Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 64 - Pria Misterius yang Kejam


__ADS_3

Rayn mulai tidak bisa mengendalikan pikirannya, ia mulai panik dan kalut. Sekujur tubuhnya mulai dingin dan lemas, kakinya yang gemetar sudah mulai tidak mampu lagi menopang tubuhnya.


“Ada apa semua ini ?” tanya Rayn yang mulai mendengar suara rintihan sang ibu memanggil namanya. Ia akhirnya tidak mampu melanjutkan langkahnya ke kamar dan roboh di ruang baca.


Suara dan kilau kembang api menjadi gerbang yang membuka ingatan Rayn. Sebuah potongan ingatan tragis pada malam kecelakaan itu kini seolah sedang bermain dikepalanya. Kepalanya serasa mau pecah, seperihan ingatan yang tak pernah ia ingat muncul. Tidak hanya sekedar suara, bahkan gambaran dirinya di waktu itu terasa nyata.


Rayn merasakan tubuhnya semakin lemah, jantungnya berdeguk tidak beraturan. Rayn masih dalam keadaan sadar, namun ia sudah tidak bisa membedakan apa yang ia lihat dan terlintas dipikirkan apakah dirinya sekarang atau kenangan masa itu. Ia pun mulai sulit bernafas, dadanya seperti diremas. Ia mencoba bertahan untuk tetap sadar melawan siksaan itu.


Rayn menitihkan air matanya mengingat hal pahit yang tidak pernah ia harapkan. Dengan menahan sesak di dadanya, Rayn berusaha meraih tangan ibunya yang hanya dalam bayangannya dengan menitihkan air mata.


#Flasback


.


“Ibu... Tolong kami… tolong… tolong ibuku tuan."


Rayn kecil dengan suara yang lemah, ia berusaha meminta tolong kepada seorang pria yang berdiri dibalik jendela mobil yang ia tumpangi dengan ibunya. Mobil itu sudah dalam kondisi terbalik akibat kecelakaan itu.


Rayn kecil masih sadar, namun ia tidak mampu melakukan apapun. Ia hanya melihat sang ibu yang berjuang dengan tertatih meraih tangannya.


“Rayn…”


Dengan nafas yang sudah tidak beraturan ibu Rayn memanggil namanya dengan berlinangan air mata. Ia menitihkan air matanya melihat putra tercintanya bersimbah darah.


“I..bu…Ibu...” balas panggil Rayn menatap sang ibu dengan menangis.


Pria dengan tubuh besar dan tinggi itu mulai meruntuhkan kaca jendela mobil yang sudah retak. Ia mendekat kepada sang ibu. Pria itu mengulurkan tangannya masuk ke dalam mobil.


“Tuan… tolong putraku. Kumohon tolong putraku... .”


Ibu Rayn memohon dengan mengiba kepada pria itu dengan kata yang sudah terputus-putus. Ia berharap pria itu mau menolong putranya. Bagi ibu saat ini, keselamatan dan hidup Rayn adalah segalanya daripada dirinya.


Mendengar permohonan ibu Rayn, pria itu manatap Rayn lalu kembali memandang wanita itu. Sesuatu yang tidak terduga terjadi, seseorang yang bisa menjadi harapan mereka untuk tetap hidup seolah berubah menjadi malaikat maut yang menakutkan. Pria itu bukan datang untuk menyelamatkan Rayn dan ibunya. Tapi ia justru menjambak rambut sang ibu lalu dengan senyum penuh ambisi bak psikopat, ia membenturkan sang ibu ke kemudi dengan brutal.


“Ibu… Ibu…” Teriak Rayn dengan menangis.


“Hentikan…!!! Aku mohon hentikan!” Terdengar teriakan Mickey kecil dalam panggilan telepon yang masih aktif.


Pria itu langsung mencari sumber suara itu. Ia menemukan ponsel milik Rayn yang masih berada dalam panggilan yang aktif dengan Mickey.


"Haisttt... ! gumam pria itu. Ia meraihnya dan langsung menghantamkannya ke body mobil berulang kali hingga ponsel itu mati.


“Tuan, jangan lakukan itu pada ibuku. Tuan, aku mohon."


Ryan memohon dengan menangis terisak. Ia terus memanggil ibunya yang sudah tiada dengan bersimbah darah.


"Ibu.... buka matamu ibu. Aku mohon buka matamu" panggil Rayn.


Usai merusak ponsel Rayn, pria itu lalu pergi menghampiri Rayn dan meruntuhkan serpihan kaca mobil yang sudah pecah.


“Sesorang tolong selamatkan kami.”

__ADS_1


Rayn dengan menangis terus meminta bantuan saat melihat pria itu juga seperti akan melakukan sesuatu terhadapnya. Namun, ia hanya bisa mengeluarkan suara lirih diantara suara kembang api yang terus menggema di


langit membuatnya semakin terlihat miris.


“Ini semua salahmu. Orang yang kau benci harusnya adalah dirimu sendiri. Semua ini terjadi karena salahmu.”


Pria itu mengucapkannya kepada Rayn dengan tertawa. Ia tampak puas dan sama sekali merasa berdosa.


"Aku akan membantumu bertemu dengan ibumu di neraka" ucap pria itu sudah dalam posisi bersiap memukul Rayn dengan ponsel Rayn ditangannya.


Rayn yang sudah tidak berdaya hanya bisa menatap pria itu dengan berlinangkan air mata. Menatap pria bertubuh besar dengan memakai topi dan masker yang menutupi wajahnya. Mata Rayn lalu teralih kepada gemerlap kembang api yang mengudara dilangit. Perlahan Rayn mulai kehilangan kesadarannya.


Bersamaan dengan itu, orang-orang mulai pada berdatangan menghampiri mereka. Mereka menggagalkan aksinya kepada Rayn. Pria itu langsung berdalih meminta tolong kepada setiap orang yang datang.


“Cepat tolong, ada wanita dan anak kecil di dalam mobil ini” ucapnya dengan menarik turun topinya agar lebih menutupi wajahnya.


Pria itu lalu melangkah menjauh menatap kerumunan orang yang berusaha menolong Rayn dan Ibunya. Ia meremas ponsel Ryan di tangannya karena gagal melenyapkan nyawa Rayn. Dengan penuh perasaan marah dan kecewa, pria itu lalu menghilang diantara banyaknya orang yang berkerumun untuk melihat dan memanggil bantuan.


 


#Back


.


“Argggg…” tangis Rayn dengan air mata yang mengalir dan semakin meremas kepalanya. Ingatan itu kembali menyiksanya.


Yang ia rasakan saat ini sama persis saat ia mencoba meminta tolong pada malam itu. Kejadian memilukan ditengah gemerlap kembang api. Pemandangan yang sama saat itu dan sekarang. Taburan kembang api dari festival malam itu dan taburan kembang api yang kini terlihat dari balik jendela Villa.


“Ibu…” ucap Rayn tak berdaya memanggil sang ibu dengan menitihkan air matanya.


Lusia langsung meraih tubuh Rayn dan menyandarkannya dalam pangkuannya. Ia bahkan sampai tidak bisa merasakan sakit pada tangannya yang sedang terluka. “Rayn, apa yang terjadi?” tanya Lusia.


Pandangan Rayn mulai kabur tidak jelas, ia seketika melihat sosok wanita yang terus berusaha menyadarkannya. Meskipun samar-samar, namun dengan sangat jelas ia mendengar suara Lusia yang terus memanggil namanya lalu ia tidak sadarkan diri.


Lusia segera menghubungi Reisa untuk meminta bantuan. Ia juga langsung menghubungi Dr. Leona memintanya untuk datang ke Villa dan memanggil Dr. Brian.


Reisa, David dan yang lain datang bersama Arka, mereka segera membantu membawa Rayn ke kamarnya. Lusia berusaha menghubungi Mickey, namun Mickey tidak menjawab panggilannya.


.


.


Dr. Leona dan Dr. Brian datang dan langsung mengambil tindakan medis. Lusia menunggu di luar dengan penuh kecemasan ditemani oleh Reisa. Sementara David, Nara & Dave menunggu di lantai bawah dijaga oleh Arka.


“Lusia, percayalah dia akan baik-baik saja” ucap Reisa mencoba menenangkan Lusia.


Dr. Brian keluar di temani oleh Dr. Leona. Lusia langsung menghampiri keduanya untuk menanyakan kondisi Rayn. Dr. Leona memberi kode jika ia akan mengatar Dr. Brian turun dahulu dan meminta Arka untuk mengantarnya kembali. “Tunggu sebentar” ucapnya lalu mempersilahkan Dr. Brian menuruni anak tangga.


Lusia masih menunggu dengan cemas, ia tidak berani masuk tanpa seizin Dr. Leona. Tidak lama Dr. Leona kembali.


“Saat ini biarkan saja dulu dia istirahat. Dan juga, ada yang ingin aku bicarakan dengannya, apa kau bisa memberi waktu kepada kami untuk bicara?” tanya Dr. Leona kepada Reisa.

__ADS_1


“Reisa, maafkan aku jika semua menjadi seperti dan pestanya...” ucap Lusia belum sampai selesai sudah dipotong Reisa.


“Kau tidak perlu meminta maaf. Aku akan membawa yang lain kembali dahulu. Dan aku yakin kau pasti juga membutuhkan waktu untuk dia. Aku tidak bisa banyak membantu disini tapi kau bisa menghubungiku kapanpun jika membutuhkanku” potong Reisa dengan meraih tasnya lalu berpamitan.


“Kau tidak perlu mengantarku keluar, dan pastikan kau menghubungiku ok” lanjut ucap Reisa sembari menuruni anak tangga.


Meskipun Reisa juga sangat khawatir, tapi ia sadar tidak ada yang bisa ia lakukan untuk Lusia saat ini. Ia akhirnya kembali bersama dengan yang lain dan meminta mereka untuk tidak bertanya.


Dr. Leona dan Lusia berbicara di ruang baca Rayn. “Jangan khawatir, aku sudah memberinya obat untuk mengurangi kecemasannya” ucap Dr. Leona.


“Apa kau yakin dia baik-baik saja?” tanya Lusia yang masih cemas.


“Aku tidak bisa mengatakan ini baik, tapi untuk saat ini kita hanya bisa menunggu dan mengharapkan dia untuk bisa lebih tenang. Tapi, apa yang sebernarnya terjadi sebelumnya sampai ia mengalami trauma itu lagi?” tanya Dr. Leona.


“Aku melihatnya tampak kesakitan, dan saat aku datang aku hanya mendengar dia memanggil ibunya. Itu terjadi usai aku memintanya keluar untuk melihat kembang api bersama kami” jawab Lusia dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


“Kembang api?” tanya Dr. Leona. “Kenapa tiba-tiba harus ada kembang api? Apa Mickey tidak pernah mengatakan sesuatu kepadamu sebelumnya soal kembang api?” lanjut tanya Dr. Leona.


“Mickey? Dia tidak mengatakan apapun, ia hanya memberi kembang api untuk kami bisa memeriahkan acara malam ini. Apa aku telah melakukan kesalahan?” tanya Lusia.


“Sudah aku duga, dia akan melakukannya” ucap Dr. Leona dalam hati.


“Apa ia juga trauma atau phobia dengan kembang api?” lanjut tanya Lusia.


“Bukan sesuatu seperti itu. Mungkin, bisa aku katakan dalam gambaran mudahnya jika kembang api seperti menjadi sebagian jalan untuk membuka ingatannya. Tapui bukan artinya semua harus dimulai dengan kembang api. Ingatan itu seharusnya dibuka melalui hipnoterapi, agar kami lebih bisa membantunya mengendalikan emosinya. Mengeksplorasi pikiran, perasaan, atau ingatan yang menyakitkan itu. Ingatan yang tersembunyi di dalam alam bawah sadar. Setidaknya itu tidak akan terlalu menyiksa. Aku hanya tidak menyangka jika ia bisa menerima reaksi itu secara langsung” ujar Dr. Leona.


“Apa hipnoterapi jalan yang lebih baik untuknya?” tanya Lusia.


“Tidak ada jalan yang baik Lusia” potong Dr. Leona. Tapi itu satu-satunya cara yang bisa kita lakukan untuk Rayn" sahut Dr. Leona. Ia tidak ingin menutupi apapun dari Lusia.


Dr. Leona meraih tangan Lusia. "Untuk itu aku mohon padamu, bujuk dia. Kita harus menemukan kunci dari masa lalunya. Kita tidak tahu konteks apa lagi yang bisa memberinya reksi yang lain. Dan aku takut jika itu akan lebih buruk dari ini. Aku takut itu akan kembali mendorong dirinya untuk melukai diri atau...." ucap Dr. Leona yang tidak ingin lanjut mengatakan jika Rayn lemah tidak menutup kemungkinan ia akan memilih menyerah dan mengakhiri hidupnya.


Dr. Leona memberi tahu banyak hal kepada Lusia. Ia percaya jika Lusia memilki peran penting karena Lusia adalah satu-satunya orang yang bisa disentuh oleh Rayn. Dr. Leona juga perlu mencari tahu alasan dibalik rasa nyaman Rayn sehingga tidak memiliki reaksi apapun terhadap Lusia.


“Kau bisa menemaninya, aku akan keluar karena ada sesuatu yang ingin aku pastikan dengan sesorang. Kau bisa menghubungiku jika ia sudah sadar atau terjadi sesuatu” ucap Dr. Leona lalu pamit.


Lusia kembali mencoba menghungi Mickey untuk memberinya kabar tentang apa yang terjadi dengan Rayn. Saat ini Mickey terlihat berada dalam sebuang ruangan. Ia berdiri tepan didepan layar yang menampilkan rekaman cctv Villa Grand Valley, kediaman Rayn. Ia melihat semua yang saat ini terjadi di Villa.


Ponsel Mickey terus bergertar karena panggilan Lusia, namun Mickey hanya menatap ponselnya dan tetap mengabaikan panggilan Lusia dengan sengaja.


.


.


*** To Be Continued***


----


Siapa pria misterius yang sudah kejam kepada Rayn dan Ibunya ?


Apa Mickey dengan sengaja memberikan kembang api dengan tujuan lain ?

__ADS_1


Nantikan BAB selanjutnya yah dan mohon dukungannya untuk karya ini dengan tetap menjadikan Favorite, Like, Comment dan Vote. Dan terima kasih banyak untuk hadiah dari para Reader.


Salam penuh cinta dari Author ^^


__ADS_2