
"Ayah..." panggil Lusia dengan panik melihat ayahnya
"Ibu, apa yang terjadi dengan ayah" tanya Lusia sembari memegang erat tangan sang ayah.
Kelvin yang berada diluar sudah tidak dapat menahan dirinya, ia langsung masuk dan menarik tubuh Lusia menjauh dari ayahnya. Kelvin menggenggam erat tangan Lusia dan memposisikan Lusia berdiri dibelakang Lusia.
"Ayahmu hilang kendali dan dia bisa saja melukaimu" ucap Kelvin.
Ayah Lusia terus berteriak mengucapkan kata yang tidak jelas dan berusaha memberontak hingga kursi roda nya rebah. Ibu Luisa langsung berteriak membantu suaminya. Lusia yang hendak membantu ayahnya ditahan oleh Kelvin. Kelvin semakin erat menahan tangan Lusia dan tidak membiarkan Lusia mendekati ayahnya.
"Kelvin, lepaskan!" teriak Lusia
Kelvin tetap tidak peduli dan sama sekali tidak ingin melepaskan genggamannya. Ia tidak peduli meskipu disana ada Rayn menatap ke arahnya. Rayn mengepalkan tangannya menunjukkan kemarahannya tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Ditengah kekacauan yang sedang terjadi, Rayn pergi keluar meninggalkan ruangan itu.
"Lusia aku mohon" pinta Kelvin masih menahan Lusia.
"Kelvin apa kau sudah gila?" teriak Lusia.
"Kelvin, Lusia, tenangkan diri kalian!!!" teriak ibu Lusia.
Dengan nafas yang memburu Kelvin menatap ke arah ibu Lusia yang berusaha menenangkan suaminya. "Aku tidak akan membiarkan dia melukai Lusia, anda pun tau jika saat Tuan Raymon kehilangan akal sehatnya dia akan melukai dirinya dan siapapun yang ada didekatnya. Dia bisa saja melukainya seperti saat Tuan Raymon berusaha membunuhku. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi kepadanya."
Kelvin langsung menarik lengan Lusia dan membawanya keluar kamar. "Kelvin, apa maksudmu?" tanya Lusia mengikuti langkah Kelvin yang memaksanya keluar meninggalkan ayahnya.
"Lepaskan tanganmu darinya! Kau menyakitinya" perintah Rayn membuat Kelvin yang sudah berada dilorong menghentikan langkahnya.
Rayn datang kembali bersama para perawat yang ia panggil yang akan membantu menenangkan ayah Lusia dengan cara medis. Rayn berdiri dengan jarak menatap Kelvin yang masih menggenggam erat langat Lusia. Tanpa disadari Kelvin memang telah menggenggamnya dengan kuat hingga memerah dan terasa sakit.
"Rayn...." panggil Lusia.
Tanpa kata Kelvin melonggarkan genggamannya hingga Lusia bisa melepaskan diri. Lusia berlari ke arah Rayn dan langsung memeluknya dengan menangis. "Ayahku..." ucapnya disertai isakan yang membuat ucapnya terputus-putus.
Rayn memeluk erat tubuh istrinya serta meminta maaf jika disaat seperti ini dirinya tidak berguna dan tidak bisa melakukan, bahkan ia tidak mampu melindunginya.
__ADS_1
Disana Kelvin terdiam memandang Rayn dan Lusia. Ia mencoba menahan rasa sesak yang kini menghujamnya. Kelvin berusaha memalingkan pendangannya lalu menyandarkan tubuhnya pada dinding dan menunduk.
Rayn menuntun Lusia untuk duduk dikuri. Ia pun lalu jongkok didepan Lusia sembari meraih tangan Lusia. "Lusia, hari ini sudah cukup. Sudah terlau banyak yang kau lalui, tidak apa untuk mengistirahatkan diri sejenak" ucap Rayn.
"Maafkan aku, jika lagi-lagi aku selalu membuatmu cemas. Hanya sampai aku bisa memastikan ayahku baik-baik saja, sebantar lagi bisakah kau menunggu." Lusia memohon kepada Rayn dengan wajah lebab karena teralu lama menangis. Bahkan buliran air mata masih terbendung dan sesekali kembali menetes.
Rayn pun langsung kembali memeluk tubuh istrinya. "Baiklah..." ucapnya dengan suara sendu.
Ayah Lusia sedang mendapatkan penangan medis didalam, sementara mereka semua masih berada disana dan menunggu. Perawat memberikan obat penenang yang akan membuat ayah Lusia mengantuk hingga tertidur. Tidak lagi terdengar teriakan sang ayah dan jeritan ibunya.
Tidak lama para perawat keluar meninggalkan ruangan itu diikuti ibu Lusia yang juga keluar untuk mengucapkan terima kasih dan mengantar mereka keluar. Lusia segera bangkit dari duduknya, begitu juga dengan Kelvin dan Rayn yang juga sontak berdiri.
Lusia langsung menanyakan kondisi ayahnya dengan suara serak. Ibunya menghampiri dan berkata jika ayahnya sudah membaik dan saat ini sedang tertidur. Ibu Lusia meminta Rayn untuk membawa Lusia pulang dan beristrirahat karena ia juga perlu menjaga kesehatannya. Rayn pun pamit untuk kembali pulang bersama Lusia. Sementara Kelvin masih tetap disana bersama dengan Ibu Lusia.
Usai Rayn dan Lusia pergi, ibu Lusia menghampiri Kelvin yang masih saja berdiri menatap dirinya. "Duduklah..." ucap Ibu Lusia duduk sembari mempersilahkan Kelvin duduk.
Kelvin pun duduk disamping ibu Lusia. Ibu Lusia mengatakan jika dirinya tidak akan memaksa Kelvin untuk pulang karena hal itu akan percuma. Yang ia tahu jika Kelvin juga termasuk anak yang keras kepala, dia tidak akan menurut jika sudah bertekad atau memiliki kemauan.
"Maafkan saya" sahut Kelvin.
"Kau tidak perlu meminta maaf, karena ini semua salah ibu yang tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Lusia. Nak Kelvin pun melakukannya karena permintaan ibu. Ibu pikir itu adalah cara yang bisa dilakukan untuk melindunginya, tapi ibu lupa jika seiring waktu jika dia akan tumbuh dewasa dan bukan putri ibu yang masih anak-anak lagi. Sudah seharusnya ibu memberitahunya, tapi ibu memilih menunggu dan menunggu tanpa ada kepastian waktu." jelas ibu Lusia.
Kelvin meminta ibu Lusia untuk tidak terlalu menyalahkan diri. Seperti yang dikatakannya baru saja, jika Lusia sudah bukan anak kecil lagi seperti dulu. Kelvin percaya dengan begitu Lusia akan bisa memahami perasaan ibunya, Lusia akan mengerti kenapa ibunya melakukan ini semua.
"Bolehkah saya memeluk anda?" tanya Kelvin tiba-tiba.
Ibu Lusia tersenyum menandakan jika Kelvin boleh melakukannya. Kelvin pun tersenyum lalu memeluk ibu Lusia. Perlahan ia menepuk bahu ibu Lusia berulang dengan lembut. Kelvin memeluknya karena disaat seperti ini ibu Lusia pasti membutuhkan sesorang yang akan selalu mendukung dan mengerti dirinya.
"Maafkan jika saya langcang mengatakan ini, tapi anda sudah melakukan yang terbaik. Semua yang anda lakukan sudah cukup untuk melindungi semuanya. Melindungi putri dan juga suami anda" ucap Kelvin.
Ibu Lusia lalu melepaskan pelukan Kelvin dan tersenyum. Ia sangat bangga jika pria diahadapanya saat ini benar-benar sudah dewasa, bukan lagi anak-anak seperti pertama kali mereka bertemu. Selamay ini ibu Lusia sudah menganggap Kelvin seperti putranya sendiri. Ibu Lusia tidak menyangka jika Kelvin masih saja mengingat kejadian dimana suaminya hampir membunuh Kelvin.
Kejadian Lima belas tahun lalu, ayah Lusia kembali kambuh kehilangan akal sehatnya. Ayah Lusia berusaha mengakhiri hidupnya didalam kamar, dia tidak ingin lagi menjadi beban untuk anak dan istrinya. Saat itu Kelvin yang juga ada disana mencoba menyelamatkan ayah Lusia. Namun sayang, ayah Lusia tiba-tiba menjadi marah dan tak terkendali.
__ADS_1
Ayah Lusia meraih tubuh kecil Kelvin lalu melemparnya ke pintu hingga pintu itu tertutup. Saat Kelvin hendak keluar, ayah Lusia kembali meraih tubuhnya dan mencekik leher Kelvin tanpa ampun. Beruntung teriak ayah Lusia yang begitu keras didengar oleh salah satu perawat yang lewat dan langsung menolong Kelvin dari kukuhan ayah Lusia. Kelvin pun dilarikan ke rumah sakit dan mendapatkan perawat medis.
Semenjak kejadian itu, Kelvin tidak pernah lagi berkunjung. Ayah Kelvin melarang keras Kelvin untuk datang menemui ayah Lusia. Kejadian itu tidak membuat Kelvin marah atau benci. Namun ia percaya jika ada sesuatu yang sebenarnya terjadi sehingga membuat ayah Lusia bertindak seperti itu.
Pasti ada sesorang yang dia benci dan memperlakukannya dengan tidak adil. Dan saat itu, ayah Lusia pasti melihat sosok orang itu pada Kelvin. Hal itu juga yang pasti menjadi alasan kenapa ayah Lusia berusaha mengakhiri nyawa Kelvin.
.
.
.
Dalam perjalanan kembali ke Villa, Lusia hanya terdiam menatap lampu jalanan dibalik kaca mobil. Sesekali wajahnya tertunduk seperti tidak memiliki kekuata. Rayn yang sedang mengemudi meraih satu tangan Lusia dan menggenggamnya, sesekali ia menatap wajah istrinya.
Sesampai di Villa, Rayn langsung mengantar Lusia ke tempat tidurnya. Ia membantu Lusia untuk membaringkan dirinya. Rayn mengambil selimut lalu menyelimuti Lusia.
"Istirahatlah..." ucap Rayn seraya mengcup kening isttrinya.
Lusia memejamkan matanya, sementara Rayn tetap bertahan duduk dibibir ranjang menatapnya.
"Aku tidak akan membiarkan diriku terus seperti ini. Seperti orang bodoh yang hanya bisa menatapmu terluka seperti ini. Aku tidak bisa menunggu lagi, katakan jika aku tidak bisa bersembunyi lagi. Aku akan melakukan, tunggulah aku."
"Takdir kita masih akan terus berhembus seperti angin. Bersama dengan angin itu aku akan datang ke arahmu dengan sempurna. Hingga aku menjadi satunya orang yang akan melindungimu. Menjadi satunya tempat untuk mu besandar dan istirah saat kau lelah. Bahkan disaat seperti ini, aku akan menjadi satunya orang yang akan memeluk bahu kecilmu. Kau dapat menangis, memiarkan air mata itu mengalir dalam pelukanku dan aku akan menunggumu tanpa kata."
Rayn meraih ponsel nya, ia menggulir kontak pada ponsel yang hanya menampilkan beberapa nama. Jadi Rayn berhenti pada satu nama. ~Leona~ .
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1