Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 79 - Cara Kencan Kami


__ADS_3

Pagi telah menyambut, cahaya matahari yang menembus jendela kamar menyilaukan mata Lusia yang masih terlelap. Perlahan Lusia membuka mata, ia tersenyum menyambut cahaya pagi yang begitu cerah.


“Cahaya yang indah…” ucap Lusia.


“Cahaya? Cahaya?” tanya Lusia menyadari jika cahaya itu menunjukkan ada yang salah. Lusia terperancak mendapati dirinya bangun kesiangan.


Lusia meraih dan memeriksa apa ada yang salah dengan alarmnya. Ia bingung saat mengetahui alarm kesehariannya bangun lebih awal dalam keadaan off. Ia berpikir mungkin dirinya tidak sengaja mengubah settingan.


Lusia langsung bangkit dari kasurnya seraya mengikat rambut, ia bergegas keluar untuk pergi menyiapkan sarapan Rayn. Lusia membuka pintu kamarnya, ia dikejutkan dengan Rayn yang bersamaan hendak masuk dengan nampan berisi salad dan segelas susu.


“Apa yang kau lakukan?“ tanya Lusia melihat Rayn berdiri di dapan kamarnya.


“Membawakan sarapan untukmu” sahut Rayn menunjukkan nampan yang ia bawa.


Lusia terdiam lalu Rayn meraih tangannya dan mengajaknya kembali masuk ke dalam kamar. Lusia meminta maaf kepada Rayn jika ia terlambat bangun karena ada yang salah dengan alarmnya.


Lusia merasa bersalah karena kecerobohannya, dirinya yang seharusnya menyiapkkan sarapan untuk Rayn malah merepotkan Rayn. Ia sugguh tidak sengaja dan tidak biasanya alarm nya mati.


“Apa yang kau rancaukan, kenapa harus minta maaf. Aku sudah sarapan, kau bisa bersihkan diri dan selesaikan sarapamu. Setelah ini kita akan pergi belanja diluar, aku akan menunggumu dibawah” ucap Rayn mengusap rambut Lusia, ia lalu berdiri untuk pergi.


“Kita pergi belanja? Kau yakin?” tanya Lusia.


Rayn yang sudah hendak membuka pintu mengangguk dengan tersenyum. “Oh ya, alarm itu aku yang sengaja mematikannya” ucap Rayn.


“Kapan kau melakukannya?” tanya Lusia.


Rayn tersenyum kecil. “Kau bahkan tidak menyadari bagaimana kau bisa tidur dikamarmu” ucapnya seraya membuka pintu lalu pergi.


Lusia seketika menjadi malu, ia tidak sadar jika Rayn sudah menggendongnya masuk ke dalam kamar semalam. Ia hanya ingat terakhir kali tertidur di sofa. Lusia akhirnya pergi mandi dan menyelesaikan sarapan yang sudah disiapkan Rayn untuknya.


Rayn sudah menunggunya dibawah dengan bersandar di mobil. Lusia berlari keluar dengan rambut yang masih terurai. Lusia nampak terburu-buru karena tidak ingin membuat Rayn terlau lama menunggu.


Rayn menghampiri Lusia, ia lalu meraih tangan Lusia yang hendak mengikat rambutnya. Lusia tertegun akan sikap Rayn yang tiba-tiba. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan mata membulat.


Beberapa waktu terakhir ini sikap Ryan yang suka main sosor saja membuat Lusia lebih waspada, ini terlalu pagi dan ada Arka yang sudah dari tadi menunggu mereka.


“Memangnya apa yang kau pikirkan?” tanya Rayn meraih ikat rambut Luisa.


Ryan meminta Lusia membalik badan, ia lalu menyisir rambut Lusia penuh kelembutan dengan jemarinya untuk merapikan. Ia melanjutkan menata rambut Lusia kebelakang dan mengikatnya gaya low ponytail semi braid.


Lusia tersenyum kecil. “Apa ini juga hasil dari yang kau pelajari di buku itu?” tanya Lusia seperti gadis manja menikmati momen romantis yang Rayn coba lakukan.


“Bab 23. Ikatlah rambut kekasihmu. Aku pikir ini terlalu mudah untuk menarik hati wanita. Tapi aku pun menyukainya” sahut Rayn menyelasikan ikatannya.


Usai mengikat rambut Lusia, Rayn pergi membukakan pintu mobil untuk Lusia dan mempersilahkanya masuk. Arka ikut tersenyum akan sikap bos nya yang sangat memanjakan Lusia.


.


.


Mereka telah sampai di salah satu supermarket terbesar di kota itu. Lusia mengulurkan tangannya untuk menggandeng Rayn sebelum masuk dan meminta Arka untuk berjalan lebih dahulu di depan.


Lusia melepaskan tangan Rayn, ia melirik ke sekitar, melihat tempat sayuran yang penuh dengan orang begitu juga tempat buah dan daging. Rayn hanya menatap Lusia yang berjalan kesana kemari lalu kembali dengan wajah berpikir.


Rayn mendekat, ia kembali meraih tangan Lusia dan menggenggamnya. Rayn sangat tahu apa yang sedang dikhawatirkan kekasihnya itu.


“Asal kau tidak melepaskan tanganmu ini, aku baik-baik saja berada diantara mereka. Cukup dengan membuat mereka tidak menyentuhku aku baik-baik saja Lusia, aku bisa menahannya. Penjagaan itu bukan tugasmu, kita percayakan kepada Arka” ucap Rayn dengan mendorong keranjang belanja. Sementara Lusia berjalan disisihnya dengan tetap bergandengan tangan.


Sayur bayam, brokoli, wortel, papikra, daging, dan beberpa buah, satu persatu Lusia masukkan ke dalam keranjang dengan semangatnya. Tiba-tiba seorang pengunjung berjalan dari arah belakang Rayn, Lusia yang melihatnya dengan sigap mendekat pada Rayn kembali. Ia bahkan lebih cepat dari Arka. Lusia segara melindungi Rayn dengan berdiri dibalik punggung Rayn merentangkan tangannya.


Rayn tersenyum singkat melihat tingkah gadis di dedapannya itu. “Berhenti melakukan hal yang membuatmu terlihat aneh di depan mereka. Aku tidak ingin mereka menatapmu seperti itu” ucap Rayn meminta Lusia kembali melanjutkan jalannya.


“Tapi bagaimana denganmu? Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan” sahut Lusia.


"Anda tidak perlu khawatir, saya akan melakukan yang terbaik Nona Lusia" sahut Arka.


Tiba-tiba Lusia dikejutkan kembali dengan seorang ibu-ibu yang ada disebelahnya mengulurkan tangan mengarah kepada Rayn. Lusia kembali mengkoneksi radarnya dengan cepat berdiri menghalangi ibu-ibu itu.


“Apa yang kau lakukan anak muda?” tanya ibu itu kepada Lusia yang tiba-tiba menghadangnya.


“Justru itu yang saya ingin tanyakan kepada anda” sahut Lusia.


“Apa kau akan memborong semua lobak itu? Aku hanya ingin mengambil lobak disana tapi suamimu itu menghalanginya" jawabnya.

__ADS_1


Menyadari situasinya, Arka dengan sigap mengambil beberpa lobak diberikan kepada ibu itu. “Ini lobak yang anda inginkan nyonya.”ucapnya dengan membatu meletakkan lobak pada keranjang ibu itu.


“Pria yang baik, terima kasih” ucapnya kepada Arka.


Ibu itu lalu melirik menatap Lusia dan Ryan yang bergandengan tangan. “Pasangan baru sekarang memang teralu berlebihan. Apa wanita ini pikir aku akan menggoda suaminya” gumamnya dengan mengomel lalu pergi. Arka membungkukkan badanya, ia mewakili Lusia dan Rayn meminta maaf atas kesalapahaman yang terjadi.


"Maafkan aku" ucap Lusia kepada Rayn dan Arka dengan wajah lesu.


Rayn menggelengkan kepala mengatakan jika itu bukan salahnya. Tanpa membahasnya lagi, Rayn mengajak Lusia melanjutkan kembali berbelanja kebutuhan sehari-hari. Rayn memutuskan jika Arka yang akan mengambilkan semua apa yang ingin mereka beli. Lusia dan Rayn cukup menunjuknya saja, dengan begitu Lusia bisa tetap berada disisih Rayn tanpa melepas tanganya.


Kekacauan kembali terjadi saat Arka pergi mengambilkan tisu yang mereka mau. Tiba-tiba dari belakang seorang pramuniaga menepuk bahu Lusia. Pramuniaga itu hendak memberitahu jika Lusia terlihat menjatuhkan sesuatu. Lusia yang terkejut sontak mendorong Rayn menjauh dan ia berbalik berbicara dengan pramuniaga itu.


“Tuan Rayn…. “ teriak Arka berlari kearahnya.


Brukkkkk…..


Bersamaan dengan Lusia berbalik, Rayn yang tidak bisa menjaga keseimbangan akibat dorongan mendadak Lusia membuatnya terjatuh ke tumpukan pembalut yang disusun mendulang tinggi bak piramid.


Tumpukan pembalut itu kini berserakan diantara tubuh Rayn. Melihat Rayn terjatuh, pramuniaga itu lekas mendekati Rayn untuk membantunya bangkit.


“Berhenti..! Jangan lakukan itu” teriak Lusia kepada pramuniaga. Pramuniaga langsung menghentikan langkahnya dengan wajah bingung.


“Biarkan aku yang membantunya” ucap Lusia.


Arka yang sejatinya juga tidak bisa menyentuh Rayn tidak bisa berbuat apa-apa. Ia hanya bisa meminta pramuniaga untuk menyingkir.


“Tunggu” ucap Rayn menahan Lusia untuk tidak membantunya.


“Ada apa?” tanya Lusia.


“Sepertinya Meletus…” ucap Rayn ragu untuk bangkit.


“Meletus?” tanya Lusia.


Rayn memejamkan matanya, menghela nafas lalu ia mengangkat pantatnya. Di raihnya perlahan sesuatu yang tidak sengaja ia duduki.


“Ups….” celetuk Lusia.


Tubuh Rayn tidak sengaja menindih salah satu bungkus pembalut hingga bingkisan bergelembung itu sobek dan mengeluarkan isinya. Lusia sontak tertawa keras melihat reaksi Rayn dengan wajah kesal memegang benda itu.


“Ini akan sangat melelahkan, sial sekali” ucapnya kepada Lusia lalu meraih benda yang berserakan itu.


Lusia meminta maaf dan meminta wanita itu untuk tidak melakukannya, karena ia akan bertanggung jawab dengan menyusunnya kembali.


Kekacauan itu membuat mereka harus menyusun kembali satu persatu pembalut yang sudah beratakan karena terjangan tubuh Rayn.


"Apa ini yang kau bilang melindungiku?" tanya Ryan menggelengkan kepala menyusunnya kembali.


Lusia tidak bisa menahan tawanya. Rayn melirik, ia menaikan alisnya melihat Lusia yang tampak senang tertawa dan tersenyum sendiri seperti orang kesambet.


“Menyingkirlah, biarkan aku dan Arka yang akan menyelesaikannya” ucap Lusia.


Lusia meminta Rayn untuk bangkit, karena Rayn hanya akan mengacaukan susunannya. Rayn tidak bergeming, ia mengabaikan perintah Lusia dengan tetap membantu mengumpulkan pembalut yang sudah tercecer. Mereka akhirnya bisa menyelesaikan sususannya kembali.


"Yang ini sudah rusak, maka kalian harus membayarnya. Dan terima kasih sudah membantu” ucap wanita sales itu.


“Dia mengucapkan terima kasih sekaligus menodong kita untuk membayar” gumam Rayn.


“Haruskah aku memborong semuanya saja?” tanya Rayn berbisik di telinga Lusia.


“Sudah cukup Rayn” sahut Lusia mendekati wanita itu untuk meminta maaf lagi dan ia akan membayarnya.


“Sepertinya suamimu kesal” ucap wanita itu.


“Su..a…mi?” tanya Lusia seperti anak TK yang sedang belajar mengeja. Lagi dan lagi ia harus mendengar panggilan itu untuk kesekian kali.


“Tentu saja aku cukup kesal, karena sudah membuat istriku lelah menyusunnya. Maaf jika aku juga akan sedikit, hanya sedikit merepotkanmu, tolong bantu kami membawa semua tumpukkan ini ke kasir karena aku akan membeli semuanya”


"Rayn….” Panggil Lusia.


“Baik, saya akan meminta petugas kami mengambilkan yang masih dalam kemasan box digudang” sahut wanita itu dengan mimik yang tidak menyenangkan.


“Tidak, aku ingin yang ini dan aku ingin kau yang membantu membawanya. Bukannya kau seharusnya senang karena kami memborong produkmu” ucap Rayn.

__ADS_1


"Rayn, apa kekesalanmu ini tidak berlebihan? tanya Lusia.


Rayn tidak menjawab, ia menggandeng tangan Lusia dan membawanya pergi. Rayn memerinta Arka untuk membawa keranjang belanjaan mereka. Lusia menahan langkahnya, ia meminta Arka untuk membantu wanita itu dulu, namun Rayn melarangnya dengan alasan ia masih membutuhkan Arka untuk melanjutkan belanja yang lain.


.


.


Di Villa…


Sore ini Rayn ingin memasak untuk makan malam mereka. Lusia yang baru selesai mandi dikejutkan dengan Rayn yang sudah sibuk di dapur menyiapkan bahan yang akan ia masak dibantu Arka. Keduanya seperti seorang chef dengan celemek yang terpakai ditubuh keduanya.


Lusia mendekati Arka, ia memuji Arka yang juga sangat lihai memotong prapika. “Aku tidak menyangka kau sama dengan Rayn, mengejutkanku akan keahlian kalian didapur” ucap Lusia.


“Anda terlalu memuji Nona, saya mempelajarinya dari ayah saja” sahut Arka.


“Lalu bagaimana denganmu Rayn? Darimana kau belajar memasak?” tanya Lusia kepada Rayn.


Belum sampai Rayn menjawab, Arka sudah menyautnya. “Tuan belajar dari saya Nona” sahut Arka.


Tok…..!!


Rayn meletakkan penutup panci dengan kasar saat mendengar Arka terlalu jujur kepada Lusia. Ia berbalik menatap Arka dengan tatapan serius. Berharap Arka akan memperbaiki apa yang baru saja ia ucapkan kepada Lusia karena itu sangat membuatnya malu.


“Oh… tapi ternyata Tuan Rayn jauh lebih ahli dari saya. Tuan Rayn hanya dengan melihatnya saja sudah sudah langsung bisa mempraktikkannya. Benar, hanya dengan melihatnya saja. Dan… dan... ah iya keahlian memotong paprika ini saya mempelajari teknik ini darinya dan ini teknik yang lebih keren dari yang diajarkan ayah saya” sahut Arka. Arka menjawab dengan terbata-bata sambil melihat tatapan Rayn. Tatapan itu kini berubah menjadi senyum karena jawaban Arka.


“Bisakah kau membantuku mencicipinya?” tanya Rayn memanggil Lusia.


Lusia dengan tersenyum mendekat kepada Rayn, ia tahu jika Rayn hanya ingin mengalihkan pembahasan mereka. Ia tahu yang dikatakan Arka tentang Rayn sangat tidak masuk akal. Rayn meniup sup di sendok sayur sebelum Lusia mencobanya.


“Cobalah” ucap Rayn usai meniupnya.


Dengan senyum penuh Arti, Rayn maminta Lusia mulai mencicipi. Lusia mendekat, ia lebih dahulu mencium aroma dari sup itu dengan mendekatkan hidungnya. Lusia tersenyum karena aroma yang sudah mengundang lapar perutnya.


Lusia mulai memajukan bibirnya mendekat pada sendok sayur ditangan Rayn untuk mencicipinya. Bersamaan Rayn menarik sendok sayur menjauh dari wajah Lusia yang sudah mulai mendekat. Ia menundukkan kepalanya dan langsung mengecup bibir Lusia. Lusia membulatkan matanya karena serangan Rayn yang begitu tiba-tiba, sangat jelas ia sengaja melakukannya.


Dokkkk…… !


Suara keras yang terdengar dari perpaduan pisau dan talenan itu berasal dari Arka yang menyaksikan adegan panas bosnya. Ia pun langsung batuk-batuk yang sengaja dipaksakan untuk mengingatkan keduanya akan keberadaannya.


“Hyaaa… Ryan” ucap Lusia melepaskan pangutan itu karena menyadari adanya Arka.


“Ini hukuman untuknya yang sudah menindasku tadi” bisik Rayn pada Lusia dengan tersenyum. Ia lalu berbalik menatap Arka yang tampak gugup.


“Oh.. maaf, saya baru ingat jika saya belum menurunkan buah dari mobil” ucap Arka melepaskan celemek lalu pergi


meninggalkan dapur.


“Apa buah itu yang dia maksud?” tanya Lusia menunjuk sekantong buah yang sudah ada dimeja dapur.


Rayn tersenyum, ia meletakkan sendok sayur lalu meraih pinggul Lusia. Satu tangan merangkul pinggul Lusia dan satu tangan mendekap pipi Lusia.


“Itu artinya Arka tahu apa yang harus ia lakukan, memberikan ruang untuk kita berdua” ucap Ryan tersenyum manis lalu mencium bibir Lusia dengan penuh kelembutan.


Tubuh Lusia tidak bisa mengelak, dirinya yang juga menikmatinya perlahan merangkulkan kedua tangannya pada leher Rayn dan membalas ciuman itu.


Meskipun banyak hal yang mereka lewatkan hari ini, namun Lusia sangat bahagia atas semua upaya yang dilakukan Rayn untuknya.


"Inilah cara kencan kami, aku tidak mengharapkan lebih seperti pasangan lain yang memiliki kencan yang indah dan istimewah. Hari-hari sederhana ini lebih dari segalanya bagiku. Semua waktu sulit itu seperti telah berlalu saat dipenuhi olehnya. Bolehkah aku mengatakan jika dia adalah takdirku? Takdir yang melengkapi hidupku dengan semua kenangan indah dan kehangatan cinta darinya. Cinta yang lebih nyata dari apapun"


.


.


.


Epilog


- Bab 24. Kejutan manis didapur.


Sebuah halaman dari buku “Sempurnakan Harinya” yang terbuka di meja baca Rayn. Buku itu terbuka tepat pada halaman dengan sebuah adegan yang tergambar dimana sepasang kekasih berada didapur. Sang pria masih dengan celemek ditubuhnya mencium wanitanya.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued***


__ADS_2