Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 07 - Horor


__ADS_3

Sesuai dengan keputusan yang diambilnya, pada akhirnya Lusia mengantar Rayn pulang menggunakan mobil foodtruck milik Friend's Cafe tempatnya bekerja. Lusia mengemudi dengan hati-hati, sesekali ia melirik ke layar navigasi penunjuk jalan yang sudah di setting tujuannya oleh Rayn. Ia tidak terlalu memeriksa kemana mereka harus pergi. Baginya selama masih terbaca pada navigasi, artinya dirinya hanya perlu berkendara dengan aman.


Di tengah perjalanan, seketika Lusia mengerutkan dahinya, ia merasa dag dig dug ketika navigasi mengarahkannya untuk belok kanan di persimpangan lampu merah tepat didepannya. Lusia sangat tahu jika belok kanan di persimpangan itu adalah arah jalan menuju keluar kota.


Saat berhentu lampu merah, Lusia menengok keatas, melihat papan penunjuk jalan yang dipasang oleh pemerintah. Ia memastikan kembali dan itu benar adalah jalan menuju keluar kota.


“Apakah dia orang dari keluar kota? Apa dia benar-benar memintaku mengantarnya pulang ke sana?” tanyanya dalam hati mulai panik.


Sembari menunggu lampu merah berganti menyala hijau. Lusia memeriksa kembali nama tempat yang akan ia tuju, terpampang jelas dalam layar jika tujuannya adalah sebuah Villa yang masih berada di wilayah dalam kota. Meskipun harus memasuki area perbatasan kota, namun ia lega karena artinya tidak harus mengantar Rayn terlalu jauh.


“Masih harus berjalan 6km lagi… ok” gumam Lusia lirih.


Perjalanan yang ditempuh Lusia sebenarnya tidak jauh jika dihitung waktu. Berdasarkan arahan navigasi, dia hanya membutuhkan waktu perjalanan kurang dari 40 menit dari Galery. Namun, karena jalanan yang masih asing dan rute yang dituju bukanlah rute kawasan perkotaan, membuat Lusia merasa jika ia seperti telah menempuh perjalanan jauh.


Lusia berusaha memulai obrolan dengan Rayn yang duduk di kursi penumpang. Sepanjang perjalanan dari naik mobil hingga saat ini Rayn tidak bersuara sama sekali. Dia hanya duduk dengan pandangan tenang ke depan meski sesekali memeriksa ponselnya.


“Apakah kau datang dari luar kota ?” tanya Lusia. “Tentang Villa itu, hanya sedang menginap atau kau memang tinggal di sana?” tanya Lusia kembali berusaha mencairkan suasana untuk membantu mengurangi pikirannya yang mulai liar dan parno.


"Kau hanya cukup mengantarku ke sana, tanpa menanyakan hal yang tidak perlu” Jawab Rayn tajam.


“Ok…” sahut Lusia singkat seraya meluruskan kembali pandangannya fokus ke arah depan. Ia lalu memutar musik dengan volume yang nyaring. "Hanya butuh hiburan karena serasa mengemudi seorang diri" ucap Lusia dengan senyum paksa guna menyindir Rayn.


Mobil Lusia sudah memasuki kawasan perhutanan, tidak ada rumah warga dan pertokoan disepanjang pinggir jalan. Navigasi memberi arahan jika dalam 500m lagi Lusia harus membelokkan kemudi mobilnya mengikuti jalur belok kiri. Lusia mulai berfikir apakah keputusannya menawarkan tumpangan itu benar. Namun ia teringat kembali perkataan Rayn untuk tidak setengah-setengah dalam berbuat kebaikan.


Jalanan yang mereka lalui beraspal, menanjak, berkelok, dan hanya dikelilingi oleh pohon-pohon pinus besar yang menjulang tinggi. Badan jalan yang lebar sehingga bisa dilalui dua mobil secara berdampingan.


Meskipun masih terlihat normal namun sangat jelas jika ini bukanlah jalanan umum. Tidak adanya lampu penerangan jalan menandakan pasti tidak banyak orang yang lewat kemari. Jalanan yang gelap membuat pandangan Lusia harus fokus lurus ke depan. Ia hanya bisa mengandalkan lampu sorot mobilnya sebagai penerang jalan.


“Kenapa tidak ada lampu penerangan sama sekali… apakah villa itu benar-benar ada? atau jangan-jangan hanya tipuan Maps semata?”.


Lusia terus saja mengoceh dalam hati melirik tajam kearah Rayn, ia merasa dirinya seperti sedang melakukan petualangan malam penuh misteri.

__ADS_1


Derrrrr…!!! .


Suara kilat yang menyambar mengejutkan Lusia. Sontak ia berteriak rusuh didalam mobil dengan spontan menginjak rem mobil. Lusia menghentikan mobil mendadak saat mendengar dan melihat cahaya kilat tepat didepan matanya.


“Oh Tidak…!!!” Kau juga melihatnya baru saja? Apakah itu benar-benar cahaya petir?” tanya Lusia kepada Rayn.


Angin mulai bertiup kencang, tampak pohon bergerak kacau karena tiupannya. “Sepertinya akan turun hujan” lanjut ucap Lusia melirik ke sekitar.


“Jika kau tidak ingin terjebak disini karena hujan, maka jalankan mobilmu” perintah Rayn merespon kegaduhan Lusia dengan nada datar.


Ketenangan Rayn justru membuat Lusia mulai ketakutan dan berfikir apakah pria itu tidak sedang merencanakan niat buruk. Lusia mengambil earphone bluetooth miliknya, lalu melakukan panggilan kepada Reisa. Setidaknya dia bisa memiliki teman bicara, sekaligus memberitahu Reisa tentang posisinya saat ini ada dimana dan sedang bersama siapa. Pikirnya, jika nantinya terjadi sesuatu dengannya, setidaknya ada harapan karena masih ada orang yang mengetahuinya.


Namun sayang, Reisa tidak menjawab panggilannya. Sebaliknya, tidak selang lama panggilan masuk dari Dave, Lusia dengan sigap menerima panggilan telepon Dave.


“Oh Dave, apa kau masih menungguku? Maafkan kakak, sepertinya akan terlambat pulang karena sedang mengantar seseorang“ ucap Lusia tanpa menyapa dan bertanya kenapa Dave menghubunginya.


"Kakak? Seseorang? Aku memang masih menunggu namun aku tidak paham dengan ucapakan Ka Lusia. Siapa yang kak Lusia maksud? Apakah kak Lusia saat ini sedang bekerja menjadi supir pengganti?” tanya Dave yang mengetahui jika Lusia juga berkerja sebagai supir pengganti dihari liburnya. Namun ia bingung karena seharusnya Lusia kembali ke Cafe.


“Kak Lusia, apa dengan bicaramu? Apa terjadi sesuatu?. Untuk apa kau memberi tumpangan hingga jalan perbatasan kota?” tanya Dave dengan nada serius merasa ada yang tidak beres dengan gaya bicara Lusia yang tidak biasa dan terus melantur.


“Oh iya kau benar sekali, ada sesutu sehingga tidak bisa menepati janji. Jadi, sebagai gantinya kakak akan mentraktir mu nanti. Kakak tidak bermaksud mengingkari janji dan maaf karena sudah membuatmu harus menunggu hingga larut. Kita bisa bermain game bersama besok. Maafkan kakakmu ini adikku“ jawab Lusia dengan nada mengiba. Bicaranya semakin meracau.


Tampak sangat jelas jika itu adalah kode untuk menjawab pertanyaan Dave. Ia memberi kode jika benar saat ini sedang terjadi sesuatu yang ia sendiripun masih belum tahu apa yang akan terjadi setelahnya. Lusia sangat berharap Dave akan paham.


“Kak Lusia, katakan dimana kau sekarang!” perintah Dave tegas dengan nada panik.


“Lusia… ?” Terdengar suara Kelvin dalam panggilan teleponnya dengan Dave. Dave saat ini sedang bersama dengan Kelvin di Cafe. Hal ini karena Dave menyadari ada yang tidak beres dengan apa yang Lusia bicarakan. Dave langsung mengaktifkan loudspeaker agar Kelvin juga bisa mendengar keganjalan dari ucapan Lusia.


“Yah… ! Jangan meledek kakakmu di situasi seperti ini. Sudah kukatakan jika aku bisa mengemudi dengan baik. Hanya saja kali ini cukup berbeda, sedikit lebih ekstrem. Jalanan yang aku lalui sangat gelap dan beberapa kali menanjak. Tidak hanya itu tapi juga berkelok-kelok. Bahkan yang kulihat semuanya hanya pepohonan. Demi keamanan bersama, kakak harus mengemudi dengan hati-hati dan pelan-pelan seperti keong… haha.” Lusia berusaha untuk memberi gambaran kepada Dave & Kelvin tentang semua yang dilaluinya saat ini.


Lusia melirik Rayn. “Adikku selalu meledek jika aku akan kehilangan penumpang dengan caraku mengemudi yang menurutnya seperti keong… haha” ucap Lusia kepada Rayn menjelaskan maksud pembicaraannya ditelepon. Berharap Rayn tidak curiga.

__ADS_1


"Tapi jangan khawatir aku benar-benar pengemudi yang baik, SIMku menunjukan hasil kepercayaan Negara akan caraku mengemudi, hehe“ lanjut Lusia dengan tawa canggung.


Rayn kembali tersenyum hanya di sudut bibir. Tentu saja lagi-lagi respon misterius itu tidak dapat dilihat Lusia. Bagi Lusia celotehnya sama sekali tidak akan mempengaruhi pria aneh yang hanya duduk manis seperti patung disebelahnya.


“ha.. haha… sepertinya itu tidak penting bagimu, haha…“ tawa Lusia dengan menurunkan nada bicaranya melihat Rayn tidak bergeming sama sekali.


“Eemm…  tidak lama kita akan sampai ditujuanmu yaitu Villa Grand Valley" ucap Lusia dengan perlahan membaca nama Villa yang tertulis dilayar navigasi, tentunya agar Dave dan Kelvin dapat mendengar dengan jelas nama tempat yang mereka tuju saat ini.


“Apakah jangan-jangan Villa ini milikmu pribadi? Aku tidak tahu jika ada Villa di daerah ini sebelumnya. Tapi luar biasa lokasinya terverifikasi di Maps dan bahkan navigasi kendaraan bisa menemukannya. Hanya saja sayang sekali tidak ada penerangan disepanjang jalan“ ujar Lusia.


Lusia terus berbicara kepada Rayn, semua perkataanya hanya kode untuk Dave dan Kelvin yang mendengar percakapannya. Ia berusaha memberi tahu mereka tetang dimana dirinya sekarang, kemana tujuannya dan informasi tentang lokasi yang ia tuju ada di Maps.


“Apa kau tinggal di sana seorang diri?” tanya Lusia lagi.


“Bukankan kau harus menyelesaikan panggilanmu dahulu sebelum berbicara dengan orang lain?” jawab Rayn yang akhirnya membuka suara menoleh menatap Lusia.


“Gawat, apa maksud perkataannya dia memintaku untuk mematikan telepon? Apa dia mulai curiga?” tanya Lusia dalam hati langsung menaikan level kewaspadaannya menjadi 99,9%.


***To Be Continued***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆

__ADS_1


__ADS_2