
Sepanjang perjalanan Lusia hanya diam tidak bersuara. Ia membiarkan Rayn tidur dengan tetap menggenggam tangannya. Ia sangat ingin tahu apa yang terjadi dengan Rayn hari ini. Ia tampak usai melewati sesuatu yang sulit baginya.
Sesampai di Villa, Lusia tidak segera membangunkan Rayn. Ia mengizinkan Arka untuk keluar lebih dahulu. Lusia masih menemani Rayn di dalam mobil hingga akhirnya ia ikut tertidur. Tidak lama Lusia membuka mata, dilihatnya Rayn yang sudah lebih dahulu bangun dan hanya diam menatap dirinya.
“Kau sudah bangun?” tanya Lusia sembari berusaha mendapatkan kesadarannya kembali.
“Seperti yang kau lihat” jawab Rayn singkat.
“Seharusnya kau membangunkanku” ucap Lusia.
“Itu yang seharusnya kau lakukan padaku saat kita sampai tadi” jawab Rayn.
"Aku melihat kau tampak lelah, jadi menurutku tidak apa membiarkanmu tetap tidur sebentar lagi. Tapi, aku malah ketiduran. Lagi pula kenapa kau tidak kembali masuk Villa lebih dahulu setelah terbangun?" tanya Lusia.
“Itu yang juga ingin kulakukan, tapi… bagaimana aku bisa melakukannya sementara kau sungguh tidak melepas ku” jawab Rayn dengan melirik tangannya yang kini justru berbalik terjebak dalam genggaman Lusia.
Menyadari itu, Lusia sontak melepaskan tangan Rayn. “E… itu… “ ucapnya panik karena malu.
“Kita kembali ke Villa sekarang” lanjut ucap Lusia membuka pintu mobil dan pergi keluar meninggalkan Rayn lebih dahulu. Ia terkejut ternyata Arka masih menunggu mereka diluar. Rayn hanya tersenyum kecil melihat tingkah Lusia.
Lusia langsung masuk ke dalam Villa diikuti oleh Rayn dan Arka. Tiba-tiba Lusia menghentikan langkah kakinya mengingat sesuatu yang masih mengganjal dihatinya. Ia berbalik badan dan menatap aneh Rayn dan Arka.
“Aku masih penasaran, apa kalian benar-benar mengikutiku?” tanya Lusia.
“Bukannya aku sudah menjawab pertanyaan ini kepada pria itu tadi” jawab Rayn.
“Ok, anggap saja kau mengkhawatirkan ku, tapi bagaimana kalian bisa tahu aku ada di sana jika bukan karena mengikutiku.
“Apa restauran itu tempat yang tidak boleh aku kunjungi? Kebetulan saja aku melihatmu di sana” jawab Rayn.
“Sungguh hanya kebetulan?” tanya Lusia ragu dengan jawaban Rayn.
“Jika tidak percaya, kau tanya saja dia” jawab Rayn menunjuk Arka lalu pergi meninggalkan keduanya ke lantai 2.
Lusia langsung menoleh menatap Arka menunggu ia menjawabnya. “Kenapa kau diam? Aku beratannya dan memintamu menjawabnya. Bukannya kau bilang kau juga akan menuruti perintahku sesuai perintahnya” Sindir Lusia masih ingat jelas dengan apa yang pernah Arka katakan kepadanya.
“Anda benar, seperti yang sudah pernah saya sampaikan jika saya akan menuruti perintah anda asalkan tidak bertentangan dengan Tuan muda Rayn. Jadi, maaf Nona Lusia. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan anda ini. Anda bisa bertanya langsung kepada Tuan muda Rayn” jawabnya dengan menunduk pamit menyusul Rayn ke lantai 2.
"Apa-apaan mereka ini" gumam Lusia bengong tidak percaya dengan sikap keduanya.
"Bukannya tadi kau sudah dengar sendiri jawabannya” teriak Lusia kepada Arka yang sudah menaiki anak tangga. Arka hanya tetap terus berjalan.
“Wah, apa mereka berdua sedang mempermainkan ku?” Tanya Lusia dengan kesal. “Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi. Memangnya siapa dirimu Lusia. Bukan aku yang membayar gaji Arka dan bukan aku bos disini, jadi aku tidak bisa menuntut mereka untuk mendengarkan ku” gerutu Lusia sambil pergi kembali ke kamarnya.
Keesokan hari. Pagi-pagi Lusia dan Rayn sudah bangun dan duduk di sofa. Di hadapannya sudah ada Mickey duduk menatap keduanya. Sementara Arka berdiri tidak jauh dari mereka bersama 2 bodyguard yang baru saja datang bersama Mickey.
__ADS_1
“Tidak ada pengawal lain selain mereka?” tanya Rayn kepada Mickey menatap 2 bodyguard yang
baru saja datang bersama Mickey.
"Aku sudah memilihkan yang terbaik untuk bisa menjaga Lusia, jadi jangan khawatir” jawabnya. Mickey membawa bodyguard baru sesuai dengan permintaan Rayn untuk menjaga Lusia.
" Tapi aku tidak menyukainya" sahut Rayn.
“Kenapa harus mempertimbangkan kau menyukainya atau tidak sementara bukan untuk dirimu? Lagi pula mereka orang yang tangguh” jawab Mickey.
“Jika begitu kau bisa cukup mengirim Arka untuk menjagaku dan karena keamanan mu lebih penting jadi kau harus memiliki lebih dari satu bodyguard” sahut Lusia.
“Tidak bisa !” jawab Rayn dan Mickey secara bersamaan dengan menatap Lusia dengan wajah serius.
“A…ku hanya menyarankan saja. Tidak perlu berteriak kompak begitu. Memangnya apa masalahnya?” tanya Lusia kepada Mickey perlahan
menurunkan suaranya.
“Karena aku hanya bisa mempercayakan keamanan Rayn kepada Arka dan itu sudah mutlak” jawab Mickey.
"Oh... " sahut Lusia hanya mengangguk lalu menatap Rayn untuk mendengarkan alasannya.
“Karena mereka terlalu muda dan terlalu rupawan” jawab Rayn sontak membuat Lusia dan Mickey terkejut akan jawabannya baru saja.
“Lalu apa masalahmu dengan itu?” tanya Lusia.
“Jika tidak, lalu apa pentingnya dengan wajah dan usianya dibandingkan dengan pengalaman dan keahlian mereka?” lanjut Mickey bertanya kepada Rayn mendengar jawaban konyolnya.
“Mickey benar, lagi pula bukankah yang lebih fresh lebih baik untuk dipandang. Dan… ” celetuk Lusia lalu menghentikan perkataanya melihat tatapan tajam Rayn kepadanya.
“Aku tidak peduli. Aku mau kau menggantinya dan kirimkan lebih dahulu profile mereka kepadaku” ucap Rayn kemudian berdiri untuk kembali ke kamarnya.
“Apa kita tidak bisa memakai mereka yang sudah ada saja” teriak Lusia kepada Rayn yang sudah menaiki anak tangga.
Rayn menghentikan langkah kakinya dan berbalik. “Mintalah Mickey segera mengurusnya atau kau tidak akan bisa keluar dari Villa ini tanpa ada pengawalan” ucapnya lalu pergi.
Mendengar perintah Rayn, Lusia langsung memandang Mickey dengan reaksi wajah merengek bak bayi yang sedang meminta sesuatu. Ia berharap Mickey segera menyelesaikannya agar ia bisa pergi bekerja di Cafe. Mickey hanya menghela nafas menyadari sikap kekanakan Rayn.
“Situasi apa lagi ini? Lagian kalian belum ada mengatakan alasan kenapa aku perlu pengawal?” tanya Lusia kepada Mickey.
“Dia belum memberitahumu?” tanya Mickey balik.
“Menurutmu? Jika ia sudah mengatakannya lalu untuk apa aku bertanya kepadamu” jawab Lusia.
Mickey meminta Lusia menanyakan sendiri langsung kepada Rayn. Ia akan mengurus
__ADS_1
pengawal yang cocok dengan kriteria Rayn.
“Apa pentingnya harus sesuai dengan seleranya, toh juga bukan pengawalan untuknya” gumam Mickey. "Kenapa juga kalian memiliki wajah terlalu rupawan?" tanyanya menatap 2 bodyguard yang ditolak Rayn.
“Oh ya tunggu, apa sedang terjadi sesuatu dengannya ?” tanya Lusia kepada Mickey mengingat sikap Rayn kemarin.
“Menurutmu? Kenapa tidak langsung kau tanyakan kepadanya” jawab Mickey membalas perkataan Lusia kepadanya tadi lalu memberi kode kepada ke 2 bodyguard untuk mengikutinya pergi meninggalkan Villa.
“Oh yah” ucap Mickey kembali lagi. “Kau belum ada menyelesaikan misi apapun. Why?” tanya Mickey kepada Lusia.
"Menurutmu?" tanya Lusia balik membalas Mickey. Mickey mengerutkan keningnya. Lusia lalu tertawa melihat reaksi Mickey.
"Haha, baik boss saya akan segera menyelesaikannya" jawab Lusia menunduk kepada Mickey dengan menahan tawa.
"Aku menunggunya" ucap Mickey lalu pergi meninggalkan Villa.
Lusia pergi menyiapkan Jus dan salad buah untuk Rayn. Ia mengetuk ruang melukis Rayn berulang kali namun Rayn tidak memberi jawaban apalagi membukakan pintu untuknya.
“Tidak apa jika dia tidak mau membukanya. Ada dirimu disini dan dia tidak akan kemana-kemana jika sudah sibuk di dalam. Jadi, menurutku saat ini tidak masalah jika aku pergi sebentar. Katakan padanya aku ingin pergi keluar sebentar” ucap Lusia berteriak berbicara kepada Arka. Ia sengaja dengan nada nyaring agar didengar oleh Rayn. Arka hanya tersenyum dan tetap duduk di sofa baca melihat tingkah Lusia.
Sontak Rayn langsung membuka pintu dengan cepat sehingga mengejutkan Lusia yang berdiri tepat di depan pintu ruangan Rayn. “Cepat sekali kau membukanya, jangan bilang dari tadi kau sudah ada di sana?” tanya Lusia menggoda Rayn dengan candaannya sembari memegang nampan berisi jus dan salad buah ditangannya.
Rayn tidak menjawab, ia hanya menatap Lusia dengan mulai menggerakkan tangan kirinya menggenggam tangan Lusia. Lusia melotot membulatkan matanya melihat pergerakan tangan Rayn yang semakin kuat menggenggamnya, sementara tangan kanan Rayn mulai meraih nampan.
“Pergi saja jika kau berani” ucap Rayn.
Rayn mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Lusia. “Ada apa denganmu? Kenapa tanganmu tegang sekali" bisik Rayn membuat jantung Lusia mulai berdeguk kencang.
“Heh?” tanya Lusia singkat.
Lusia mengerutkan keningnya merasakan tangan Rayn dengan kuat memaksanya untuk melepaskan nampan. “Kau membuatnya untukku kan, kenapa
kau tidak mau melepaskan nampannya” lanjut ucap Rayn dengan melanjutkan pergerakan tangannya menyingkirkan tangan Lusia dari nampan.
Lusia hanya bengong melihat Ryan mengambil nampannya. "Apa yang sudah kau pikirkan?" tanya Rayn dengan menjentikkan jarinya mendarat dijidat Lusia lalu pergi masuk dan menutup pintu tepat di depan wajahnya begitu saja.
Lusia tidak percaya jika Rayn baru saja membalas membully dirinya dengan sikap yang hampir saja
menggetarkan hatinya.
“Wah, hampir saja aku tertipu dengan sikapnya” gumam Lusia lirih lalu pergi.
“Apa anda jadi berniat meninggalkan Villa?” tanya Arka yang masih duduk dengan buku ditangannya.
“Jangan menanyakan sesuatu yang sudah kau tahu jawabannya” jawab Lusia lalu melanjutkan langkahnya menuruni tangga. Arka hanya tersenyum. Ia tahu jika Lusia mengatakannya hanya untuk memancing Rayn keluar.
__ADS_1
***To Be Continued***