Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 119 - Will You Merry Me


__ADS_3

'Without Someone'


Inilah musik yang saat ini didengar Lusia, alunan yang membuat Lusia seperti terbius. Ia tampak fokus menikmatinya lalu tertunduk. "Bukankah ini kesempatan kita untuk menikmatinya bersama?" gumam Lusia melihat para pemain orkestra didepan sana.


Lagu yang sedang dimainkan sudah mencapai pada puncaknya, kini hanya terdengar alunan musik piano yang mengalun begitu melow diikuti lampu penerangan satu persatu mulai padam dan hanya menyisakan beberapa yang membuat aula terang berubah suasana menjadi remang.


Kini hanya terdengar alunan musik yang hanya dimainkan oleh seorang pianis, sosoknya berada jauh disudut dan tertutupi oleh pemain lain di depannya. Suara piano itu semakin lama semakin terdengar lirih dan berganti dengan suara yang mengejutkan Lusia.


Lampu penerangan semakin bertambah padam. Tidak lama, bersinar lampu sorot menyorot pemain piano itu dan satu lampu sorot lagi menyorot pada layar berukuran besar di atas sana. Sebuah layar yang kini sedang menampilkan sebuah video.


"Apa kita harus merekamnya?" terdengar suara yang sangat tidak asing.


Mata Lusia langsung menatap tajam asal suara itu. Ia menatap layar yang sedang menampilkan video yang pernah ia rekam bersama Rayn dan suara itu adalah suara Rayn. Terlihat dalam video yang sedang diputar, Lusia tampak sibuk memposisikan kamera ke arahnya dan Rayn yang duduk dengan alat lukis ditangannya.


Lusia meminta Rayn meletakkan alat lukis lalu fokus pada kamera. "Aku ingin memiliki bukti saat kau mengatakan cinta kepadaku" ucap Lusia meminta Rayn mengatakannya didepan kamera.


"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Rayn.


"Apa maksudmu, kau tidak ingin mengatakannya?" tanya Lusia dengan raut wajah bingung tiba-tiba.


Rayn tertawa, ia hampir membuat Lusia kecewa. Rayn berkata kenapa dia harus mengatakan Aku Mencintaimu kepada kamera sementara kata-kata itu hanya akan ia ucapkan pada wanita yang ada disampingnya saat ini. Tanpa kata lagi Rayn langsung mencium pipi Lusia didepan kamera.


Sebuah kecupan yang membuat Lusia terkejut. "Yaaa, semua akan melihatnya" keluh Lusia malu karena kecupan itu masih terekam kamera.


"Bukankah kau merekamnya untuk menunjukkan kesemua orang?" tanya Rayn jahil melihat wajah Lusia memerah.


"Bukan itu..." belum sampai Lusia menyelesaikan ucapannya Rayn kembali mengecup Lusia.


Kecupan itu kali ini mendarat dibibir Lusia, ia lalu mengatakan ungkapan cintanya.


"Aku Mencintaimu Lusia. Apa kini kau puas? Aku hanya akan mengatakannya kepadamu, bukan pada karena itu dan kamera itu hanya perlu merekamnya" ucap Rayn membuat Lusia semakin malu.


Video manis yang diputar itu tidak hanya disaksikan Lusia saat ini, tapi juga disaksikan oleh semua pemain orkestra. Tidak hanya sampai disitu, video itu masih berputar menampilkan rekaman yang lain. Video masih berlanjut, kali ini video itu direkam diruang melukis Rayn. Rayn menunjukkan sebuah sketsa si Gadis Berkuncir Kuda yang digambar oleh Rayn dulu.


"Mungkin kau sudah tahu siapa Gadis Berkuncir Kuda ini dari Arka. Haitsss... aku tidak percaya jika Arka akan berkhianat."

__ADS_1


"Ini adalah sketsa yang aku buat setelah pertemuan pertama kita waktu itu. Aku sangat mengingatmu, dan masih mengingatmu bahkan dipertemuan kedua kita di Galery. Apa kau tahu, saat itu awalnya aku sudah akan meninggalkan Galery, tapi aku melihatmu di depan lift dan saat itu aku memberanikan diri mengikutimu. Sungguh luar biasa, takdir mempertemukan kita kembali dan kau menyelamatkanku lagi untuk yang kedua kalinya."


"Aku sengaja membuatmu datang ke Villa. Saat itu aku pun bisa melihat jika kau sangat ketakutan dan mungkin berpikir jika aku seorang psikopat, tapi aku ingin tahu lebih kenapa kau bisa menyentuhku. Aku yakin Arka tidak memberitahumu sampai bagian ini."


Kini video itu berlanjut ke sebuah rekaman yang berbeda. Terllihat dalam video itu Rayn pergi ke kamar Lusia, di sana Lusia terlihat sedang tidur pulas.


"Lihatlah, dia adalah wanita yang sangat berarti dalam hidupku, wanita yang ingin kulindungi" ucap Rayn sembari merapikan helai rambut yang menutupi mata Lusia saat itu. Kemudian rekaman itu merekam Rayn yang ingin menyampaikan sesuatu kepada Lusia.


"Eemmm, mungkin kau akan bertanya kapan aku melakukan rekaman ini, aku akan menunjukkan kepadamu" ucap Rayn menunjukkan waktu dan tanggal pada ponselnya.


Video itu diambil di Dervilia, malam pertama dihari Lusia tidur di sana setelah mendapatkan kejutan ulang tahun romantis dari Rayn.


Kini Rayn merekam dirinya sendiri dan kembali menatap ke arah kamera dengan tatapan teduhnya.


"Maafkan aku, karena membuatmu memilihku. Apa kau ingat saat pertama kali kau datang dan mengulurkan tanganmu? Saat itu aku menolaknya bukan karena aku tidak ingin menerima uluran tanganmu, tapi karena aku takut. Aku takut akan membuatmu terlibat lebih jauh dengan orang lemah dan memiliki phobia seperti diriku saat ini."


"Bagaimana bisa aku menyeret orang lain lagi untuk hancur bersamaku. Bagaimana mungkin aku egois dengan menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk menjadi pertahanan ku. Itulah yang terpikirkan olehku saat itu."


"Tapi, kau mengatakan jika aku bisa terus mengandalkan dirimu, bergantung padamu dan memintamu terus berada disisiku. Tidak peduli entah kapan aku akan sembuh atau mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi kepadaku kau mengatakan akan tetap ada disisiku, menjadi perisai untukku dan menggenggam tanganku. Kau bahkan tetap mengulurkan tanganmu meskipun sudah tahu kondisiku. Disaat itu aku mulai ingin mecoba memberanikan diriku membiarkan orang lain masuk kedalam hidupku dan... kau yang pertama."


"Aku sempat percaya diri jika asal kau berada disisiku maka semuanya sudah cukup dan kita bisa bahagia. Tapi aku baru sadar jika aku lemah saat aku berdiri di sana, disaat kau terluka karena diriku, disaat kau berjuang untuk tetap bertahan hidup. Didepan pintu ruang operasi itu, aku menyadari jika aku tidak akan pernah bisa melindungimu. Tidak pernah terbayangkan olehku jika itu akan terjadi kepadamu dan aku sangat takut"


Rayn pun menjatuhkan air matanya dalam video itu. Dalam video itu bahkan menampilkan potret saat Lusia terbaring koma. Lusia yang menyaksikan video itu pun ikut menangis.


"Aku sangat takut jika kau tidak akan membuka matamu lagi, aku sangat takut kau akan meninggalkanku. Aku sangat takut. Tapi..., disaat aku ingin lari, kau mengulurkan tanganmu untuk kedua kalinya. Aku bahkan bukan pria yang sempurna, bukan pria yang bisa memberimu kencan romantis seperti yang kau inginkan, menggenggam tanganmu dimanapun seperti pasangan lain. Tapi kau terus mendorongku pada takdir ini."


Video yang diputar telah mencapai durasi terakhir dan alunan musik piano pun berhenti. Kini lampu menyorot Lusia yang duduk di bangku penonton dan satu lampu yang lain menyorot pada seorang pianis yang baru saja mengehentikan permainannya.


Pria itu meraih buket bunga yang sedari tadi berada diatas piano. Sulit dipercaya jika pria itu ternyata adalah Rayn. Rayn berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Lusia. Satu tangan Rayn memegang buket bunga yang terangkai indah dan satu tangan yang lain memegang mic yang ia gunakan untuk berbicara saat ini. Dengan stelan jas rapi, Rayn terlihat sangat tampan dan menggoda. Kini video yang tampil di layar adalah rekaman live yang menyorot Rayn dan Lusia.


Rayn berjalan ke arah Lusia dan mengungkapkan isi hatinya. "Terima kasih, terima kasih telah memilihku. Terima kasih karena telah bertahan dan selalu berada disisiku. Terima kasih telah menerima semua kekuranganku. Terima kasih telah mencintai orang sepertiku, Lusia. "


Kini Rayn telah sampai dan berdiri tepat di depan Lusia. Lusia mengusap air matanya, Rayn memberikan buket bunga ditangannya kepada Lusia. Lusia menerima bunga itu sembari mengurai senyum bahagia akan kejutan yang disiapkan Rayn untuknya.


Rayn meraih tangan Lusia dan menggenggamnya. "Kini, semua tidak akan berakhir hanya dengan mengatakan terima kasih karena aku mulai menjadi semakin serakah. Aku semakin menginginkan lebih darimu dan aku tidak ingin menahan atau menunggu lagi. Tidak hanya sekedar cintamu, tidak hanya sekedar kehadiranmu disisiku. Aku menginginkan hidupmu, semua waktumu yang tersisa untuk bersanding denganku hingga tutup usiaku."

__ADS_1


Rayn menatap lekat wajah Lusia. "Lusia..., Will You Merry me?"


Manik mata kristal dengan bulu mata lentik itu menatap lembut wajah tampan Rayn dengan bibir merah yang mengurai senyum menatap lekat dirinya. Antara tidak percaya, haru dan bahagia bercampur aduk membuat Lusia kembali menitihkan air mata bahagianya.


"Rayn..."


Panggil Lusia yang masih tidak percaya dan meyakini jika semuanya hanyalah mimpi. Sebuah pertanyaan yang membuat jantung para wanita gugup dan berdegup kencang.


Belum mendapatkan jawaban dari Lusia, Rayn kembali melanjutkan ucapannya. "Seperti yang aku katakan, jika kini aku menjadi sangat serakah. Pernikahan itu, aku ingin melakukannya disini sebelum kita kembali."


"Sebelum kita kembali? Itu artinya..." ucap Lusia tertahan.


"Seperti yang kau tahu, aku mungkin belum bisa menyiapkan pesta pernikahan yang mewah untukmu karena phobia, tapi aku berjanji jika kita akan melakukannya nanti.


Rayn menyadari jika phobia yang masih di deritanya saat ini tidak memungkinkan mereka mengadakan resepsi pernikahan mewah yang bisa dihadiri keluarga dan juga teman. Mengikat janji yang hanya dihadiri oleh orang terkasih sebagai saksi, itulah yang bisa Rayn lakukan saat ini. Tapi ia berjanji jika mereka akan akan mengadakan resepsi impian itu saat waktunya tiba nanti.


"Maafkan aku Rayn...." ucap Lusia lirih.


"Maaf?" tanya Rayn dengan hati yang mulai merintih.


"Pernikahan itu, aku tidak bisa melakukannya" lanjut ucap Lusia.


Jantung Rayn berdegup kencang mendengar kata maaf yang diucapkan Lusia. Seketika tubuhnya menjadi dingin, rasanya seolah darah dingin mengalir begitu cepat ke seluruh tubuhnya. Apakah Lusia masih belum bisa menerima kekurangannya? Inilah pertanyaan yang membuat Rayn berusaha sekuat tenaga menahan tubuhnya menjadi lemas hanya dalam hitungan detik.



Aduduhhh, Author sendiri dibuat meleleh sama visual Rayn kalau udah rapi begini. Tapi apa si ganteng ini dapat penolakan ?


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2