Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 134 - Sikap Yang Ku Pilih


__ADS_3

Hari semakin gelap, cahaya sang rembulan bersinar terang menerangi kampung nelayan bersama semilir dinginnya angin laut. Rayn, Lusia termasuk Arka dan Ibu Lusia datang memenuhi undangan salah satu tetangganya yang sedang mengadakan perayaan kecil. Perayaan sederhana ini sudah menjadi tradisi yang biasa mereka lakukan untuk menyambut kepulangan suami atau anak mereka yang baru saja kembali dari melaut selama satu bulan atau lebih.


Wanita yang menjadi tuan rumah menyambut kedatangan Rayn dan Lusia penuh dengan rasa bahagia, ia mempersilahkan keduanya dan yang lain untuk duduk menikmati sajian yang ada.


Mereka duduk santai dihalaman depan rumah yang cukup luas dan menikmati minuman serta makanan tradisional yang sudah menjadi makanan khas ditempat ini. Sebuah kebersamaan yang sederhana namun membuat hati damai dan bahagia.


Ditengah perbincangan masing-masing yang tampak asyik, seorang pria paru baya mendekati Rayn dan mengulurkan botol alkohol, ia menawarkan diri menuangkan minuman beralkohol itu kepada Rayn yang sudah menjadi tamunya. Rayn meraih gelas minuman tapi ia ragu, mungkinkah ia bisa menerima tuangan dari pria yang sudah mengulurkan botol alkohol untuknya.


"Biarkan dia menuangnya sendiri."


Celetuk istri dari pria itu, ia meminta suaminya untuk tidak melakukannya karena ia tahu phobia yang diderita Rayn. Baginya, Rayn bersedia hadir dan bisa duduk bersama mereka saja sudah sangat bersyukur, karena itu ia tidak ingin menyulitkan Rayn atau membuatnya merasa tidak nyaman.


"Aku tahu aku tahu, tapi aku tidak akan menyentuhnya atau memangsanya. Dia harus bisa menahannya, hanya satu tuang saja" jawab pria itu kembali menawarkan alkohol kepada Rayn.


Rayn tersenyum dan mengatakan jika dirinya baik-baik saja. Satu tangan Rayn menggenggam erat tangan Lusia dan satu tangannya lagi menjulurkan gelas menerima tuangan dari pria itu.


"Maafkan saya" ucap Rayn.


Rayn merasa jika dirinya sangat tidak sopan menerima tuangan dari orang yang lebih tua darinya hanya dengan satu tangan.


Rayn segera meneguk minuman itu hanya dengan dengan sekali teguk saja. Tidak hanya sampai disitu, pria baru baya lain yang juga hadir di sana pun menawarkan diri menuangkan minuman untuk Rayn dan Rayn kembali menerima serta meneguknya hanya sekali teguk. Lagi dan lagi seolah tidak ingin berhenti.


Melihat hal itu, Lusia langsung menatap Rayn serius. Sebuah tatapan yang menunjukkan rasa cemas dan khawatir terhadap suaminya. Lusia meminta Rayn untuk berhenti dan tidak terlalu banyak minum.


"Jangan melarang suami mu jika kau tidak ingin punya kesempatan menaklukannya. Pria akan lemah dan menjadi polos jika sudah mabuk" sahut salah seorang wanita sembari menyajikan ubi kukus kepada Lusia.


Lusia pun tersenyum disertai tawa ibu-ibu di sana yang merasa satu pemikiran dengan wanita itu. Bagi mereka cukup hanya dengan membuat para pria mabuk, maka akan menjadi kesempatan untuk mendapatkan kejujuran dari para pasangan masing-masing.


Acara terus berlangsung, mereka kini tampak asyik bernyanyi bersama. Lusia sesekali mengelus lengan dan pundaknya karena hawa dingin yang ia rasakan. Melihat hal itu, tanpa banyak kata Rayn langsung melepas jaket yang ia kenakan lalu ia pakaikan kepada Lusia.


"Istriku tidak boleh terkena flu" ucap Rayn lalu duduk mendekat dan merangkul pundak Lusia. Perhatian yang Rayn berikan tentunya membuat iri pasangan lain yang sudah lebih lama menjalani pernikahan.


Malam semakin larut, semua tampak menikmati kesederhanaan yang menciptakan keharmonisan dalam bertetangga. Mereka saling berbagi kisah kehidupan, termasuk rasa syukur dan kebahagiaan mereka hidup dan tinggal di perkampungan nelayan. Rayn pun tampak antusias mendengarkan, meskipun angin malam semakin menusuk tulang namun suasana justru menjadi riuh penuh canda dan tawa.


Seorang kakek mengajak Rayn untuk bernyanyi bersama, dengan senang hati Rayn menyetujuinya mekipun merek harus bernyanyi dalam jarak yang berjauhan.


"Rayn sepertinya kau mabuk" ucap Lusia.


Rayn menggelengkan kepalanya berulang kali lalu lanjut bernyanyi. Tidak hanya sekali namun berulang kali Rayn tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya dan hampir terjatuh. Saat Rayn benar-benar akan terjatuh, dengan sigap Lusia segera berdiri meraih tubuh Rayn.


"Hoho, istriku ada disini. Kenapa kau memelukku didepan mereka? Menggemaskan..." ucap Ryan lalu memeluk Lusia.


Tidak lama Rayn melepas pelukannya dan menatap wajah Lusia dengan tatapan yang begitu sangat manja.


"Kiss..." ucap Rayn.


"Kiss ?" Tanya Lusia merasa m canggung, gzlalu melihat ke sekitar. "Rayn, kau mabuk lebih baik kita kembali pesona. "Istriku... Kiss" ucap Rayn" lanjut ucap Lusia.


Lusia hanya bisa melempar tawa canggung untuk menutupi wajahnya yang memerah karena tersipu. Ia kembali meminta Rayn berhenti, namun tentunya hal itu tidak akan membuat Ryan berhenti. "Kenaaapaaaa? kissss..." Rengek Rayn lalu tersenyum manja.


Semua yang ada di sana meminta Lusia menyanggupi permintaan Rayn. "Berikan padanya, kau tidak perlu malu dengan kita semua yang sudah menjadi pasangan tua ini" ucap seorang pria paru baya lalu tertawa dan diikuti oleh tawa yang lainnya.


Sesekali mereka bersorak memberi semangat kepada Lusia untuk melakukannya. Tidak ada yang bisa ia hindari saat ini selain menyelesaikannya dengan cepat lalu membawa suaminya pulang. Perlahan Lusia mendekatkan wajahnya, dengan gugup ia mengecup singkat bibir Rayn lalu menjauh karena malu.


Semua orang pun tertawa dan merasa iri akan kemanisan Rayn dan Lusia. Mereka menunjukkan rasa bahagia dan dukungannya terhadap pasangan muda Rayn dan Lusia.


"Wahhh" reaksi Arka yang hanya bisa menghela nafas melihat apa yang sedang terjadi didepannya.


Namun helaan nafas Arka berubah menjadi senyum yang terurai di bibirnya. Ini pertama kali ia melihat Tuannya duduk dengan tenang, bernyanyi dan mengurai senyum bahkan tawa lepas bersama orang-orang yang ada disekelilingnya. Suatu momen yang selama ini sulit untuk Rayn lakukan yaitu menempatkan dirinya berada di kerumunan orang. Tapi, kini ia telah melakukannya dan Arka ikut bahagia melihatnya.


"Kenapa hanya cup? Apa kau sudah mulai enggan dan bosan padaku?" keluh Rayn yang hanya mendapatkan kecupan singkat dari istrinya.


"Bukan itu Rayn, kau mabuk dan.." sahut Lusia.


Belum sampai Lusia menyelesaikan kalimatnya, Rayn langsung meraih pinggang Lusia, ia menarik tubuh sang istri untuk mendekat. Tanpa aba-aba, Rayn mencuri bibir ranum Lusia dan menciumnya. Ia ******* penuh gairah dihadapan para pasangan paru baya yang hadir di sana. Sebuah ciuman yang membuat Lusia tidak berdaya ataupun menolaknya.


Rayn melepaskan ******* bibirnya lalu memandang Lusia. "Bagaimana, apa aku hebat?" tanyanya kepada Lusia dengan raut wajah yang begitu polos.


Mendengar hal itu, seorang kakek tua melontarkan kata yang mengejutkan semuanya. "Apa kau sudah merasa bangga hanya karena menciumnya? Hei anak muda, kau boleh bangga jika kau juga hebat dibawah sana" sindir kakek itu membuat tawa yang lainnya.


"Lusia..! Teriak Rayn tiba-tiba.

__ADS_1


"Katakan padanya jika aku juga hebat dibawah sana... ! Perintah Rayn meminta pengakuan Lusia.


"Rayn kau mabuk..." jawab Lusia.


"Apa itu sulit ?" tanya Rayn dengan wajah manyun. Ia lalu melepaskan diri dari Lusia dan berdiri tegap didepannya.


Lusia tidak mengatakan apa-apa, ia hanya menghela nafas panjang. Melihat hal itu membuat Rayn semakin menjadi-jadi. "Baiklah, bagaimana kalau kita pulang saja sekarang. Aku... aku..." ucap Rayn terputus-putus.


"Aku akan menunjukkan kepadamu betapa hebatnya aku dan kau harus mengakuinya jika permainanku...." lanjut ucap Rayn. Belum sampai ia menyelesaikan ucapannya tubuhnya sudah mulai gontai saat kembali melangkah untuk mendekati Lusia.


"Permainanku yang...." lajut ucap Rayn.


"Ryan !!! Teriak Lusia meraih kaleng wadah es batu untuk membuat Rayn diam dengan memukul bahu Ryan, tapi bersamaan tubuh Rayn gelanyotan hendak jatuh sehingga mendarat di kepala Ryan dan Rayn pun jatuh tersungkur tak sadarkan diri.


"Rayn... Rayn..." Panggil Lusia lalu melempar kaleng ditangannya dan segera meraih tubuh Rayn.


"Tuan Muda...." teriak Arka langsung berlari untuk membantu Rayn bangun.


Rayn membuka matanya lalu tertawa kecil. "Apa baru saja ada elien jatuh dari langit menghantam kepalaku?" tanyanya lalu kembali pingsan.


Lusia panik dan meminta Arka segera membantunya membawa Rayn ke Rumah Sakit. Namun si kakek mengatakan jika hal itu tidak perlu karena Rayn hanya pingsan karena mabuk. Ia memperlihatkan kepada mereka jika Rayn hanya tertidur karena efek alkohol. Mereka pun membantu Lusia dan Arka untuk membawa Rayn kembali pulang ke kediaman ibu Lusia.


.


.


Waktu terus berlalu, setalah sekian hari menghabiskan waktu di kediaman Ibu Lusia, Rayn dan Lusia akan kembali pulang. Mereka sedang bersiap untuk kembali pulang. Lusia tampak sibuk merapikan beberapa masakan yang ibunya siapkan untuk dibawa pulang.


Arka yang sudah siap menghampiri Lusia untuk menanyakan apakah koper Lusia sudah siap karena ia akan membawanya ke mobil. Melihat kedatangan Arka dengan pakaian yang tidak bisa membuat Lusia terdiam sejenak.



"Arka, ada apa dengan pakaianmu? Liburan kita sudah berakhir" ucap Lusia dengan tatapan bingung.


"Tuan Muda Rayn meminta saya untuk memakai pakaian yang lebih santai" jawab Arka mengingat perkataan Rayn terhadapnya. '


"Rayn? Tiba-tiba?" tanya Lusia seolah tidak percaya apa yang baru saja ia dengar.


"Tidak-tidak, ini sangat bagus, dan aku suka melihatmu seperti ini" jawab Lusia.


"Kembalilah berpakaian seperti biasanya" sahut Rayn tiba-tiba muncul sembari memakai jaketnya.


"Kenapa? Bukankah kau yang memintanya?" tanya Lusia kepada Rayn.


Alih-alih menjawab pertanyaan Lusia, Rayn justru menanyakan pertanyaan lain. "Apa kau menyukai dia berpakaian seperti ini?" tanya Rayn kepada Lusia.


Lusia mengangguk "Ya, ini terlihat bagus untuknya" jawabnya.


"Karena alasan itu aku menjadi tidak suka, karena kau menyukainya" ucap Rayn lalu berjalan keluar.


Lusia mendengus kesal dan bertanya kepada Arka apa yang salah dengan Rayn, apakah dia menjadi seperti itu karena pukulan semalam yang tidak sengaja mendarat di kepalanya.


Arka tersenyum kecil dan meminta Lusia untuk tidak terlalu memikirkannya. "Itu karena Tuan Muda cemburu, saya akan mengganti pakaian saya" ucap Arka.


Lusia meminta Arka untuk mengabaikan perintah Rayn baru saja. Ia tetap bisa berpakaian seperti itu dan tidak perlu berganti pakaian. Mereka pun akhirnya kembali pulang saat hari sudah akan gelap, hal ini membuat mereka sampai di Villa tengah malam.


.


.


Keesokan hari....


Rayn yang sedang sibuk membaca buku di pagi hari terus merasa tidak enak dengan tubuhnya. Ia pergi ke dapur hendak membuah teh camoli hangat. Rayn berjalan menuruni tangga dengan buku dongeng yang masih ia baca. Arka yang melihatnya meminta Rayn untuk berhenti membaca dan berhati-hati saat menuruni anak tangga.


Rayn berterima kasih atas kepedulian Arka terhadapnya. Ia lalu menghentikan Arka yang hendak pergi ke luar.


"Oh, Arka. Aku penasaran akan sesuatu... Apa kau masih ingat perjanjian antara kau dan Mickey? Perjanjian jika aku minum maka kau sama sekali tidak boleh minum. Dan jika aku menjadi mabuk, maka kau harus menjadi satu-satunya orang yang paling sadar, apa kau masih mengingatnya?" tanya Rayn.


Arka mengangguk, ia tentu saja tahu pasti dan ingat semua peraturan yang diberikan Mickey kepadanya. Rayn kembali bertanya kepada Arka, ketika mereka menghadiri undangan tetangga Lusia malam itu apakah Arka benar-benar sama sekali tidak minum alkohol.


"Anda memutuskan untuk minum jadi saya tidak minum. Namun untuk menghormati para orang tua yang menuangkan minuman kepada saya, saat itu saya minum seteguk dan itu sama sekali tidak membuat saya mabuk. Tapi, kenapa anda menanyakannya?" tanya Arka kepada Rayn.

__ADS_1


"Tidak ada, aku hanya sangat penasaran, apa karena aku sudah lama tidak minum aku menjadi separah itu saat mabuk. Dalu aku selalu mabuk tapi aku jarang menyakiti diriku sendiri, jikapun itu terjadi aku selalu mengingat apa yang terjadi. Tapi aku tidak mengerti kenapa sampai hari ini saat bangun aku merasakan sakit di badanku, dan terutama kepalaku, aku merasa seperti usai dipukul. Apa kau tahu apa yang terjadi malam itu?" tanya Rayn.


Arka terdiam mendengar pertanyaan itu, ia ragu untuk menjawab. Rayn memerintahkan Arka untuk menjawab dan memberitahu dirinya apa yang terjadi sekalipun rasa sakit itu mungkin karena kekonyolannya sendiri.


Di tengah terdiam nya Arka, Lusia yang baru saja bangun menuruni anak tangga dan langsung berjalan menuju lemari es.


"Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Lusia melihat Arka dan Rayn yang hanya diam dan saling menatap.


"Aku hanya memintanya menjawab pertanyaan ku" jawab Rayn.


"Apa saya boleh menjawabnya?" tanya Arka kepada Lusia tiba-tiba.


"Kenapa kau bertanya kepadaku, dia yang bertanya jadi jawablah" sahut Lusia lalu meneguk air mineral ditangannya.


"Ny. Lusia yang memukul anda dengan kaleng wadah es batu" sahut Arka dengan pengucapan yang begitu cepat lalu menunduk menunjukan jika ia meminta maaf karena mengatakannya.


Byuuuurrrrr.....!!!


Air tersembur dari mulut Lusia mendengar pengakuan Arka. Ia tidak menyangka jika kejadian itu yang sedang ditanyakan Rayn.


Rayn tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar, ia kembali bertanya untuk meyakinkan dirinya lagi. "Apa katamu? Luisa?" tanyanya lalu menoleh ke arah Lusia.


Lusia berpura-pura sibuk merapikan isi kulkas, ia secara random memindahkan beberapa buah di sana sini. Rayn kembali memandang ke arah Arka. "Kenapa Lusia harus memukulku?" tanyanya kepada Arka.


"Kenapa Tuan Muda bertanya kepada saksi disaat anda bisa bertanya langsung kepada pelakuknya?" jawab Arka lirih disertai nada yang terdengar penuh penyesalan.


Rayn langsung menatap Lusia. "Why?" tanya Rayn singkat kepada Lusia.


Lusia menutup pintu kulkas lalu menjawab dengan gugup. "Itu karena... e... a... aku... Aku sulit menjawab bukan karena takut kau akan marah tapi... " jawab Lusia tertahan. "Tapi aku takut kau akan malu" lanjutnya lirih.


"Shy? Me? Why ?" tanya Rayn.


"Itu..." ucap Lusia kembali tertahan. "Itu karena kau terus mengoceh ingin membuktikan betapa hebatnya kau bermain di atas ranjang" ucap Lusia dengan pengucapan yang begitu cepat, tegas dan lantang. "Yah... itu yang terjadi" lanjutnya kini dengan suara yang begitu lirih.


Rayn terdiam lalu mendengus singkat setelah mendapatkan kesadarannya. "Hah, kau ragu dan takut aku akan malu tapi kau berteriak dengan lantang sekali" keluhnya kepada Lusia.


"Ryan... aku" sahut Lusia berjalan mendekat untuk mengklarifikasi tentang kejadian malam itu.


"Ok, tidak apa Lusia, cukup aku sudah tahu" sahut Rayn.


"Rayn.... aku tidak bermaksud" lanjut ucap Lusia.


Rayn meminta Lusia untuk berhenti. "Berhentilah, aku sudah sangat malu sekarang" ucapnya lalu menutup wajahnya dengan buku dongeng di tangannya dan berjalan ke dapur mengambil air mineral di meja dapur.


Disaat bersamaan ponsel Lusia yang berada dikantong cardigan yang dikenakannya berbunyi menandakan panggilan masuk.. "Ya hallo, Kelvin.." sahut Lusia dalam panggilan.


Rayn sontak menghentikan pergerakan tangannya yang hendak menyentuh gelas. Ia berbalik lalu perlahan menaikkan tubuhnya duduk di atas meja, ia menunggu dan menatap Lusia yang sedang berbicara ditelepon.


"Oh, baiklah aku akan kesana" ucap Lusia lalu menutup telepon.


Rayn meletakkan buku ditangannya lalu bertanya kepada Lusia yang juga sedang berjalan ke arahnya dengan langkah kaki perlahan.



"Kau baru saja bangun tapi sudah bersama ponselmu" ucap Rayn menatap ponsel ditangan Lusia.


"Oh, itu karena tadi aku baru saja mengirim pesan kepada Reisa" jawab Lusia.


Rayn menatap Lusia dengan tatapan yang teduh namun menyiratkan perasaan yang berbeda dan tidak biasa. Rayn menatapnya lekat lalu bertanya "Apa kau akan pergi menemuinya?" tanya nya lirih.


Suasana menjadi canggung sesaat ketika Rayn tetap duduk dengan tenang saat mendengar jawaban Lusia. Rayn menunduk membuang senyum tipis lalu kembali memandang Lusia.


Sesaat Rayn memikirkan sikap seperti apa atau reaksi seperti apa yang harus ia tunjukkan akan jawaban yang Lusia berikan. Ia sangat menyadari jika dalam satu menit mungkin dirinya dapat mengubah sikapnya, dan pada saat itu, maka sikap yang ia pilih itu mungkin dapat mengubah seluruh harinya dengan Lusia ke arah yang tak terduga.


Rayn......


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2