Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 26 - BodyGuard Baru


__ADS_3

Lusia akhirnya pergi bekerja ke Cafe ditemani oleh Arka, bodyguard yang diutus oleh Rayn. Sepanjang perjalanan Lusia terus memikirkan keamanan keluarganya. Jika benar mereka bukan orang dari ayah Rayn, maka orang itu datang ke Villa mungkin untuk mencari Lusia.


“Tapi siapa?” gumam Lusia bertanya sendiri.


Satu-satunya orang yang terfikirkan olehnya adalah para rentenir tempat dimana ayah tirinya memiliki


hutang.


Kepanikan yang tersirat diwajah Lusia membuat Arka bertanya. “Apa terjadi sesuatu atau ada yang tertinggal?” tanyanya.


Lusia mengabaikan pertanyaan Arka, ia justru terlihat semakin panik dan takut. Lusia khawatir jika hal ini juga akan terjadi kepada ibu, adik dan neneknya. Khawatir jika mereka akan memberi ancaman kepada keluarganya.


“Apa menurutmu seorang reintenir tidak segan-segan melukai orang jika kita tidak dengan segera melunasi hutang?” tanya Lusia kepada Arka. "Mungkin saja orang-orang seperti kalian mengetahui hal ini" lanjutnya.


Pertanyaan Lusia yang tiba-tiba setelah mengabaikan pertanyaannya tadi mengejutkan Arka. “Rentenir?” tanyanya kembali kepada Lusia.


“Eemm… .” jawab Lusia dengan mengangguk.


Arka tampak berfikir sejenak. “Tergantung seberapa banyak hutang dan perjanjian yang dibuat” jawabnya.


“Kau benar, jika sudah ada kesepakatan dan selama tidak ada kerugian dari masing-masing pihak harusnya dia tidak boleh seperti ini” ucap Lusia berbicara sendiri. Arka hanya melirik sesaat dan kembali fokus mengemudi.


Sesampai di Cafe Lusia bersiap turun dari Mobil. Sementara Arka tetap berada di dalam mobil. “Kau yakin akan tetap disini hingga aku selesai bekerja?” tanya Lusia.


“Sesuai dengan perintah” jawab Arka singkat.


“Baiklah, ikuti saja perintah. Toh bukan aku juga yang membayarmu. Jadi kau tidak akan mendengarku” celetuk Lusia turun dari mobil.


"Bu..kan begitu. Justru... " sahut Arka. Belum sampai ia menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Lusia.


"Tidak apa, jangan khawatir. Aku tidak melarangmu atau memintamu pergi. Kita ikuti saja perintah" potong Lusia.


Di waktu istirahat Lusia berusaha menghubungi ibunya kembali untuk menanyakan kabar keluarganya kembali. Ibu Lusia akhirnya menjawab panggilannya. Sang ibu mengatakan jika semuanya


baik-baik saja. Bahkan saat ini restoran kecil milik ibunya sedang ramai dengan pengunjung. Itulah kenapa ibunya tidak menjawab panggilannya tadi.


Lusia yang masih tidak percaya melakukan panggilan video. Semuanya benar tampak baik-baik saja. Lusia tidak mengatakan kepada ibunya alasan kenapa ia tiba-tiba menanyakan kabar mereka. Lusia  hanya mengatakan jika sedang rindu dan khawatir saja karena lama tidak pulang.


Tidak beberapa lama Lusia pergi menghampiri Arka di dalam mobil. Melihat kedatangan Lusia, Arka langsung membuka jendela mobil.


“Kau tidak ingin mati kelaparan atau mati kelamaan di mobil bukan? Jadi masuklah. Aku sudah memesankan kopi dan disert untukmu” perintah Lusia.

__ADS_1


“Tidak apa Nona, saya khawatir jika Nona Lusia tidak akan nyaman jika saya ada didalam” tolak Arka dengan sopan.


“Nona ? kenapa kau harus memanggilku Nona, panggil saja Lusia. Justru aku tidak nyaman jika terus membiarkanmu berada di dalam mobil. Lagi pula bukankah justru dengan duduk disana kau akan semakin dekat mengawasiku” ucap Lusia meminta Arka turun dari mobil. Arka akhirnya menyetujuinya.


"Lusia tersenyum melihat Arka mengikuti perintahnya. "Ku pikir kau tidak akan mengikuti perintahku dan hanya mengikuti perintah Mickey dan Rayn.


"Tentu saja saya akan mengikuti semua perintah anda, karena itu juga perintah dari Tuan Rayn. Selama itu tidak bertentangan dengan Tuan Rayn saya dilarang menolak" jawab Arka.


"Sungguh... ?" tanya Lusia tidak percaya. Arka hanya mengangguk. Arka sudah ingin mengatakannya dari tadi namun Lusia terus memotong perkataannya.


Lusia kembali masuk Cafe diikuti oleh Arka dibelakangnya. “Lihatlah, kita sudah terbiasa dengan tatapan para pengunjung. Haha” canda Lusia menunjukkan segerombolan wanita yang terlihat dari kaca luar terus menatap barista idola mereka.


Tanpa merespon candaan Lusia, Arka malah tiba-tiba dengan cepat berjalan mendahului pergi membukakan pintu untuk Lusia. Lusia yang terkejut dengan sikap Arka tampak bingung. Ditambah tatapan aneh rekan kerjanya kepada dirinya, Lusia menjadi salah tingkah.


“Kau tidak perlu melakukannya, haha” celetuk Lusia dengan tawa kecil menepuk bahu Arka karena malu dengan perlakuan Arka. Lusia mempersilahkan Arka duduk dengan tertawa canggung sambil melirik kiri kanan. Sementara Arka dengan santainya langsung duduk.


Lusia kembali ke meja kasir. Ia sudah disambut oleh staf lain yang sudah pasang mode kepo. “Kak Lusia mengenalnya? Aku dari tadi sempat berfikir, mobil sultan mana dari tadi parkir disana dengan kondisi nyala. Siapa dia?” tanya Dave.


“Penampilan dengan jas tampak rapi, tapi tingkahnya kaku seperti seorang bodyguard, tidak mungkin dia pacarmu kan?” tanya Vhia tanpa basa-basi. Vhia adalah orang yang paling jeli menilai pria.


“Dia hanya orang yang sedang bertugas untuk duduk disana mengawasiku” jawab Lusia dengan wajah datar lalu pergi mengantarkan makanan yang sudah ia siapkan untuk Arka.


“Apa dia seorang pengawal yang dikirim pacarmu?” lanjut tanya Vhia saat Lusia kembali ke meja kasir.


“Sejak kapan kau menjadi ikut kepo seperti dia? Tidak ada yang bisa kujelaskan, lanjutkan saja pekerjaanmu.” Perintah Lusia dengan memberikan nampan kosong ditangannya kepada Dave.


"Kak Lusia yakin semuanya baik-baik saja?" tanya Dave.


"Jangan khawatir, pria itu tidak akan mangancamku" jawab Lusia meyakinkan Dave.


Toko sudah tutup dan Lusia kembali pulang bersama dengan Arka. Arka yang membukakan pintu untuk Lusia kembali menarik perhatian rekan kerja Lusia. Lusia yang kembali terlihat malu, pamit dengan Dave, Nara dan rekan kerjanya yang lain lalu langsung masuk ke dalam mobil.


“Kau yakin tidak tahu apa-apa soal pria itu?” tanya Vhia kepada Dave.


“Aku juga masih sedang berfikir, sejak kapan aku menjadi kepo seperti Kak Vhia? Jadi, tidak ada informasi yang bisa ku beritahu padamu” ucap Dave mengcopy perkataan Lusia kepadanya tadi. Ia tersenyum tipis melihat wajah tidak puas Vhia akan jawabannya.


“Dasar bocah kurang ajar” umpat Vhia lalu pergi pulang begitu saja. Dave hanya tersenyum sinis menanggapi umpatan Vhia. Dave memang tidak pernah menyukai sikap Vhia.


Di tengah perjalanan memasuki perhutanan pinus, Lusia dikejutkan dengan adanya lampu penerangan yang menerangi sepanjang perjalanan menuju Villa.


“Wah, aku beberapa hari ini melihat para pekerja sedang mengerjakannya tapi ini malam pertama aku melihatnya nyala. Apa menurutmu Mickey atau Rayn yang melakukannya?” tanya Lusia. Arka hanya tersenyum.

__ADS_1


Sesampainya di Villa masih tampak penjagaan ketat disekitar Villa. Bahkan dengan jumlah personil yang semakin bertambah. “Kenapa semakin banyak penjaga? tanya Lusia bergegas turun dari mobil. Ia mengkhawatirkan Rayn karena semakin banyaknya orang asing di Villa.


“Tuan Mickey sedang tidak ada di Villa karena ada urusan mendesak. Ia mengirimkan tambahan personil sampai saya kembali. Tuan Mickey juga meminta saya untuk tetap tinggal disini” jawab Arka.


Melihat kedatangan Lusia salah satu pengawal menekan sandi untuk Lusia. Lusia melihat sandinya tampak berubah. Pintu terbuka, ia kembali dikejutkan oleh 2 penjaga yang sudah ada di dalam. Mereka memberi salam kepada Lusia dengan membungkukkan badan mereka lalu mempersilahkan Lusia masuk.


“Apa Rayn ada di atas?” tanya Lusia .


Seorang pengawal membenarkannya dan berniat mengantar Lusia naik, tapi Lusia menolak. “Tidak perlu mengantarku, aku naik sendiri” ucapnya menaiki tangga.


Lusia khawatir jika Rayn pasti akan bosan dan cemas karena banyaknya penjagaan yang membuatnya terus berada di lantai 2 semenjak


kepergiannya dan Mickey.


“Rayn, Rayn, Rayn” teriak Lusia naik ke lantai atas. Dilihatnya Rayn sedang duduk di sofa membaca sebuah buku dongeng. Terlihat seorang penjaga berada di Balkon luar ruang baca.


“Apa harus seketat ini” gumam Lusia menghampiri Rayn.


“Kau sudah kembali” sapa Rayn.


“Sulit dipercaya, orang sepertimu benar-benar suka membaca buku dongeng” ledek Lusia mendekat mengintip judul buku ditangan Rayn. Rayn hanya menatap Lusia.


“Akan ku buatkan jus untukmu, agar kau bisa membaca lebih relex lagi. Aku tidak tega dengan wajah tampanmu yang sudah seperti sedang membaca buku ilmiah saja” lanjut ledek Lusia sambil melangkah pergi.


“Menyesakkan… ” ucap Rayn meraih tangan Lusia untuk menahannya. Lusia menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Rayn.


Semakin jelas Lusia menatap wajah Rayn yang tampak terlihat pucat, tangannya terasa dingin.


*** To Be Continued ***


 


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Silahkan klik FAVORITE untuk terus update BAB selanjutnya yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik LIKE pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( Saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

__ADS_1


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2