Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 173 - Destiny


__ADS_3

Rayn dan Lusia masih memiliki waktu sebelum keberangkatan mereka ke Kanada. Keduanya duduk di sofa seraya memandang pemandangan indah gedung-gedung pencakar langit yang terlihat dari balik solarium dengan jendela kaca yang menjadi perantara dari hunian menuju luar ruangan.


Lusia duduk tepat disebelah Rayn, menyandarkan tubuh dan kepalanya dengan nyaman pada bahu Rayn. Rayn merangkul tubuh Lusia dengan satu lengannya seraya menggenggam tangan Lusia. Rayn dan Lusia menikmati waktu santai berdua dengan suasana yang romantis.


"Kau sungguh mengejutkanku" ucap Lusia.


"Aku hanya tidak mengerti, bertahun-tahun kau menyembunyikan identitasmu, bahkan dariku. Tapi kini dengan mengejutkan, kau menunjukan kepada dunia siapa dirimu" lanjut ucap Lusia.


Dengan pandangan yang masih memandang ke arah luar, Rayn merespon apa yang di ucapkan Lusia. "Aku tidak sedang menunjukkan kepada dunia siapa seniman di balik nama Lotus. Aku hanya menunjukkan pada dunia jika aku ada" ucapnya.


Lusia menarik tubuhnya yang bersandar pada Rayn, ia menatap ke arah Rayn. "Apa maksudmu dengan itu" tanyanya.


Orang mungkin mengambil keputusan itu karena menyimpan rahasia juga adalah sebuah beban. Tapi Rayn tidak merasa itu sebuah beban. Bahkan ia tidak peduli jika bakatnya harus disembunyikan dibalik nama Lotus. Namun, ada sesuatu yang selalu mengusiknya, sebuah pertanyaan konyol tetapi terus bertabuh didalam kepalanya.


Rayn seolah terus berjuang berusaha mencari jawaban yang sudah ada. Meskipun jawaban itu terlihat jelas, namun Rayn menutup mata dan memungkirinya. Jawaban yang menyedihkan dari pertanyaan yang menakutkan.


"Apa yang akan terjadi kepadaku nanti jika aku mati?"

__ADS_1


Sebuah kekhawatiran terhadap diri sendiri, bukan kekhawatiran tentang apa yang akan terjadi kepada orang yang ia tinggalkan. Untuk orang seperti dirinya, bukankah sudah jelas akhir seperti apa yang menjadi takdirnya. Tidak menjadi kenangan oleh siapapun.


Semenjak Rayn diasingkan, sejak saat itu pula sosok dirinya seperti telah hilang. Selain ayahnya, Mickey, Arka dan para pengawal yang saat ini bekerja untuknya di Villa, selain mereka, tidak yang tahu tentang dirinya ataupun keberadaannya. Itu artinya Rayn akan memiliki akhir yang akan berlalu.


"Tidak akan ada orang lain yang akan kehilangan atau menangis untukku. Bukankah itu sangat menyedihkan?" ucap Rayn menatap lekat Lusia yang saat ini juga sedang memandangnya.


Rayn mendekatkan tubuhnya dan perlahan memeluk Lusia. Memikirkan hal itu membuat dirinya kembali perasaan yang pernah menyiksanya itu.


"Sekali saja, meskipun hanya sekali saja. Aku ingin dunia juga tahu, jika aku ada. Ada seorang pria yang terlahir dengan nama Rayn, Rayn Dean Anderson. Seorang pria yang pandai melukis, bahkan karyanya telah mencuri perhatian dunia. Seorang pria yang juga telah menjadi suami dari wanita yang begitu cantik. Seorang pria dengan segala kekurangannya namun menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini. Seorang pria berhati dingin dan juga menyebalkan. Sekali saja, setidaknya ada sesorang selain mereka, meskipun hanya satu saja akan mengenang diriku seperti itu" ucap Rayn dalam pelukan Lusia.


Rayn semakin erat memeluk Lusia dan menyandarkan dagunya pada bahu Lusia. "Lusia, aku sungguh ingin secara nyata ada untukmu."


Lusia kini mengerti, kenapa Rayn yang selama bertahun-tahun menyembunyikan identitasnya, tiba-tiba menunjukkan diri pada dunia. Bukan popularitas yang menjadi alasan, melainkan pengakuan. Dia tidak ingin hidup dan berakhir dengan takdir yang menyedihkan itu.


Lusia membalas pelukan Rayn dengan perlahan mengelus punggung Rayn berulang dengan lembut untuk membuatnya nyaman.. "Apa kau masih ingat, apa yang aku katakan saat pertama kali aku mengulurkan tanganku kepadamu. Aku pikir sejak saat itu takdirku dan takdirmu berubah" ucap Lusia


Momen itu adalah moment hari pertama Lusia resmi bekerja untuk Rayn. Hari dimana Lusia meminta Rayn untuk berhenti menyentuh minuman keras sebagai pelarian. Momen itu, tentu saja Rayn masih mengingat jelas apa yang dikatakan Lusia saat mengulurkan tangan pada dirinya. Lusia bisa membuktikan kepada Rayn, jika uluran tanganya bukan karena rasa kasihan.

__ADS_1


“Aku hanya ingin membantumu bukan karena aku mengasihanimu. Tidak bisakah kau memilih uluran tanganku daripada mereka? Aku bisa selalu menggenggam tanganmu, membawamu kemanapun. Aku bisa mendengarkan semua keluhanmu, aku bisa menjadi teman bagimu. Bisakah kau menerimanya dengan meraih tanganku?”


"Kau bisa terus mengandalkanku, bergantung padaku dan memintaku terus berada disisihmu. Aku tidak peduli entah kapan kau akan sembuh atau mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi seperti yang kau katakan. Aku tidak peduli. Aku akan tetap ada disisihmu, menjadi perisai untukmu dan menggengam tanganmu seperti ini. Akan kupastikan selalu berada disisihmu, mari kita lakukan semuanya bersama."


Tanpa Lusia tahu, jika perkataannya itulah yang menyentuh hati Rayn sehingga dia menerima uluran tangan Lusia. Dan kini, seperti memberi jawaban atas keraguan Rayn saat itu, Lusia benar-benar telah menepati janjinya.


Lusia kini membalas pelukan Rayn dengan memeluknya. "Pada akhirnya aku telah menyerahkan diriku seumur hidup untukmu. Meskpun tidak akan pernah ada perubahan pada kondisimu, kau bisa terus mengandalkan dan bergantung padaku. Kau tidak sedang menyeretku hancur bersamamu seperti yang pernah kau katakan. Kau tidak egois dengan menyia-nyiakan hidupku dan aku bukan hanya perisai pertahanmu. Karena aku bagian dari dirimu. Aku juga adalah dirimu Rayn."


Dalam sebuah hubungan, bukan hanya cinta yang menyatukan dua insan. Tapi sebuah ketulusan yang tumbuh sebelum cinta itu ada. Takdir kehidupan sudah digariskan Tuhan dalam hidup seseorang. Meski sudah menjadi ketetapan-Nya, takdir bisa diubah dengan cara berusaha dan memohon kepada Sang Pencipta. Seperti garis takdir Rayn dan Lusia. Disaat keduanya menyerah terhadap impian yang saling bertentangan, pada titik itulah Rayn dan Lusia dipertemukan oleh takdir yang tidak terduga.


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2