Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 2 - Tergoda Sang Penggoda


__ADS_3

Selepas kepergian Mickey dan Dr. Leona yang meninggalkan Villa, Rayn duduk di sofa ruang tamu lantai 1, ia termenung menatap ke arah halaman Villa. Cuaca mendung seakan melengkapi kegelisahan yang terus mengusik hati Rayn.


Di dapur, Lusia sedang membuatkan Rayn teh hangat untuk bisa membantunya bisa lebih menenangkan pikiran. Namun tidak berbeda dengan Rayn, Lusia pun tampak melamun. Ia tiada henti memasukan dan mengeluarkan kantong teh dari gelas yang sudah terlihat berwarna kuning pekat itu. Lusia sedang mencoba memahami situasi yang terjadi antara Rayn dan Mickey.


Lamunan Lusia buyar seketika ponselnya berbunyi karena adanya pesan masuk dari Kelvin.


[ Aku akan menemuimu di Caffe] -Kelvin.


[ Maafkan aku Kelvin, hari ini aku tidak ke Caffe, aku mengganti Off ku dengan Grace, besok aku akan menemuimu] -Lusia


Usai membalas pesan dari Kelvin, Lusia pergi ke ruang tamu mendatangi Rayn yang masih duduk di sana. “Minum teh nya” ucap Lusia menyerahkan secangkir teh ditangannya kepada Rayn.


Rayn meraih teh itu lalu kembali terdiam, ia menatap cangkir teh yang kini berada ditangannya. “Maafkan aku" ucapnya dengan lirih. "Maafkan aku karena sudah egois, disaat semua orang sudah berjuang dan mengharapkan kesembuhanku, tapi aku malah mengacaukan semua upaya kalian selama ini” lanjut ucap Rayn menyalahkan dirinya sendiri.


“Kau tidak egois Rayn, kau berhak memutuskannya. Karena hidupmu adalah milikmu, kita tidak bisa memaksakan apapun yang sudah menjadi hakmu. Termasuk kesembuhanmu, jika kau merasa sulit ataupun ingin menundanya, aku dan yang lain tidak akan memaksakan apapun lagi. Dibandingkan semua itu, aku justru mengkhawatirkanmu. Melihatmu duduk di sana saat hypnosis, jujur itu sangat menyiksaku” ucap Lusia.


“Apa kau sekhawatir itu?” tanya Rayn.


“Tentu saja aku sangat mengkhawatirkanmu” jawab Lusia menatap Rayn dengan sendu.


Rayn tersenyum, sebuah senyum manis yang menggambarkan betapa bahagianya ia mendengar Lusia mengkhawatirkan dirinya. Meskipun sesungguhnya Rayn tidak ingin membuat Lusia cemas, tapi kekhawatiran itu menunjukkan kepedulian Lusia terhadap dirinya.


"Maafkan aku jika sudah membuatmu khawatir” ucap Rayn.


Lusia menghela nafas. “Lalu apa yang akan kau lakukan dengan Mickey?” tanyanya.


"Mickey...” sahut Rayn lalu menyeduh tehnya. “Aku tidak bisa memikirkan apapun tentang itu, aku hanya ingin pembunuh itu mendapatkan hukuman yang setimpal, tidak peduli siapa dia dan apa dia memilki ikatan dengan Mickey atau tidak, aku tidak akan pernah memafkan pria keji itu" lanjut ucap Rayn.


“Sekalipun Mickey terlibat langsung?” tanya Lusia yang mengkhawatirkan hubungan antara Rayn dan Mickey kedepannya.


"Emmm” jawab Rayn hanya dengan gumaman yang membuat suasana menjadi hening.


Gumaman itu membuat Lusia seketika sadar, saat ini bukan saatnya untuk membahasnya. Rintik suara gerimis air hujan yang terdengar mulai memecahkan keheningan keduanya. Lusia mencoba kembali membuka suara, kali ini bukan untuk membahas masalah Rayn, tapi ia ingin menghiburnya dengan berbagi cerita kenangan manis yang selalu ia lakukan setiap kali gerimis.


“Kau tahu, jika hujan seperti ini biasa aku dan Reisa suka pergi menikmati sup dan jajanan bbq pinggiran jalan” ucap Lusia dengan senyum menatap setiap tetesan air hujan.


Rayn menatap Lusia, ia mulai mengurai senyum tipis dibibirnya. Rayn tidak melepaskan pandangannya dari wanita yang dicintainya itu. “Kau sangat menyukainya?” tanya Rayn.


Lusia mengangguk, ia mulai menceritakan setiap momen yang ia rindukan saat ini. "Terntu saja" sahut Lusia dengan senyum.

__ADS_1


Dengan penuh semangat ia menceritakan setiap sensasi yang berbeda daripada makan disebuah restoran mewah. "Sangat menyenangkan saat harus berbagi tenda dan duduk berhimpitan dengan lain didepan hamparan jajanan yang disuguhkan. Aroma bbq yang menggunggah selera, hawa dingin seketika menjadi hangat di setiap seduhan sup yang disajikan. Alunan musik era 70-an yang menambah indah dan nikmat suasana" ujar Lusia yang lebih terlihat memamerkan momen itu kepada Rayn yang tidak akan pernah bisa menikmatinya karena phobia yang dimiliki.


“Jika begitu bawa aku ke sana” ucap Rayn sembari meletakan cangkir teh dimeja.


Mendengar hal itu, Lusia sontak menoleh menatap Rayn, ia tidak percaya jika permintaan itu baru saja diucapkan oleh pria yang phobia terhadap sentuhan dan benci keramaian. Bahkan jika kembali mengingat kebelakang, selama ini disetiap misi kesembuhan yang Lusia lakukan, ia harus menggunakan begitu banyak alasan untuk bisa membujuk Rayn pergi ke keramaian.


"Kau yakin?” tanya Lusia. Sebuah pertanyaan yang lebih untuk meyakinkan dirinya sendiri apakah itu mungkin.


Tanya banyak kata, Rayn hanya menjawab dengan anggukkan. Lusia berpikir sejenak lalu akhirnya memutuskan. “Baiklah, Ok. Kita pergi“ ucap Lusia.


Lusia bangkit dari duduknya. "Aku akan bersiap-siap" ucapnya lalu pergi meninggalkan Rayn ke lantai 2 untuk mengambil semua keperluan yang ia butuhkan. Semua kelengkapan yang selalu ia bawa setiap kali membawa Rayn keluar rumah, berada dalam kerumunan yang mengharuskannya berhadapan dengan banyak orang.


Setelah hampir 20 menit membuat Rayn menunggu, Lusia kembali dengan membawa jaket Rayn. Tidak hanya itu, ia juga sudah menyiapkan payung, topi, sarung tangan, kaca mata, masker dan masih banyak lagi yang sudah ia kemas rapi sebagian dalam backpack mini di punggungnya. Lusia selalu membawa semua barang-barang itu untuk mengantisipasi jika terjadi situasi tak terduga.


"Diluar dingin, jadi jangan sampai masuk angin" ucap Lusia dengan memakaikan jaket ke tubuh Rayn.


Rayn menatap setiap gerakan tangan Lusia yang memakaikan jaket pada dirinya. Lusia lebih terlihat seperti seorang ibu daripada kekasihnya. Memakaikan jaket layaknya anak kecil yang tidak bisa memakainya sendiri.


Rayn meraih tangan Lusia yang hendak menaikan resleting jaketnya. Tanpa aba-aba Rayn langsung meraih tubuh Lusia dan memeluknya. Dengan manja Rayn menyandarkan dagunya di cekuk leher jenjang Lusia.


"Lalu bagaimana denganmu, apa kau tidak takut dingin?" tanya Rayn yang melihat Lusia tidak mengenakan Jaket. "Jika itu terjadi apa aku boleh membantu menghangatkan tubuhmu seperti ini" lanjutnya semakin erat memeluk tubuh Lusia.


Lusia mengedipkan matanya berulang kali akan serangan mendadak Rayn. Ia merasakan ada yang bergejolak dihatinya. Meskipun Lusia merasa nyaman dan sangat menyukainya, namun ia tidak ingin menunjukkan kepada Rayn jika dirinya telah dibuat takluk oleh pria yang saat ini mendekapnya.


"Berhenti memancingku!" perintah Rayn lalu melepas pelukannya. Rayn terlihat takut dengan godaan Lusia yang lebih ke sebuah ancaman untuknya.


Lusia tertawa geli melihat reaksi Rayn, raut wajah takut dan malu tapi juga sangat menggemaskan. "Kau sudah siap?" lanjut tanya Lusia kepada Rayn.


"Hya...!!! Ku bilang hentikan!" teriak Rayn dengan panik meminta Lusia berhenti menggodanya.


"Hentikan?" tanya Lusia dalam hati. Padahal dirinya hanya sebatas bertanya apakah Rayn sudah siap untuk pergi.


Menyadari Rayn sudah salah paham dengan pertanyaannya, membuat Lusia semakin menjadi-jadi. Lusia mengambil kesempatan itu untuk kembali menggoda Rayn. Lusia kembali mengambil langkah untuk lebih dekat dengan tubuh Rayn. Ia mengulurkan kedua tangannya dan berpangku di kedua bahu Rayn.


"Lusia, apa yang akan kau lakukan?" tanya Rayn yang semakin panik melihat sikap sensual Lusia.


Tanpa menghiraukan pertanyaan Rayn, Lusia semakin mendekatkan wajahnya dan berakhir ditelinga Rayn. "Apa kau sudah siap dan kita bisa pergi sekarang, sayang?" tanya Lusia berbisik dengan suara lebih sensual.


Suara sensual Lusia membuat Rayn merasa seperti diserang panas dingin, namun ia bisa melepas nafas lega menyadari jika Lusia hanya sedang membullynya karena ia salah paham akan pertanyaan Lusia tadi. Lusia kembali tertawa, ia mengakhiri candaannya lalu menggandeng tangan Rayn untuk keluar Villa.

__ADS_1


"Haha, kenapa aku sangat suka sekali menggodamu" ucap Lusia.


Dengan penuh semangat Lusia mulai melangkahkan kakinya, namun tiba-tiba Rayn menahan lengannya. Lusia berbalik dan bertanya apa ada yang salah. Rayn tidak menjawab, ia hanya diam menatap tajam Lusia.


Rayn menatap Lusia dengan tatapan penuh hasrat. "Sudah aku katakan untuk tidak memancingku, apa kau tidak takut jika aku akan terpengaruh dan menyerangmu?" tanya Rayn menaikan alisnya.


"Tentu saja aku tidak takut, lakukan saja jika kau berani. Maka aku akan buat kaki itu tidak bisa berjalan" ancam Lusia melihat setiap langkah kaki Rayn yang semakin mendekatinya. Lusia perlahan mengambil langkah mundur menghindari Rayn.


"Apa kau yakin tidak akan tergoda dan bisa mematahkan kakiku?" tanya Rayn terus mengambil langkah lebih dekat.


"Rayn, apa yang akan kamu lakukan. Berhenti, jangan mendekat. Ok, aku akui aku hanya bercanda. Itu karena kau terlalu serius. Ha...haha" sahut Lusia dengan tawa canggung yang ia paksakan.


Lusia semakin panik melihat Rayn mengabaikan ucapan. Rayn terlihat sangat serius, seperti sudah haus untuk menerkam dan memangsanya.


"Tapi sayangnya aku sudah terlanjur tidak bisa menahannya" ucap Rayn.


Dengan langkah kaki gemetar dan panik, Lusia meminta Rayn untuk tidak mendekat. Lusia sudah sampai mencapai batas pertahanannya. Ia tidak akan bisa lari lagi karena sudah hampir terpojokkan ke dinding kaca yang berada dibelakangnya.


Satu langkah mundur yang diambil Lusia hampir membuatnya menghantam dinding kaca itu. Rayn dengan cepat mengambil langkah dekat dan meraih pinggul Lusia. Jantung Lusia langsung berdeguk kencang.


Manik mata Rayn yang berwarna hitam dengan tatapan teduh seolah menjadi ancaman bagi Lusia. "Oh Tuhan, apa yang terjadi kepadaku, kenapa sulit bagiku menolak keindahan dan ketampanan wajahnya.Tidak Lusia, kuatkan dirimu" gumam Lusia dalam hati.


Rayn kembali mengurai senyum dibibirnya, ia meraih satu tangan Lusia. Perlahan Rayn mengangkat tangan itu dan menguncinya ke dinding kaca, sementara satu tangannya masih mendekap pinggul Lusia. "Apa aku sudah membuat hatimu bergetar?" tanya Rayn dengan tatapan yang semakin membuat luluh Lusia.


Rayn menatap ke atas tepat pada tangan Lusia yang sedang ia kunci, perlahan ia membuka kepalan tangan Lusia yang mengepal.


"Rayn..." panggil Lusia.


Mendengar suara itu, Rayn kembali menatap wajah manis Lusia. Rayn mendekatkan wajahnya hingga hanya menyisahkan beberapa inci dari wajah Lusia yang terlihat sedang tersipu. Rayn semakin mendekat, namun pandangan matanya kini menatap jenjang leher Lusia.


Lusia berhasil dibuatnya tidak berkutik. "Sial, tubuh yang berkhianat" umpat Lusia kepada dirinya sendiri dalam hati.


Lusia seketika memejamkan matanya saat melihat Rayn semakin mendekat hendak menenggelamkan kepala di jenjang leher miliknya.


"Apa yang akan ia lakukan?" lanjut tanya Lusia dalam hati masih dengan mata yang terpejam.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued***


__ADS_2