
Di tengah heningnya malam, di bawah lampu penerangan yang menerangi jalanan, di antara popohonan hutan Pinus, Ryan berjalan perlahan dengan langkah kaki yang lemah menuju Dervilia. Dengan wajah yang memancarkan kesedihan dan luka yang mendalam, ia terus melangkah.
Arka mengikuti setiap langkah di belakang Rayn dengan tetap menjaga jarak. Ia tetap mengikuti Ryan meskipun Ryan sempat melarangnya dan memintanya untuk membiarkan dirinya pergi seorang diri. Arka menjaga sumpah dan janjinya kepada keluarga Anderson untuk mengabdi dan melindungi Ryan.
Rayn sampai di sebuah bangunan Villa kecil bertingkat seperti rumah pohon dengan desain minimalis namun mewah. Terlihat beberapa penjaga yang sudah berdiri di depan serta diatas bangunan itu atas perintah Arka. Melihat kedatangan Rayn dan Arka, mereka mengambil langkah mundur saat Ryan mulai mendekat dan menaiki anak tangga.
Rayn memasuki ruangan utama dalam bangunan itu kemudian menyalakan lampu penerangan, terlihat sebuah ruangan yang dipenuhi oleh lukisan-lukisan di atas easel kayu yang ditutupi kain putih. Rayn berjalan ke arah lukisan yang berada di ujung ruangan, perlahan ia membuka kain yang menutupi lukisan itu.
Sebuah Lukisan yang terlihat sudah berusia beberapa tahun namun tetap terawat. Lukisan seorang wanita yang tersenyum bahagia duduk di atas hijaunya rumput dengan menatap seorang bayi laki-laki yang berada dipangkuannya. Perlahan Rayn mulai meraba lukisan pada bagian wajah wanita itu. Ia memandang tajam inisial pada lukisan yang tertulis ‘Dervilia’. Ia memejamkan mata menahan luka dihatinya diikuti air mata yang jatuh membasahi kedua pipinya.
Wanita itu adalah ibu Rayn dan bayi kecil yang manis di pangkuannya adalah Rayn sendiri. Lukisan yang sedang ia lihat adalah karya terakhir sang ibu sebelum meninggal. Ibunya membuat lukisan yang terlihat hidup itu hanya berdasarkan gambaran perasaannya tanpa adanya objek langsung.
Rayn duduk di lantai tepat di sebelah lukisan karya ibunya dengan merangkul kedua kakinya yang ia rapatkan. Ia semakin erat merangkul kakinya yang merapat dengan kembali mengucurkan air matanya tanpa suara. Hatinya seperti sedang diiris. Kenangan, luka dan penyesalan terdalam yang selalu ia tanggung seorang diri selama ini, kini kembali mengaduk hati dan pecah dikepalanya.
Dervilia adalah nama pena yang digunakan ibu Rayn untuk setiap karya lukisannya yang tak pernah diperlihatkan kepada dunia. Dervilia diambil dari bahasa Irlandia yang memiliki arti -Keinginan Yang Benar-.
Keinginan sesungguhnya sang ibu yang ingin menjadi seorang pelukis ternama. Namun, keinginan itu hanya berakhir menjadi impian yang harus ia pendam semenjak ia menjadi bagian dalam keluarga besar Anderson.
Saat kembali dari Canada, Rayn membangun Villa kecil itu di tengah hutan yang lokasinya berjarak tidak sampai 1km dari Villa utama yang saat ini ditinggali Rayn dan Lusia. Sebuah Villa kecil dengan design rumah pohon itu dibangun Rayn sebagai tempat untuk mengenang semua kenangan dengan ibunya. Bahkan ia memberi nama bangunan itu sama dengan nama pena sang ibu ‘Dervilia’.
Dervilia menjadi tempat dimana Rayn menyimpan semua peninggalan karya lukisan ibunya. Dervilia juga menjadi tempat Rayn membuat karya lukisan yang hanya ia buat tidak untuk ditunjukkan kepada dunia. Semua lukisan yang hanya menggambarkan luka, duka, rasa sakit, kesepian dan keputusasaannya.
Diwaktu yang sama, ditempat yang berbeda, Mickey masih berada didalam mobil yang masih terparkir di depan jalan masuk Dervilia. Ia terngiang akan ucapan Ryan sebelum meninggalkannya.
"Karena aku menghargai masa kecil kita, menghargai bagaimana kita tumbuh bersama dan bagaimana ibuku setulus hati membesarkan kita bersama."
__ADS_1
Ucapan itu membuat Mickey kembali teringat kenangan masa kecilnya, moment bagaimana ibu Ryan dengan tulus merawat dan menyayanginya.
“Mickey kemarilah… lihatlah ibu membuatkan rajutan syal untukmu dan Ryan. Untuk Mickey warna merah dan untuk Ryan warna biru. Kau mau ibu beri tahu rahasia? Ibu sebenarnya membuatnya khusus untuk hadiah ulang tahunmu nanti. Tapi karena Rayn melihat itu buatan tangan ibu, ia jadi merengek memintanya juga... hahaha… ibu akan mencari hadiah special yang lain untukmu nanti.”
Mengingat moment bersama ibu Ryan itu, membuat Mickey tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia menangis terisak dengan meremas dadanya menahan rasa sakit akan setiap kenangan yang terus menyiksanya, ia menangis seorang diri didalam mobil.
Mickey dan Rayn, kini mereka telah tumbuh dewasa. Tapi, bayang-bayang masa lalu yang seharusnya dapat mereka simpan sebagai kenangan masa kecil yang indah, justru hanya menjadi luka yang menyiksa dan menghantui perjalanan hidup mereka.
Sebuah misteri akan kecelakaan dan kematian ibu Rayn menambah derita bagi keduanya. Kenangan itu seperti pisau yang menyahat hati, pisau yang terus menggores tanpa henti hingga mereka sulit membedakan apa itu ujian hidup atau sebuah hukuman.
Jawaban itu yang hanya dapat mereka temukan dari fakta yang sengaja Rayn simpan dalam ruang ingatannya. Ruang ingatan yang kini masih tertutup rapat tanpa adanya kunci untuk membukanya.
#Rayn
“Apa aku harus menghancurkan ruang ingatan itu dengan membuatnya terhapus semua atau aku harus kembali berjuang mencari kunci untuk membukanya tanpa penyesalan. Tapi entah mengapa aku merasa sangat takut. Aku sangat takut akan sesuatu yang akupun tidak tahu apa yang aku takutkan.”
“Apa aku harus memaksanya untuk mengingat kembali hanya untuk egoku atau mengubur misteri masa lalu itu dengan tetap membuatnya menderita akan phobianya. Apapun itu, aku tetap akan berakhir menjadi orang yang terjahat disini. Apapun itu, tidak jalan yang bisa membuatku menjadi orang yang layak untuk hidup bahagia.”
Mickey dan Ryan terus menyimpan rapat pikiran itu dengan tetap bertahan hidup mengikuti berjalannya waktu.
#Ibu Ryan
“Mickey… berjanjilah untuk selalu menjaga Rayn dan menjadi kakak yang selalu melindunginya. Jika ia berbuat salah, kau harus tegas menghukumnya. Jangan takut, selama itu benar, ibu akan ada dipihakmu saat itu.”
“Dan Rayn… berjanjilah untuk selalu menyayangi kakakmu Mickey. Jika ia mulai tersesat atau menemukan jalan buntu, kau harus lebih kuat untuk mengingatkannya dan membawanya kembali. Jangan takut, kau pasti bisa melakukannya, karena saat itu ibu juga selalu bersamamu.”
__ADS_1
“Kalian tahu, ibu sangat, sangat, sangat menyayangi kalian lebih dari apapun. Kemarilah para jagoan ibu, ibu akan memeluk kalian untuk mentransfer kekuatan, cinta, kasih sayang agar kalian bisa selalu bahagia dengan restu ibu.”
Kata-kata itu bukan hanya sekedar permintaan janji dan pesan dari sang ibu, namun sebuah arahan untuk keduanya, bahwa tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Ada saat kau akan terluka, terpuruk, tersesat atau mungkin berada dalam keputusasaan. Dan jika saat-saat itu terjadi, maka orang yang kamu kasihilah yang akan menjadi orang pertama mengulurkan tangannya dan selalu berada dipihakmu.
Seperti halnya dengan nama 'Dervilia' yang Ibu Rayn gunakan sebagai nama penanya. Kalian mungkin tidak bisa menemukan keinginan terbesarmu sendiri. Kalian akan membutuhkan orang lain yang bisa meyakinkanmu apakah itu keinginanmu yang benar. Bukan hanya sebuah pelahiran atau jalan akhir karena kau menyerah dan putus asa.
.
.
*** To Be Continued***
Siapakah Mickey sebenarnya? Hubungan seperti apa yang dimiliki Mickey dengan keluarga Anderson?
KAWAL sampai END untuk mengetahui misterinya.
Mari kita halu bersama dengan tampilan bangunan Dervilia 🤩
Nantikan Bab selanjutnya untuk mengungkap 2 misteri sebelumnya yang belum Aouthor up yah.
Maafkan Author jika terlalu panjang hanya untuk penjelasan soal Dervilia. Tapi Author harap bab ini bisa menjawab rasa penasaran kalian tentang Dervilia dengan puas. Hehe^^
__ADS_1
Happy Reading My Lovely Readers 🤗