Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 45 - Di Salahpahami


__ADS_3

Hari ini seharusnya menjadi hari libur Lusia bekerja di Cafe. Namun, ia masih harus tetap bekerja menggantikan shif saat ia mengambil izin beberapa hari lalu untuk menjaga Rayn.


Lusia bekerja mendapat shif pagi, ia sudah bangun lebih awal agar bisa menyiapkan sarapan untuk Ryan. Dengan mata yang masih sayup ia pergi di dapur. Meskipun belum sepenuhnya nyawa Lusia terkumpul dari tidurnya, mata Lusia langsung mengarah ke Rice Box yang terdapat di meja makan. Lusia mendekat dan diambilnya kertas note berwarna biru yang tertempel pada kotak makanan itu.


[Aku meminta Mickey membawakannya saat menjemputku kemari tadi. Aku sedang ada urusannya dengannya. Habiskan sarapanmu ini]


Lusia tersenyum melihat hal yang tidak biasa dari Rayn. Suatu hal yang belum pernah Rayn lakukan sebelumnya, yaitu menyiapkan sarapan yang seharusnya dilakukan Lusia untuk Ryan. “Ada apa dengannya hari ini. Apa dia melakukan kesalahan?” tanyanya sembari membuka kotak makanan itu. Ia pergi mengambil ponsel lalu memotretnya dan mengirimkan foto itu kepada Rayn.


[Aku tidak tahu apa maksud dari ini, tapi terima kasih. Aku akan menghabiskannya]


Pesan telah dikirim Lusia. Ia bersiap untuk menyantapnya, namun seketika Lusia teringat sesuatu dan meraih ponselnya kembali untuk mengirim pesan kepada Rayn lagi.


[Aku tidak tau apa urusanmu dengan Mickey. Tapi, hati-hati dan hubungi aku jika terjadi sesuatu]


Pesan telah dikirim Lusia kepada Rayn, ia lalu melanjutkan untuk menyantap sarapan yang sudah Rayn siapkan untuk dirinya.


Rayn saat ini sedang dalam perjalanan menuju perkampungan nelayan bersama dengan Mickey dan Arka. Rayn yang menerima pesan dari Lusia tersenyum setelah membacanya. "Kapan dia berhenti menaruh curiga kepadaku" gumam Ryan membaca pesan dari Lusia yang membahas maksud dari tindakannya menyiapkan sarapan.


“Mickey…, apa kita benar-benar harus melakukannya?” tanya Rayn kepada Mickey yang duduk di kursi depan. Rayn menanyakan perihal tujuan dari perjalanannya saat ini.


Mickey berbalik dengan menghela nafas kasar memandang Rayn yang duduk di kursi belakang. “Kita sudah menempuh perjalanan sejauh ini, Arka sudah mengemudi untuk kita hampir satu jam dan tinggal setengah perjalanan lagi kita akan sampai. Dan.... tiba-tiba kau baru menanyakannya sekarang?” tanya Mickey. Ia merasa jika itu sangat tidak masuk akal.


“Baiklah, kita lanjutkan” jawab Rayn singkat. Ia malas berdebat panjang dengan Mickey. Rayn meraih Headphone lalu dipakainya. Ia menatap ke arah jendela mengabaikan Mickey yang masih saja mengoceh kepadanya.


.


.


Mereka telah sampai di tujuan, Mickey lebih dulu turun dari mobil diikuti Arka yang membukakan pintu untuk Rayn. Rayn berjalan ke sebuah kedai Seafood yang terkenal dengan menu Sup Kerang nya. Sebuah kedai sederhana yang saat ini sedang tutup.


“Ini seperti aku sedang menutup rizky seseorang” ucap Rayn menatap tulisan CLOSE yang tergantung di pintu kedai.


Rayn berjalan mendekat, namun langkahnya terhenti saat hampir sampai di depan pintu kedai itu. Seorang wanita paruh baya membuka pintu dan keluar dengan ember berisi penuh air kotor ditangannya yang hendak ia buang. Wanita itu juga sama terkejutnya dengan Rayn. Rayn langsung mengambil langkah mundur melihat wanita itu berjalan ke arahnya.


Melihat Rayn menghindari wanita itu, Arka langsung berlari pasang badan berdiri di depan Rayn. Sementara Mickey baru menyelesaikan panggilan telepon yang ia terima semenjak turun dari mobil.

__ADS_1


“Maaf, hari ini kami tidak buka karena akan ada tamu penting keluarga kami. Mungkin anda bisa kembali lagi besok” ucap wanita itu dengan sopan kepada Arka dan Rayn.


Usai menutup telepon, Mickey baru menyadari jika Rayn sudah tidak ada di dalam mobil. Ia terkejut saat melihat Ryan sudah berdiri di depan kedai bersama Arka yang menjaga Rayn dari wanita paru baya itu. Mickey pun bergegas menghampiri mereka sebelum wanita itu mendekati Ryan.


“Bibi, ini kami" potong Mickey. "Saya, ini saya Mickey” lanjutnya menunjuk diri sendiri.


“Oh Nak Mickey, jadi mereka datang dengan Nak Mickey ternyata” sahut wanita itu yang hanya mengenal wajah Mickey tanpa hafal nama Mickey sebelumnya. “Ayo masuk Nak” ajak wanita itu mempersilahkan mereka masuk.


“Nak…?” tanya Rayn berbisik kepada Mickey yang tampak aneh dengan panggilan itu.


"Setidaknya itu panggilan yang masih bisa aku terima daripada sebelumnya dia terus memanggilku Tuan diawal pertemuan" sahut Mickey lalu mengikuti wanita itu masuk.


Wanita paruh baya itu merapikan kursi untuk mempersilahkan Ryan, Arka dan Mickey duduk. “Apa dia orangnya Nak?” tanya wanita itu kepada Mickey dengan menatap Arka dan Rayn.


“Oh anda benar, dia Tuan Rayn. Bos tempat Lusia bekerja dan orang yang sudah membantu bibi menyelesaikan urusan bibi sebelumnya” jawab Mickey dengan sopan menujuk ke arah Rayn. Rayn sebelumnya sudah pernah mengatakan kepada Mickey untuk tidak menyebutnya dengan kata hutang. Mickey memperkenalkan Rayn sebagai Bos Lusia dan Arka sebagai pengawal pribadi Rayn.


“Tuan?” tanya Ryan dalam hati melirik Mickey. Ia cukup geli mendengar Mickey memanggilnya Tuan setelah sekian lama tidak mendengar panggilan itu keluar dari mulut Mickey.


"Maaf, saya tadi tidak mengenali anda Tuan Rayn. Saya ibunya Lusia” ucap wanita itu dengan mengulurkan tangannya untuk memberi salam jabat tangan dengan Rayn. Rayn langsung menghindar dan mengambil langkah mundur sehingga membuat wanita itu terdiam sesaat melihat sikap Ryan. Wanita itu langsung pamit izin ke dalam sebentar.


“Kenapa dia harus membawa kita ke kedainya daripada ke rumahnya?” tanya Rayn lirih kepada Mickey.


Tidak lama ibu Lusia keluar, ia tampak usai mencuci tangannya. Ibu Lusia kembali dengan membawa kain lap lalu membersihkan kursi dan meja untuk mereka duduk. “Maaf Tuan Rayn, jika saya tadi tidak mengenali anda dan berniat membuang air sisa cucian, jadi sedikit bau” ucapnya meminta maaf mengingat Ryan menolak berjabat tangan sebelumnya.


Ryan sangat sadar jika ibu Lusia sudah salah paham dengan sikapnya tadi. “Anda tidak perlu melakukannya” ucap Rayn mulai membuka suara kepada ibu Lusia. Ia meminta ibu Lusia berhenti membersihkan meja dan kursi untuknya.


“Saya bukan penggila kebersihan dan bukan pria yang benci dengan sesuatu yang kotor atau bau” lanjut ucap Rayn dengan nada sopan memandang ibu Lusia yang masih sibuk membersihkan meja.


Mickey langsung menghampiri ibu Lusia dan meraih kain Lap dari tangannya. “Tuan Rayn benar, Bibi tidak perlu melakukannya” ucap Mickey.


“Saya tidak masalah dengan anda yang baru saja pergi membuang air kotor dan mohon untuk tidak memanggil saya Tuan. Anda bisa memanggil saya seperti dia dengan sebutan…. Na…k” lanjut ucap Rayn dengan ragu dan malu.


“Maaf, apa sikap saya telah membuat anda tersinggung? saya hanya ingin menjamu anda yang sudah membantu keluarga kami“ sahut ibu Lusia.


“Boleh saya duduk… Bi..bi?” tanya Rayn dengan tersenyum. Ibu Lusia mengangguk dan langsung mempersilahkan Rayn duduk. Ibu Lusia merasa terharu mendengar Rayn juga memanggilnya bibi menunjukkan keakraban keduanya.

__ADS_1


"Bibi telah salah paham akan sikap saya dan saya bisa mengerti itu. Saya sama sekali tidak tersinggung. Saya hanya…” ucap Rayn yang terhenti untuk mengambil nafas sebelum melanjutkannya.


“Begini bi…” potong Mickey yang mencoba membantu Rayn menjelaskan kesalahpahaman akan sikap Rayn tadi.


Belum sampai Mickey menyelesaikan ucapannya, Ryan sudah memotongnya. “Saya hanya memiliki masalah phobia yang tidak bisa membiarkan orang lain menyentuh saya dan itu membuat saya terlihat sangat buruk dalam bersosialisasi. Sama hal nya kenapa saya meminta Bibi untuk menutup kedai ini selagi saya datang kemari. Saya tidak memiliki maksud lain" lanjut ucap Rayn.


“Maafkan saya jika tidak tau dan tidak peka dengan hal itu Tuan.. Oh maaf … Nak” sahut Ibu Lusia yang masih terbiasa memanggil Rayn dengan sebutan Tuan.


"Bibi tidak perlu meminta maaf, karena ini hanya masalah yang ada pada diri saya. Masalah dimana diri saya sendiri pun tidak bisa menolongnya” sahut Rayn. Rayn mengakui jika kelemahannya inilah yang membuatnya memilih untuk selalu berada di Villa.


Mickey hanya duduk menatap sikap Rayn. Ia tersenyum kagum dengan pria yang sudah membuka diri dengan jantan dan dewasa itu. Ini pertama kali Rayn berbicara soal dirinya kepada orang lain setelah Lusia. Dan kini orang itu pun adalah ibu Lusia.


“Sebentar saya akan mengambilkan minum dan menyiapkan makanan untuk kalian. Maaf saya tidak tahu jika akan datang secepat ini” ucapnya bangkit dan langsung pergi ke dapur.


Rayn dan Mickey ingin menolak karena tidak ingin merepotkan ibu Lusia. Namun ibu Lusia sudah pergi sebelum mereka buka suara. Sembari menunggu, Rayn menatap ke seluruh isi kedai, matanya tiba-tiba terhenti ke arah belakang kasir. Ia tersenyum melihat sebuah bingkai foto berukuran sedang tergantung di dinding belakang kasir.


Sebuah foto keluarga kecil Lusia. Terlihat Lusia mengenakan seragam sekolah berdiri di tengah dengan menggenggam buket bunga ditangannya. Sebuah foto yang tampak diambil saat wisuda sekolah Lusia. Ia berdiri sebalah Ibu, Nenek dan Lucas adiknya.


Mickey menatap Ryan lalu memandang ke arah yang sama dengan Rayn. “Itu sepertinya foto Lusia waktu wisuda sekolah. Dia teryata menggemaskan juga saat masih muda” ucap Mickey.


“Hanya itu?” tanya Ryan.


Mickey mulai memikirkan hal lain yang mungkin ingin Rayn dengar. “Eemmm… aku akui dia tampak sedikit berbeda dan jujur dia yang sekarang jauh lebih cantik. Di foto itu dia terlihat sangat polos dan sekarang dia sangat menggoda” jawab Mickey masih dengan menatap foto Lusia.


Rayn yang duduk sedikit jauh dari Mickey, mengerutkan kening dan menyilangkan tangannya menatap Mickey yang mengatakan kata menggoda.


Mickey menoleh ke arah Rayn, ia langsung menutup mulutnya yang sudah akan melontarkan pujian lain soal pandangannya terhadap kecantikan Lusia. Namun tatapan tajam Rayn membuat ia langsung mengunci bibirnya.


“Apa kau juga tidak mengingatnya?” tanya Ryan.


"Memangnya apa yang harus aku ingat?” tanya Mickey balik, ia tidak paham akan pertanyaan Rayn.


Rayn menghela nafas. “Sepertinya hanya aku seorang diri yang mengingat kejadian itu” gumam Rayn lirih saat melihat Ibu Rayn datang dengan makanan ditangannya. Rayn menghentikan pembicaraannya dengan Mickey lalu tersenyum kepada Ibu Lusia dan meminta Arka untuk membantunya.


.

__ADS_1


.


***To Be Continued***


__ADS_2