
Sepanjang perjalanan, Dr. Leona mencoba menghubungi Mickey. Tidak lama Mickey menjawab panggilannya. “Kukira kau akan terus mengabaikan panggilanku” ucapnya kepada Mickey.
“Tentu saja aku akan menjawabnya, karena sepertinya banyak yang ingin kau katakan dan tanyakan kepadaku” jawab Mickey dalam panggilan telepon dengan Dr. Leona.
“Kau sengaja melakukannya? Kenapa kau begitu sangat gegabah!” ucap Dr. Leona.
Mickey dengan tetap tenang ia menjawab. “Karena kita sudah tidak bisa menunggu lagi” sahutnya.
Mendengar jawaban Mickey, Dr. Leona langsung menepikan kendaraannya. “Meskipun dengan cara yang bisa saja membahayakannya?” tanya Dr. Leona dengan tegas.
“Aku pun tidak punya pilihan” jawab Mickey.
“Apa karena Tuan Charles?” tanya Dr.Leona yang berpikir jika apa yang Mickey lakukan atas perintah Tuan Charles.
“Kenapa kau melibatkannya ketika kau lebih tahu alasannya. Jika kunci itu, aku pun membutuhkannya” jawab Mickey.
“Mickey…!” teriak Dr. Leona yang mendengar Mickey ingin segera mendapatkan ingatan Rayn.
Dr. Leona sudah sangat lama mengenal Mickey dan mereka memiliki hubungan dekat bahkan sebelum Dr. Leona resmi menjadi dokter yang ditugaskan untuk keluarga Anderson. Satu hal yang tidak diketahui keluarga Anderson termasuk Ryan, jika tidak hanya Rayn, tapi sebenarnya Mickey juga salah satu pasien Dr. Leona.
“Seperti dirimu yang harus berjuang diantara aku dan Rayn, aku pun juga berjuang untuk menerima kenyataannya. Setidaknya, ini yang bisa aku lakukan untuk menebus dosaku kepadanya” ucap Mickey.
“Mickey, kau harus bisa melepaskan rasa bersalah yang sebenarnya itu bukan salahmu” ucap Dr. Leona kembali mengontrol nada bicaranya.
“Tuan Charles juga menerima ancamannya pada malam itu” potong Mickey.
“Apa katamu?” tanya Dr. Leona tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Lihatlah, kau pun terkejut mendengarnya” sahut Mickey.
“Kau yakin itu ancaman yang sama dengan yang kau terima?” tanya Dr. Leona.
“Menurutmu? Apa ayahku semata-semata mati karena pelarian?” tanya Mickey. “Kecelakaan Rayn, itu bukan murni kecelakaan, aku yakin Tuan Charles pun tahu akan hal. Bukankah kita semua berada dalam satu kapal yang sama? Aku, Tuan Charles dan juga Rayn.
__ADS_1
“Apa kau berpikir jika Tuan Charles terlibat dalam kematian…” sahut Dr. Leona. Belum sampai Dr. Leona selesai mengucapkan kematian siapa, tapi Mickey sudah memotong ucapannya.
“Jangan khawatirkan aku, lakukan tugasmu dengan fokus kepada Rayn. Dan aku akan melakukan tugasku untuk melengkapi kekurangannya. Melengkapi sesuatu yang tidak ada dalam ingatannya. Meskipun itu akan menjadi pukulan terbesar bagiku nanti, aku akan menerimanya. Bahkan, itu masih tidak sebanding dengan penderitaan yang sudah Rayn tanggung selama ini” ucap Mickey lalu menutup telepon.
Kunci dari semuanya ada pada ingatan Rayn. Ingatan Rayn adalah satu-satunya harapan untuk mengungkap misteri kecelakaan dan kematian ibu Rayn. Meskipun hasil pemeriksaan kepolisian mengatakan jika itu adalah murni kecelakaan tunggal dan bukan aksi sabotase. Namun, sangat jelas jika peristiwa itu terjadi dimana kendaraan yang dikendarai ibu Rayn menerobos lampu merah dengan kecepatan tinggi sehingga polisi lebih mengarah pada tindakan bunuh diri.
Kini Potongan ingatan Rayn mulai sedikit membuka tabir jika kematian ibunya karena pembunuhan bukan aksi bunuh diri. Namun ia masih belum tahu, bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi, siapakah pria yang tega menghabisi nyawa ibunya tepat didepan matanya dan apa motif dia melakukannya. Itu semua masih menjadi misteri yang harus Rayn selesaikan.
.
.
Di villa, Lusia duduk di ranjang Rayn dengan terus memegang tangan Rayn. Ia menyeka rambut Rayn yang basah karena keringat. Perlahan ia kembali mencoba menyentuh rambut Rayn yang menutupi matanya, namun ia mengurungkan niatnya saat Rayn mengerutkan kening dengan raut wajah penuh kecemasan dalam tidurnya.
“Apa yang harus aku lakukan untukmu bisa mengurangi rasa sakit itu?“ tanya Lusia menahan air matanya dengan menatap sendu wajah Rayn.
“Karena itu juga menyakitiku. Aku tidak tahu, kenapa melihatmu seperti ini membuatku merasa sakit. Kau mengatakan kepadaku untuk tidak menahannya seorang diri, tapi kau sendiri memilih menanggung semuanya sendirian. Bagaimana kau bisa tidak adil” ucap Lusia lirih.
“Kau tahu, aku selalu berharap jika diriku bisa membuatmu tersenyum. Karena dengan senyummu, aku merasa diriku masih berarti untuk orang lain. Aku berharap kau akan terus menggenggam tangganku seperti ini, karena ini pertama kalinya seseorang mengandalkanku.”
“Ada apa denganku? Aku pun bertanya dan tidak tahu sejak kapan perasaan aneh ini mulaimuncul. Dan aku semakin menjadi egois kerena pada akhirnya aku mulai menginginkanmu. Tapi aku sadar siapa diriku, apa yang aku harapkan.”
“Aku selalu ingin lari saat kau datang padaku lebih dekat dengan pelukanmu, tatapan matamu yang semakin melemahkan hatiku. Dan… dan kau semakin masuk menerobos benteng yang aku buat untuk tidak jatuh cinta.”
“Tapi, kini aku tidak ingin lari lagi. Mungkin hanya aku yang akan merasakan semua ini, tapi aku tidak menyesalinya. Dan aku tidak bisa melakukan apapun karena aku…” ucap Lusia mencoba mengambil nafas dan menahan air matanya.
“Karena aku tidak bisa memungkiri jika aku menyukaimu” lanjut ucap Lusia dengan menatap wajah Rayn.
“Wahhh… apa yang kau lakukan Lusia, apa kau sedang mengungkapkan perasaanmu saat ini.” Tanyanya pada diri sendiri dengan memalingkan wajahnya. Ia masih berusaha untuk tidak menangis.
Lusia lalu kembali memandang wajah Rayn. “Maafkan aku jika sikapku ini kurang ajar dan seperti seorang pengecut karena melakukanya disaat kau tak berdaya. Kau boleh menghukumku jika ada keajaiban yang membuatmu tahu tentang apa yang akan aku lakukan sekarang. Karena aku tidak akan pernah menyesalinya. Ini yang ingin aku berikan kepadamu sekarang.” Ucap Lusia dengan mendekatkan wajahnya kepada wajah Rayn.
Lusia mendaratkan ciuman dikening Rayn. Baginya itu adalah dukungan yang ingin berikan kepada Rayn saat ini. Di saat ia masih mengecup kening Rayn, ponsel Lusia berdering dan langsung membuatnya membulatkan mata. Ia langsung sadar dan mengakhiri kecupannya. Lusia lekas bangkit dari duduknya untuk meraih ponselnya yang berada di meja.
__ADS_1
“Jangan pergi !!” ucap Rayn menahan tangan Lusia untuk tidak meninggalkannya. Rayn meminta dengan suara yang terdengar sama persis seperti saat pertama kali Lusia betemu Rayn di Galery.
Lusia terdiam, ia terkejut melihat Rayn menahan tanganya. Entah sejak kapan Rayn tersadar, apa dia mendengar semua perkataan Lusia dan apa dia tahu apa yang baru saja Lusia lakukan dengan mengecup keningnya. Pertanyaan itu, sudah tidak berarti untuk Lusia. Meskipun itu hanya akan berakhir sebagai cinta sepihak, ia tidak akan menyesalinya. Baginya, cukup dengan Rayn membiarkan dirinya untuk tetap selalu berada disisihnya.
Rayn membuka matanya. “Apa aku bisa menghukummu sekarang?” tanya Ryan lirih. Lusia masih terdiam memandang Rayn.
Tanpa kata dan tanpa aba-aba, Rayn meraih dan mendekap kedua pipi Lusia dengan kedua tangannya. Wajahnya mengikuti Rayn yang perlahan mendekatkan wajah keduanya. Kini wajah Lusia tepat berada di atas wajah Rayn yang masih terbaring. Lusia menahan tubuhnya dengan satu tangan agar tidak menindih tubuh Rayn. Lusia membulatkan mata saat bibir Rayn mulai mengecup bibir ranumnya pernuh kelembutan.
Rayn melepaskan kecupannya dan memandang wajah Lusia yang berada tepat diatas wajahnya.
“Terima kasih karena telah menyukaiku, tapi aku harus bagaimana? Karena aku lebih dulu menyukaimu. Kau seperti keajaiban yang menggenggam erat tanganku saat aku merasa seperti berdiri ditepi tebing" ucap Rayn menatap sendu manik mata Lusia.
"Bagiku kau sangat berharga. Karena itu, tak peduli seberapa keras aku mencoba mendorongmu pergi, jangan pernah melepas tanganku” lanjut ucap Rayn dengan suara lirih lalu ia kembali menarik wajah Lusia lalu menciumnya penuh mesra.
“Aku tidak akan melepaskanmu, kau seseorang yang telah menjadi segalanya bagiku” ucap Rayn dalam hati dengan tetap mencium bibir ranum Lusia.
Lusia perlahan memejamkan matanya, bulir-bulir air mata nya pun jatuh tanpa komando dan membasahi pipinya. Rayn adalah orang pertama yang menggetarkan dan menggoyahkannya dengan terus datang pada saat ia lemah, saat ia ingin menyerah, dan saat ia tidak memiliki tempat untukku bersandar.
Lusia menitihkan air matanya, ia tetap bertahan dengan Rayn yang masih menciumnya. Ini sudah seperti mimpi baginya. Dan jika pun ini hanya mimpi, ia tidak ingin bangun dari mimpi itu. Lusia pun akhirnya mulai membalas ******* ciuman mersa Rayn.
.
.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
__ADS_1
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆