
Keesokan hari...
Rayn dan Lusia pergi ke Bandara, tidak hanya untuk mengantar kepulangan Ibu mertua dan adik iparnya, tapi keduanya juga akan memiliki penerbangan ke Vancouver. Lusia terlihat sedih saat berpisah dengan keluarganya, ia menitipkan ibu dan adiknya kepada Reisa dan David yang juga akan kembali bersama dalam satu penerbangan.
"Jangan khawatir, aku akan memastikan ibumu sampai di rumah dengan selamat" ucap Reisa memberikan pelukan perpisahan dengan Lusia. "Dan pastikan kau kembali membawa hasil, OK!" lanjut ucapnya.
"Hasil...?" tanya Lusia memutar otak berpikir keras sembari melepaskan pelukan, ia bertanya dengan raut wajah tidak mengerti.
"Hei... aku menantikan kehadiran keponakan kecilku" jawab Reisa sembari mengelus perut Lusia.
Lusia segera menepis tangan Reisa karena malu. "Apa kau sudah gila?" sahutnya berbicara lirih sembari menggertak giginya berharap apa yang dikatakan Reisa tidak terdengar yang lain.
Reisa masih melanjutkan pembicaraannya, tetapi Lusia segera membungkam mulut Reisa dengan tangannya dan mempersilahkan dia untuk masuk. Reisa hanya tertawa lalu pamit untuk pergi dengan ekspresi yang masih saja menggoda Lusia. Lusia hanya bisa memalingkan wajah menutupnya dengan tangannya.
...***...
Setelah melakukan penerbangan dari Quebeq, Lusia dan Rayn kini sudah sampai di Vancouver dan berada di Villa yang sudah disiapkan oleh Mickey. Setiba di Villa, Lusia langsung pamit untuk pergi istirahat karena ia merasa sangat lelah. Rayn hanya menatap punggung Lusia yang pergi naik ke kamar. Sepertinya Lusia benar-benar lelah, bahkan ia tidak memiliki komentar atau pendapat apapun tentang Villa yang dipilih Mickey.
"Apa rencanamu sekarang?" tanya Mickey tiba-tiba kepada Rayn.
"Apa lagi, selain pergi mandi dan membereskan semuanya" sahut Rayn melihat koper yang masih belum tersentuh.
"Good, pergilah mandi aku akan meninggalkan kalian sekarang agar kalian bisa melakukannya dengan tenang. Aku akan kembali menjemputmu nanti sore setelah mendapat kabar dari Tuan Charles" ucap Mickey.
Mickey memberi semangat kepada Rayn dan berharap Rayn bisa menikmati kegiatan malam pertamanya. Mereka tidak harus menunggu malam tiba untuk melakukannya dan saat ini Rayn butuh energi tambahan sebelum bertemu menghadapi ayahnya.
"Apa kau gila?" ucap Rayn menanggapi semangat Mickey untuknya. "Pergilah...." lanjut perintah Rayn.
"Oke.. oke... tapi percayalah padaku, jangan menahannya terlalu lama atau kau akan menyesalinya" sahut Mickey tertawa sembari pamit pergi.
...***...
Usai mandi, Rayn menatap ke lantai atas. Di sana Lusia sepertinya masih terbaring dari mereka sampai tadi. Rayn pun lalu pergi ke dapur, ia memeriksa persediaan bahan makanan yang ada di dalam kulkas. Seutas senyum tersungging dibibir Rayn melihat isi kulkas yang penuh.
"Dia benar-benar mengisinya sesuai permintaanku" ucap Rayn sembari mengeluarkan beberapa bahan makanan dari kulkas yang sudah disiapkan oleh Mickey.
Rayn mulai menyibukkan diri di dapur, dengan celemek yang melekat ditubuhnya, ia memasak untuk Lusia. Keahlian Rayn dalam memasak memang sudah tidak diragukan lagi. Hal ini karena Rayn sudah bertahun-tahun hidup mandiri seorang diri. Saat ini ia membuat hidangan sup kerang yang menjadi makanan favorit istrinya.
Hampir satu jam Rayn bergelut dengan bahan makanan dan peralatan dapur dan kini semua hidangan yang ia masak sudah tersaji dimeja makan. Usai membereskan dapur dan menyiapkan semua peralatan makan, ia pergi ke lantai atas untuk memanggil Lusia karena ia tidak memiliki banyak waktu lagi. Hari sudah hampir sore dan dirinya sudah memiliki janji temu dengan ayahnya yang juga sedang berada di Vancouver karena urusan bisnis. Sebelum itu, Rayn ingin makan bersama sang istri tercinta.
Rayn naik ke kamarnya, namun ia tidak mendapati Lusia ditempat tidur. Rayn pergi ke kamar mandi mengira Lusia berada didalam sana dan ia pun mengetuknya. "Lusia, apa kau ada didalam?" tanya Rayn.
Tidak ada jawaban akan panggilannya sehingga membuat Rayn harus mengetuk untuk kedua kalinya. Tidak lama terdengar suara kunci off dan pintu terbuka. Ia terkejut melihat Lusia yang berjalan limbung dan terlihat menahan sakit diperutnya.
Rayn segera membantu dan membopoh Lusia untuk kembali baring di tempat tidur. Rayn menjadi sangat khawatir melihat wajah Lusia yang pucat dan kesakitan.
Rayn jongkok dengan lutut yang menungku tubuhnya lalu mendekap pipi Lusia yang sangat pucat dengan keringat dingin yang mengalir. Rayn bergegas ke kamar mandi dan kembali dengan handuk kecil ditangannya. Perlahan ia menyeka keringat Lusia. "Lusia apa yang terjadi? Apa kau sakit?" tanya Rayn.
"Tidak apa-apa Rayn, semuanya akan segera membaik" jawab Lusia tidak ingin membuat Rayn khawatir. "Rayn, ini hanya" lanjut ucap Lusia berusaha sekuat tenaga berbicara.
Tangan Rayn meraih tangan Lusia yang masih mencengkeram kuat perutnya. "Jangan berbicara lagi jika itu semakin membuatmu semakin sakit" ucap Rayn.
__ADS_1
Dengan panik, Rayn bangkit meraih ponselnya untuk melakukan panggilan. Rayn segera menghubungi Mickey untuk memintanya mengirim seorang dokter ke Villa.
Lusia kembali sekuat tenaga dengan suara lebih keras mengatakan kepada Rayn jika dirinya baik-baik saja dan Rayn tidak perlu memanggil dokter. Lusia tampak ingin mengatakan apa yang terjadi dengannya tapi ia kembali tertahan dan ragu untuk mengatakan kepada Rayn.
"Mickey, tolong segera kirim dokter ke Villa" perintah Rayn tanpa basa-basi setelah Mickey menjawab panggilannya. Bahkan ia tidak memberi kesempatan kepada Mickey untuk menyapa.
"Dokter...? Wah... Rayn, apa kau melakukannya dengan penuh energi dan bermain kasar sampai membutuhkan dokter sekarang?" tanya Mickey terkejut.
"Mickey...! Apa kau sudah gila. Apa menurutmu itu penting untuk dibahas sekarang? Aku serius, panggilkan dokter sekarang! Lusia mengalami kesakitan diperutnya, wajahnya pucat, suaranya lemah dan juga keringat dingin mengalir" jelas Rayn.
Lusia berusaha memotong telepon Rayn. "Rayn aku..." ucap Lusia kembali tertahan, namun ia juga tidak tahan akan kekhawatiran yang disampaikan ke Mickey. Ia sungguh merasa sangat malu dengan situasinya.
Rayn berbalik dan duduk ditepi ranjang, ia meraih tangan Lusia. "Lusia, kau bisa menahannya sebentar, Mickey akan mengirim dokter segera" ucapnya masih dengan panggilan Mickey yang aktif.
"Rayn, aku hanya sedang datang bulan, sungguh tidak perlu memanggil dokter"' ucap Lusia lirih karena malu.
Sekilas Rayn mendengar dan langsung menambahkan keluhan Lusia kepada Mickey karena panik. "Mickey, kau dengar? katakan kepada dokter dia mengatakan datang bulan. Tunggu...!!! " ucap Rayn ragu mendengar kalimat yang tidak asing itu.
Rayn kembali menoleh menatap Lusia meyakinkan sekali apa yang ia dengar "Da... da...tang bu...lan??" tanyanya terpotong-potong.
Mickey yang mendengarnya pun tertawa. "Kurasa disaat seperti ini dia bisa berubah menjadi macan betina, haha. Tapi tunggu Rayn, ini artinya malam pertamamu akan tertunda lagi?" tanya Mickey.
Tanpa banyak kata Rayn segera mengakhiri panggilannya dengan Mickey lalu melakukan pencarian. "Aku pernah mendengar istilah ini." Rayn berusaha mencari dan dia menemukan informasi yang sama dengan ia duga yaitu mentruasi. Lusia sendang menstruasi yang sama dengan artinya datang bulan. "Oh my god..." ucap Rayn lalu dengan cepat menutup laman browser yang juga menampilkan banyak gambar yang mengejutkannya.
Ditengah terdiamnya Rayn, tiba-tiba masuk pesan dari Mickey.
[Dia tidak butuh dokter, jadi kusarankan kau tinggalkan dia sendiri untuk sementara waktu sebelum dia akan memakanmu. Dan juga, bukankah waktu itu sudah aku peringatkan untuk tidak menundanya. Kini kau benar-benar harus menunggu lebih lama lagi. Semangat !!!]
Ryan kembali menghampiri Lusia. "Katakan kepadaku jika kau butuh sesuatu, aku akan membantumu, apapun itu" ucapnya.
"Maafkan aku, aku hanya perlu istirahat kau bisa meninggalkanku Rayn" pinta Lusia.
Rayn mengangguk, bagi Rayn meskipun itu adalah hal yang sudah biasa dialami para wanita tapi tetap saja dimata Rayn, Lusia sedang kesakitan. Ia meminta Lusia untuk tidak perlu malu dan mengatakan jika butuh bantuannya.
Rayn akhirnya meninggalkan kamar dan pergi ke dapur, ia tampak sibuk mencari sesuatu. Seutas senyum kembali tersungging di bibirnya setelah menemukan sesuatu yang ia cari. Rayn membuat madu hangat untuk Lusia dan mengantarnya ke kamar. Ia membangunkan Lusia dan memintanya untuk minum.
Lusia meminta Rayn untuk tidak perlu terlalu khawatir karena meskipun dirinya terlihat sangat kesakitan, namun itu tidak akan lama. Lusia meminta maaf karena sudah membuat Rayn cemas. Lusia sangat mengerti sebagai seorang pria Rayn pasti akan lebih merasa sakit jika hanya bisa melihat.
"Bukannya kau ada janji dengan ayahmu? Pergilah Rayn, aku baik-baik saja" pinta Lusia.
Rayn bersikeras untuk tetap tinggal dan tidak akan meninggalkan Lusia disaat seperti ini, tapi Lusia juga terus meyakinkan Rayn jika rasa sakit yang ia rasakan tidak akan lama dan semuanya akan segera membaik.
Rayn meraih ponsel Lusia lalu meletakkannya diatas nakas. "Pastikan kau menghubungiku jika terjadi sesuatu, harus menghubungiku. Jangan hanya mengandalkan para pengawal yang berjaga, harus menghubungiku." pesan Rayn karena ia akan meninggalkan Villa untuk waktu yang cukup lama.
...***...
Tidak selang lama, Mickey datang ke Villa untuk menjemput Rayn, ia juga sudah mengatur 4 pengawal untuk menjaga ketat Villa selama dirinya dan Rayn pergi. Dengan perasaan yang masih diselimuti kekhawatiran, Rayn meninggalkan Lusia sendiri di Villa untuk bertemu dengan ayahnya.
Rayn kini berada disebuah Restoran mewah Room VVIP bersama dengan ayahnya yang sudah ada disana lebih dahulu. Rayn pun duduk dihadapan sang ayah yang menyambutnya dengan senyum.
Rayn menyapa sang ayah lalu menuangkan teh ke cangkir ayahnya. Melihat Rayn tampak tenang sedekat itu dengan dirinya membuat Tuan Charles, ayah Rayn bertanya apakah Rayn baik-baik saja.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja? Jangan memaksakan diri jika itu sulit" ucap Tuan Charles sembari meraih cangkir teh yang baru saja di seduhkan putranya.
"Meskipun terlihat sulit, namun tidak ada yang aku paksakan. Cukup ayah tidak perlu ikut campur dalam urusan pengobatanku, semuanya akan baik-baik saja" sahut Rayn.
Ayah Rayn terdiam sejenak, ia lalu tersenyum dan lanjut menyeduh teh ditangannya. "Mungkin yang kau lihat ayah hanya menyulitkanmu dengan ikut campur. Ayah tahu kau tidak pernah nyaman dengan semua pengawasan yang ayah lakukan selama ini. Tapi...." ucap Tuan Charles yang terhenti karena dipotong oleh Rayn.
"Aku tahu, alasan kenapa ayah menghentikan pengobatanku karena ayah mencemaskanku. Saat itu usiaku terlalu kecil untuk menjalankan pengobatan itu dan ayah takut justru akan semakin melukaiku. Sudah cukup bagi ayah kehilangan ibu, ayah tidak ingin lagi jika juga harus kehilanganku. Dan bagaimana kau mengasingkanku, aku pun tahu. Alih-alih melindungi bisnis ayah, ayah lebih khawatir jika rival bisnis ayah akan menggunakan diriku yang telah mejadi satu-satunya kelemahan ayah. Dibandingkan kehilangan bisnis, ayah lebih takut jika mereka akan melukaiku. Itu sebabnya ayah mengirimku jauh dari hidup ayah karena phobiaku akan semakin mengancam keselamatanku" ucap Rayn.
"Kau sudah tahu semuanya tapi bersikap seolah..." sahut ayah Rayn kembali tertahan.
"Karena aku takut" potong Rayn menatap ayahnya.
Rayn menunduk, menahan kesedihan yang tak tertahan. Ia berusaha untuk tidak menunjukkannya didepan sang ayah. Rayn menghela nafas lalu kembali memandang ayahnya, dengan suara bergetar ia melanjutkan ucapannya.
"Aku takut menghadapi dunia yang akan menyalahkanku karena membuat ayah kehilangan ibu. Bagaimanapun juga akulah satu-satunya orang yang membuatnya pergi saat itu. Jadi, aku rasa phobia ini sudah cukup menjadi hukuman bagiku. Aku merasa tidak layak untuk sembuh" sahut Rayn.
Rayn lanjut mengutarakan apa yang ingin ia sampaikan. "Aku mengetahui semua alasan sebenarnya tapi aku ingin menutup mata dan telingaku akan fakta itu. Tapi, kini aku sangat ingin sembuh ayah. Demi dia... aku ingin menjadi seorang suami yang normal. Aku tidak ingin terus menyulitkannya karena phobiaku. Aku ingin menjaganya dan sangat ingin bisa melindunginya ayah" ucap Rayn dengan air mata terbendung.
"Lakukan Rayn, semua yang ingin kau lakukan. Sekarang kau sudah mempunyai seseorang yang akan selalu menunggumu pulang, bagaimana bisa kau akan terus menyimpan rasa takut itu, jadi lakukanlah semuanya tanpa penyesalan. Ibumu tidak pernah menyalahkanmu atas semua yang terjadi. Ibumu juga pasti akan terluka jika terus melihatmu seperti ini." ucap ayah Rayn.
Perlahan Rayn menjatuhkan air mata yang sudah sedari tadi ia bendung. Tangisnya pun pecah dengan isakan yang menyakitkan dada didepan ayahnya. Ayah Rayn sangat ingin memeluk dan menepuk bahu putranya, tapi apalah daya ia tidak bisa melakukannya. Sungguh menyakitkan hatinya melihat Rayn menangis seorang diri. Selama ini putranya sudah menanggung beban itu seorang diri, sudah saatnya ia melepas semua penderitaan itu. Sebuah pertemuan antara anak dan ayah yang berkahir mengharukan.
...***...
Malam semakin larut Lusia terbangun dan ia tidak melihat Rayn disebelahnya, bahkan selimut dan bantal masih saja tersusun rapi.
"Apa dia masih belum kembali selarut ini" ucap Lusia menatap jam dinding.
Lusia keluar kamar dan menuruni anak tangga, ia melihat lampu yang masih menyala terang dan Rayn duduk di tangga seorang diri. Perlahan Lusia melangkah menuruni tangga menghampiri Rayn.
"Rayn..." panggil Lusia.
Rayn menoleh dan ia melempar senyum kepada Lusia. "Apa aku membangunkanmu?" tanyanya.
Lusia menggelengkan kepala menunjukkan jika ia terjaga bukan karena Rayn. Rayn merentangkan kedua tangannya meminta Lusia untuk duduk di pangkuannya. "Apa perutmu masih sakit?" tanya Rayn.
Lusia kembali menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun, raut wajahnya hanya fokus menatap Rayn. "Apa kau baru kembali? Apa terjadi sesuatu?" tanya Lusia cemas melihat Rayn.
Rayn kembali hanya mengurai senyum tipis dan singkat. Tanpa menjawab pertanyaan Lusia, ia memeluk Lusia dan menyandarkan kepalanya dalam dekapan Lusia. "Maafkan aku karena lagi-lagi harus menjadikanmu sandaranku" ucapnya lalu semakin erat memeluk Lusia dalam pangkuannya.
"Aku hanya meluruskan apa yang harus aku luruskan dengan ayahku. Terima kasih, terima kasih sudah berada di sisiku sampai aku pada titik ini. Tanpa dirimu mungkin aku tidak akan pernah memiliki keberanian menghadapinya" lanjut ucap Rayn masih dalam dekapan Lusia.
Lusia melepaskan pelukannya, ia menatap lekat wajah Rayn yang juga memandangnya. Lusia mendekap rahang dan jenjang leher Rayn, tanpa kata ia mengecup lembut bibir suaminya. Perlahan Lusia melepaskan kecupannya lalu kembali menatap lekat nanar mata Rayn yang masih diselimuti kesedihan.
"Tidak hanya akan sampai pada titik ini Rayn, tapi aku akan selalu bersamamu selamanya, berada di sisimu dan menjadi sandaranmu seperti saat ini selamanya" ucap Lusia.
Rayn terdiam, ia pun semakin lekat menatap wajah Lusia. Tanpa kata ia mendekatkan wajahnya dan membalas kecupan Lusia dengan sebuah ciuman yang menghanyutkan Lusia dan membuatnya seketika menerima dan membalas ciuman itu.
__ADS_1
*** To Be Continued ***