Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 70 - Aroma Petrichor


__ADS_3

Semenjak selesai Hipnoterapi hingga sore Rayn masih saja berada di ruang melukis. Lusia yang masih memilki waktu cuti dari bekerja di Cafe menghabiskan seluruh waktunya di Villa menemani Rayn. Lusia membuatkan secangkir teh chamomile yang bisa membantu Rayn untuk bisa lebih relax dan menenangkan pikirannya.


Lusia berdiri di depan ruang melukis Rayn dengan nampan ditangannya. Meskipun dirinya sudah mengetahui sandi untuk bisa langsung masuk ruangan itu, namun Lusia ingin memberi ruang privasi untuk Rayn saat ini.


Lusia mengetuk pintu dan memanggil nama Rayn, ia hanya bermaksud untuk meminta izin apakah Rayn memperbolehkannya masuk atau masih membutuhkan waktu untuk sendiri.


“Masuklah” jawab Rayn dari dalam ruangan.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Lusia dengan memberikan secangkir teh yang ia bawa.


Rayn meraih cangkir itu dari tangan Lusia dengan tersenyum. “Jangan khawatir, aku baik-baik saja” jawabnya.


Rayn meraih kursi kayu yang berada tidak jauh dari duduknya, lalu ia menggesernya lebih dekat dan meminta Lusia untuk duduk. Rayn ingin berkata jujur dan menceritakan apa yang sudah terjadi. Ia tahu Lusia akan lebih mengkhawatirkannya jika tidak tahu apa-apa. Dan pasti dia sudah bertanya-tanya akan hal itu.


“Aku tidak tahu harus memulai darimana, tapi aku yakin kau akan mengerti” ucap Rayn dengan menyeduh teh ditangannya.


Lusia tersenyum lalu duduk dikursi untuk mendengarkan Rayn. Rayn mulai mengatakan kepada Lusia soal kecelakaan dan fakta baru soal penyebab kematian ibunya yang ia temukan dalam ingatannya.


“Pada malam kecelakaan itu terjadi, kepolisian Canada mengatakan jika itu murni kecelakaan tunggal dan mereka menduga kemungkinan adanya percobaan bunuh diri yang dilakukan ibuku. Meskipun kepolisian mengatakannya, tapi aku dan ayahku tidak pernah mempercayai jika ibu akan melakukannya.”


“Dalam ingatan yang aku dapat pada malam pesta kembang api waktu itu, ternyata semua tidak benar. Ibuku tidak pernah mencoba melakukan aksi bunuh diri seperti yang mereka katakan. Tapi, itu lebih mengerikan daripada aksi


bunu diri.”


“Ingatan yang seperti mimpi buruk bagiku. Aku mengingatnya, aku melihatnya dengan jelas seorang pria yang masih tidak aku ketahui siapa telah membunuh ibuku. Tepat didepan mataku disaat kami tidak berdaya. Aku mengira dia datang untuk menyelamatkan kami, karena itu aku berusaha meminta tolong kepadanya. Tapi dia datang tidak untuk itu. Dia datang untuk merenggut nyawa ibuku dan juga nyawaku. Aku masih tidak ingat dan tidak tahu bagaimana aku bisa selamat, yang aku ingat hanya sampai saat dia sudah akan memukulku saat itu.”


“Rayn…” ucap Lusia dengan meraih tangan Rayn setelah mendengar hal yang mengerikan itu. Lusia menggenggamnya dan meletakkan tangan itu dipangkuannya untuk memberi Rayn kekuatan jika dirinya akan selalu ada untuknya.


Rayn menatap bagaimana tangan Lusia menggenggam tanganya, ia lalu kembali memandang Lusia. “Kau tahu apa yang membuat semua semakin sulit bagiku?” tanya Rayn lirih.


Dengan tatapan sendu Rayn melanjutkan ucapanya. “Dalam kecelakaan itu, aku kehilangan ponselku. Aku pikir itu bukan hal yang mustahil jika aku kehilangannya karena kecelakaan yang terjadi. Tapi beberapa tahun lalu secara tidak sengaja aku melihat Mickey memiliki ponsel itu, ia menyimpannya.”


“Mickey?” tanya Lusia memotong ucapan Rayn.


“Eeemm... “ jawab Rayn mengangguk.


“Aku tidak pernah bertanya kepadanya, aku menunggu Mickey untuk mengatakan sendiri kepadaku. Dan sampai saat itu, aku masih tidak pernah menaruh kecurigaan apapun kepadanya” ucap Rayn.


“Tapi….” Rayn menghentikan ucapannya dan menunduk. “Saat aku mendapatkan ingatanku, aku melihat dengan jelas pria yang membunuh ibuku memiliki ponselku. Aku melihatnya jika pria membawa ponselku” lanjutnya.


Lusia semakin erat menggenggam tangan Rayn dipangkuannya. “Apa itu sebabnya kenapa pada saat hipnoterapi kau kembali ke momen saat kau bersama Mickey?” tanya Lusia.


"Kau benar, ada sesuatu yang ingin aku pastikan. Apa yang ia ketahui dan apa yang ia sembunyikan dariku. Aku hanya menemukan jawaban jika Mickey memintaku dan ibuku untuk tidak pergi" jawab Rayn.


“Kenapa kau tidak tanyakan langsung kepadanya?” lanjut tanya Lusia.


“Karena aku terlalu pengecut...” jawab Rayn.


Rayn kembali memandang Lusia. “Aku sangat ingin mengungkap faktanya, tapi aku takut jika kenyataannya lebih menyakitkan dari apa yang aku pikirkan” ucap Rayn.

__ADS_1


"Rayn… itu karena dia Mickey, karena orang itu adalah Mickey. Kau selama ini tidak pernah mengira jika dia akan ada disana. Dalam hipnoterapi itu kau ingin meyakinkan dan menunjukkan pada dirimu sendiri jika kau masih bisa mempercayainya seperti yang Dr. Leona katakan. Dan kau lakukan itu karena kau sangat peduli kepadanya” ucap Lusia.


“Kau benar, aku sempat berpikir untuk berhenti, tapi aku merasa itu akan menjadi sangat tidak adil bagi ibuku” sahut Rayn.


“Aku percaya jika Mickey tidak akan menghianatimu dan itu yang juga ingin kau percayai bukan” lanjut ucap Lusia.


Lusia meminta Rayn untuk menyeduh lagi teh chamomile yang ia buat. “Bolehkah aku tahu, siapa sosok Mickey sebenarnya dalam keluarga ini? Melihat kau begitu sangat peduli kepadanya, aku yakin dia juga bagian dari orang yang berarti dalam hidupmu. Begitu juga dengan Mickey, aku melihat dia selalu berusaha untuk melindungimu.”


“Mickey?” tanya Rayn tampak seperti sedang berpikir.


Lusia mengangguk “Selama ini aku mengira jika dia orang kepercayaan ibu atau ayahmu untuk menjagamu” sahut Lusia.


"Bagaimana aku harus menyebutnnya. Selama ini, Mickey seperti seutas tali yang mengikat aku dan ayahku. Dia orang yang terus berjuang dan bertahan untuk tidak putus di saat aku dan ayahku beranjak menjauh."


"Dia adalah orang yang sudah berjanji akan selalu setia kepadaku tetapi juga harus tetap setia mengabdi kepada ayahku. Disaat hubunganku dan ayahku menjadi buruk. Aku yakin itu waktu yang sulit untuknya berada diantara kami.”


“Itu yang akan selalu ia lakukan. Sampai akhir, itu jalan yang ia pilih untuk kami. Seseorang yang menolak untuk menjadi bagian dari keluarga besar Anderson” ucap dengan tatapan serius saat mengucapkannya.


“Keluarga? Apa sebenarnya kau dan Mickey memiliki ikatan keluarga? Kenapa dia melakukannya?” tanya Lusia.


“Karena itu yang sudah ia janjikan kepada dirinya sendiri” jawab Rayn.


“Kenapa dia berjanji seperti itu?” tanya Lusia.


“Kami tidak pernah memintanya, tapi itu yang Mickey sendiri inginkan. Baginya, itu yang harus dilakukannya. Ia merasa aku orang yang telah memberi jalan untuknya bebas dari kehidupannya yang mengerikan dan ayahku orang yang menyelamatkannya”


“Bebas dari kehidupannya yang mengerikan? Aku masih tidak mengerti” tanya Lusia.


“Kau ingin pergi jalan-jalan mencari udara segar?” tanya Rayn.


Lusia masih saja duduk dan hanya menatap Rayn. Lusia berpikir jika Rayn lagi dan lagi mengalihkan pembicaraan mereka. Rayn membuka tirai jendelanya. "Hujan baru saja berhenti, mereka pasti akan meninggalkan jejak yang bisa kita nikmati" ucap Rayn memandang keluar dari balik jendela.


“Kau tahu jika aku tidak akan menolak” jawab Lusia lalu berdiri dari duduknya. Kali ini Lusia merasa tidak ingin memaksa Rayn untuk menjawab rasa penasarannya sekarang.


Rayn tersenyum dan mengulurkan tangannya kepada Lusia. “Aku tidak akan mengalihkan permbicaraan kita" ucap Rayn tahu apa yang dipikirkan Lusia.


"Tidak apa jika kau masih tidak ingin mengatakannya" ucap Lusia.


"Aku tau itu akan sedikit sulit untuk kau pahami kenapa Mickey memiliki kesetiaan itu. Aku akan menceritakan kepadamu siapa Mickey sebenarnya dan bagiamana dia bisa berada dikeluarga ini” ucap Rayn dengan meraih tangan Lusia dan menggandengnya keluar ruangan.


Mereka pun menuruni anak tangga untuk keluar Villa jalan-jalan menikmati udara di luar. “Apa anda akan pergi ke suatu tempat? Saya akan menyiapkan mobil” ucap Arka saat melihat Rayn dan Lusia.


“Tidak perlu, aku hanya jalan-jalan sebentar” sahut Rayn.


“Baik Tuan Muda” jawab Arka memposisikan diri berdiri dibelakang Lusia dan Rayn untuk mengikuti mereka.


“Kau tidak perlu mengikuti kita” perintah Rayn.


Arka tanpak bingung, ia melirik Lusia. Lusia mengangguk memberi kode kepada Arka untuk menuruti permintaan Rayn. Arka yang paham akhirnya menyetujuinya dan tetap tinggal di Villa.

__ADS_1


Rayn dan Lusia berjalan menulusuri jalanan Villa yang dikelilingi hutan pinus. Rayn masih menggandeng tangan Lusia yang berjalan tepat disebelahnya mengikuti irama langkah kakinya.


"Jejak apa yang bisa kita nikmati?" tanya Lusia.


"Aroma khas Petrichor..." ucap Rayn.


"Aroma Petrichor ?" tanya Lusia yang merasa asing dengan kata yang diucapkan Rayn.


"Aroma tanah basah dari hujan pertama. Kau tahu, dalam bahasa Yunani, Petrichor memiliki arti batu dan cairan yang mengalir di pembuluh darah para dewa" jawab Rayn.


Lusia menghentikan langkahnya mencoba menghirup aroma itu dengan memejamkan matanya. "Aroma tanah basah dari hujan pertama..." gumamnya.


Rayn menatap wajah indah Lusia saat memejamkan matanya menikmati aroma yang ditinggalkan oleh hujan. Rayn tersenyum saat melihat Lusia senyum manis Lusia.


"Anugerah yang indah" ucap Rayn dalam hati.


Lusia membuka matanya dan melanjutkan langkahnya kembali. "Aroma yang menenangkan" ucapnya.


"Aroma yang Mickey dan ibuku sukai, mereka sangat menyukainya. Karena itu setiap kali usai turun hujan ibuku selalu membawa Mickey jalan-jalan disekitar" ucap Rayn tersenyum menginngat momen itu.


"Kau pasti sangat menyayanginya" sahut Lusia.


"Aku? Siapa?" tanya Rayn.


"Mickey, kau pasti sangat menyayanginya" ucap Lusia.


"Kurasa begitu, tanpa aku sadari aku sangat menyayanginya" sahut Rayn.


"Karena yang kau mailiki selama ini semuanya adalah kenangan indah tentangnya" ucap Lusia.


"Semenjak kehadiran Mickey, ia selalu memberikan kebahagian untukku. Dia selalu melakukan apapun untuk selalu melindungiku. Itulah kengangan yang aku miliki tentangnya. Tapi, ia hanya menyimpan kenangan pahit dalam hidupnya" ujar Rayn.


"Kenangan pahit? Apa itu tentang kehidupan mengerikan yang kau bilang?" tanya Lusia.


Rayn merasa jika penderitaan yang ia alami masih tidak sebanding dengan kenangan tragis yang dimiliki Mickey. Namun Mickey selalu terlihat kuat dan tidak pernah mengeluhkan hal itu kepada dirinya dan ibunya. Ia selalu mengatakan baik-baik saja.


Mickey salalu menjadi orang yang lebih dewasa dari Rayn. Bahkan kata-kata yang tidak pernah Ryan lupakan dari Mickey kepadanya.


~ Jangan takut, aku akan selalu melindungimu. Ini juga akan menjadi penebusanku yang gagal melindunginya~


Rayn sangat tahu, siapa orang yang dimaksud Mickey, siapa orang yang gagal Mickey lindungi. Rayn tahu jika itu adalah luka terbesar Mickey dalam hidupnya. Karena itu Rayn tidak bertanya atau membahasnya dengan Mickey.


.


.


*** To Be Continued***


Kehidupan mengerikan seperti apa yang dimiliki Mickey ?

__ADS_1


Nantikan BAB selanjutnya Reader....^^


__ADS_2