Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 61 - Dicemaskan 2 Pria


__ADS_3

Lusia pergi ke rumah sakit bersama Kelvin menggunakan mobil Kelvin. “Maafkan aku sudah merepotkanmu, tapi sungguh aku baik-baik saja” ucap Lusia dengan tetap menunduk duduk disebelah Kelvin yang mengemudi.


“Lukanya terlalu lebar, bagaimana kau bisa menahannya dan justru akan melakukan hal bodoh itu” sahut Kelvin dengan tetap fokus kedepan. Kelvin tidak terima jika Lusia hampir saja berlutut kepada wanita itu.


“Apanya yang bodoh” jawab Lusia lesuh. “Mana mungkin hanya demi menjaga harga diriku, aku justru membiarkan Cafe dalam masalah” sahut Lusia dengan tetep menunduk, ia tidak berani menatap Kelvin.


“Siapa yang peduli dengan tuntutannya” ucap Kelvin. “Tapi baiklah, apa kau sekarang merasa sangat bersalah?” tanya Kelvin.


“Eeemm…” gumam Lusia memandang Kelvin dengan mengangguk.


"Jika begitu, tebus rasa bersalahmu dengan mengobati lukamu dan ambil berberapa hari cuti” ucap Kelvin.


Lusia sontak terkejut. “Bagaimana aku bisa mengambil cuti hanya karena memiliki luka ditanganku. Lagi pula aku masih bisa menjaga kasir dan ini tidak akan mengganggu pekerjaanku. Aku tau kau khawatir tapi ini terlalu berlebihan” sahut Lusia.


Mereka telah sampai di rumah sakit. Kelvin menghentikan kendaraannya tepat usai mendengar keluhan Lusia. Ia menarik nafas lalu memandang Lusia. “Kau tahu jika aku sangat mengkhawatirkanmu, maka aku mohon biarkan


aku melakukan apapun untuk melepaskan kekhawatiran itu dengan memastikan kau baik-baik saja” tegas Kelvin.


Lusia terdiam, ia merasa bukan waktu yang pas untuk beradu argumen dengan Kelvin, karena ia yang salah. Lusia lalu mengikuti Kelvin untuk mendapatkan penanganan lukanya. Lusia mendapat 4 jahitan ditangannya.


.


.


Ryan telah sampai di Cafe, ia melihat mobil Lusia yang masih terparkir. Rayn sudah membuka pintu mobilnya untuk keluar, namun ia tiba-tiba menghentikannya dan menutup kembali pintu mobil.


Rayn merasa itu sangat sulit untuk pergi kesana seorang diri. Meskipun kekhawatiran yang ia miliki sudah memberinya dorongan, namun ia tetap tidak akan mampu mengendalikan kecemasan akan phobianya tanpa Lusia.


Rayn tetap bertahan di dalam mobil, ia meraih ponselnya dan mencoba menghubungi Lusia kembali. Namun Lusia masih belum menjawab panggilannya.


Tidak lama Dave yang hendak pulang menghampiri dan mengetuk kaca mobil Rayn. “Apa anda datang mencari Kak Lusia?” tanya Dave usai Rayn membuka kaca mobil.


“Eemm..., kau benar” jawab Rayn mengangguk.


“Dia sedang pergi ke rumah sakit bersama dengan bos kami. Ada insiden sampai ia terluka, tapi jangan khawatir karena bos kami akan merawatnya” jawab Dave.


“Bos kami akan merawatnya?” gumam Rayn dalam hati.


“Apa anda akan menunggunya?” tanya Dave melihat Rayn hanya diam.


“Tidak, aku hanya ingin bertemu sebentar. Tapi tidak apa, aku akan kembali” sahut Rayn dengan kembali menyalakan mobilnya.


“Baiklah” sahut Dave lalu menunduk memberi salam untuk pamit lebih dulu.


“Tunggu!” panggil Rayn.


Dave menoleh. “Jangan katakan padanya jika aku datang kemari mencarinya” ucap Rayn.


Dave tersenyum melihat tingkah Rayn. “Jangan khawatir, aku bukan burung penyampai pesan” jawabnya dengan tersenyum lalu pergi.


"Jangan khawatir bos kami akan merawatnya…” gerutu Rayn mengulang kembali perkataan Dave yang mengganggu pikirannya.


“Lalu apa menurutnya aku bos yang tidak mampu merawatnya dengan baik?” lanjut gerutu Rayn yang memiliki sedikit kekesalan hanya dengan mendengar kata itu.


Bersamaan dengan Rayn akan menjalankan mobilnya, Lusia menelpon. Lusia melakukan panggilan balik usai melihat banyaknya panggilan masuk dari Rayn yang tidak terjawab.


“Hallo… Rayn” sapa Lusia. Nama Rayn yang diucapkan Lusia membuat Kelvin sontak menatapnya.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Rayn.


“Eemm, kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?” tanya Lusia bingung. Ia merasa tidak mungkin Rayn mengetahui apa yang terjadi di Cafe.


Rayn tiba-tiba panik mendengar pertanyaan Lusia. Ia sadar, jika wajar saja Lusia merasa aneh jika dirinya tiba-tiba menanyakan soal kabar apa dia baik-baik saja.


“Ada apa kau menghubungiku dari tadi? Apa terjadi sesuatu?” tanya Lusia kembali karena tidak mendapat jawaban Rayn dari tadi.


“Aku lapar…!” jawab Rayn singkat dengan nada tegas.

__ADS_1


“Lapar? Apa Mickey tidak merawatmu dengan baik?” tanyanya.


Padahal Lusia memutuskan pergi bekerja karena Mickey mengatakan jika ia akan menjaga dan merawat Rayn. Namun mendengar Rayn menghubunginya hanya karena lapar itu sedikit aneh bagi Lusia.


“Aku hanya ingin makan sesuatu, dan aku menghubungimu untuk memintamu membelikannya saat kau pulang, tapi sudahlah kurasa tidak perlu lagi" jawab Rayn.


"Memangnya makanan apa yang Mickey tidak bisa sajikan untukmu?” tanya Lusia. “Lagi pula kau bilang kau sedang lapar, artinya saat ini kau merasa lapar, tapi kau rela menungguku pulang untuk membelikannya. Kau yakin bisa menahan lapar selama itu?” tanya Lusia.


"Makanan yang tidak bisa disajikan Mickey untukku? " human Rayn.


Rayn dalam hati memikirkan jawabannya. “Intinya aku hanya ingin makan ayam goreng dibalut saus BBQ” jawab Rayn sekilas melihat tampilan menu yang ada di banner depan Cafe Lusia”


“Ayam goreng dibalut saus BBQ…?” tanya Lusia sambil berpikir. "Itu seperti salah satu menu Cafe tempatku bekerja. Tapi Baiklah” jawab Lusia lalu menutup telepon.


Rayn menghantukkan kepalanya dikemudi. “Kau hanya tinggal bilang, bagaimana lukamu? Apa kau baik-baik saja, aku sangat khawatir sampai datang ke Cafe tempatmu bekerja saat ini. Hanya itu yang perlu kau ucap Rayn, pembahasan tidak penting apa saat ini? Ayam goreng kepalamu?” gerutunya kepada dirinya sendiri dengan menghantukkan kepalanya.


“Apa dia suka seenaknya seperti itu?” tanya Kelvin usai Lusia menutup telepn.


“Jangan menatapku seperti itu, aku hanya melakukannya karena berkerja untuknya” jawab Lusia.


Lusia kembali ke Villa diantar oleh Kelvin. Mereka datang saat Rayn juga baru sampai dan hendak keluar dari mobilnya.


Rayn menatap Lusia turun dari mobil usai Kelvin membukakan pintu untuknya. “Kau tidak perlu seperti itu” celetuk Lusia akan sikap Kelvin.


"Anggap saja bonus” jawab Kelvin dengan tersenyum.


Kelvin lalu pamit kepada Lusia untuk kembali. “Aku akan memberimu cuti beberapa hari. Dan itu perintah” ucap Kelvin lalu masuk mobil dan pergi.


Lusia menghampiri Rayn “Kau usai darimana?“ tanya Lusia.


Rayn tidak menjawab, ia hanya menatap tajam tangan Lusia yang dibalut perban dan satu tangannya lagi membawa bingkisan makanan ayam goreng.


“Ohhh… ini aku hanya cedera saat bekerja. Kau tahu kadang aku ceroboh” ucap Lusia menyadari tatapan Rayn yang tertuju ke tangannya.


“Berikan padaku !!” ucap Rayn meraih sekantong makanan dari tangan Lusia.


Rayn membuka pintu dan masuk lebih dahulu, ia menahan pintu untuk mempersilahkan Lusia masuk. “Hya, aku bertanya kau darimana?” tanya Lusia kembali sambil melangkah masuk.


"Sudah aku katakan aku lapar, jadi aku keluar mencari makanan” jawab Rayn.


“Jika begitu, aku akan membantumu menyimpannya” sahut Lusia dengan mencoba meraih bingkisan dari Rayn.


“Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri dan menghabiskannya sendiri, kau bisa pergi kekamarmu. Tanganmu sudah teriak kesakitan” ucap Ryan lalu pergi naik ke kamarnya.


“Bukankah dia barusan bilang baru saja keluar mencari makan, apa dia akan memakannya lagi?" gumam Lusia.


“Apa kau sungguh keluar mencari makan? bagaimana kau melakukanya, kau pergi seorang diri?” tanya lusia mengikuti Rayn menaiki tannga.


“Berhenti mengikutiku dan cepat kembali ke kamarmu !" perintah Rayn . Lusia menghentikan langkahnya dan kembali menuruni tangga dengan kebingungan. "Ada apa dengannya?" gumam Lusia dalam hati.


Lusia pergi kekamarnya sesuai perintah Rayn, tiba-tiba terdengar sandi pintu berbunyi menandakan ada sesorang yang mencoba masuk. Ia melihat Arka masuk.


Arka terkejut melihat tangan Lusia yang di balut perban. “Apa anda baik-baik saja nona?” tanyanya dengan menatap tangan Lusia.


“Darimana saja kau? Dan mana Mickey? Dia mengatakan akan menggantikanku menjaga Rayn tapi jam segini sudah menghilang. Pantas saja Rayn pergi kelayapan seorang diri” ucap Lusia heran.


“Aaa… saya dari menjalankan misi, yah… bisa dikatakan seperti itu. Dan Tuan Mickey ada urusan mendadak baru saja pergi.” jawab Arka dengan senyum yang dipaksaakan agar ucapannya dapat di percaya.


Arka tidak mengatakan jika ia baru saja mengikuti Rayn atas perintah Mickey. Mickey meninggalkan Villa setelah mendapat laporan dari Arka jika Rayn pergi ke Cafe Lusia. Mickey merasa jika itu artinya kondisi Rayn saat in sudah baik-baik saja.


.


.


Tok Tok…


Malam sudah semakin larut, Rayn pergi mengetuk pintu kamar Lusia.

__ADS_1


“Rayn ?” tanya Lusia.


Menurutmu siapa lagi orang di rumah ini yang berani mengganggumu malam-malam jika bukan aku” ucap Rayn membuka pintu menerobos masuk dengan kotak obat ditangannya. Baginya dengan mengetuk pintu artinya sudah meminta izin untuk masuk.


“Berikan tanganmu !” perintah Rayn.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Lusia.


“Apa dokter tidak menyarankanmu untuk menggantinya?” tanya Rayn memeriksa perban Lusia.


“Aku bisa melakukannya besok“ sahut Lusia dengan menurunkan kembali tangannya.


“Diamlah, bagaimana bisa kau menunggunya sampai besok setelah membuatnya basah seperti ini” ucap Rayn duduk diranjang. Ia kembali meraih tangan Lusia yang duduk disebelahnya dan meletakkan tangan Lusia dipangkuannya. Ia dengan penuh perhatian membuka perban Lusia untuk menggantinya.


“Aku tidak sengaja membuatnya basah saat mandi tadi” sahut Lusia.


Lusia merasa salut dengan cara Rayn membantunya mengganti perban. "Wah,, kau tampak ahli melakukannya” puji Lusia melihat Rayn sudah seperti seorang dokter yang sedang merawatnya saat ini.


“Karena aku selalu melakukannya seorang diri saat aku terluka” sahutnya dengan tetap fokus mengganti perban Lusia. “ Kau harus menjaganya untuk tetap kering” lanjut ucap Rayn.


Mendengar jawaban Rayn sedikit membuat Lusia merasa bersalah dan tidak enak hati. Ia lupa jika Rayn selama ini hidup seorang diri. Sangat tidak mungkin bagi Rayn untuk membiarkan orang lain menyentuhnya. Luka-luka kecil seperti ini, Rayn hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri.


“Apa kau tidak ingin mengatakan apapun padaku?” tanya Rayn yang sudah selesai mengganti perban.


“Tentang?“ tanya Lusia pura-pura tidak tahu maksud Rayn.


Rayn hanya menjawab melalui tatapannya kepada Lusia. Ia tahu jika sebenarnya Lusia tahu maksud dari pertanyaannya.


“Aaa… ini. Ini hanya luka kecil“ jawab Lusia dengan tersenyum mencoba mengatakan jiak ia baik-baik saja.


“Kecil hingga butuh 4 jahitan?” tanya Rayn kesal tanpa sadar memegang tangan Lusia.


“sss,,, aah. Sakit“ desis Lusia.


“Kau yakin baru merasakan sakitnya? Apa kau benar-benar bodoh? Bagaimana kau hanya diam dan membiarkan dia melakukannya, kau seharusnya melawannya”


“Ternyata kau sudah tahu” sahut Lusia menunduk.


“Jika sakit, katakanlah sakit, jika kau lelah katakanlah lelah. Begitu juga, jika kau ingin marah maka marahlah, jika kau merasa tidak adil maka lawanlah.


“Rayn…” potong Lusia.


Rayn menghela nafas lalu melanjutkan ucapannya. “Tidak apa jika harus menjadi egois untuk sesaat saat kau sudah tidak bisa menahannya” ucap Rayn.


Rayn bangkit dari duduknya. “Aku menunggumu untuk menceritakkannya kepadaku. Tapi, aku hanya bisa mendapatkannya melalui video itu. Entah kau tidak menganggapku atau itu tidak penting bagimu. Aku tidak ingin memaksamu” ucap Rayn lalu berjalan membuka pintu hendak keluar.


“Aku terlalu malu…” jawan Lusia lirih dengan berdiri dari duduknya.


Rayn menghentikan langkahnya mendengar ucapan Lusia, ia menoleh menatap Lusia yang hanya tertunduk.


“Bagaimana aku bisa menceriktakan padamu tentang apa yang terjadi. Aku sangat malu, karena itu terlalu memalukan untuk dikatakan kepadamu. Tapi apa yang bisa aku lakukan” ucapnya dengan mata yang mulai bekaca-kaca.


Dengan suara yang terputus Lusia melanjutkan ucapanya. “Ju..jujur, saat itu rasanya sangat sulit. Mungkin kau juga akan berpikir tidak ada satu pun orang yang ingin berlutut dengan senang hati. Aku tahu... akupun juga tahu. Bahkan, aku ingin menutup mata dan ingin menjadi egois dengan tidak peduli. Tapi aku tidak bisa. Meskipun itu sangat melukai harga diriku, aku hanya harus bertahan” ucap Lusia Lusia menatap Rayn dengan suara yang sudah mulai terdengar bergetar karena menahan tangisannya.


Air mata Lusia mulai menetes, ia kembali menunduk karena tidak ingin menunjukkan kepada Rayn air matanya yang mulai mengalir. Rayn masih terus menatap Lusia dan membiarkan Lusia mengatakan semua yang ingin ia katakan.


“Aku hanya perlu menyelesaikannya tidak peduli jika harus dengan berlutut. Karena orang-orang juga akan dengan cepat melupakannya. Dengan begitu, aku juga beharap dengan cepat akan menjadi lupa. Selama ini aku sudah berusaha sebaik mungkin, tapi semua tetap selalu sulit” ucap Lusia.


Rayn lalu kembali menutup pintu dan menghampiri Lusia, tanpa aba-aba ia perlahan meraih Lusia dan langsung memeluk Lusia yang mencoba menyembunyikan air matanya.


“Kau sudah berusaha semampumu dan melakukannya dengan baik. Hanya saja mereka orang-orang yang egois, sengaja menutup mata akan hal itu. Itu semua bukan salahmu. Menangislah jika kau ingin menangis, kau tidak salah” ucap Rayn dengan menepuk bahu Lusia perlahan dan berulang. Tangisan Lusia pecah mendengar ucapan Rayn.


Meskipun Rayn tidak bisa selembut Kelvin, namun ia selalu bisa memahami perasaan Lusia. Meskipun Rayn tidak mampu mengungkapkan kekhawatirannya dengan kata, namun ia selalu menunjukkan perhatiannya dengan ketulusan hatinya tanpa mengharap untuk diakui.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued***


__ADS_2