Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 184 - Katakan Padaku


__ADS_3

Setelah mendapatkan penangan medis dari para dokter, Lusia telah berhasil melewati masa kritisnya. Bahkan saat ini Lusia sudah pindahkan ke ruang rawat inap. Tidak hanya Lusia, Rayn juga sedang dalam perawatan Dr. Leona dan beberapa dokter pribadinya di rumah sakit yang sama dengan Lusia.


Reisa yang mendengar kabar tentang kecelakaan sahabatnya langsung terbang ke Kanada bersama dengan David. Apa yang sebenarnya terjadi dengan penerbangan Reisa, itu yang akan menjadi pertanyaan untuk semuanya. Alasan kenapa Lusia pergi saat itu adalah untuk menjemput Reisa di bandara. Namun nyatanya, selama ini Reisa masih berada di Meksiko bersama dengan David dan dia sama sekali tidak pernah meminta Lusia untuk menjemputnya ke Bandara.


Setibanya di Kanada, Reisa langsung pergi ke rumah sakit dengan perasaan khawatir yang tidak bisa ia sembunyikan. Berulang kali David mencoba menenangkan kekasihnya, namun Reisa tetap merasa cemas hingga tidak ada hal lain yang ada didalam pikirannya selain Lusia.


Sesampainya mereka di Rumah sakit, Reisa tidak sabar meminta petugas resepsionis untuk memberitahu dimana kamar inap pasien bernama Lusia Alkeysha. Di sana, Dr.Leona yang tidak sengaja melihat Reisa langsung menghampirinya.


"Kau pasti datang untuk Lusia. Ikutlah denganku, aku akan mengantarmu" ucap Dr. Leona mempersilahkan Reisa dan David untuk mengikutinya.


Di depan kamar inap Lusia, Reisa segera membuka pintu dan masuk dengan terburu-buru. Reisa langsung meneteskan air matanya kembali untuk kesekian kalinya saat melihat Lusia yang terbaring di atas ranjang. Dr. Leona meminta Reisa untuk tidak terlalu mencemaskan keadaan Lusia, karena kondisinya sudah membaik. Saat ini mereka hanya tinggal menunggu Lusia sadar dari obat bius.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Aku dengar dia pergi untuk menjemputku ke Bandara. Pasti terjadi sesuatu bukan?" tanya Reisa kepada Dr. Leona.


Dr. Leona diam sejenak lalu memandang ke arah Lusia yang masih tidak sadarkan diri. "Maafkan aku" ucapnya. Sebuah permintaan maaf yang diucapkan Dr. Leona sebelum ia menjawab pertanyaan Reisa.


Dengan nada suara yang berat, Dr. Leona mulai menceritakan semua yang terjadi kepada Reisa. Semua tentang situasi saat ini dan juga tentang kecelakaan yang dialami Lusia. Dr. Leona sangat memahami bagaimana perasaan Reisa saat ini. Dr. Leona tahu, Reisa akan marah, kecewa atau bahkan menyalahkan saat mendengarnya, akan tetapi dia juga berhak untuk tahu.


Air mata terus mengalir, rasa sakit semakin menggerogoti membuat rasa sesak yang menyiksa. Reisa tidak percaya dengan semua yang ia dengar, sesekali ia menatap ke arah Lusia dan menjatuhkan air mata. Usai menceritakan semua, Dr. Leona pamit meninggalkan kamar karena ia juga harus mengawasi kondisi Rayn saat ini.


Reisa terus menjaga Lusia yang masih tidak sadar. David menghampiri Reisa dan memeluknya, tangis Reisa pun semakin pecah dalam pelukan David. "Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah kepadanya seperti yang sudah kau lakukan selama ini" ucap David mengelus bahu kekasihnya untuk menenangkannya.


Tidak lama seorang perawat masuk usai mengetuk pintu untuk memeriksa kondisi Lusia dan Reisa mempermasalahkannya dan bertanya tentang perkembangan Lusia. Kondisi Lusia sudah mulai stabil dan kedepannya dia hanya membutuhkan banyak istirahat. Reisa akhirnya bisa mulai sedikit bernafas lega mendengarnya.


Reisa memeriksa laci untuk mencari ponsel Lusia. Reisa khawatir jika saja ibu Lusia ada mencoba menghubungi Lusia. Reisa melihat tas Lusia dan mencoba menemukannya didalam sana. Reisa sangat terkejut saat melihat sebuah alat tes kehamilan didalam tas Lusia. Reisa segera memanggil perawat yang hendak meninggalkan kamar.

__ADS_1


"Maaf" panggil Reisa.


"Apa anda bisa memberitahu saya sesuatu mungkin tentang kehamilannya?" tanya Reisa.


Perawat menejelaskan kepada Reisa tentang hasil pemeriksaan dan kondisi nya saat ini. Reisa perlahan mengepalkan tangannya meremas alat tes ditangannya dengan penuh amarah. Setelah mendengarnya, Reisa langsung dia pergi ke kamar rawat Rayn, dimana saat ini di sana ada Mickey, Dr. Leona dan dokter lainnya yang sedang mengawasi perkembangan kondisi Rayn.


Reisa menerobos masuk lalu, berjalan dengan langkah kasar menghampiri Mickey dan langsung menamparnya. "Apa kau sudah gila ???" teriak Reisa usai mendaratkan pukulan keras pada wajah Mickey.


Dr. Leona dan para dokter yang ada didalam sana tampak terkejut dan tatapan mereka langsung tertuju pada Reisa dan Mickey. David segera meraih bahu kekasihnya dan memintanya untuk tetap tenang. "Tenangkan dirimu sayang, kita sedang berada di ruangan pasien" pinta David.


Mickey pamit kepada para dokter untuk keluar dan meminta Reisa untuk bicara diluar. Dr.Leona pun juga mengikuti Mickey keluar. Reisa pun keluar dengan raut wajah yang masih penuh dengan amarah.


Mickey menunduk meminta maaf atas kejadian ini kepada Reisa. Bahkan ia bersujud meletakkan kedua tangan di atas paha meminta maaf kepada Reisa. "Mickey" panggil Dr. Leona melihat Mickey yang sedang memohon maaf kepada Reisa.


"Maafkan aku, aku sangat patut disalahkan atas semua yang terjadi. Bahkan kau berhak untuk marah dan membenciku. Aku..." belum sampai Mickey menyelesaikan ucapnya sudah potong Reisa.


Dengan menangis histeris, Reisa memukul bahu Mickey berulang kali. "Kenapa kau tega sekali kepadanya, kenapa, kenapa, kenapa kau harus melakukan ini kepadanya?" teriak Reisa dengan tangis yang mengundang banyak mata melihat.


Mickey tampak terkejut melihat alat tes kehamilan yang jatuh tidak jauh darinya. Ia sontak menatap ke arah Dr. Leona. Dr Leona hanya menunduk menghindari tatapan Mickey. Reisa sudah mencoba untuk mengerti keputusan Lusia saat mendengar cerita Dr. Leona. Akan tetapi ia tidak bisa menerima setelah mengetahui apa yang terjadi dengan sahabatnya.


Reisa yang tidak bisa menahan kesedihannya langsung limbung, tubuhnya menjadi semakin lemas. David segera meraih tubuh Reisa dan memapahnya. "Sayang..." ucap David.


David membawa Reisa kembali ke kamar rawat inap Lusia. Di sana Lusia baru saja sadar. Reisa segera berlari dan memeluk erat tubuh Lusia. "Reisa, kau sudah ada disini" sapa Lusia dalam pelukan Reisa.


"Lusia, kenapa semuanya harus terjadi" ucap Reisa dengan menangis.

__ADS_1


Lusia mengurai senyum lalu perlahan melepas pelukan Reisa. "Aku baik-baik saja. Lihatlah Reisa, aku akan segera membaik" ucap Lusia mencoba membuat Reisa untuk berhenti khawatir.


Lusia menatap sekitar, ia tidak melihat orang lain lagi diantara mereka selain David. "Rayn, apa kau bertemu dengannya? Apa mungkin kau tahu bagaimana dengan kondisinya? Aku tidak melihatnya, apa dia baik-baik saja?" tanya Lusia.


"Oh tuhan, apa yang harus aku katakan kepadanya" ucap Reisa menangis tersedu seraya memeluk Lusia kembali.


Tangisan Reisa membuat Lusia menjadi sangat khawatir. Lusia bertanya apa maksud ucapan Reisa. Apakah mungkin terjadi sesuatu dengan Rayn, suaminya.


"Reisa, katakan padaku apa terjadi sesuatu dengan Rayn?" tanya Lusia cemas. Sementara Reisa tidak memberi jawaban akan pertanyaan Lusia.


"Baiklah, aku akan mencari tahu sendiri" ucap Lusia hendak melepas jarum infus dan turun dari ranjang.


"Dia baik-baik saja, meskipun aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, tapi para dokter sedang menjaganya. Aku rasa saat ini kau tidak perlu mengkhawatirkannya" ucap David membantu Reisa untuk menjawab.


Lusia kembali menoleh menatap Reisa. "Lalu apa maksud dari ucapanmu Reisa, aku mengerti kau mencemaskan ku tapi... apa terjadi sesuatu?" tanya Lusia.


Reisa menunduk lalu mengalihkan wajahnya dari tatapan Luisa. Reisa tidak tahu harus memulainya dari mana, ia hanya bisa menangis dan tidak tega dengan Lusia.


"Reisa, tetaplah mataku. Katakan kepadaku apa terjadi sesuatu?" tanya Lusia lagi.


Reisa masih tidak bisa mengatakannya langsung dengan menatap mata Lusia. Reisa memilih untuk mengatakannya dengan memeluk Lusia.


.


.

__ADS_1


.


*** To Be Continued ***


__ADS_2