
[ Jangan khawatir, kau bisa percayakan Rayn kepadaku. Bahkan aku merayakan ulang tahunya dengan yang lain ] - Pesan Lusia
Mickey tersenyum membaca pesan dari Lusia. "Kau benar, setidaknya aku bisa lebih tenang sekarang" gumamnya lirih.
"Tuan Mickey, kita sudah sampai" ucap seorang pengawal usai menghentikan mobilnya.
Mickey mengangguk, ia memberikan ponselnya kepada seorang pengawal yang lain lalu turun dari mobil. Mickey berdiri menatap bangunan di depannya yang dikelilingi pagar beton yang kokoh dan mendulang tinggi dengan kawat besi yang mampu mengoyak siapapun yang berani menerobos. Ya, disinilah tempat dimana pamannya bernama Louis Ryden mendekam dalam lapas narkotika di Quebec, Canada.
...***...
"7007..., ada kunjungan untukmu."
Panggil seorang petugas sipir usai membuka pintu besi sembari memanggil seorang narapida dengan nomor tahanan 7007. Louis mengerutkan keningnya, ia tampak berpikir siapa kiranya orang yang datang mengunjunginya. Satu-satunya orang selalu mengunjunginya hanyalah Baram. Namun Baram mengatakan kepadanya dalam kunjungan terkahir jika dia hanya akan datang lagi saat dirinya bebas nanti.
Narapida bertubuh kekar dengan tato naga dileher itu akhirnya keluar dari kamar lapas dikawal oleh dua orang sipir penjara. Louis memasuki ruang kunjungan dengan langkah kaki pincang. Di sana sudah ada Mickey yang duduk di ruangan terpisah, terhalang kaca yang hanya memiliki beberapa lubang kecil untuk mereka bisa saling berbicara.
Pandangan Mickey fokus pada kaki pincang pria itu, sulit dipercaya jika dia benar-benar pria yang telah membunuh ibu Rayn dengan sadis. Si pria misterius yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya dan menjatuhkan ponsel Rayn pada malam kecelakaan itu. Seorang pria yang memiliki tato dileher dan berjalan dengan kaki pincang. Persis seperti apa yang dikatakan oleh pria di panti asuhan, jika saudara kembar ayahnya itu memiliki cacat fisik sejak kecil.
"Pastikan kau tidak bertemu denganku lagi atau kau juga akan menyusulnya."
Mickey mengepalkan tangannya mengingat ucapan itu. Ya, sebuah ancaman yang pernah diucapkan pria itu kepadanya setelah dia membunuh Ny. Angelina. Ternyata pria itu benar adalah pamannya sendiri, Louis Ryden.
Louis menghentikan langkah kakinya menatap Mickey dengan alis berkerut samar menegaskan jika ia tidak mengenal siapa pria yang datang mengunjunginya saat ini. Berbeda dengan Mickey yang sangat mengenal wajah pamannya. Tentu saja Louis tidak akan mengenal Mickey diusia saat ini karena terakhir mereka bertemu saat Mickey masih kecil.
Keponakan kecilnya itu kini sudah tumbuh dewasa dan bukan lagi bocah lemah yang selalu memohon ampun kepada sang ayah untuk tidak memukul dirinya dan ibunya. Meskipun Mickey tidak bisa menyelamatkan ibunya, namun ia tidak akan memaafkan dan membiarkan orang-orang ini bisa bebas begitu saja.
Louis lalu melanjutkan langkahnya dan duduk. Tanpa saling mengucap sapa dan suasana hening seketika. Louis tidak membuka suara ataupun bertanya siapa kamu dan apa tujuanmu datang berkunjung. Ia hanya diam seolah menunjukkan keangkuhannya jika kau yang butuh maka kau yang harus berbicara sendiri tanpa aku memintanya.
Mickey menatap lekat wajah pria yang sangat ia benci, wajah yang sama persis dengan wajah sang ayah yang begitu kejam. Tentu saja pria itu memiliki wajah yang sama karena mereka memang saudara kembar.
"Aku tidak menyangka jika kau juga berkepribadian sama dengannya, melakukan kejahatan seperti sebuah permainan dan hobi" ucap Mickey dengan tersenyum sinis.
__ADS_1
Louis hanya menanggapinya dengan wajah datar dan tetap tenang, seolah itu hanya umpatan yang tidak ada artinya. Apalagi umpatan itu dilayangkan dari mulut pria yang tidak ia kenal. Louis memilih tetap bungkam sampai ia bisa memastikan siapa pria ini. Bungkamnya Louis menunjukkan jika ia terlihat berhati-hati dan tidak ingin salah bertindak.
Mickey kembali tersenyum menyeringai menatap pamannya yang sama sekali tidak merespon. "Aku tahu kau saat ini penasaran dan menungguku mengatakan siapa diriku dan untuk apa aku mengunjungimu. Tapi, setelah ini aku tidak yakin apa kau akan masih bisa tetap setenang ini" ucap Mickey.
"Jika kau tidak memiliki urusan lain, aku rasa kunjungan ini tidak ada gunanya" ucap Louis yang akhirnya bicara.
Suara itu, suara yang membuat Mickey semakin geram dan ingin marah meskipun hanya mendengar suara pamannya. Mickey merasa begitu miris terhadap dirinya sendiri, bagaimana ia terlahir dalam keluarga yang hanya memiliki orang-orang kejam dan jahat. Ia kembali teringat akan sang ibu yang selama ini bisa bertahan dalam keluarga ini.
"Apa kau pikir kau akan bebas begitu saja setelah kejahatanmun yang lain diungkap?" celetuk Mickey.
Mickey mengepal tangannya dengan sorot mata penuh kebencian. Meskipun dimasa kecil dia tidak pernah memiliki banyak interaksi dengan sang paman, namun Mickey sangat yakin jika pamannya pasti lebih kejam dari ayahnya.
Louis mengangkat alisnya "Ke..jaha..tan?" sahutnya bertanya lirih diikuti senyum yang menganggap lucu.
"Sulit di percaya, kau masih bisa tersenyum setelah membunuh seseorang" ucap Mikey menaikan alisnya.
Mickey lalu sedikit memicingkan mata menatap tajam reaksi pamannya akan tuduhan yang baru saja ia ucapkan. Mimik wajah Louis terlihat terkejut, ekor matanya melirik menatap sekeliling memastikan sipir yang bertugas jaga tidak mendengarnya.
Tidak ada yang tahu akan kejahatannya selain Baram temanya. Louis tidak menyangka jika ada orang lain yang tahu bahkan berani datang berkunjung ke lapas dan mengancamnya.
Mickey tersenyum, secara tidak langsung pria dengan pakaian tahanan didepannya itu mengakui jika dia pernah melakukan kejahatan itu.
Louis mendengus kasar. "Kau pikir aku akan terpengaruh dengan ancaman omong kosong mu itu?" ucapnya lalu bangkit dari duduknya.
"Kami sudah selesai" teriak Louis kepada petugas sipir untuk mengakhiri kunjungannya. Ia berdiri hendak meninggalkan Mickey.
Mickey menunduk, ia tersenyum sinis lalu kembali memandang Louis dan berkata. "Kau yang membunuhnya.... Ny. Angelina" ucap Mickey membuat Louis seketika menghentikan langkah kakinya.
Ia menoleh dan kembali menghampiri Mickey yang terhalang kaca pada ruangan itu. "Sudah aku katakan tutup mulutmu bocah" ucapnya mendobrak meja dengan kedua tangannya.
Dobrakan itu membuat Mickey terkejut saat melihat bekas luka ditangan kiri pamannya. Sebuah luka yang sangat tidak asing baginya. Luka yang pernah ia buat dengan gigitannya kepada ayahnya.
__ADS_1
Mickey kembali teringat akan kenangan 19 tahun lalu dimana saat dirinya disandera oleh sang ayah guna untuk mengancam ibunya. Saat itu ia berada dalam kukuhan tangan ayahnya yang memegang sebilah pisau, ayahnya mengancam ibunya akan membunuh Mickey jika tidak memberikan uang untuk berjudi. Saat itu Mickey berhasil melepaskan diri setelah menggigit tangan sang ayah hingga meninggalkan luka yang sangat dalam dan memberi bekas luka itu.
Mickey lekas berdiri untuk memastikan sesuatu yang ia duga. Mickey terus memancing Louis agar semakin emosi, bersamaan ia juga meminta petugas sipir membawanya pergi. Ia yakin jika pria itu akan kesal dan memberontak.
Dua petugas sipir segera berlari menghampiri Louis dan memintanya untuk berhenti membuat kekacauan. Para petugas sipir menyeretnya untuk kembali namun Louis memberontak.
"Siapa kau? Cepat katakan siapa kau sialan...!!" teriak Louis kasar.
Louis terus memberontak karena merasa masih belum selesai berurusan dengan Mickey.
Mickey fokus memperhatikan setiap pergerakan kaki Louis saat emosinya tidak terkontrol. Ia bahkan tidak lagi pincang, sebuah pergerakan kaki pria normal. Micky kini semakin yakin dengan dugaannya .
"Mustahil..."
"Ayah....?"
Mickey membulatkan mata terkejut menatap Louis yang sudah dibawa pergi oleh para petugas sipir. Mickey terduduk lemas akan fakta mengejutkan yang ia dapat. Mikey menenangkan diri sejenak lalu pergi meninggalkan lapas.
Diluar lapas para pengawal sudah menunggunya dan membukakan pintu mobil untuknya. Mickey segera masuk mobil dan meminta ponselnya, ia lalu menghubungi seseorang.
"Tuan Alex, katakan kepada Tuan Charles jika saat ini aku sedang dalam perjalanan menemuinya" ucapnya dalam panggilan telepon dengan sekertaris pribadi ayah Rayn.
"Jalankan mobilnya, aku akan pergi menemui Tuan Charles" perintah Mickey usai mematikan panggilannya.
"Kita lihat sampai mana kau bisa menipu dunia" ucap Mickey meremas ponselnya sembari memandang ke arah jendela mobil menatap jalanan yang ia lewati.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***