Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 118 - Pilihan Yang Ku Pilih


__ADS_3

Langit kota Quebec terlihat cerah, secerah suasana hati Lusia yang baru saja bangun dari tidurnya. Daun-daun sudah berubah warna menjadi kuning dan merah kecoklatan menambah keindahan setiap jalanan dibawah sana. Lusia pergi ke kamar Rayn, namun ia tidak mendapati Rayn dikamarnya.


Lagi? Rayn sudah pergi meninggalkan hotel. Ia menghilang lagi setiap pagi tanpa ada pamit, bahkan entah dari jam berapa dia sudah meninggalkan hotel. Tapi, kali ini sepertinya Rayn masih memiliki perasaan karena ia meninggalkan sebuah note berisi pesannya.


[Maafkan aku jika tidak bisa menemanimu hari ini, sebagai gantinya kita akan pergi menikmati pertunjukkan musik orkestra bersama]


Pesan itulah yang ditulis Rayn, ia meninggalkan pesan itu dengan 2 tiket musik yang akan ia saksikan nanti. Lusia meraih 2 tiket itu lalu menghela nafas kasar karena Rayn tidak memberitahu urusan mendesak apa yang membuat dia sampai harus pergi pagi-pagi.


Lagi dan lagi Lusia berusaha memahami situasi Rayn karena ini adalah kota kelahiran Rayn dan sudah lama Rayn tidak kembali maka sudah sewajarnya akan membuat Rayn memiliki banyak urusan.


Rayn menyarankan Lusia untuk tetap tinggal di hotel sampai ia kembali. Namun, Ryan juga tidak melarang jika Lusia bosan dan ingin pergi jalan-jalan disekitar hotel. Rayn memberitahu Lusia jika akan ada beberapa orang yang akan mengikuti Lusia saat berada diluar hotel. Ia juga mengatakan jika Lusia tidak perlu khawatir karena mereka adalah orang-orang yang diperintahkan Mickey untuk menjaganya.


Lusia memutuskan pergi jalan-jalan menikmati keindahan kota Quebec sendiri. Ia tidak ingin hanya berdiam dikamar hotel dan menyia-nyiakan waktunya selama berada di negara yang terkenal dengan surganya keindahan pohon mapel itu.


Saat keluar Hotel, mata tajam Lusia langsung melirik ke sekitar. Seperti yang dikatakan Rayn, Lusia melihat ada sekitar 4 orang yang sudah berjaga diluar. Mereka berpenampilan bak wisatawan dan penduduk lokal. Satu persatu mereka mendekati Lusia ketika Lusia berjalan melewatinya.


Orang-orang itu berjalan mengiringi Lusia untuk menyapa dan memperkenalkan diri jika mereka yang akan mengawal Lusia selama beraktivitas diluar. Lusia hanya membalas sapa dengan senyum seolah tak terganggu dengan keberadaan mereka.


Lusia pergi ke sebuah toko bunga yang ia datangi dengan Ryan kemarin. Rayn pernah berkata kepada Lusia jika ia akan membelikan bunga untuknya setiap hari. Hanya satu kali janji itu terwujud dan kini ia harus membelinya sendiri untuk dirinya sendiri.


Saat memasuki toko bunga, Lusia sudah disambut hangat oleh wanita penjaga toko. Ia menyapa Lusia dalam bahasa inggris, berbeda saat ia datang bersama dengan Rayn kemarin, wanita ini berbicara bahasa Perancis yang hanya bisa dimengerti Rayn.


Wanita penjaga toko memberi Lusia satu buket bunga yang sudah dipesan untuknya. Satu buket bunga Baby Breath yang begitu indah sudah dipesan untuk Lusia. Wanita itu mengatakan jika Rayn sudah datang ke tokonya bahkan sebelum dia buka toko. Rayn dengan terburu-buru memesan bunga dan meminta penjaga toko memberikan bunga itu kepada kekasihnya saat datang ke toko itu.


"Awalnya aku meragukannya dan bertanya bagaimana jika kekasihmu tidak datang. Tapi, dia mengatakan jika dirinya sangat yakin kau akan datang kemari. Dia bahkan menulis sesuatu untukmu. Menurutku dia pria yang menggemaskan kan" ucap wanita tua itu kepada Lusia.


Lusia mengurai senyum lalu mencium aroma wangi dari Baby Breath ditangannya. Lusia merasa sedih karena tidak ada Rayn disisinya. Ia menghela nafas lalu membaca pesan yang sudah Rayn tulis dan sisipkan pada buket bunga.


[ Jika kau menerima bunga ini dari wanita penjaga toko, maka itu artinya aku masih belum bersamamu. Maafkan aku dan nikmati waktumu. Aku akan segera menemui mu sebelum konser musik berlangsung ]


Lusia mendengus kesal membaca pesan itu. "Apa ini yang dia maksud dengan pesan romantis? Tanpa menuliskan pesan ini semua juga sudah tahu jika saat ini aku masih sendiri. Baiklah, kau wajib menemuiku sesuai janjimu" gumam Lusia membuat penjaga toko mematung karena tidak mengerti apa yang diucapkan Lusia.


Lusia kembali mengurai senyum canggung melihat penjaga toko yang memandangnya bingung. Lusia pun pamit meninggalkan toko. Ia lalu lanjut menikmati liburannya dengan menjajal beberapa makanan khas yang tersaji di outlet makanan pinggir jalan.

__ADS_1


Masih dengan 1 cup Americano ditangannya, Lusia berdiri didepan sebuah butik yang menjadi surganya gaun nan cantik. Lusia melangkahkan kakinya memasuki butik, ia langsung disambut hangat oleh pramuniaga yang menghampiri dirinya usai pintu terbuka. Mata Lusia seketika tertuju pada sebuah gaun berwana putih yang terlihat begitu indah dan mewah.


"Ini adalah gaun terindah yang bisa anda pakai dimomen berharga seperti pertunangan" jelas seorang pramuniaga berbicara dalam bahas inggris kepada Lusia.


"Pertunangan? Gaun seindah ini bahkan cocok untuk sebuah pernikahan" gumam Lusia berbicara sendiri menggambarkan kemewahan sesungguhnya bagi dirinya.


"Anda ingin mencobanya?" tanya pramuniaga.


Lusia hanya bisa melempar senyum saat pertanyaan itu dilayangkan kepadanya. Mencoba? Bagaimana mungkin ia berani mencoba sementara ia sangat yakin jika dirinya tidak akan mungkin membeli gaun seindah itu kecuali jika tiba-tiba muncul seorang pangeran yang akan membelikannya.


Pangeran itu bisa saja adalah Rayn, tapi itu sangat mustahil dia akan muncul tiba-tiba. Lusia menatap pintu sambil berkata. "Jangan bermimpi Lusia" ucapnya.


Mimpi, membeli dengan uangnya sendiri atau mendapatkannya dari Rayn, tentu saja itu hanya sebuah mimpi. Namun Lusia tidak ingin mengkhianati rasa penasarannya untuk tahu berapa harga gaun itu. Ia pun iseng bertanya, pramuniaga lekas mengambil katalog dan menunjukkannya kepada Lusia.


Mata Lusia membelalak lebar melihat harga yang fantastis. Ya, harga itu memang sangat worth it untuk gaun secantik itu. Lusia sangat menyadari jika masalah bukan pada harga, tapi fix ada pada dirinya yang tidak memiliki uang untuk membelinya.


Tidak selang lama seorang wanita yang tidak lain adalah pemilik butik menghampiri Lusia. Ia sangat memuji kecantikan Lusia yang terlihat polos natural bak bidadari lalu melirik gaun yang sedang dilihat Lusia. Pemilik butik itu mengatakan jika Lusia akan sangat cocok memakainya. Ya, itulah bujuk rayu yang akan mereka katakan untuk menarik pengunjung dan Lusia hanya bisa kembali melempar senyum canggung.


...***...


Hari berganti sore dan langit mulai menjadi gelap namun Rayn tak kunjung memberi kabar. Usai mengistirahatkan dirinya sejenak, Lusia bersiap untuk pergi ke venue yang menjadi tempat ia memiliki janji dengan Rayn. Dengan 2 tiket konser di tangannya, Lusia pergi ke Place des Arts yang merupakan kompleks seni pertunjukan utama Montreal yang menampilkan berbagai ruang pertunjukan seni terbesar di Quebec.


Hampir 1 jam berlalu semenjak ia sampai di sana dan Rayn tak kunjung datang, bahkan ponselnya tidak bisa dihubungi. 10 menit lagi waktu pertunjukkan akan dimulai, Lusia mulai menjadi kesal. Lusia akhirnya memutuskan menghubungi Mickey untuk menanyakan dimana Rayn saat ini.


"Maafkan aku Lusia, sebelumnya Rayn memintaku untuk menghubungimu jika ia tidak bisa datang. Hari ini aku sangat sibuk jadi lupa memberitahumu. Maafkan aku, ini kesalahanku. Tapi kau masih belum pergi ke sana kan? Apa kau masih di hotel? Jam berapa kalian seharusnya bertemu?" tanya Mickey tanpa tahu jadual yang dimiliki Rayn dan Lusia.


Lusia mengabaikan pertanyaan yang dilayangkan Mickey. Lusia hanya menatap dua tiket ditangannya lalu menatap jam tangannya. Saat ini pertunjukkan seharusnya sudah akan dimulai.


"Apa dia baik-baik saja?" tanya Lusia lirih dengan nada suara sedih.


"Eeemm,,, dia sangat baik-baik saja. Jangan khawatir, jika urusannya sudah selesai dia pasti akan segera menemuimu" jawab Mickey.


Mendengar hal itu membuat Lusia menjadi kesal tiba-tiba. "Baiklah, sampaikan padanya jika seharusnya dia yang memberi kabar itu langsung kepadaku, bukan lewat dirimu." sahut Lusia lalu menutupnya karena kesal. "Wah... dia sangat baik-baik saja katanya?" lanjut keluh Lusia berbicara sendiri usai menutup telepon.

__ADS_1


Lusia memutuskan untuk tetep menyaksikan konser musik orkestra tanpa Rayn. Dia merasa jika ia tetap akan bisa menikmatinya, ya hanya cukup menikmatinya. Momen yang tidak harus ia lewatkan hanya karena Rayn yang mengundangnya tidak datang ketika dirinya sudah berada di sana.


Meskipun diselimuti rasa kecewa, Lusia masuk dengan kaki lantang. Namun, langkah kaki itu tiba-tiba terhenti. Lusia memandang miris dirinya yang saat ini sudah berada di dalam aula. "Apa yang kau harapkan Lusia" ucapnya menatap deretan kursi penonton yang kosong dengan ekspresi penuh kesedihan.


Tadinya Lusia pikir jika ia masih akan bisa menikmatinya bersama penonton lain. Namun seketika Lusia lupa, jika Rayn tidak datang maka hanya akan ada dirinya seorang yang mengisi kursi itu. Tidak akan pernah ada penonton lain selain dirinya yang menyaksikan konser musik itu sekarang. Hal ini karena phobia Rayn tidak akan membiarkan situasi itu terjadi.


Perlahan Lusia melangkahkan kakinya menuju salah satu kursi yang berada dibaris tengah. Ya, dia bebas duduk dimana pun karena Rayn sudah membeli semua tiket itu.


"Apa dia harus melakukannya sejauh ini?" tanya Lusia melihat sekeliling.


Maison symphonique de Montréal, Lusia dibuat tertegun dengan hall konser aula klasik yang begitu besar dan megah, bahkan terdapat lebih dari 2,000 kursi penonton. Interior yang hangat, harmonika auditorium memiliki dinding panel melengkung yang tumpang tindih dan tiga tingkatan balkon yang terbuat dari kayu beech Kanada berwarna coklat terang.


Ini sudah gila, itu yang dipikirkan Lusia saat mengetahui Rayn menyewa tempat sebesar ini hanya untuk mereka berdua. Namun, tempat sebesar itu yang biasa diisi ribuan penonton kini terasa sunyi sepi. Mungkin bagi orang apa yang dilakukan Rayn adalah keromantisan yang membuat iri pasangan di dunia, tapi bagi Lusia saat ini membuat dirinya seperti wanita kesepian yang menghibur diri seorang diri.


"Ya, kini aku menontonnya sendiri seperti gadis kesepian" gumam Lusia menatap tirai podium berwarna merah didepannya perlahan diturunkan dan sebagian lampu mulai padamkan dan berganti dengan lampu yang meneduhkan.


Alunan musik pertunjukan Montreal Symphony Orchestra yang merupakan orkestra legendaris di Quebeq mulai terdengar begitu indah, sebuah konser bertajuk "Love of My Life" yang dipimpin oleh seorang konduktor ternama.


Mungkin mereka bertanya-tanya, apakah pertunjukan yang mereka tampilkan sepadan jika dari 2,000 kursi yang biasa dipenuhi penonton kini hanya disaksikan oleh seorang wanita yang duduk di sana. Mungkin para pemain orkestra pun juga memandang kasihan pada Lusia.


"Melihat situasi ini, mungkin orang akan mengatakan jika ini sudah menjadi resiko yang harus ku ambil ketika bersamanya. Tapi tidak, bagiku ini bukanlah resiko melainkan pilihan yang aku pilih. Bahkan kekurangannya yang menempatkan ku pada situasi ini pun bukanlah kutukan. Awalnya aku merasa sedih dan kecewa, tapi kini aku justru bisa merasakan apa yang dirasakan Rayn selama ini. Seperti inilah dia menjalani hidupnya sendirian, bukankah ini sangat kejam? Phobia itu bukanlah salahnya dan aku tidak harus menyalahkannya atas pilihan yang aku pilih"




.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2