalu pergi menaiki anak tangga. Tentu saja ia terlihat sangat sengaja melakukannya untuk menggoda Lusia.

__ADS_1


“Ada apa dengan mereka? Apa mereka sedang mengabaikanku dan menganggapku tidak kasat mata?” gumam Mickey melihat keduanya.


“Apa kau cemburu?” Tanya Lusia langsung kepada Rayn.


“Cemburu? Siapa? Rayn? Kenapa dia harus cemburu?” tanya Mickey dengan mode kepo nya.


“Ok, aku akan mengakuinya” ucap Lusia dengan lantang kepada Ryan. Ia mengambil nafas dalam lalu memandang Mickey.


“Memang ada yang kau lewatkan karena tidak aku laporkan kepadamu, dimana aku telah mengungkapkan perasaanku kepadanya dan aku telah menciumnya lebih dulu” ujar Lusia kepada Mickey.


“Wahhh…. Luar biasa, kau sangat terus terang sekali Lusia" sahut Mickey terkejut. Mickey lalu memandang Rayn. "Apa karena itu tiba-tiba kau menjadi baik-baik saja? Karena dia sudah memberimu obat dengan kissss.....?” lanjut tanya Mickey kepada Rayn.


“Kau puas?” tanya Lusia kepada Rayn. “Dasar licik, apa dia pikir aku tidak tahu triknya” lanjut gerutu Lusia lirih dengan menatap Rayn.


Lusia tahu, yang diinginkan Rayn adalah kejujuran akan pengakuannya di depan Mickey. Lusia berpikir jika ia tidak mengungkapkannya, maka Rayn akan terus membullynya dengan membuatnya terus terpojokkan sampai membuka suara.


Rayn tersenyum kemudian menghentikan langkah kakinya dan berbalik “Kau sudah dengar? Jadi berhenti mendekat atau menggoda wanitaku” ucap Rayn kepada Mickey.


"Wanitaku?" gumam Lusia dengan wajah yang semakin merah merona. Tanpa pamit ia langsung masuk kamarnya karena sangat merapa malu dengan pengakuannya di depan Mickey dan ucapan Rayn.


“Rayn… ini sangat mengejutkanku, sungguh sangat mengejutkanku. Aku tidak menyangka hubunganmu dengannya akan berkembang secepat ini” celetuk Mickey.


“Bukankah kau orang pertama yang paling mengharapkannya? Dibandingkan dengan terkejut, aku yakin seluruh organ dalam tubuhmu saat ini sedang bersorak, bahkan jika bisa mereka akan menari untuk merayakannya” sahut Rayn meraih ponsel dalam saku cardigannya lalu kembali melanjutkan langkah kakinya menaiki anak tangga.


“Haha… kau benar, itu gambaran perasaanku sekarang, aku merasa salah satu misiku terselesaikan” teriak Mickey dengan tertawa. “Haruskah kita mengadakan pesta untuk merayakannya?” lanjut tanya Mickey dengan berteriak.


“Lakukan saja sendiri, karena jikapun aku ingin, aku hanya akan melakukanya dengannya” jawab Rayn lalu menghilang dari pandangan Mickey.


Rayn mengirimkan pesan kepada Lusia.


[Kau terus mengejutkanku, tadinya aku ingin memberimu waktu karena aku tidak ingin memaksakan apapun darimu. Tapi tiba-tiba kau membaranikan diri mengatakannya kepada Mickey.] -Ryan.


Lusia membaca pesan itu dengan wajah lesuh. “Jadi, dia hanya mengujiku untuk tahu apa aku ingin mengungkapkannya atau tidak? Aaaa… Lusia, memalukannya dirimu!!" teriak Lusia merobohkan tubuhnya di kasur dan menutupi kepalanya dengan bantal.


Rayn sebenarnya hanya memancing Lusia untuk mengetahui apakah Lusia ingin menjalani hubungan dengannya secara terbuka atau tidak. Ia sudah pasti akan mengikuti apapun keputusan Lusia. Setelah melihat reaksi Lusia yang tadinya tampak tidak ingin Mickey tahu, Rayn sudah memutuskan untuk berhenti menjahilinya dengan mengalihkan topik meminta Lusia menemaninya pergi olahraga. Namun, hal yang ia tidak duga pun terjadi dimana Lusia tiba-tiba justru berterus terang kepada Mickey.


Mickey tersenyum melihat perkembangan hubungan Rayn dengan Lusia. Tentang apa yang terjadi dengan Rayn semalam soal traumanya, Mickey memutuskan untuk tidak bertanya dan menunggu perkembangannya.


Meskipun misteri dibalik kecelakaan dan kematian ibu Rayn semakin dekat, meskipun fakta baru mengarah ke keterlibatan Mickey, keduanya tetap bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Mickey dan Rayn tetap menjaga hubungan dan melanjutkan kehidupan mereka seperti biasa. Keduanya memutuskan untuk mencari tahu jawabannya dengan caranya masing-masing dengan tidak saling menyakiti.


Rayn ingin mengungkap misteri dibalik kematian sang ibu dan mencari tahu kenapa harus menjadi salahnya seperti yang dikatakan sang pembunuh. Kini Rayn tidak lagi sendiri, meskipun ia tidak ingin melibatkan Lusia dalam hal ini, baginya cukup dengan Lusia selalu berada disisihnya sudah memberi kekuatan untuknya.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued***


__ADS_2