Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 160 - Picnic Day


__ADS_3

Picnic-Day ....


Hari ini adalah hari dimana Rayn dan Lusia akan pergi untuk berpiknik sesuai dengan yang sudah direncanakan mereka berdua. Memiliki liburan bersama sambil menggelar tikar di taman yang terbuka hijau dan menikmati waktu bersantai bersama adalah momen menyenangkan yang selalu dinanti. Lusia sudah mempersiapkan perlengkapan yang akan mereka butuhkan.


Sebuah taman yang berada dibibir pantai telah menjadi tempat yang dipilih Lusia. Liburan kali ini akan berbeda dengan piknik sebelumnya yang pernah menjadi misi Lusia. Meskipun hingga saat ini Rayn masih memiliki Phobia akan sentuhan orang lain serta kecemasan berada diantara kerumunan, namun Rayn tidak lagi membutuhkan barang-barang untuk melindunginya


Payung, kacamata, sarung tangan dan kebutuhan lain yang biasa Lusia bawa untuk berjaga-jaga, kini Rayn tidak membutuhkannya lagi. Cukup ada Lusia disisinya, Rayn yakin jika dirinya pasti akan bisa melewati kebersamaannya bersama Lusia di taman hari ini.


Lusia sesungguhnya masih tidak mengerti apa yang membuat Rayn tiba-tiba mendorong dirinya untuk melakukan semua yang selama ini tidak mungkin dia lakukan. Meskipun sangat penasaran dan ingin tahu, namun akan mencoba untuk melakukannya. Apapun alasannya itu, Lusia hanya berharap jika Rayn tidak memaksakan diri melakukan semua ini hanya untuk membahagiakan dirinya.


Meskipun tidak menemukan jawabannya, Lusia tidak ingin membuang waktu lagi memikirkan sesuatu yang sulit ia pahami itu. Hari ini, dirinya hanya cukup menikmati waktu dan berbahagia bersama Rayn.


"Apakah kau yakin dan sudah siap?" tanyanya kepada Ryan.


"Kita sudah berada disini, tapi kenapa kau menanyakannya?" tanya Rayn kepada Lusia.


Lusia tersenyum, ia menoleh menatap Rayn yang berdiri disampingnya. Lusia menjulurkan tangannya meminta  Rayn untuk menggandengnya. Rayn meraihnya lalu menggenggamnya.


Lusia kembali mengurai senyum "Baiklah, jangan pikirkan apapun, cukup melakukannya!!" ucapnya dengan wajah riang menatap tanah lapang hijau yang di penuhi banyak orang dan anak-anak berlarian.




Hari ini tidak hanya mereka berdua, tetapi ada Arka yang juga ikut serta bersama mereka. Sebagai pengawal pribadi Rayn, Arka tentu saja bertugas untuk memberi pengawalan khusus kepada Rayn. Lusia kembali memuji penampilan Arka yang tampai lebih santai. Dia tidak lagi mengenakan jas hitam yang secara langsung menunjukkan jika dirinya adalah seorang bodyguard. Arka mengenakan hoodie yang dilapisi dengan jacket motif kotak-kotak dengan celan jeans dan topi hitam.


Rayn meminta Arka untuk mengambil keranjang piknik di tangan Lusia serta beberapa keperluan yang masih berada di mobil. Rayn meminta Arka untuk menyiapkan serta menyusunnya dengan rapi. Lusia menatap tajam Rayn usai mendengar perintah Rayn kepada Arka. Ini adalah hari mereka berdua, hari Rayn dan Lusia. Lusia merasa jika dirinya bisa melakukannya sendiri tanpa harus merepotkan Arka. Lusia juga ingin Arka bisa menikmati waktu untuk bersantai.


Di posisi Arka sebagai pengawal pribadi Rayn, tentu saja dia akan lebiih mendengarkan perintah Rayn meskipun Lusia menolak. Dengan cepat Arka langsung meminta keranjang piknik dari tangan Lusia. Lusia tidak memberikannya, ia melangkah satu langkah kedepan dan berdiri tepat didepan Rayn dengan tatapan serius, menunjukkan jika Rayn harus mendengarkan dirinya.


Arka pun ikut menatap Rayn dengan tatapan penuh tanya, apa yang harus dia lakukan karena dia hanya akan mendengarkan perintah Rayn saat ini. Rayn menghela nafas, ia hanya tidak ingin membuat Lusia lelah atau pun merepotkan diri tapi ia juga tidak bisa menolak permintaan Lusia.


Rayn memberi kode meminta Arka untuk mundur dan biarkan Lusia yang melakukannya. Arka mungkin akan lebih mendengarkan Rayn sebagai Bos nya dibandingkan Lusia. Namun, Rayn sendiri tentu saja tidak akan bisa melawan Lusia dan akan lebih mendengarkan Lusia dibanding dirinya sendiri.

__ADS_1


Lusia pun tersenyum, ia lalu bergegas menggelar alas kain berukuran sedang dengan motif kotak-kotak berwarna gold list putih. Sebuah alas untuk mereka berdua duduk-duduk santai seraya menikmati makanan. Lusia mengeluarkan beberapa makanan yang ada pada keranjang rotan dengan desain estetik yang berisi makanan dan minunan.



Sandwich, Burger, Kentang Goreng, Buah-Buahan serta Jus Buah telah disiapkan. Dan satu lagi yang selalu menjadi favorit Rayn adalah Gyoza Sayur. Sbagian makanan dan minumam sudah tersusun rapi, mereka hanya perlu menikmati kebersamaan itu berdua. Ryan mengatakan jika dirinya akan menghabiskan semua makanan yang sudah disiapkan istrinya.


Lusia menuangkan minuman yang akan menyegarkan tenggorokan keduanya ditengah hangatnya sinar matahari. Dia juga memanggil Arka untuk bergabung dengannya. Rayn tiba-tiba meraih bantalan kecil yang mereka bawa lalu meletakkannya di pangkuan Lusia. Rayn dengan segera membaringkan tubuhnya bersandar di pangkuan Lusia seraya memandangi alam dan angin sepoi-sepoi. "Bukankah momen ini yang tidak ingin dilewatkan" ucap Rayn.


Tindakan Rayn membuat Arka menghentikan langkahnya. Sikap Rayn menunjukkan jika dia tidak ingin ada orang lain mengganggu momen berdua bersama istrinya.


"Saya akan mengambilnya sendiri, anda tidak harus merepotkan diri untuk juga merawat saya" ucap Arka seraya menuangkan minuman untuk dirinya sendiri.


"Merawat? Bukankah itu perumpamaan yang terlalu berlebihan" gumam Rayn mendengar percakapan Lusia dan Arka.


Lusia meraih buah anggur lalu menyuapkannya pada Rayn satu persatu untuk membuatnya berhenti mengeluh. "Sepertinya hanya kau menjadi satunya orang yang akan sangat menikmatinya" sindir Lusia lalu mengurai senyum.


Lusia menutupi wajah Rayn menggunakan telapak tangannya, melindunginya dari cahaya sinar matahari yang menyilakukan mata Rayn. Rayn meraih tangan Rayn lalu mendekapnya dalam pelukan. Rayn mengatakan jika Lusia tidak perlu melakukannya karena dirinya akan menikmati hangatnya cahaya matahari itu. "Ini akan membuatmu lelah" ucapnya.


Lusia tampak sibuk mencari earphone yang sepertinya tertinggal di mobil. Lusia berniat mengambilnya namun Rayn melaranganya dan memanggil Arka. Lusia kembali memperingatkan Rayn jika dia tidak ingin merepotkan Arka, Lusia ingin membiarkan Arka menikmati waktu santainya seperti yang mereka lakukan saat ini.


Lusia pun bangkit dan hendak pergi menemani Rayn, tapi langkahnya terhenti setelah tiba-tiba terdengar suara seorang pria memanggil namanya. "Lusia....!! panggilnya.


Lusia menoleh ke arah sumber suara itu berasal, ia melihat anak dari bos tempat dulu dia bekerja paruh waktu semasa sekolah dulu. Pria itu seusianya dan mereka dulu sempat dekat seperti seorang teman. Lusia mengurungkan niatnya mengejar Rayn yang sudah jauh, selalin itu sudah Arka yang menemaninya.


"Hei, Jarry...?" sapa Lusia.


Pria bernama Jarry itu terlihat senang bertemu Lusia, ia langsung menyambut sapa Lusia dengan memeluknya. Pelukan Jarry membuat Lusia tidak nyaman mengingat dirinya sudah menikah dan memiliki seorang suami. Dengan tetap bersikap sopan Lusia melepaskan pelukan Jarry.


Jarry mengatakkan jika dia sangat senang bertemu dengan Lusia, bahkan ia juga menganggumi wajah Lusia yang masih tetap cantik dan semakin cantik. Jarry kembali memeluk Lusia dengan mengatakan jika dia masih tidak percaya akan bertemu Lusia lagi dan dia sangat senang.


Rayn menemukan earphone Lusia, ia lalu meminta Arka untuk sekalian membawa perlengkapan lain yang masih ada di mobil. Rayn mengatakan jika dirinya akan kembali lebih dulu. Arka sudah menahan Rayn dan meminta untuk menunggu dirinya. Namun Rayn main langsung pergi begitu saja.


Langkah Rayn tiba-tiba berhenti saat melihat dari kejauhan seorang pria telah memeluk istrinya. Pelukan Jarry membuat Lusia menjadi semakin tidak nyaman. Jarry terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan Lusia mengatakan kabar tentang dirinya sekarang.

__ADS_1


Setelah banyak bicara, Jarry bertanya apakah hingga sekarang Lusia masih sendiri. Belum sampai Lusia menjawab pertanyaan itu, terdengar suara ponsel Jarry yang berdering. Jarry pun pamit sebentar untuk menerima panggilan dan akan kembali usai menyelesaikan panggilannya.


Jarry berjalan menjauh, berjalan ke arah Rayn. Rayn pun kembali melanjutkan langkah kakinya dan berjalan ke arah Jarry. Seperti kutup magnet yang saling tarik menarik, keduanya kini tepat saling berpapasan. Tepat pada momen itu Rayn mendengar pembicaraan Jarry pada telepon yang menyebutkan nama istrinya.


Lusia yang kini hanya seorang diri melihat Arka yang sudah kembali namun tanpa Rayn. Lusia pun bergegas menghampirinya dan membantu menurunkan barang-barang yang ada ditangan Arka. Lusia melirik ke belakang Arka dan bertanya kepada Arka kenapa Rayn tidak kembali bersamanya.


"Ini yang ingin saya tanyakan kepada anda Nyonya, dimana Tuan Muda Rayn?" tanya Arka.


Arka pun sontak memandang sekitar, ia pun tidak tahu karena Rayn sudah lebih dulu kembali. Arka pikir jika Rayn seharusnya sudah bersama dengan Lusia sekarang. Lusia pun menjadi panik, ia pun langsung meninggalkan Arka dan berteriak memanggil nama Rayn seraya berusaha menghubungi Rayn.


Lusia sangat khawatir jika sesuatu terjadi kepada Rayn. Lusia berlarian kesana kemari mencari Rayn. Tanpa sadar ia sangat marah kepada Arka karena membiarkan Rayn kembali seorang diri. Kekhawatiran Lusia menjadi tak terkendali karena saat ini mereka sedang berada di taman yang penuh dengan banyak orang berkeliaran. Lusia takut terjadi sesuatu dengan Rayn.


Rayn....!!!


Teriakan itu terdengar berulang kali, menarik perhatian setiap orang yang mendengarnya. Arka yang ikut mencari kembali dan mengatakan jika dirinya juga tidak menemukan Rayn di mobil. Lusia kembali berusaha menghubungi Rayn, panggilan berdering namun Rayn tidak menjawa panggilannya.


"Arka, apa yang harus aku lakukan?" tanya Lusia dengan raut wajah yang sudah berkaca-kaca.


Arka segera menghubungi team pengawal yang lain untuk segera pergi ke taman dan menemukan Rayn. Di tengah kepanikan Lusia, ia berpapasan dengan beberapa orang yang lewat sambil bergunjing membahas tentang perkelahian yang baru saja mereka lihat.


"Kenapa tidak ada polisi yang berjaga hari ini untuk memisahkan mereka?"


"Pria itu dengan brutal memukulnya habis-habisan."


"Pria yang dipukuli dia hanya diam seperti tidak bisa melawan, kasihan sekali."


Pembicaraan mereka langsung menarik perhatian Lusia dan Arka untuk bertanya tentang apa yang sedang mereka bicarakan. Mereka mengatakan jika telah terjadi sebuah perkelahian, salah satu dari mereka terlihat tidak berdaya. Pria yang dihajar itu mungkin bisa saja mati jika tidak ada yang menyelamatkannya. Tubuh Lusia langsung gemetar mendengar hal itu. "Tidak mungkin, Rayn..." ucapnya panik.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2