Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 12 - Negoisasi


__ADS_3

Lusia yang sudah tidak bisa menghindar, mengerutkan dahinya mendapati wajah Mickey perlahan semakin dekat dengannya. Bahkan ia bisa merasakan hembusan nafas pria bar-bar yang semakin membuatnya geram saat ini. Lusia yang sudah tidak bisa mentoleransi kegilaan Mickey, spontan kembali melayangkan bogem mentah untuk kedua kalinya.


Mickey menahan pukulan Lusia, ia menguncinya hingga Lusia sulit untuk melepaskan tangannya. "Kenapa ? kau takut aku melakukan sesuatu padamu ? Bukankah aku harus membuktikannya" ucap Mickey dengan senyum seakan puas menggoda Lusia.


Lusia membalas senyuman Mickey dengan senyuman yang lebih manis, seolah dirinya dengan senang hati menerima perlakuan Mickey. Ia justru mendekatkan wajahnya hingga 1cm lagi hidungnya akan menyentuh hidung Mickey. Mickey membulatkan matanya merasa ada yang salah dengan gadis dihadapannya itu.


“Aw…..!!” teriak Mickey kesakitan setelah Lusia menghantam kepalanya mendarat dikening Mickey dengan kuat.


“Kau, berani sekali lagi...” ancam Lusia dengan mengacungkan kepalan tangannya tepat diwajah Mickey.


Huk, huk…


Mickey terbatuk setelah menahan nafasnya karena tangan Lusia yang sedang mengancam wajahnya.


“Tidak bisa kubayangkan, apa yang akan terjadi dengan Rayn jika aku memaksakan diri membuat gadis ini tinggal bersamanya” ucap Mickey dalam hati menatap kegarangan Lusia.


“Kembali jalankan mobilnya, kita bisa pergi ke Cafemu atau kemanapun semacamnya yang ramai dengan orang. Setidaknya aku bisa membahasnya dengan rasa aman disana” perintah Mickey kepada Lusia sambil menahan sakit dikeningnya.


"Apa kepalamu terbuat dari batu ?" lanjut tanya Mickey melihat Lusia tidak terlihat kesakitan.


Tanpa banyak kata Lusia melanjutkan kembali berkendara, sementara Mickey sibuk mengelus keningnya. Lusia membawa Mickey kesebuah restoran ayam goreng cepat saji. Ia langsung masuk restoran begitu saja meninggalkan Mickey usai memarkirkan mobilnya. Ia duduk dikursi dekat dengan jendela dan memesan satu porsi ayam goreng.


“Kenapa kau membawaku kemari daripada ke Cafe tempatmu berkerja ?” tanya Mickey melihat kesekeliling lalu duduk dikursi berhadapan dengan Lusia.


“Apa itu penting sekarang ? aku hanya perlu menyelesaikan urusan kita lalu membawa kembali Momo" jawabnya.


Awalnya Mickey hanya merespon dengan mengangguk saja, namun mendengar nama unik yang disebut Lusia membuatnya penasaran tiba-tiba.


“Momo ?” tanya Mickey.


“Lupakan, tidak penting untuk tahu. Langsung saja, pertama apa yang ingin kau bicarakan denganku ?” tanya Lusia.


“Santailah sedikit, bahkan makanan belum datang. Sangat disayangkan jika kita sudah mengakhiri pembahasan ini tanpa menghabiskannya" jawab Mickey.


Lusia merespon dengan tatapan tajamnya membuat Mickey merasa ngeri dan langsung berbicara ke inti dari tujuannya mengajak Lusia berbicara.


"OK... OK..." celetuk Mickey melihat Lusia mulai mengepalkan tangannya diatas meja.


"Apa kau mau bekerja denganku ?” tanya Mickey dengan wajah serius.


“Tidak !” jawab Lusia singkat sambil menyambut makanan yang disajikan pelayan kepadanya.


“Apa kau baru saja menjawab dengan pikiranmu ? Bahkan aku belum memberitahumu perkerjaan seperti apa dan berapa gaji yang kutawarkan sudah main tidak tidak saja" ucap Mickey heran dengan penolakkan singkat Lusia.


Lusia tidak bergeming, dia malah asyik dengan sendirinya menyantap ayam goreng didepannya.


“Kau tidak ingin makan ? bukannya kau sendiri yang bilang sayang jika tidak menghabiskannya ?” tanya Lusia mengacungkan paha ayam kepada Mickey. Tampak seperti sebuah isyarat meminta Mickey untuk diam atau aku akan menyumpalmu.


“Aku akan membayarmu 2x lipat dari gaji yang kau terima di Cafe tempat kerjamu sekarang” ucap Mickey santai dengan meraih sepotong ayam goreng lalu menyantapnya.


“Kau tidak bertanya dahulu berapa gaji yang kumiliki, membuatku curiga dengan pekerjaan yang akan kau tawarkan” jawab Lusia merasakan bau-bau tidak beres dari Mickey.


“Aku tidak perlu tahu berapa gajimu, hanya cukup menggandakannya untuk bisa menyelesaikan negoisasi ini" Mickey merasa tertantang dengan keraguan Lusia.


“Bagaimana ?” lanjut Mickey menanyakan keputusan Lusia.


“Sepertinya kau menemukan orang yang salah, aku tidak tertarik. Anggap saja aku orang yang Loyal dengan pekerjaanku di Cafe” jawab Lusia kembali menyantap ayamnya.


“Baiklah, 3x lipat“ celetuk Mickey dengan senyum sinis mempercayai jika Lusia pasti akan tergiur.


Mendengar itu sontak Lusia terkejut dalam hati, matanya mebelalak menelan ludah. Ia tak percaya dengan yang baru saja didengar. Namun dirinya tidak mungkin begitu saja mempercayai orang yang tidak kenalnya itu.

__ADS_1


"Jika kau tidak ingin menghabiskannya, kau bisa pergi" jawab Lusia menunjukkan jika ia sungguh tidak tergiur."


"Haisttt.. dasar gadis keras kepala. OK 4x Lipat" ucap Mickey masih tidak ingin menyerah.


"OMG... 4x Lipat !" ucap Lusia dalam hati.


“Pekerjaanmu mudah, hanya menjadi seorang teman. Ya, menurutku semacam itu” lanjut Mickey.


“Teman ? Apa menjadi teman bisa disebut sebagai pekerjaan ?" tanya Lusia.


"Apa kau orang yang kesepian ? Menurutmu teman bisa kau beli dengan uang begitu saja ?“ lanjut tanya Lusia heran dengan pekerjaan aneh yang ditawarkan Mickey.


“Jangan menyimpulkannya dengan negative seperti itu. Aku tidak tahu bagaimana menyebutnya, hanya saja kau juga akan melakukan banyak pekerjaan lain nantinya” jawab Mickey. Ia pun juga masih sulit menggambarkan perkejaan untuk Lusia. Ia bisa memikirkannya nanti, yang terpenting saat ini baginya adalah mendapatkan gadis itu untuk Rayn.


“Aku tidak bisa mengatakan itu seperti menjadi asisten pribadinya karena dia juga tidak melakukan apapun dalam kesehariannya” sambung Mickey mengetahui tidak banyak yang dilakukan Rayn di Villanya selain melukis dan membaca buku.


“Dia? Siapa yang kau maksud dengan dia, bukan untuk dirimu ?” tanya Lusia.


“Dia tentunya adalah Rayn. Pria yang kau tolong malam itu” jawab Mickey.


“Jelaskan padaku dulu, sebenarnya pekerjaan seperti apa ? kau tidak akan menjualku padanya bukan ?“ tanya Lusia sinis. Ia sesungguhnya tergiur karena tawaran itu dapat membantunya mengumpulkan banyak uang dengan cepat sehingga bisa melunasi hutang keluarganya.


“Haha, kusarankan kau berhenti menonton drama, banyaklah baca cerita dongeng seperti yang dilakukannya” celetuk Mickey terkekeh mendengar pertanyaan Lusia.


“Mungkin bisa kupertimbangkan, yang pasti aku tidak bisa meninggalkan perkerjaanku di Cafe. Tapi aku bisa meningalkan pekerjaanku ditoko Bunga" ucap Lusia.


“Toko Bunga…? kau memiliki 2 pekerjaan saat ini? Mengejutkan, bagaimana kau menghabiskan waktumu hanya untuk bekerja, apa kau mesin pekerja?” tanya Mickey.


“Ada banyak situasi yang mungkin tidak akan dialami oleh orang-orang seperti kalian" jawab Lusia kembali mengunyah.


“Baiklah..., seperti yang kau bilang kita semua punya situasi yang berbeda-beda, seperti situasi yang mengharuskanku barada disini saat ini" sahut Mickey.


"Aku akan jujur padamu, kenapa ini sangat penting dan mungkin kau juga bertanya kenapa harus dirimu. Aku harap ini bisa meyakinkanmu. Sesungguhnya lebih tepatnya aku meminta bantuanmu" ucap Mickey.


"Lalu..." ucap Lusia.


"Sebelumnya akan kujelaskan dahulu soal kondisi Rayn, karena kau akan bekerja dengannya. Kejadian malam itu bukanlah sikap aneh atau semacamnya dari Rayn, itu karena dia menderita Haphepobia” ucap Mickey serius dengan nada berat akan kenyataan yang harus disampaikannya.


“Haphepobia ?” tanya Lusia.


“Salah satu jenis phobia dimana dia tidak bisa menerima sentuhan dari orang lain, tidak ada satupun yang bisa menyentuhnya. Perasaan cemas, panik, sesak bahkan lebih buruknya bisa tidak sadarkan diri jika dia terlalu memaksakan diri. Itu yang akan dia alami, seperti yang kau lihat malam itu" lanjut Mickey.


“Lalu kenapa aku bisa menyentuhnya malam itu?” tanya Lusia tidak percaya dengan yang dikatakan Mickey.


“Itulah yang juga sedang ingin kucari tahu” jawab Mickey.


“Apa ada syarat khusus? atau aturan khusus?. Bahkan dia tidak memiliki reaksi apapun terhadapku saat itu” ujar Lusia.


“Aku juga belum bisa memastikan apapun soal itu sebelum aku membahasnya dengan Dokter keluarganya. Aku masih belum memiliki rencana apapun dengan ini selain membuatmu terlibat” jawab Mickey.


“Huft, kau bersikap sok keren seolah memiliki rencana bagus. Baiklah anggap saja seperti itu, lalu apa yang kau harapkan dariku?. Aku bukan dokter atau psikolog, jadi tidak banyak yang dapat kulakukan untuknya” jawab Lusia.


“Kau bisa memulainya dengan tinggal bersamanya” ucap Mickey tanpa dosa dengan ekspresi santuynya


“OK…, Fix” jawab Lusia.


“Kau setuju ?” tanya Mickey penuh semangat.


“Fix kau sudah gila” ucap Lusia bangkit dari kursinya berniat pergi ke kasir.


“Aku serius“ ucap Mickey menahan Lusia dengan menarik secuil bajunya yang sempat ia raih.

__ADS_1


Lusia menghentikan langkah kakinya, menghela nafas panjang melepaskan tangan Mickey dan kembali duduk.


“Menurutmu aku akan menuruti permintaan konyolmu itu dengan tinggal bersamanya ?” tanya Lusia tegas.


“Setidaknya dia memiliki satu orang yang bisa selalu berada disisihnya. Dan saat ini, kau satu-satunya orang yang bisa melakukannya. Bersama tanpa merasakan kecemasan dan tidak perlu menjaga jarak akan membuatnya lebih nyaman” Mickey menjelaskan dengan wajah mengibah.


“Tidak ada orang yang merasa nyaman tinggal bersama dengan orang asing” sahut Lusia menyangkal pernyataan Mickey.


“Aku tahu, kau juga akan berfikit ini sedikit gila, tapi aku seperti memiliki sebuah harapan dengan bertemu denganmu. Kau cukup menjadi teman yang selalu ada untuknya. Dia memang terlihat tidak pernah merasa kesepian tapi aku tidak bisa melihatnya seumur hidup menyendiri. Itulah sebabnya aku membutuhkanmu untuk bersamanya. Aku harap perlahan kau bisa membantunya mengatasi Haphepobianya." Mickey berusaha meyakinkan Lusia.


“Apa dia tidak menjalani pengobatan atau semacam terapi ?“ tanya Lusia.


“Ada alasan lain kenapa dia tidak melakukannya, aku tidak bisa mengatakan sekarang tapi cepat atau lambat kau juga akan mengatuhinya nanti" jawab Mickey.


“Kenapa aku harus tinggal disana, tidak bisakah aku hanya melakukannya dari pagi hingga sore sehingga selebihnya aku bisa bekerja di Cafe ?” tanya Lusia mencoba menawar pekerjaannya.


“Aku tidak mengerti apa yang membuatmu sulit melepaskan pekerjaanmu di Cafe, tapi Ok aku akan membayarmu extra 5x lipat tapi tinggalkan semua pekerjaanmu. Bagaimana ?” Mickey menaikkan tawarannya agar Lusia sepenuhnya bisa bekerja dengannya.


“Hah, semudah itu kau berbicara soal uang, apa kau tidak berencana menipuku dan mengurungku sebagai tawanan disana ?” tanya Lusia.


"Sudah kukatakan aku tidak main-main, ini juga soal hidup dan matiku” jawab Mickey meyakinkan Lusia.


“Lalu apa yang kau kerjakan untuknya ?“


"Aku melakukan pekerjaan yang tidak bisa kau kerjakan, begitu juga sebaliknya. Seperti yang kau tahu aku juga tidak bisa menyentuhkan, tapi itu berbeda dengan dirimu. Dan alasan kenapa aku memintamu tinggal karena terlalu membutuhkan waktu jika dia membutuhkanmu tiba-tiba. Jadi aku mohon bantu aku" Mickey berusaha menjelaskan kepada Lusia agar tidak salah paham.


“cihhh dasar, apa jaminan bagiku ?” tanya Lusia.


“Kita bisa membuat surat kontrak yang sah dimata hukum dan aku membebaskanmu memiliki syaratmu sendiri disitu. Jika itu yang terbaik untuk keduanya kenapa tidak” jawab Mickey.


"Berikan ponselmu." Mickey meraih tangan Lusia dan menempelkankan jari Lusia pada screenlock ponsel Lusia. Ia pun mengambilnya secara paksa setelah Lock Screen terbuka dan segera mendial nomor ponselnya untuk melakukan panggilan.


“Pikirkanlah, aku tidak akan memaksamu memberi jawaban sekarang, tapi kuharap kau tidak menolak. Kau bisa menguhubungiku dinomor itu” ucap Mickey mengembalikan ponsel Lusia.


“Apakah dia mengetahui ini ?” tanya Lusia.


“Tentunya dia belum mengetahuinya, kau tahu sendiri bagaimana dia membantaiku membabi buta karena kejadian semalam. Mungkin dia akan menolak tapi aku akan mengurusnya, setidaknya kau mau membantuku” jawab Mickey.


Meski masih penasaran dengan hal lain dan ingin bertanya lebih dalam, Lusia memutuskan mengakhirinya karena yang terpenting dahulu adalah keputusan untuk menerima atau tidak. Ia pun mengatakan kepada Mickey akan memikirkannya. Lusia pamit kepada Mickey setelah membayar dikasir.


“Aku harap dengan kehadiranmu bisa membantunya untuk bisa hidup normal seperti kita” permintaan terkahir Mickey saat Lusia akan membuka pintu untuk keluar.


“Kumohon pikirkanlah…” ucapnya lagi.


Lusia hanya membungkukkan badanya pamit dan meninggalkannya tanpa kata.


 


*** To Be Continued***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆

__ADS_1


__ADS_2