
Rayn mengepalkan satu tangannya menahan rasa marah yang sebenarnya tidak berdasar baginya. Ia merasa jika kedatangannya sia-sia. Bahkan, ia menatap penampilan yang ia kenakan saat ini membuatnya tersenyum sarkas. “Apa yang aku lakukan” ucapnya dalam hati setelah melihat Lusia dengan Kelvin.
“Rayn... “ panggil Lusia kembali dengan berjalan mendekati Rayn.
“Sepertinya kau baik-baik saja” ucap Ryan lalu berbalik hendak meninggalkan Lusia pergi ke mobilnya.
Melihat Rayn akan pergi meninggalkannya, Lusia mempercepat langkahnya dan meraih tangan Rayn. “Rayn tunggu” ucap Lusia menahan Ryan.
Rayn berbalik, ia menatap bagaimana Lusia menggenggam tangannya. “Bisakah kita kembali ke Villa sekarang?” tanyanya memandang Lusia dengan tatapan serius.
“Ehh…?” tanya Lusia lalu memandang yang lain. “Tapi, aku harus...” lanjutnya ragu.
Kelvin hanya menatap keduanya. Ia bertanya dalam hati tentang hubungan yang terlihat tidak biasa antara Lusia dan Rayn. Entah mengapa ia selalu merasakan sakit setiap melihat sikap peduli Lusia kepada Rayn. Ia menyesali perasaannya yang terlalu lemah sehingga selalu memilih diam.
“Apa Arka yang memberitahumu sehingga datang kemari?” tanya Lusia.
“Tidak penting untuk membahas bagaimana aku bisa ada disini. Aku bertanya, apa kita bisa kembali ke Villa sekarang?” tanya Rayn lagi dengan tegas.
“Aku tidak bisa kembali sekarang denganmu. Kau bisa kembali dahulu dengan Arka” jawab Lusia. “Arka kau bisa berikan kunci mobilku kepadaku” lanjut ucapnya kepada Arka.
“Kenapa?” tanya Rayn menatap Lusia lalu memandang ke arah Kelvin.
“Itu, Karena...” belum sampai Lusia menyelesaikan ucapannya sudah dipotong oleh Rayn.
“Aku rasa aku tidak perlu bertanya atau membutuhkan jawabanmu. Aku yang putuskan, kita kembali” ucap Ryan dengan mengubah posisi tangannya, kini menjadi dirinya yang menggandeng Lusia.
“Tapi, Ryan…” ucap Lusia.
Kelvin mengampiri keduanya, ia meraih tangan Lusia dan menahannya. “Kau tidak dengar jika dia mengatakan tidak bisa kembali denganmu sekarang?” ucap Kelvin dengan tatapan kasar kepada Rayn yang memaksa Lusia. Lusia sontak berbalik memandang tangan Kelvin yang menahannya.
Rayn mengabaikan ucapan dan tatapan Kelvin. Ia menatap Lusia dengan raut wajah yang mengatakan jika ia ingin mendengar jawaban Lusia.
Lusia tampak bimbang, ini situasi pertama yang harus dihadapinya, terjebak oleh dua pria yang membuatnya bingung. Berada diantara Rayn yang menggengam satu tangannya dan Kelvin juga menggenggam satu tangannya yang lain. Ia memang pernah mengharapkan adanya seorang pria yang akan menggenggam tangannya. Tapi, bukan ini yang ia harapkan.
“Kelvin.. ucap Lusia memandang Kelvin. Kelvin paham jika Lusia memintanya untuk melepaskan tangannya. Kelvin pun perlahan melepas tangan Lusia.
“Maafkan aku Rayn, kau bisa kembali dahulu karena aku harus mengantar mereka kembali" jawab Lusia kepada Rayn.
“Kenapa harus dirimu?” tanya Rayn.
“Rayn, ada apa denganmu?” tanya Lusia merasa ada yang berbeda dengan sikap Ryan. Ia tidak pernah menunjukkan egonya selama ini.
“Justru ada apa denganmu, kenapa kau membuatnya seolah menjadi rumit? Jika hanya untuk mengantar mereka kembali, aku bisa meminta Arka.
“Rayn, kau tidak tahu siatuasinya. Tolong pahami, aku harus memastikan mereka kembali dengan selamat. Seperti yang kau lihat sendiri jika kita saat ini berada di depan kantor polisi dan mereka baru saja keluar dari Gedung itu. Ini pasti sulit untuk mereka.” Lusia berusaha menjelaskan alasannya tidak bisa kembali sekarang dengannya.
__ADS_1
Ryan tersenyum tipis bahkan sangat tipis dengan mata yang memancarkan sedikit kekecewaanya. “Baiklah…” ucapnya dengan melepaskan tangan Lusia. “Aku juga tidak bisa memintamu untuk memahami situasiku saat ini” lanjut ucap Ryan.
Rayn memutuskan untuk pergi tanpa Lusia. “Arka, kita kembali ke Villa” ucapnya dengan berjalan pergi.
“Tapi Tuan…” sahut Arka dengan memandang Lusia. Ia merasa jika Rayn dan dirinya tidak seharusnya meninggalkan Lusia.
"Kau tidak mendengarnya?” tanya Rayn dengan nada tinggi menunjukkan amarahnya. Arka menunduk lalu memberikan kunci mobil kepada Lusia dan pergi mengikuti Rayn.
Melihat apa yang terjadi, Nara mendekati Dave dan berbisik. “Dave, bukannya kita bisa mengatakan kepada mereka jika kita baik-baik saja dan bisa kembali sendiri. Karena kita, semua menjadi seperti ini” bisik Nara yang merasa bersalah.
“Kurasa itu tidak perlu. Tanpa adanya kita pun hubungan mereka sudah mulai akan menjadi semakin rumit. Kita hanya figuran yang melengkapi takdir mereka. Peran kita disini hanya sebatas variabel yang mengisi jalan mereka untuk bisa jujur dan membuka hatinya masiang-masing” jawab Dave dengan memandang Lusia, Kelvin dan Rayn yang meninggalkan mereka.
“Apa yang kau bicarakan?” tanya Nara tampak tidak paham dengan perkataan panjang Dave.
“Hanya… mengatakan apa yang ada dipikiranku. Menurutku berkata jujur itu lebih penting, meskipun itu sebuah kejujuran yang menyakitkan, agar semua bisa berada pada tempatnya dengan benar” jawab Dave dengan nada serius kemudian menatap Nara.
“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Nara kepada Dave. Ia tersenyum jika ini pertama kalinya Dave memandangnya dengan tatapan langsung.
Dave menghela nafas lalu berkata. “Seperti situasi kita saat ini, Aku tahu kau menyukaiku. Tapi maaf, jika aku tidak bisa merasakan apapun karena saat ini bukan cinta pioritasku. Melihat apa yang dia lakukan untukku tadi demi masa depanku...” ucap Dave menahan ucapannya dengan memandang Lusia.
“Maka aku tidak bisa menyia-nyiakan masa depanku hanya untuk mengabdi kepada cintamu itu. Aku hanya bisa memberi saran kepadamu, menyeralah atau tetap bertahan menungguku. Tapi…, aku tidak bisa menjanjikan apapun kepadamu sampai kapan atau apa aku akan membuka hati pada akhirnya" lanjut ucap Dave.
Nara memandang wajah Dave dengan tatapan kesedihan. Apa yang dikatakan Dave sungguh membuatnya ingin marah. “Apa kau harus sampai mengatakannya?” tanya Nara.
Nara meremas ponsel yang di genggamnya, ia mencoba menahan amarahnya. “Lebih baik kau tetap diam dan membiarkanku melakukannya seperti biasanya. Lagi pula aku yang membuang waktuku sendiri. Dan… .”
“Karena itu membuatku tidak nyaman” jawab Dave.
“Apa ?” tanya Nara.
“Seperti hari ini, jujur aku marah karena kau lancang menghubunginya tanpa bertanya kepadaku. Aku tahu kau melakukannya untukku, tapi justru karena itu membuatku merasa sangat tidak nyaman. Berhenti membuang waktumu untukku” jawab Dave lalu pergi lebih dulu menghampiri Lusia.
“Wah… aku tidak menyangka dia bisa sekejam itu” ucap Nara berusaha menahan air matanya.
Akhirnya Dave dan Nara diantar kembali oleh Lusia ditemani Kelvin yang tetap memutuskan pergi dengan Lusia. Sementara Rayn pergi kembali ke Villa bersama Arka.
.
.
Di mobil, Rayn hanya diam memandang ke arah jendela. Ia memejamkan matanya.
“Tuan yakin, saya tidak perlu kembali menemaninya Tuan? Saya melihat anda sangat mengkhawatirkannya” tanya Arka. Ini pertama kalinya ia melihat Rayn mencemaskan seseorang bahkan sampai tidak memperhatikan apa yang dikenakannya.
Rayn membuka matanya. “Kau lihat sendiri, apa yang bisa aku lakukan? Dia yang tidak ingin kembali denganku, menurutmu apa masih mungkin dia membiarkan aku ikut campur” jawabnya dengan nada sendu.
__ADS_1
“Maaf jika laporan saya membuat anda terkejut” ucap Arka meminta maaf.
“Turunkan aku di Dervilia” perintah Rayn. Ia kembali menatap lampu jalanan di balik jendela mobil.
“Tapi ini sudah sangat larut malam Tuan” jawab Arka.
Rayn tidak menjawab, Arka tahu jika itu artinya sudah menjadi perintah yang harus tetap ia jalankan. Arka akhirnya melakukan penggilan telepon. “Nyalakan penerangan Dervilia” perintah Arka kepada sesorang yang sedang dalam panggilan telepon dengannya.
Mereka telah sampai di jalan masuk menuju Dervilia. Terlihat mobil Mickey yang sudah terparkir dan Mickey berdiri bersandar di mobilnya tampak memang sedang menunggu mereka.
“Aku mendengar kau meminta mereka menyalakan penerangan Dervilia. Ini sudah sangat larut, kenapa kau kemari?” tanya Mickey kepada Ryan.
“Kenapa kau bertanya, aku bebas melakukannya” jawab Rayn melewati Mickey berjalan memasuki jalanan setapak.
Mickey menahan langkah Rayn dengan berdiri menghadang jalan Ryan. “Untuk kondisimu saat ini, pergi kesana justru akan semakin membuat buruk suasana hatimu” ucap Mickey.
“Kenapa kau berpikir begitu? Sementara aku yang membuatnya untukku” jawab Ryan.
“Rayn, soal apa yang ayahmu katakan tadi, jangan khawatir. Aku akan berbicara lagi dengannya” ucap Mickey.
“Haha..." sahut Ryan dengan senyum menyeringai. Memangnya apa yang aku khawatirkan? Kau tahu, jika semua tentangnya aku tidak peduli. Aku tahu, cepat atau lambat ini semua juga akan terjadi, dia pasti akan membuat ibuku sebagai senjatanya. Kau juga pasti sudah muak melihatku yang terus melarikan diri dan bersembunyi. Semua yang ada di Dervilia hanya pelarianku” ucap Rayn dengan hendak melanjutkan langkahnya.
“Ryan..” teriak Mickey untuk menyadarkan Rayn. Ia masih menahan langkah Rayn.
Rayn menghentikan langkahnya. Dengan wajah serius ia berkata kepada Mickey. “Aku tahu, kau juga sangat mengharap aku mengingatnya kan? Melihat kau masih menyimpan ponsel-ponsel itu, sepertinya ada yang ingin kau ketahui juga di balik kecelakaan itu. Aku menutup mata dan tidak bertanya kepadamu selama ini kenapa kau menyimpannya, bukan karena aku tidak peduli. Tapi, aku menunggumu mengatakannya sendiri kepadaku. Karena aku menghargai masa kecil kita, menghargai bagaimana kita tumbuh bersama dan bagaimana ibuku setulus hati membesarkan kita bersama” ujar Rayn dengan tatapan serius kepada Mickey.
Mendengar apa yang dikatakan Rayn membuat tubuh Mickey tak berkutik, tangannya mulai gemetar dan bibirnya langsung terkunci. Ia tidak menyangka jika ternyata Rayn tahu dirinya menyimpan ponsel milik Rayn yang di temukan di TKP dan ponsel miliknya sendiri saat itu.
Melihat Mickey hanya diam, Ryan melanjutkan langkah kakinya melewati Mickey begitu saja. Ia masuk menelusuri jalanan setapak yang dikelilingi hutan pinus dengan penerangan penuh sepajang jalan. Arka pamit kepada Mickey untuk mengikuti Rayn.
Sikap tidak biasa Rayn hari ini karena ia baru saja bertemu dengan ayahnya yang datang ke Villa dengan membawa sesorang dari Canada. Setiap pertemuannya dengan ayahnya selalu memberi tekanan yang membuatnya semakin tidak berdaya.
Ditambah dengan mendengar laporan Arka tentang Lusia yang berada di kantor polisi tidak hanya membuatnya cemas, tapi ia sendiri pun juga ingin bertemu dengan Lusia dan berharap jika Lusia mempu memberinya kekuatan dan ketenangan. Namun, dunia seolah tidak berpihak kepadanya hari ini. Lusia yang saat itu tidak tahu kesulitan yang dialami Rayn, justru membiarkan Rayn kembali ke Villa bersama Arka.
.
.
*** To Be Continued***
Apa itu Dervilia?
Siapa yang dibawa ayahnya dari Canada ?
Dan apa yang terjadi saat ayahnya datang ke Villa sehingga membuat Rayn berada dalam tekanan dan kesulitan?
__ADS_1
----
Nantikan BAB Selanjutnya untuk mendapat jawabanya ^^