
Lusia mendekatkan diri kepada Rayn dan bertanya. “Apa ceritanya yang menyesakkan?” tanyanya. Rayn tidak menjawab, ia hanya menatap seduh Lusia.
Melihat reaksi Rayn dan tangan Rayn yang dingin membuat Lusia menjadi panik. “Apa kau merasa ada yang sakit ?” tanyanya.
“Mereka, membuatku sesak“ jawab Ryan. Lusia sadar yang dimaksud Rayn adalah para penjaga yang membuatnya harus menahan seorang diri.
Lusia lantas duduk tepat di sebalah Rayn, ia meraih buku dongeng dari tangan Rayn dan meletakkannya di sofa. Rayn semakin erat menggenggam tanganya. Lusia membiarkan Rayn melakukannya begitu saja tanpa berfikir yang tidak-tidak. Meskipun saat ini Rayn terlihat seperti seorang kekasih yang sedang ingin bermanja ria tidak ingin ditinggal.
"Jika sesulit itu, kenapa kau tidak menghubungiku?" tanya Lusia. Rayn masih terdiam, ia menunduk lalu memejamkan matanya dan berusah mengatur pernafasannya.
“Kau ingin pergi jalan-jalan sejenak menghirup udara diluar?” tanya Lusia menatap wajah Rayn.
Rayn membuka matanya, menatap Lusia lalu menggelengkan kepala perlahan. “Bukankah ini sudah terlalu malam? Kau juga pasti lelah, istrirahalah. Aku akan kembali ke kamarku” ucapnya melepaskan tangan Lusia.
Lusia tersenyum. “Tunggulah sebentar” ucapnya lalu pergi ke kamar Rayn. Ia berniat mengambil Jacket untuk Rayn.
Lusia kembali dengan Jacket Rayn ditangannya. “Tidak apa, aku akan menemanimu. Hanya jalan-jalan sebentar lalu kita bisa segera kembali. Diluar sangat dingin, kau bisa flu nanti. Jadi, pakailah jacketmu” ucapnya.
Lusia memakaikan jacket untuk Rayn. Rayn hanya diam menatap Lusia yang sedang sibuk memakaikan jacket untuknya. “Sudah sebesar ini bagaimana bisa kau masih bersedia kupakaikan Jacket” celetuk Lusia menyindir Rayn yang sedari tadi hanya menatap dan membiarkannya melakukan itu.
“Aku tidak meminta, tapi kau yang melakukannya" jawab Rayn . "Dan sepertinya, kau menyukainya” lanjut ucap Rayn dengan nada sengaja lirih mengejutkan Lusia. Lusia sontak melepaskan tangannya dari tubuh Rayn.
"Apa maksudmu dengan aku menyukainya, dasar otak mesum. Kau pikir aku sengaja ambil kesempatan menyentuh tubuhmu?" jangan terlalu befikir liar.
"Ada apa dengan reaksimu, aku tidak mengatakan apapun" jawab Rayn tersenyum melihat reaksi Lusia karena ucapannya. Ia melanjutkan memakainya sendiri. Selesainya mengenakan jacket, Rayn meraih tangan Lusia dan membawanya turun untuk keluar Villa.
Para penjaga yang melihat Rayn menuruni tangga langsung mengambil sikap tegap siaga.
“Anda ingin pergi kemana malam begini Tuan Rayn?” tanya Arka.
“Hanya jalan-jalan disekitar, tidak perlu mengikutiku” perintah Rayn dengan semakin erat memegang tangan Lusia saat semakin dekat melewati para pengawal untuk pergi keluar.
Para pengawal tidak mengindahkan perintahnya dengan tetap mengikuti Rayn. Mereka mengikuti perintah Mickey untuk tidak boleh meninggalkan Rayn atau lepas pengawasan.
Menyadari para pengawal masih mengikutinya, Rayn langsung menghentikan langkahnya. Bersamaan, Arka menghadang langkah para pengawal dengan kode untuk berhenti.
“Sudah kuperintahkan untuk tidak mengikutiku” teriak Rayn.
__ADS_1
“Biarkan saja mereka mengikuti dengan tatap menjaga jarak. Mereka tidak akan tenang jika kau melarangnya. Bagaimana jika hanya cukup dengan Arka menemani kita?” tanya Lusia.
“Kita?” tanya Rayn lalu diam sejenak menanyakan kata (kita) yang terucap dari bibir Lusia.
“Arka, kau boleh mengikutiku dan Rayn. Pengawal yang lain tetap tinggal di Villa" perintah Lusia kepada Arka mengalihkan pertanyaan Rayn. Rayn hanya tersenyum melihat Lusia mengabaikannya karena malu.
“Ingat, kau sudah tahu yang harus kau lakukan saat menjaganya bukan?” tanya Lusia kepada Arka.
“Jaga jarakmu, jika menyadari adanya sesuatu yang mengancam, jangan gegebah dengan langsung mendekat. Kau bisa meberitahuku dahulu. Setidaknya, kau bisa melentangkan tanganmu seperti ini dahulu” lanjutnya dengan memperagakan bagaimana caranya dulu melindungi Rayn untuk pertama kali.
Rayn tertawa geli melihat sikap Lusia. ”Kau pikir itu akan berguna jika hewan buas yang sedang mengancam? Kau lupa dimana kita sekarang?" tanyanya.
"Kau benar, lalu kenapa kau justru melarang mereka berhenti mengikuti kita? Kau yakin dia juga ahli melawan binatang buas?" tanya balik Lusia menatap Arka.
"Sudahlah, tidak akan terjadi apapun. Ayo kita pergi” ucapnya meraih tangan Lusia. Lusia pun ikut tertawa menyadari kekonyolannya.
“Oh ya, apakah lampu ini perbuatanmu ” tanya Lusia dengan perlahan melepaskan tangannya.
Lusia menyadari saat ini tidak ada yang mengancam phobia Rayn. Jadi, Rayn tidak membutuhkan genggaman tangannya lagi sekarang. Ia tampak canggung karena Arka tidak melepaskan pandanganya sama sekali.
Rayn mendekap kedua bahu Lusia dan berbisik tepat ditelinga Lusia. “Kenapa kau melepaskannya? Apa kau tidak ingin merasakan sensasi kencan romantis dengan dijaga oleh pengawal seperti kisah para pangeran?” bisik Rayn menggoda Lusia.
Lusia sontak menoleh ke arah Arka. “Hya…!” bentak Lusia dengan spontan menginjak kaki Rayn.
“Aw…” teriak Rayn kesakitan.
Mendengar teriakan Rayn, Arka bergegas mendekat. Namun Rayn langsung memintanya menghentikan langkah. “Hentikan langkahmu, aku baik-baik saja.” Perintah Rayn dengan kembali menggenggam tangan Lusia.
"Apa anda yakin baik-baik saja Tuan Rayn?" tanya Arka.
"Apa kau sedang meledekku? pertanyaanmu itu snagat tidak masuk akal" jawab Rayn. Ia tahu jika Arka melihat jika teriakkannya karena Lusia menginjak kakinya.
Melihat reaksi Rayn, Lusia justru terfikirkan cara membuly Rayn. “Sepertinya sekarang aku tahu bagaimana menghukummu” gumam Lusia lirih.
“Apa katamu?” tanya Rayn.
“Tidak ada, aku hanya menanyakan soal lampu penerangan” jawab Luisa berpaling menunjuk lampu penerangan Jalan.
__ADS_1
Rayn menghela nafas, ia memberi kode aman kepada Arka. Arka kembali mengambil langkah mundur.
“Bukan aku atau Mickey yang melakukannya, pastinya para ahli dibidangnya yang melakukannya” jawab Rayn.
“Tapi kau yang membayarnya” celetuk Lusia.
“Bukankah kau yang mengatakan jika jalannya terlalu gelap dan menakutkan karena tidak adanya penerangan" sahut Rayn.
"Aku masih ingat reaksi wajahmu malam itu" lanjut Rayn menyindir reaksi kali pertama Lusia datang kemari.
“Jadi, sungguh karena ucapanku kau memikirkan semua ini? Setelah sekian lama kau tinggal disini? Wah, aku tidak tahu jika bosku sekaya itu" sindir Lusia lalu berjalan mendahului Rayn dengan menatap lampu-lampu yang menerangi mereka.
"Aku tidak menyalahkan Mickey jika suatu saat nanti dia sangat cemburu kepadaku" lanjutc Lusia.
“Kenapa? Kau terharu?” tanya Rayn kembali menggoda Lusia dengan candaanya.
“Eeem…" jawab Lusia mengangguk. "Aku terharu, terima kasih” jawab Lusia menghentikan langkahnya tersenyum kearah Rayn. Rayn pun membalas tersenyum menatap Lusia.
"Terima kasih sudah percaya kepadaku, dan aku akan menepati janjiku padamu" ucap Lusia dalam hati dengan menatap Rayn yang tersenyum kepadanya.
Terlihat dua insan yang saling menatap dibawah lampu penerangan yang semakin menambah romantis suasana.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Silahkan klik FAVORITE untuk terus update BAB selanjutnya yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik LIKE pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( Saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆
__ADS_1