
POV Kelvin part 2
Aku sungguh berharap jika dia sungguh mengenaliku dan aku pun menjadi gugup. Dia mengambil langkah semakin dekat tanpa melepaskan tatapan matanya kepaku.
"Kau..."
"Kau... mengenalku? Kenapa kau memberinya kepadaku?"
Aku menghela nafas mendengar pertanyaan itu. Lupakan Kelvin, apa yang kau harapkan. Itulah yang aku katakan kepada diriku sendiri. Dia lalu bertanya siapa diriku, kenapa memberinya bunga jika aku tidak mengenalnya dan aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Aku hanya bisa mengatakan jawaban yang abu-abu. "Entalah, aku hanya ingin melakukannya. Aku sudah ada disini dengan bunga ditanganku dan aku melihatmu. Anggap saja seperti itu".
Itulah jawaban yang aku berikan kepadanya. Dia bertanya apakah dirinya terlihat begitu menyedihkan dan apa aku melakukannya karena rasa kasihan. Dia menolak bunga yang aku beri dengan mengatakan jika tidak butuh dikasihani. Tanpa ingin tahu apa-apa lagi, dia beranjak pergi untuk meninggalkanku tapi aku menahannya. Aku meraih tangannya dan memaksanya untuk menerima bungaku.
"Pikirkanlah seperti apa yang sedang kau pikirkan sesukamu" itu yang aku katakan kepadanya lalu merampas ponsel ditangannya. "Tersenyumlah" pintaku saat memotret dirinya dengan memegang bunga itu. Lalu aku mengambil selca bersamanya semauku dengan mengatakan jika itu adalah bonus.
Terlihat jelas dalam photo itu jika ia sangat tidak bahagia. Hatiku pun terasa sakit melihatnya. "Dihari kelulusan, setidaknya kau harus memiliki 1 foto bersama seseorang. Aku tidak memaksamu menyimpannya, tapi kuharap kau tidak menghapusnya" . Permintaanku kepadanya sembari mengembalikan ponselnya lalu aku pamit pergi.
Aku dapat merasakan betapa putus asanya dia saat gagal mendapatkan beasiswa itu. Itu artinya dia harus berjuang ekstra lagi mencari pekerjanan paruh waktu untuk bisa membiayai biaya sekolah. Tapi, apa yang bisa dilakukan oleh gadis seusianya. Pada titik ini, tidak ada yang bisa aku lakukan selain meminta bantuan ayahku.
Aku meminta ayahku membantunya untuk bisa bersekolah disekolah yang baik. Meminta ayahku membantu biaya hidupnya melalui sekertaris ayahku yang Lusia tahu jika pria itu adalah teman baik ayahnya. Ayahku menyetujuinya tanpa bertanya kenapa ataupun menolak. Aku pikir itu terlalu mudah mewujudkannya tanpa syarat, tapi ternyata aku salah.
Sebagai gantinya, ayah memintaku untuk lanjut bersekolah di luar negeri. Sungguh pilihan yang sulit bagiku karena itu artinya aku tidak akan bisa lagi melihatnya atau mengikutinya seperti yang selama ini aku lakukan. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menerima kesepakatan itu dengan ayahku.
__ADS_1
Setelah setahun aku diluar negeri, aku kembali pulang untuk mengisi libur panjang sekolahku. Aku pergi bertemu dengan teman baikku David. Tidak hanya aku dan David yang berteman, tetapi ayahku dan ayahnya juga bersahabat. David mengatakan kepadaku jika dia memiliki wanita yang sangat ia kagumi dan David sangat menyukainya.
David memintaku bertemu karena dia akan mengenalkanku pada gadis itu. Sungguh takdir yang tidak bisa aku mengerti, gadis yang ingin David perkenalkan kepadaku adalah dia, Lusia. Aku tidak menyangka jika aku akan bertemu lagi dengannya dalam situasi ini. Dan sulit aku percaya jika Lusia sama sekali tidak mengingatku.
Sepertinya saat itu dia benar-benar menghapus fotoku. Karena itu dia tidak mengenaliku dan hanya mengagapku sebagai orang aneh yang lewat seperti angin lalu. Tapi, berkat David aku memiliki kesempatan memperkenalkan diriku secara resmi kepadanya sebagai teman David, dan kami mulai menjadi dekat hingga seperti sekarang.
Aku tidak bisa melakukan apapun atau memaksanya untuk mengingatku disaat teman baikku mengatakan jika dia menyukainya. Ya, biarkan semuanya tetap seperti ini, aku rasa itu yang terbaik untuk kita semua sekarang. Aku kembali menyelesaikan sekolahku tapi aku masih menjaga komukasi baik dengan Lusia dan David.
Pada musim liburan ketiga, aku kembali hanya untuk bertemu dengan Lusia. Aku tidak memberitahunya jika aku akan kembali. Aku pergi menemuinya, tapi saat itu aku melihatnya terlibat masalah dengan beberapa pelajar pria dan seorang anak laki-laki dengan penampilan yang berbeda. Anak laki-laki itu adalah pria yang saat ini menjadi suaminya. Kisah Gadis berkuncir kuda, ya... aku ada disana saat Lusia dan Rayn pertama kali bertemu.
Masih teringat jelas kejadian itu dan masih teringat jelas jika aku masih saja bodoh karena hanya membiarkan kakiku tak bergerak, hanya mataku yang memandang. Kejadian itu, aku pikir jika itu hanya akan menjadi cerita lalu. Tapi, aku tidak menyangka jika pertemuannya dengan Rayn saat itu menjadi awal dari takdir mereka.
.
.
POV Author
Kelvin masih memandang Lusia sembari mengingat awal pertemua mereka yang sebenarnya.
"Kelvin, aku bertanya bagaimana dan kapan kali pertama kita bertemu?" tanya Lusia untuk kedua kalinya saat melihat Kelvin hanya diam tanpa menjawab apapun.
Kelvin mengurai senyum. "Sebelum itu, aku ingin tahu sesuatu darimu. Apa kau benar-benar menghapus foto kita? Foto kita berdua dihari kelulusanmu" tanya Kelvin.
__ADS_1
Lusia mengerutkan keningnya, ia tampak berusaha memahami maksudnya. Ia berpikir jika pasti ada sesuai yang ia lewatkan. Raut wajah Lusia tiba-tiba berubah seperti ia telah mengingat sesuatu. "Tunggu, anak laki-laki yang memberiku bunga... apa itu sungguh kau?" tanya Lusia yang mulai mengingatnya.
Lusia menyesal jika dia tidak sama sekali tidak menyadari hal itu. Ia juga mengeluh kenapa Kelvin tidak pernah mengatakan kepadanya selama ini. Lusia menjelaskan jika dirinya tidak bisa mengingat dengan baik disaat pikirannya tidak dalam kondisi stabil. Saat itu perasaannya sangat kacau sehingga tidak bisa mengingat wajah anak laki-laki yang memberinya bunga. Lusia sangat meminta maaf kepada Kelvin.
Lusia mengatakan jika dia tidak menghapusnya, saat itu jika saja ponselnya tidak rusak, mungkin sampai sekarang dirinya pasti masih menyimpan foto itu. Dan dia pasti bisa mengingat jelas wajah Kelvin saat itu. "Ternyata kita sudah bertemu sejak saat itu" ucap Lusia lirih merasa bersalah.
"Apa kau sungguh berpikir jika kedatanganku saat itu hanyalah kebetulan?" tanya Kelvin.
Lusia kembali menatap ke arah Kelvin. "Apa maksudmu?" tanya Lusia.
Kelvin menyibak rambutnya dan meminta Lusia menatap Luka di keningnya. "Kau pernah bertanya kepaku, bagaimana aku mendapatkan luka ini" ucap Kelvin lalu kembali menutupi luka itu dengan rambutnya.
Kelvin tersenyum seperti sedang kembali mengingat momen itu. Luka itu tentu saja ia dapat saat membantu Lusia dari serangan para preman yang meminta Lusia dan ibunya yang hamil mengosongkan rumah mereka. Meskipun begitu banyak yang Lusia harus tahu, tapi Kelvin memutuskan untuk tidak memberitahu Lusia jika itu adalah momen pertama kali mereka bertemu yang sebenarnya.
Bagi Kelvin, semua yang ia lakukan untuk Lusia sudah cukup hanya dirinya yang mengingat dan menyimpannya. Tidak ada lagi alasan baginya untuk mengatakan semuanya sekarang. Meskipun begitu banyak meninggalkan sesal disetiap kebodohannya, namun Kelvin sangat bersyukur karena disaat itu dirinya selalu ada untuk Lusia.
"Kau benar, aku pernah bertanya kepadamu, tapi kau tidak pernah memberitahuku bagaimana kau bisa memiliki luka itu" sahut Lusia
"Eemm... Lupakan..., itu semua hanya karena aku tidak pandai berkelahi" sahut Kelvin tersenyum.
Kelvin meraih kedua bahu Lusia dan menatap sendu kedua manik mata wanita yang ada dihadapannya saat ini.. "Lusia, percayalah kepadaku. Apapun yang terjadi aku akan selalu berada dipihakmu. Tentang apa yang terjadi dengan ayahmu, aku tidak akan pernah menyerah mencari kebenarannya. Aku pastikan ayahmu akan mendapatkan keadilan dan bisa membersihkan namanya kembali. Lusia, jika nanti saat itu benar tiba, aku harap kau tidak lagi memberiku tatapan itu, tersenyumlah kepadaku. Berikan aku tatapan seorang gadis yang periang" ucap Kelvin dengan perasaan yang begitu tulus.
Rayn yang masih ada disana tentu saja mendengar semuanya. Ia hanya diam tampak sedang menahan diri. Dirinya pun tidak menyangka jika Kelvin memiliki kisah yang begitu dalam dengan Lusia. Rayn pun lalu menyentuh goresan bekas luka didagunya. Tidak hanya dirinya, tapi ternyata Kelvin juga memiliki sesuatu yang ditinggalkan dibalik kisah pertemuan pertamanya dengan Lusia. Meskipun Kelvin tidak mengatakan hal itu secara langsung kepada Lusia, tapi Rayn sangat yakin dan bisa memahaminya.
__ADS_1