Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 49 - Impianmu adalah Milikmu


__ADS_3

Lusia mengetuk pintu ruangan Rayn, terdengar suara Ryan membalas dengan memintanya untuk menunggu. Tidak lama Rayn membuka pintu, ia mempersilahkan Lusia untuk masuk. Lusia tidak langsung masuk, ia masih mengintip dengan menik mata yang bergerilya ke seluruh ruangan. Hanya kepala Lusia yang melewati pintu dengan tubuh yang masih diluar.


“Wahhh... sungguh luar biasa. Serius aku boleh masuk?” tanya Lusia.


Ryan mengerutkan keningnya. “Jika kau masih ragu lebih baik tidak usah" jawab Rayn hendak menutup pintu tapi kaki Lusia dengan cepat menahan pintu.


“Tidak sabaran sekali" sahutnya lalu masuk.


Lusia langsung menghampiri sebuah lukisan yang tampak sedang di kerjakan Rayn. Sebuah lukisan bangunan seperti sebuah istana yang terlihat memiliki usia tua. Lukisan yang masih dalam separuh pengerjaan itu sudah membuat Lusia kagum.


“Apa ini lukisan yang kau bilang harus segera diselesaikan?” tanyanya. Rayn hanya menjawab dengan anggukan dan senyum lalu duduk di kursi untuk melanjutkannya.


Seolah sedang tur Musium, Lusia berkeliling melihat seisi ruangan. Beberapa alat lukis seperti kuas, cat, kanvas, dan papan easel tersusun rapi di tempatnya. Beberapa lukisan terlihat belum sampai tahap finishing.


Rayn hanya menatap Lusia yang tampak sibuk meraba salah satu karyanya. “Kau tidak ingin menemaniku untuk mejelaskan kepadaku makna dari setiap karyamu?” tanya Lusia tiba-tiba membuat Rayn kembali memalingkan pandangan pada lukisan yang sedang ia kerjakan.


“Lalu aku harus bagaimana? Berjalan di depan menjelaskan seperti seorang pemandu wisata atau aku harus berada di belakangmu seperti seorang asisten atau pramuniaga yang mengikutimu berkeliling” jawabnya tanpa memandang Lusia dengan tetap sibuk menuangkan goresan-goresan karyanya di atas kertas kanvas. "tanyakan saya padaku apa yang ingin kau tahu" lanjut ucap Rayn.


“Hahaha… aku hanya bercanda. Lanjutkan, silahkan lanjutkan saja melukisnya. Aku bisa melihatnya sendiri” jawab Lusia.


“Soal melukis, apa hanya sekedar sebagai hobby atau selama ini memang pekerjaanmu? Maksudku apa awalnya hanya sekedar mengisi kekosonganmu di Villa. Sejak kapan kau memulainya?” tanya Lusia.


Pertanyaan itu membuatnya menghentikan goresan kuasnya. “Aku sudah sangat lama suka melukis. Sudah sangat lama, bahkan sebelum aku memiliki phobia ini” ucapnya lirih dengan menurunkan kuas dan semakin tajam menatap lukisan di depannya. Pertanyaan Lusia seolah telah mengingatkannya akan masa lalu yang menjadi awal dari ia mulai melukis.

__ADS_1


Mendengar nada suara Rayn yang tampak beda, Lusia langsung menghampirinya. Ia meraih sebuah kursi untuknya duduk dan menggesernya hingga tepat di sebelah Ryan.


“Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?” tanya Lusia ragu.


Rayn menggelengkan kepalanya, ia mengacak singkat rambut Lusia dengan lembut lalu tersenyum. “Kenapa kau terlihat lebih baper dariku” tanyanya.


Lusia hanya terdiam seperti patung dan pasrah menerima perlakuan Rayn. Ia merapikan rambutnya sembari menatap Rayn yang tanpa dosa kembali melakukan aktifitasnya. “Aku hanya takut jika itu menyinggung mu” ucapnya.


Sambil melanjutkan melukis, Ryan menceritakan jika ia sudah mulai mengenal lukisan sejak kecil. Almarhum ibunya adalah seniman lukis. Ibunya bahkan sempat mengambil sekolah jurusan seni. Namun impian ibunya sebagai pelukis harus sirna semenjak menikah dengan ayahnya. Ayahnya yang sangat mencintai ibunya, memanjakan sang istri dengan cara yang berbeda. Ia melarang ibunya melakukan banyak hal termasuk bekerja sebagai seorang pelukis yang merupakan cita-cita sang ibu.


Ayah Rayn menganggap jika melukis hanya untuk menghasilkan uang maka itu sangat tidak perlu. Karena dirinya sudah sangat mampu memenuhi semua kebutuhan sang istri. Namun jika melukis hanya sebagai kepuasan diri, maka ia bisa melakukannya sesekali sebagai sebatas hobby yang tidak sampai menyita banyak waktu.


"Bagi ibuku jika itu bukti kepedulian dan cinta ayahku yang tidak ingin ibuku banyak menghabiskan waktu untuk melukis sepajang hari. Tapi… aku bisa melihat jika ia menyukai lukisan lebih dari hanya sekedar hobby. Aku bisa melihat itu dari bagaimana dia mengajariku” ucap Rayn.


"Jadi kau mulai suka melukis karena ibumu?" tanya Lusia.


Rayn berusaha menahan sesak yang ia rasakan saat ini. Ia menutup mata lalu mengambil nafas perlahan. “Semakin lama aku sering melukis, aku mulai benar-benar menyukainya. Dan aku mulai bisa merasakan bagaimana frustasinya ibuku saat harus melepasnya. Sama hal nya yang aku rasakan saat ini. Tidak banyak yang bisa aku lakukan dengan keterbatasanku. Aku tidak bisa menjadi diriku sendiri dan menunjukkan kepada dunia setiap…. “ ucapan Rayn terputus. Ia menitihkan air matanya dengan nafas tersengal karena menahan tangisannya.


“Jika saja kecelakaan itu tidak terjadi dan jika saja ia masih ada disini. Aku… aku akan menjadi orang yang akan selalu mendukungnya untuk mengejar mimpinya kembali. Aku yang akan memperjuangkan dengan segala cara untuk membuatnya menjadi seorang pelukis. Aku…. “ ucapan Rayn kembali terputus. Air matanya kini benar-benar mengalir membasahi pipinya. Melihat itu air mata Lusia pun ikut jatuh, ia mendekat dan memeluk Rayn dan menepuk bahunya.


“Kini tidak ada yang bisa aku lakukan, aku adalah orang yang benar-benar mengakhiri mimpinya dengan merampas hidupnya. Aku telah merenggut mimpi itu selamanya. Apa yang harus aku lakukan. Bahkan aku pun saat ini tidak bisa menolong diriku sendiri. Aku terlalu pengecut, aku tidak berani menatap dunia. Aku hanya terus bersembunyi."


Terdengar suara tangis dan isakan Rayn. Lusia semakin memeluk Rayn dengan air mata yang ikut terburai. “Ini bukan salahmu Rayn. Semuanya adalah takdir, ini semua sungguh bukan salahmu” ucapnya dengan menepuk bahu Rayn.

__ADS_1


Rayn masih menangis dalam pelukan Lusia. “Aku sangat menyukai melukis, aku sangat menyukainya Lusia. Tapi itu semakin menjadi sulit, itu sangat sulit bagiku yang selalu mengingatnya dalam setiap goresan ku” ucapnya.


“Aku melakukannya demi melanjutkan mimpi ibuku, semua aku lakukan demi ibuku. Itu hanya kata-kata kiasan yang membodohi diriku sendiri untuk mendorongku agar mampu melukis. Itu tidak benar, aku melakukannya karena aku juga menyukai melukis. Aku melakukannya karena aku juga ingin menjadi seorang pelukis. Tapi rasa bersalah terhadap ibuku terus menyiksaku. Aku benar-benar merasa buruk. Aku merasa egois memilih melanjutkan mimpiku setelah apa yang terjadi dengan ibuku.”


Lusia melepaskan pelukannya, ia memandang Rayn usai mengusap air mata di pipi Rayn. “Rayn dengarkan aku. Apa yang terjadi dengan ibumu bukan salahmu. Ibumu melepas mimpinya itu adalah pilihannya. Bukan kewajiban bagimu untuk meneruskannya. Dan jika saat ini kau benar-benar menyukai lukisan, itu karena kau memang menyukainya bukan karena rasa bersalahmu terhadap ibumu. Kau harus bisa melepas bayang-bayang ibumu. Saat kau menjadi seorang pelukis, itu adalah hasil dari perjuanganmu. Mimpi ibumu adalah mimpi ibumu dan impianmu adalah milikmu sendiri Ryan.” Ucapnya kembali memeluk Rayn.


Rayn sudah mengenal lukisan dari kecil. Ibunya yang mengenalkan Rayn dengan lukisan dan mengajari dirinya melukis. Layaknya anak-anak seusianya saat itu, melukis adalah hal yang sulit dilakukannya. Ia masih ingin bermain dan menikmati dunia anak-anak yang seharusnya menjadi haknya daripada melukis. Namun mengetahui kesedihan ibunya, Rayn memutuskan mengikuti arahan sang ibu. Ia pun akhirnya berbohong kepada ibunya jika ia ingin menjadi seorang pelukis. Kebohongan itu hanya demi menyenangkan hati sang ibu.


Berawal dari kebohongan itu ia mulai mendalami seni lukis. Hingga akhirnya ia benar-benar menyukai seni lukis dan ingin menjadi seorang pelukis seperti ibunya. Namun mimpinya bercampur dengan mimpi sang ibu. Bayang-bayang rasa bersalah akan kematian sang ibu terus mengikat dan menyiksanya setiap kali melukis.


Dirinya merasa tidak layak melanjutkan mimpinya sebagai seorang pelukis. Bahkan Ia sempat menyerah dengan membakar semua karyanya sebelum akhirnya bangkit kembali hingga kini.


Setiap karya lukisan Rayn menggambarkan kesedihannya saat melukis. Semua itu tertuang dalam disetiap goresan karyanya yang membuat lukisan itu semakin terlihat hidup. Lusia masih tidak tahu siapa Rayn, ia tidak tahu jika Rayn adalah seorang pelukis terkenal yang sudah diakui para penikmat seni. Ia selalu memiliki karya menakjubkan dibalik kehidupan memilukan. Sebuah peristiwa teragis yang telah mengubah seluruh hidupnya.


Di tempat yang berbeda dan diwaktu yang sama, Mickey juga mengenang malam itu. Ia membuka laci bawah di kamarnya. Dikeluarkannya sebuah kotak berukuran kecil yang dikunci. Ia menatap 2 ponsel yang ada di dalam kotak itu, 1 ponsel dalam kondisi yang sudah rusak parah dengan kaca yang pecah dan 1 ponsel utuh.


Mickey kembali teringat....


"Mickey kau bisa melihatnya?" tanya Rayn. "Rayn sudah Rayn, dengarkan mama sayang" panggil ibu Rayn. "Rayn......!!!" lanjut teriak ibu Rayn di ikuti suara keributan dari kecelakaan malam itu.


Peristiwa itu terus mengusik Mickey, ia masih menatap ponsel itu lalu memejamkan matanya dengan menitihkan air mata. Keduanya sama-sama terjebak dalam masa lalu yang terkubur dalam ingatan Ryan.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued***


__ADS_2