
Rayn tertegun ketika melihat Lusia memejamkan matanya.
"wanita ini" batinnya dengan tatapan tertahan.
Rayn memalingkan pandangannya dari kulit halus milik wanita yang dicintainya. Ia mendekat pada telinga Lusia, ia berbisik dengan suara seksi yang begitu sensual.
"Biarkan aku yang mengemudi untukmu" bisik Rayn sembari lalu merampas kunci yang ada dikepalan tangan lusia.
Usai meraih kunci dari tangan Lusia, Rayn kembali memandang wajah Lusia yang sudah membuka matanya. “Jangan pernah memejamkan matamu jika itu adalah pria lain” ucap Rayn memberi peringatan kepada Lusia.
Tidak mengerti maksud dari peringatan Rayn, Lusia hanya mendengus kasar. “A...apa baru saja aku kena zonk?” batinnya kesal.
Padahal jantung Lusia sudah seperti genderum drum, ia mengira jika Rayn akan melakukan sesuatu terhadapnya. Sikap sensual Rayn yang menggoda terasa begitu nyata, Lusia tidak menyangkal buaian itu bisa saja mungkin akan lolos dari Rayn mengingat akhir-akhir ini Rayn suka menyerang bibirnya tanpa aba-aba.
“Kenapa, apa kau kecewa?” tanya Rayn dengan tersenyum melihat wajah Lusia yang masam.
“Rayn... !” teriak Lusia sembari melepaskan tubuhnya dari dekapan Rayn.
Lusia tidak mengerti kenapa dia harus kesal apalagi sampai kecewa jika Rayn hanya menggodanya. Tapi yang pasti Rayn sudah menangkap raut wajahnya yang tersipu seolah menginginkannya.
“Bukankah sudah kuperingatkan sebelumnya, jangan memancingku" sahut rayn lalu pergi keluar Villa lebih dulu.
Lusia menelan salivanya, ia tidak percaya jika hampir saja ia tergoda oleh sang penggoda. “Apa aku bisa mempercayainya, jika dia tidak pernah terlibat dengan wanita sama sekali? Dia sangat ahli memainkan hati dan membuat panas dingin” gumam Lusia lalu mengikuti Rayn keluar.
“Melihatmu pasrah tidak berdaya, semakin membuatku takut saja” gumam Rayn tersenyum seorang diri.
Meskipun Rayn melakukannya murni hanya untuk menggoda Lusia tanpa ada niatan lain, namun jujur justru dirinya yang hampir saja lepas kontrol karena reaksi pasrah Lusia. Sebagian pria normal, Rayn pun merasakan getaran di hatinya yang juga menginginkan lebih.
Siapa yang bisa menolak, ketika dua insan yang sedang berada dalam gejolak cinta terjebak dalam momen yang menggunggah hasrat. Pejaman mata Lusia hampir membutakan dan mengusik naluri Rayn sebagi pria. Namun, Rayn akhirnya mampu mengendalikan dirinya kala ia mengingat janji, janji yang membuatnya menahan diri. Sebuah janji untuk menjaga Lusia agar tetap suci.
Rayn masuk mobil masih dengan mengurai senyum, tanpa kata Lusia mengikutinya masuk dan duduk di kursi depan, disebelah Rayn yang mengemudi untuknya. Di dalam mobil, keduanya tampak menikmati perjalanan mereka dan melupakan kejadian konyol dimana mereka sama-sama menggoda tapi berakhir tergoda.
Setelah sekian lama, akhirnya Lusia bisa membawa Rayn untuk jalan-jalan lagi. Jika diingat, sudah lama saat terkahir mereka pergi meninggalkan Villa bersama. Menikmati indahnya dunia luar, dunia penuh kebebasan dan keramaian. Saat ini, mungkin hanya ini yang bisa Lusia lakukan untuk menghibur Rayn. Tetap bersamanya dan selalu di sisihnya sudah cukup untuk membuat Rayn tidak merasa kesepiannya.
“Oh yah, kenapa aku tidak melihat Arka?” tanya Lusia.
“Aku memintanya untuk membantu Mickey, menurutku dia yang lebih membutuhkan Arka saat ini daripada diriku” sahut Rayn.
“Kau bukan mengirim Arka untuk mengawasi Mickey kan?” tanya Lusia dengan nada curiga.
“Apa kau pikir aku pria selicik itu?” tanya Rayn dengan nada kesal karena merasa dicurigai.
Rayn menghela nafas lalu mengatakan alasan kenapa ia meminta Arka ikut pergi dengan Mickey. “Aku yang meminta Mickey untuk membawa Arka kembali ke Canada bersamanya. Mickey mungkin saja akan menemui banyak kesulitan di sana dan satu-satunya orang yang aku ataupun Mickey bisa percayai hanyalah Arka” ujarnya.
“Aku mengerti, maafkan aku” sahut Lusia menunduk, ia merasa telah salah bicara meskipun tidak ada niatan mencurigai Rayn.
“Selama tidak ada Arka, aku yang akan mengantar jemput dirimu ke Caffe” ucap Rayn.
“Jangan-jangan itu hanya modus untuk mengawasiku” batin Lusia yang hanya pasrah dengan keputusan Rayn.
Selama ini Rayn memerintahkan Arka untuk menjaga Lusia selama dia beraktifitas di luar Villa. Penjagaan terhadap Lusia ia lakukan sampai mereka menemukan siapa pria misterius yang mengirim Lusia banyak hadiah beberapa waktu lalu. Sebelumnya Mickey pernah mengatakan kepada Rayn jika dirinya curiga mungkin saja orang itu adalah seorang penguntit.
Kecurigaan Mickey semakin membuat Rayn sangat khawatir, meskipun masalah pribadi Rayn masih rumit tapi Rayn tidak akan pernah mengabaikan masalah pribadi Lusia dengan pria misterius itu. Jika benar pria itu bukan penggemar biasa melainkan seorang penguntit, maka tugas Rayn untuk melindungi dan menjaga Lusia.Mickey mengatakan jika dia akan segera mengatur pengawal baru untuk menggantikan Arka sementara waktu.
Setelah lama berkendara melewati hutan pinus dan memasuki kawasan perkotaan, kini mereka telah sampai di suatu tempat yang terkenal sebagai surganya makanan. Pusat Caffe, restoran serta jajanan pinggiran yang menyajikan berbagai jenis makanan khas nan lezat. Tempat itu tidak jauh dari Caffe tempat Lusia bekerja.
“Lihatlah, itu adalah tempat yang sering aku datangi dengan Reisa” ucap Lusia menunjuk sebuah foodtruck yang terlihat tidak jauh dari mereka memarkirkan mobil.
__ADS_1
Usai mematikan kendaraannya, Rayn meraih payung yang sebelumnya Lusia letakkan di kursi belakang lalu membuka pintu mobil untuk keluar.
“Tunggu, kau mau kemana?” tanya Lusia menahan tangan Rayn.
“Bukankah kita datang kemari untuk makan” jawab Rayn.
“Tapi apa kau tidak lihat, di sana saat ini sedang ramai orang makan? Bagaimana kau bisa pergi ke sana? Lebih baik kau tunggu disini, aku akan memesan dahulu makanannya lalu mencari tempat untuk kita duduk” ucap Lusia meraih payung dari tangan Rayn dan memintanya untuk tetap berada didalam mobil.
Rayn menatap wajah Lusia, ia lalu berbalik menggenggam tangan Lusia. “Aku bisa melakukannya, asal kau tidak melepaskan tangan ini” ucap Rayn dengan senyum untuk meyakinkan Lusia.
Rayn melihat jika dari awal Lusia lebih antusias daripada dirinya yang mengusulkan untuk pergi. Terlihat jelas di wajah Lusia yang sangat ingin menikmati hidangan itu dengan suasana yang sudah ia rindukan.
Sekali saja meskipun sulit, Rayn berusaha ingin mencoba menjadi pria yang bisa memenuhi keinginan kekasihnya. Melakukan kencan seperti pasangan lain yang belum pernah mereka lakukan semenjak resmi menjalin kasih.
Mereka akhirnya berdiri didepan sebuah tenda dengan bangku panjang penuh dengan orang dan hanya menyisahkan tempat yang bisa diduduki untuk dua orang saja.
“Apa kau yakin bisa melakukanya?” tanya Lusia kembali melihat wajah Rayn yang mulai pucat.
“Aku akan mencobanya” sahut Rayn lalu memintanya lanjut melangkah.
Melihat barisan pengunjung yang duduk di kursi panjang itu, Lusia tidak akan menempatkan Rayn duduk dibaris tengah. Lusia meminta Rayn duduk di bagian ujung, sementara dirinya di tengah berdampingan dengan seorang anak sma.
Rayn sama sekali tidak melepaskan tangan Lusia, ia justru semakin erat menggenggamnya. Lusia memesan makanan setiap menu yang sudah menjadi favoritenya selama ini.
“Dari barisan makan itu, kau ingin yang mana?” tanya Lusia pada Rayn.
“Apapun yang kau rekomendasikan untukku” sahut Rayn mempercayakannya kepada Lusia.
Lusia menatap setiap wadah berisi makanan-makanan yang menggugah selera. Mata Lusia seketika tertuju pada wadah tempura yang hanya menyisahkan satu tusuk tempura goreng. Lusia segera meraihnya, namun bersamaan pria muda yang duduk disampingnya juga meraihnya, sehingga keduanya tampak berebut.
“Ambil saja untukmu” ucap pria itu mengalah dan meletakkan sate tempura itu dipiring Lusia.
Lusia tidak terlihat sungkan ataupun malu, karena itu adalah hal wajar yang terjadi jika makan ditempat itu. Lusia kembali clingak-clinguk mencari satu menu yang belum terlihat matanya.
“Apa kau mencari acar?” tanya pria itu.
Lusia mengangguk, salah satu menu pendamping yang wajib dimakan dengan sate bbq miliknya. “Berikan piringmu, akan aku ambilkan” ucap pria itu berdiri dari duduknya.
“Terima kasih” ucap Lusia tersenyum dengan menyodorkan piringnya.
Rayn hanya diam, ia sedari tadi memperhatikan Lusia yang sibuk dengan pria muda itu. Ingin rasanya ia bertukar duduk dengan Lusia dan melakukan semua yang dilakukan pria muda itu kepada Lusia, tapi itu sangat mustahil. Duduk ditempatnya sekarang saja sudah cukup sulit untuk ia lakukan.
“Oh ya, boleh bantu tambahkan kuahnya yah” pinta Lusia yang terlihat sudah akrab dengan pria itu. Ya, lagi-lagi itu adalah hal yang lumrah jika makan di sana.
“Siap, apa yang tidak boleh buat kakak yang manis” sahut pria itu dengan senyum.
Mendengar ucapan pria itu, Rayn langsung menaikan alisnya. Rayn mendengus kasar, dengan tatapan tajam ia menoleh kearah pria muda itu. Ia merasa geram namun yang membuatnya sulit percaya, Lusia justru tertawa seolah sama sekali tidak merasa terganggu dengan gombalan pria yang bersikap sok dekat dengannya.
“Kau mau juga?” tanya Lusia kepada Rayn. Ia menawarkan sebagian acar miliknya yang baru saja diambilkan oleh pria muda itu.
“Aku benci asam” sahut Rayn dengan rauh wajah masam. Ingin rasanya ia mengajak Lusia pergi dari tempat itu.
“Hei, anak muda, tidak bisakah kau makan dengan tenang dan fokus dengan makananmu saja? Berisik sekali dan mengganggu” nyinyir Rayn tanpa basa basi.
“Apa membantu orang lain itu hal yang dianggap mengganggu?" Tanya pria muda itu kepada Ryan. "Lagi pula apa dia pacar kakak?" lanjut tanyanya kepada Lusia.
“Ah…dia” jawab Lusia.
__ADS_1
"Harusnya iya, melihat bagaimana dia tidak melepaskan tangan kakak” potong pria muda itu.
"Selain berisik dia juga sangat kepo" gumam Rayn.
“Hei, jika kau merasa terganggu atau tidak ingin wanitamu didekati pria lain? Bukankah kau seharusnya tidak membiarkannya duduk di sebelahku?" ucap pria itu sambil melahap sosis bakar ditangannya.
"Hei? Kau?" ucap Rayn geram. Anak muda itu menghormati Lusia dengan memanggilnya kakak tapi tidak sopan dan kasar terhadap dirinya.
Menyadari Rayn yang sudah mulai emosi, Lusia segera meminta penjual untuk membungkus makanannya. "Sudah Rayn, bagaimana kalau kita makan di mobil saja" ajaknya.
Mendengar ajakan Lusia, membuat Rayn seketika sadar jika dia sudah berlebihan, terlebih lagi pria itu hanya seorang anak sma, dirinya yang sudah bersikap tidak dewasa. Namun ia sudah terlanjur mencerna ucapan pria tadi. Rayn mengakui jika phobia nya telah menjadi kelemahan sehingga tidak bisa sepenuhnya melindungi wanitanya.
Tanpa banyak kata, Rayn melepaskan tangan Lusia dan lebih dahulu kembali ke mobil. Ia menunggu dengan bersandar di mobilnya. Terlihat raut wajah kesal bercampur dengan kecewa terhadap dirinya sendiri.
"Mungkin apa yang dikatakan pria itu benar, aku harus mempertimbangkan kembali kelayakanku bersamamu" ucapnya memandang Lusia dari kejauhan, Lusia tampak masih menunggu makanannya dan menyelesaikan pembayaran.
Usai menyelesaikan pembayaran, Lusia lekas kembali dan menghampiri Rayn yang masih menunggunya diluar mobil. "Untung hujannya sudah reda" batin Lusia sambil berlari.
Melihat kedatangan Lusia, Rayn segera membukakan pintu untuk Lusia. "Apa dia marah" batin Lusia sembari masuk ke dalam mobil.
"Apa kau mencoba ini? Kau belum sempat makan apapun tadi" ucap Lusia kepada Rayn yang sudah duduk disampingnya.
"Maafkan sikapku tadi" ucap Rayn.
"Kenapa kau yang meminta maaf? Aku yang seharusnya minta maaf karena tidak memperhatikan dan memikirkan perasaanmu di sana tadi. Sesaat aku lupa dan egois karena terlalu menikmati suasana yang aku rindukan. Dan soal pria itu, aku hanya..." ucap Lusia tiba-tiba menghentikan perkataannya melihat Rayn yang menatapnya.
"Ke... kenapa kau menatapku seperti itu?" lanjut tanya Lusia panik.
“Apa kau sengaja melakukannya untuk menggodaku?” tanya Rayn melihat saus yang masih tersisa disudut bibir Lusia.
Lusia mengerutkan alisnya. "Menggodamu? Apa maksudmu dengan aku sengaja menggodamu?" tanya Lusia yang tidak menyadarinya.
Rayn mendekat, ia menatap lekat manik mata indah Lusia. Lusia bisa merasakan hangat nafas pria yang dicintainya itu, wajah tampan Rayn telah memenuhi seluruh pandangannya. Perlahan Rayn menyentuh dengan halus bibir ranum Lusia. Sentuhan Rayn membuat Lusia membulatkan matanya dan panik.
"Kau meninggalkannya di bibirmu" ucap Rayn tersenyum dengan perlahan mengusap saus itu dengan jari telunjuknya.
Melihat senyum manis yang begitu meneduhkan hatinya membuat Lusia mengurai senyum. "Jadi, apa kau sudah tidak marah kepadaku?" tanya Lusia disertai senyum.
Jarak bibir mereka yang hanya seinci membuat Rayn tak kuasa untuk mengecup singkat bibir ranum Lusia. Bahkan tatapan teduh dan senyum Lusia membuatnya semakin tidak mampu menahan sesuatu yang bergejolak dihatinya.
"Kenapa kau selalu menyiksaku dengan tatapan dan senyummu itu, membuatku sulit menahannya" ucap Rayn lalu mendekap wajah Lusia dengan kedua tanganya dan mengecup singkat dengan lembut bibir ranum itu.
"Rayn" ucap Lusia dalam hati.
"Terima kasih sudah menerimaku apa adanya" ucap Rayn singkat lalu kembali mencium Lusia.
Sentuhan bibir manis Rayn membuat Lusia perlahan memejamkan mata menyambut semua kecupan dari sang kekasih, ia menikmati sentuhan lembut yang menggerakkan bibirnya. Lusia melingkarkan kedua tangannya pada jenjang leher Rayn. Ia pun mulai terbuai membiarkan Ryan mengambil seluruh bibir ranum miliknya, ia membalas lumatann ciuman manis yang bukan lagi menjadi ciuman pertama mereka.
"Mungkin aku telah menjadi egois karena mencintai dan menginginkanmu untuk selalu bersamaku"
"Aku adalah milikmu dan akan selalu menjadi milikmu. Aku tidak memaksakan egoku atau memintamu untuk menjadi sempurna bukan karena aku mencoba mengalah. Aku menerima setiap kekurangan dan kelemahan phobia mu bukan sebatas dibutakan cinta .Tapi aku melihat setiap kesempurnaan itu pada hatimu yang tulus mencintaiku Rayn."
.
__ADS_1
.
.*** To Be Continued***