Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 42 - Demi Lusia


__ADS_3

Hari sudah semakin gelap, Lusia bersama staf lain mulai menutup Friends Cafe. Terlihat mobil David sedang terparkir di depan Cafe dalam kondisi masih menyala. Usai menutup Cafe, Lusia menghampiri dan diketuknya kaca mobil David.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Lusia setelah David membuka kaca mobilnya.


“Aku datang untuk menunggumu” jawab David dengan turun dari mobil.


“Menungguku?” tanya Lusia menunjuk dirinya sendiri. “Apa kau ingin meminum kopi sebentar? Aku bisa membuka pintu belakang” lanjut tanya Lusia.


David menolak, ia tidak ingin merepotkan Lusia dengan membuka kembali Cafe hanya untuk menanyakan beberapa hal soal Reisa. Lusia lalu menawarkan untuk pergi ke Cafe lain yang buka 24 jam agar bisa berbincang dengan nyaman di sana. David menyetujuinya dan mereka pergi dengan mobil Lusia. David meninggalkan mobilnya di Cafe.


Ponsel Lusia terus berdering adanya panggilan masuk dari Reisa. Lusia tidak mendengar karena ponselnya masih dalam mode getar di dalam tas. Reisa terus melakukan panggilan di dalam taxi, ia saat ini sedang menuju Cafe untuk menemui Lusia. Ia selalu mencari Lusia jika mengalami masa sulit. Saat ini sedang dalam perasaan kalut akan pertengkarannya dengan David.


Saat hampir tiba, dari kejauhan dilihatnya Lusia hendak masuk ke dalam mobilnya. Namun terlihat jika Lusia tidak duduk di kursi kemudi. Ketika taxi yang ia tumpangi tepat berhenti di depan cafe, mobil Lusia sudah jalan dan ia tidak sempat memanggilnya.


Reisa turun dari taxi, ia melihat mobil David yang terparkir di depan Cafe. Reisa mencoba menghubungi Lusia kembali, namun Lusia masih tidak menjawab panggilannya.


“Cafe sudah tutup, kenapa mobil David bisa ada disini?” tanyanya dalam hati lalu menatap kembali ke jalan. Reisa mengingat kembali jika Lusia baru saja pergi dengan mobilnya namun tidak duduk di kursi kemudi, yang artinya ia bersama orang lain.


“Mungkinkah itu David?” lanjut tanyanya dalam hati.


“Nona, nona, tagihannya” panggil supir taxi melihat Reisa yang hanya berdiri dengan melamun usai turun dari taxi.


“Oh, maaf. Cafe sudah tutup, antar saya kembali pak” ucapnya masuk kembali ke dalam taxi.


Sepanjang perjalanan, ia terus bertanya dalam hati siapa sebenarnya yang bersama Lusia. Bahkan terpintas untuk menghubungi Kelvin. Mungkin saja jika mereka sedang bersama. Reisa sudah bersiap mendial no Kelvin dengan ragu, lalu ia mengurungkan niatnya.


“Aaa... tidak. Berhenti memikirkan yang tidak-tidak Reisa. Jika kau meneruskannya artinya kau tidak mempercayai sahabat dan kekasihmu” ucapnya lalu menyadarkan kepalanya dan memejamkan matanya. Sempat terbesit dalam benak Reisa jika orang yang bersama Lusia adalah David.


Di Cafe, David tanpa basa-basi langsung mencari informasi dari Lusia soal alasan Reisa bekerja di restoran. Alih-alih menjawab pertanyaan David, Lusia justru terkejut mendengar apa yang di katakan David. Ia bahkan tidak percaya, karena dirinya tidak pernah tahu sama sekali jika Reisa memiliki pekerjaan paruh waktu.


“Apa kau yakin? Aku sungguh tidak mengetahuinya” jawab Lusia masih tidak percaya. “Apa hubunganmu dengannya baik-baik saja?” lanjut tanyanya.


David memberitahu Lusia jika saat ini hubungannya dengan Reisa sedang tidak dalam keadaan baik. Ia juga menjelaskan pertemuannya dengan Reisa tadi di sebuah restauran tempat Reisa bekerja. Secara detail David memberitahu pertengkarannya dengan Reisa.


“Lalu kau membiarkannya pergi begitu saja?" tanya Lusia setelah mendengarkan penjelasan panjang David.


David membiarkan Reisa meninggalkannya saat itu bukan karena ia tidak peduli dengan hubungan mereka. Namun ia memberi waktu untuk Reisa menenangkan dirinya. David tidak ingin memaksakan diri di saat Reisa masih diselimuti amarah. Seperti kali terakhir pertengkarannya dengan Reisa yang justru akan memperkeruh keadaan.


“Reisa selalu mengatakan kepadaku jika semuanya baik-baik saja. Tapi, ini sungguh tidak seperti dirinya. Aku akan menghubunginya sekarang” ucap Lusia dengan mengambil ponselnya.


“Kau tidak perlu melakukannya. Aku akan menanyakan langsung kepadanya nanti. Aku menemui dirimu bukan untuk memintamu terlibat dalam masalah kita. Hanya mungkin saja kau mengetahui sesuatu." David menahan Lusia menghubungi Reisa.


David meminta bantuan Lusia untuk memberitahunya jika Reisa ada mengatakan sesuatu. Ia khawatir jika Reisa saat ini berada dalam kesulitan yang sedang ingin ia tanggung seorang diri. David meminta maaf kepada Lusia jika sudah merepotkannya lalu pamit. Bahkan ia menolak tawaran Lusia yang akan mengantarnya pulang dan memilih memanggil taxi.


Lusia berjalan ke mobil untuk kembali pulang. Sejenak ia melihat ponselnya dan baru mengetahui jika ternyata Reisa ada menghubunginya berulang kali. Ia berkendara dengan terus menghubungi kembali Reisa. Namun Reisa tidak menjawab panggilannya.


Setelah mencoba beberapa kali akhirnya Reisa menjawab panggilannya. Mendengar Reisa menjawab panggilannya, Lusia langsung menepikan kendaraannya. “Reisa, kau ada dimana?” tanya Lusia.


“Lusia, maaf aku baru bisa menjawab panggilan darimu” jawab Reisa.

__ADS_1


“Apa kau baik-baik saja?" tanya Lusia.


"Kau menghubungiku untuk menanyakan keadaanku? Tiba-tiba sekali, apa sebegitu rindunya malam-malam begini" gurau Reisa. "Aku lupa, apa kau menghubungiku karena panggilanku tadi? Maaf" lanjutnya.


"Apa benar kau bekerja paruh waktu di restoran ?" tanya Lusia dengan nada serius.


"Jadi ternyata benar kau bersama David tadi" ucap Reisa dalam hati lalu terdiam.


"Reisa...." panggil Lusia yang tidak mendengar suara Reisa.


"Sepertinya David yang sudah memberitahumu, cepat sekali” ucapnya dengan nada lirih.


“Apa kau sudah di rumah kost? Aku akan ke sana sekarang” sahut Lusia.


“Aku masih lembur” sahut Reisa dengan cepat. Ia berbohong jika sebenarnya saat ini ia sudah ada di rumah kost.


“Ok, jika begitu aku akan ke tempat kerjamu sekarang” ucapnya lalu menutup telpon dan kembali menjalankan kendaraanya.


"Ta… tapi Lusia…” sahut Reisa yang tidak sempat menyelesaikan ucapannya Lusia sudah menutup telepon.


.


.


Lusia telah sampai di depan restoran tempat Reisa bekerja. Ternyata restoran itu sudah tutup 2 jam lalu. Lusia menyadari jika baru saja artinya Reisa berbohong kepadanya. Maka sangat jelas jika Reisa sedang menghindarinya. Lusia menghubungi Reisa kembali sembari berjalan masuk mobil.


“Aku… aku sudah ada disni” ucap Reisa menjawab panggilan dengan nafas yang tidak beraturan. Ia berdiri tepat di depan mobil Lusia.


“Oh itu, ya aku baik-baik saja. Aku tadi sudah dalam perjalanan pulang tadi, tapi kau bilang akan datang kemari jadi aku kembali” jawabnya dengan tersenyum.


“Lalu, apa kau bekerja dengan mengenakan piyama?” tanya Lusia melihat Reisa mengenakan piyama dan sendal.


“Jika kau berangkat dari rumah kost setelah panggilanku dan kemari dengan taxi maka ini waktu yang pas untukmu sampai“ ucap Lusia, secara tidak langsung mengaitkan kebohongan Reisa.


“Haha, aku sangat bodoh” jawab Reisa menatap dirinya sendiri dengan tawa canggung.


“Masuklah, aku akan mengantarmu pulang“ ucap Lusia dengan berjalan hendak masuk ke dalam mobil. Reisa menahan tangan Lusia. “Maafkan aku, kau datang kemari pasti karena sangat mengkhawatirkan ku” ucap Reisa.


“Kau langsung kemari dengan dandanan seperti ini, apa juga karena mengkhawatirkan ku” sahut Lusia menghela nafas. Ia mengkhawatirkan Reisa, tetapi juga merasa kesal karena Reisa tidak jujur kepadanya.


“Maafkan aku.” Reisa hanya terus meminta maaf dengan rasa bersalahnya.


Lusia berjalan kembali mendekati Reisa. “Kenapa kau memiliki pekerjaan ektra tanpa memberitahuku? Aku tau, kau tidak akan memiliki kesulitan dalam keuangan sepertiku dan bekerja di restauran sangat tidak cocok karena itu akan sulit untukmu" tanya Lusia.


Lusia sangat yakin akan hal itu, karena Reisa selalu mengeluh jika ia harus memakai heels sepanjang hari selama bekerja di Galeri. Ia sangat tidak ahli dalam memakai peralatan dapur, bahkan tidak pandai bersih-bersih.


Untuk gadis yang selalu manja seperti Reisa, memilih bekerja di tempat ini sangat mustahil jika tidak karena terpaksa. Lusia masih sangat ingat perjuangan Reisa saat dulu bertahan bekerja paruh waktu di Cafe Kelvin.


Reisa menunduk. “Itu…” jawab Reisa ragu.

__ADS_1


Lusia seketika menyadari sesuatu yang tidak ia terpikirkan sebelumnya. ”Jangan katakan jika kau melakukannya untukku?” tanya Lusia serius.


“Aku berharap ini bisa membantumu” jawab Reisa memandang kembali Lusia.


"Reisa…. Kau tidak harus melakukannya. Dan…” sahut Lusia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Reisa mendekati Lusia dan memeluknya. “Maafkan aku, aku tidak memberitahumu karena aku tidak mau jika ini justru akan menjadi beban untukmu.” Jawab Reisa.


Lusia membalas pelukan Reisa. Ia menjatuhkan air mata yang sudah tidak mampu ditahannya. “Kenapa kau yang terus meminta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf kepadamu. Aku tidak tahu jika kau melakukan ini untukku. Aku justru hanya sibuk dengan urusanku sendiri” ucap Lusia dengan menangis dan semakin erat memeluk Reisa sahabatnya.


Lusia tidak tahu jika selama ini Reisa memutuskan bekerja ekstra untuk membantunya segera melunasi hutang keluarganya. Lusia merasa bersalah kepada Reisa. Disaat Reisa menjalani masa sulit dengan bekerja di restauran, ia justru hanya sibuk dengan urusan pekerjaannya di Villa bahkan kesal saat tahu Reisa berbohong kepadanya.


“Lalu bagiamana hubunganmu dengan David? Karena aku, kau dan dia…” tanya Lusia melepaskan pelukannya memandang Reisa yang menunduk setelah mendengarnya.


“Itu bukan salahmu, masalahku dengannya sama sekali tidak ada hubungannya dengan ini" jawab Reisa mengingat jika halangan terbesar dalam hubungannya dengan David adalah restu ibunya.


“Jangan khawatir, hubunganku dengannya akan aku atasi sendiri. Dalam hal ini hanya kita yang bisa menyelesaikannya” jawab Reisa membantu Lusia mengusap air matanya.


“Bagaimana aku tidak khawatir” sahut Luisa.


“Lusia, aku sadar jika tidak mungkin akan terus menghindarinya. Jadi percayalah padaku” ucap Reisa.


Meskipun masih di selimuti rasa bersalah, Lusia mecoba memberi waktu untuk Reisa bisa menyelesaikan masalahnya dengan David.


.


.


*** To Be Continued***


.


.


Hallo Reader…


Visual dari para tokoh Pilihanku Bersamaku Mr. Haphephobia, sudah Author up kembali di BAB 1 – Prolog yah…


Kenapa harus di BAB 1 - Prolog?


Jawab:


Author hanya ingin kembalikan ke tempatnya semula.. hehe


Karena waktu dulu Author up pertama kali BAB Prolog sudah dengan Visual para tokoh. Namun sejalan sampai BAB 27 Author hapus.


Jadi, untuk para reader yang sudah ikuti novel ini dari awal release BAB 1, mungkin sudah sempat lihat visualnya di BAB Prolog.


Kini Author sudah up kembali yah…

__ADS_1


Silahkan cek, Author ada tambahkan Visual dari Bodyguard tampan ARKA yang sebelumnya tidak ada.


Terima Kasih.


__ADS_2