Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 99 - Selamatkan Dia


__ADS_3

Dave semakin panik melihat adanya bercak darah pada pisau pelaku. "Apa kalian baik-baik saja?" tanyanya lagi.


Rayn merasa dirinya baik-baik saja, kondisi itu semakin membuatnya takut. Ia lalu menatap Lusia dengan wajah cemas. "Lusia kau baik-baik saja?" tanyanya lagi kepada Lusia.


Jika Rayn baik-baik saja, maka satu-satunya orang yang terluka adalah Lusia. Rayn melepaskan pelukannya, ia mendekap kedua pipi Lusia. Wajah Lusia terlihat pucat tapi dia masih bisa tersenyum lega melihat Rayn terselamatkan dan baik-baik saja.


"Syukurlah kau baik-baik saja Rayn" ucap Lusia dengan nafas yang terputus-putus.


Lusia masih berusaha menahan rasa sakit yang ia rasakan, namun tubuhnya semakin lemas. Ryan segara meraih kembali tubuh Lusia yang jatuh dalam pelukannya. Rayn merasakan sesuatu telah membasahi tangannya saat mendekap tubuh Lusia. Dengan gemetar Rayn mencoba membalik telapak tangannya dimana satu tangannya masih memeluk tubuh Lusia.


Rayn melihat tangannya penuh dengan darah. "Darah?" ucap Rayn lirih.


Lusia sudah tidak mampu lagi bertahan, ia pun langsung tidak sadarkan diri dalam pelukan Rayn. "Lusia, Lu...Lusia" panggil Rayn dengan suara yang bergetar.


Rayn segera terduduk dengan menahan tubuh Lusia, ia berusaha untuk membangunkan Lusia. "Lusia, buka matamu. Lusia, aku mohon buka matamu. Lusia!" teriak Rayn dengan raut wajah yang juga mulai menjadi pucat.


Morgan ternyata telah lebih dahulu berhasil melukai Lusia sebelum Ryan membalik tubuh Lusia untuk melindunginya. Rayn terlambat melindungi Lusia. Sementara kekhawatiran Lusia akan keselamatan Rayn membuatnya tidak sadar jika dirinya terluka ataupun merasakan sakit.


Ryan menyerahkan urusan Morgan kepada Dave, ia lalu segera menggendong tubuh Lusia untuk membawanya ke Rumah Sakit.


Lusia berjuang untuk mendapatkan kesadarannya kembali. "Lusia, aku mohon bertahanlah" ucap Rayn.


Saat keluar Cafe, bersamaan datang mobil Kelvin yang berhenti di depan Cafe. "Ada apa dengan Lusia?" tanya Kelvin.


"Bantu aku membawanya ke Rumah Sakit" pinta Rayn kepada Kelvin.


Kelvin segera membukakan pintu untuk Rayn dan ia segera melajukan kendaraannya menuju Rumah Sakit.


"Lusia, bertahanlah" ucap Rayn.


"Rayn..." panggil Lusia lirih dengan suara yang begitu lemah.

__ADS_1


"Aku ada disini, jangan katakan apapun lagi, kau akan semakin terluka" ucap Rayn.


"Dingin, aku... kedinginan. Bis... bisakah kau memelukku" ucap Lusia dengan suara terputus-putus.


"Aku akan memelukmu, aku akan memelukmu, jangan khawatir kau akan baik-baik saja" ucap Rayn mendekap tubuh Lusia dalam pelukannya.


"Tetaplah disisiku, jangan tinggalkan aku Rayn, aku takut" ucap Lusia lalu kehilangan kesadarannya.


Melihat Lusia tidak sadar membuat Rayn semakin cemas dan pucat. Ia terus memanggil nama Lusia dan memintanya untuk membuka matanya kembali. Mendengar hal itu Kelvin semakin melajukan kendaraannya.


Sesampainya di Rumah Sakit, para dokter dan perawat segera menghampiri mereka. Melihat dokter dan perawat berlari ke arahnya membuat Rayn menghentikan langkahnya sejenak. Ia mulai mendapatkan gangguan kecemasan lagi karena phobianya.


"Apa yang kau lakukan...!!" teriak Kelvin menghampiri Rayn yang berhenti dan berdiam diri saja.


Kelvin sudah mengetahui kondisi phobia Rayn yang takut akan sentuhan orang lain. Kelvin segera mendekat untuk meraih tubuh Lusia. Namun Rayn menahan tangan Kelvin dan kembali melanjutkan langkah kakinya untuk membawa Lusia.


Rayn membaringkan tubuh Lusia pada ranjang pasien yang di bawa oleh para petugas medis. Rayn menjelaskan kondisi yang dialami Lusia kepada para medis dengan detail. Lusia terlihat memiliki luka yang dalam mengingat begitu banyak darah yang keluar.


"Kenapa ini sangat sulit untukku?"


Rayn mendekap dadanya sembari menatap sendu ke arah petugas medis yang membawa Lusia masuk ke dalam ruang operasi. Rayn berusaha untuk tetep bisa menopang tubuhnya, ia berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding di depan ruang operasi.


Kelvin dengan penuh amarah menghampiri Rayn, Rayn yang masih tak berdaya perlahan mengambil langkah untuk pergi ke toilet membersihkan dirinya yang masih bersimbah darah.


"Apa dengan dirimu yang seperti ini, kau bisa melindunginya?" tanya Kelvin dengan suara tinggi.


Rayn menghentikan langkah kakinya. Ia berusaha sekuat tenaga berbalik ke arah Kelvin. "Apa katamu?" tanyanya dengan nafas terengah-engah.


"Apa yang terjadi pada Lusia saat ini, seharusnya membuatmu sadar jika dirimu tidak layak untuknya. Sebagai kekasihnya, yang seharusnya kau lakukan adalah melindunginya bukan dia yang mengorbankan nyawanya untuk melindungimu. Jika aku jadi dirimu aku akan menyerah" ucap Kelvin lalu membuang muka dan melangkahkan kaki pergi menunggu di depan ruang operasi.


"Bahkan dia masih berjuang di dalam sana untuk tetap bisa bertahan hidup, apakah penting untukmu membahas hal ini?" tanya Ryan dengan wajah serius pada Kelvin yang membelakanginya.

__ADS_1


Bagi Rayn, saat ini yang terpenting adalah keselamatan Lusia. Entah apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka nantinya, ia tidak peduli. Cukup dengan mamastikan Lusia baik-baik saja, itu bisa membuatnya kembali bernafas.


"Jika kau menilai kelayakan seseorang hanya dari aspek itu, maka kau telah melakukan kesalahan besar. Tidak semua wanita menginginkan pria yang hanya bisa dia andalkan secara fisik" lanjut ucap Rayn lalu melanjutkan langkah kakinya pergi ke kamar mandi.


Kelvin mengepalkan tangannya mendengar hal itu, ia berbalik menatap punggung Rayn. Perkataan Rayn membuat dirinya terlihat begitu sangat menyedihkan. Kelvin sadar jika selama ini dirinya lebih pengecut dari Rayn karena hanya menunggu dan berharap Lusia mau mengandalkannya. Namun, sepertinya ia salah karena hal itu tidak pernah Lusia lakukan kepadanya.


Di toilet rumah sakit, Rayn menatap dirinya pada kaca. Perlahan ia mulai menjatuhkan air matanya karena tidak bisa menahan rasa sakit di hatinya. Rayn menatap kedua tangannya yang masih dipenuhi dengan darah Lusia. Ia merasa bersalah karena tidak mampu melindungi Lusia. Rayn tertunduk dengan menangis, ia takut sesuatu terjadi dengan Lusia, ia sangat takut kehilangan Lusia.


"Apa yang harus aku lakukan?" ucapnya tidak bisa menahan suara tangisannya.


Meskipun Rayn telah mematahkan perkataan Kelvin, namun dalam hatinya ia menyadari jika apa yang dikatakan Kelvin benar. Sebuah fakta yang tidak bisa ia pungkiri adalah kelemahannya untuk melindungi Lusia.


Usai membersihkan bekas darah Lusia pada dirinya, Rayn kembali pergi ke ruang operasi dimana Lusia sedang berjuang antara hidup dan mati. Di depan ruang operasi saat ini sudah ada Reisa dan David yang juga ikut menunggu dengan cemas.


Reisa segera menghampiri Rayn. "Rayn, kau baik-baik saja?" tanya Reisa dengan tetap menjaga jaraknya dari Rayn.


Rayn tidak menjawab pertanyaan itu, ia mengabaikan Reisa dan melewatinya begitu saja berjalan ke depan pintu ruang operasi. Semua mata menatap Rayn termasuk Kelvin.


Rayn melangkah dengan langkah kaki yang berat, menatap pintu ruang operasi dengan tatapan kosong. Di balik pintu itu, para Dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan wanita yang sangat ia cintai.


Tepat di depan pintu ruang operasi, Ryan memejamkan matanya bersamaan dengan ia menjatuhkan air matanya kembali.


"Tuhan, aku mohon kepadamu selamatkan dia. Izinkan aku untuk melihatnya kembali" ucap Rayn berdoa dalam hati.


.


.


.


*** To Be Continued ***

__ADS_1


__ADS_2