Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 111 - Kenyamanan


__ADS_3

"Apakah dia menemukan sesuatu?" batin Dr. Leona bertanya dalam hati.


Dr. Leona menyadari jika mungkin saat ini Mickey kecewa terhadapnya, tapi ia percaya keputusannya sudah benar. Tanpa ingin menunda, Dr. Leona segera menghubungi Lusia untuk mengatur jadwal hipnoterapi dengan Rayn. Ia akan mengulang moments pertemuan Rayn dengan Lusia. Dr. Leona perlu tahu apa alasan sebenarnya yang membuat Rayn tidak memiliki reaksi terhadap Lusia.


Dr. Leona berharap dapat menemukan petunjuk untuk menentukan metode pengobatan yang akan ia ambil untuk phobia Rayn. Pasti ada sesuatu antara Rayn dan Lusia yang membuat mereka seperti memilliki sebuah ikatan tersendiri. Pertemuan keduanya mungkin memang sebuah takdir, tapi ikatan Lusia dengan phobia Rayn bukanlah hanya sebuah kebetulan saja.


"Aku akan membujuknya" jawab Lusia dalam panggilan telepon setelah mendengar penjelasan Dr. Leona.


"Terima kasih Lusia, aku mengandalkanmu" sahut Dr. Leona lalu menutup telepon.


Lusia pergi menemui Rayn yang sedang sibuk di ruang melukisnya. Lusia menyampaikan pesan Dr. Leona yang akan menjadwalkan hipnoterapi lanjutan. Lusia meyakinkan Rayn jika apapun yang terjadi nanti, ia tidak akan pernah meninggalkan Rayn, ia akan selalu tetap bersamanya dan berada disisinya.


Rayn sempat menolak saat mendengar hipnoterapi itu berhubungan dengan Lusia. Namun, melihat raut wajah Lusia yang penuh harap, membuat hati Rayn luluh dan setuju untuk melakukan hipnoterapi. Seketika Rayn sadar jika tidak ada jalan selain dirinya sendiri yang bisa mengakhiri phobia itu.


Lusia adalah satu-satu orang yang menjadi motivasi nya untuk sembuh. Rayn ingin menjadi pria dan kekasih yang sempurna untuk Lusia. Ia ingin memberi kebahagiaan yang seutuhnya dan melihat dunia bersama tanpa merasa cemas. Rayn berharap suatu saat nanti ia bisa memberikan kencan istimewa yang sesungguhnya seperti pasangan lain. Ya, ia percaya jika hari itu pasti akan tiba untuknya dan Lusia.


...***...


1 Minggu kemudian...


Di ruang baca, Rayn sudah berbaring setengah duduk dengan posisi senyaman mungkin. Ia sudah siap menerima instruksi dan sugesti dari Dr.Leona. Sebuah sugesti yang merupakan inti dari proses Hipnoterapi. Sama seperti sebelumnya Dr.Leona memberi arahan mengatur pernafasan diiringi alunan musik. Rayn mulai relax dan fokus dengan sugesti yang diberikan Dr. Leona.


Dr. Leona mulai mendapatkan akses yang lebih luas pada memori Rayn dengan teknik affect bright atau jembatan perasaan. Rayn mulai mendapat bimbingan terapis dari pikiran sadar ke pikiran bawah sadarnya. Kini Rayn mulai memasuki kondisi hipnosis yang lebih dalam.


#Flashback


Dalam pikiran bawah sadarnya, Rayn kini berada di ruangan yang begitu gelap. Ruangan itu sangat gelap tapi anehnya ia melihat begitu banyak orang yang mengelilingi dirinya. Rayn berusaha bangkit dan ingin lari untuk bersembunyi, tapi sayangnya ia terus saja terjebak dikelilingi oleh orang-orang yang memandangnya aneh. Mereka terlihat seperti ingin menyerang dan berusaha menyentuhnya, membuat Rayn semakin merasa tercekik.


#Back

__ADS_1


"Apa yang kau lakukan untuk bisa lari?" tanya Dr. Leona.


"Aku hanya bisa bertahan, aku tidak bisa lari, kaki pun sepertinya sudah mati. Tapi aku mendengar langkahnya..." sahut Rayn masih dengan mata terpejam.


"Langkahnya...?" Langkah siapa yang kau dengar?" tanya Dr. Leona mendorong Rayn untuk mencari jawabannya.


Hipnoterapi itu telah membawa Rayn pada saat dirinya berada di  Psithurism Art Galeri. Ya, itu adalah hari dimana ia bertemu dengan Lusia.


Rayn semakin tercekik dan sudah tidak mampu lagi untuk bertahan, ia hanya menutup mata dan telinga dengan kedua tangannya. Namun, perlahan ia mendengar langkah kaki yang berjalan ke arahanya. 'Apa aku baik-baik saja?' pertanyaan itu menjadi satu-satu nya suara yang ia dengar bersamaan dengan sentuhan yang ia terima.


Dr. Leona terus mendorong Rayn untuk mencari tahu siapa orang itu. "Bukalah matamu Rayn, lihatlah siapa dia? Siapa orang yang menyentuhmu dan bertanya kepadamu?" tanya Dr. Leona.


"Ibu...." sahut Rayn.


"Ibu....? Maksudmu dia Ny. Angelina, ibumu?" Tanya Dr. Leona. "Apa kau yakin orang itu adalah ibumu?" lanjut tanyanya.


Dr. Leona mencoba memberi sugesti kepada Rayn untuk kembali dan mengulangnya lagi. Dr. Leona kembali mengingatkan Rayn jika ibunya sudah tenang di surga dan tidak akan mungkin ada di sana.


Kenyamanan...


Jawaban itulah yang mereka dapatkan pada akhirnya. Pada malam itu, rasa nyaman yang Lusia berikan yang mampu membuat Rayn tenang. Ternyata apa yang dilakukan Lusia adalah hal yang sama juga selalu dilakukan ibu Rayn kepada Rayn setiap kali Rayn ketakutan.


Saat Rayn kecil, tepat setiap kali hujan turun di malam hari setelah lampu kamarnya dipadamkan, Rayn selalu ketakutan tidur seorang diri. Di saat itu ibu Ryan datang ke kamarnya, ia membawakan Rayn selimut miliknya dan meminta Rayn untuk duduk sembari memegang sebuah senter. Ibu Rayn lalu menutup kepala Ryan dengan selimut yang ia bawa lalu menyalakan senter untuk memberi Ryan penerangan dibalik selimut.


Selimut itu akan menjadi pertahanan yang membuat Rayn tidak bisa melihat sekelilingnya. Dengan memberinya batas pandangan maka akan mampu mengurangi rasa takut dan melupakan fakta jika dia seorang diri. Hal itu akan membuat Rayn merasa berada di dunianya sendiri tanpa ada orang lain yang bisa masuk ke dalam pertahanannya.


Sama seperti yang Lusia lakukan saat itu, Lusia memberikan jaketnya untuk menutup kepala Rayn agar ia bisa lebih tenang. Setelah itu ia menyalakan flashlight ponselnya untuk memberi Rayn penerangan. Hal itu membuat Rayn tenang dan merasakan kenyamanan senyaman saat ia berada bersama ibunya.


Pelukan Lusia membuatnya seperti dipeluk oleh Ny. Angelina. Kenyamanan itu yang Ryan rasakan , ia seperti menemukan sosok Ny. angelina pada diri Lusia.

__ADS_1


Setelah mengetahui fakta itu, Dr. Leona akhirnya memutuskan untuk melakukan terminasi. Sebuah tahapan membangunkan Rayn untuk mendapatkan kesadarannya kembali.


Rayn pun kembali sadar, perlahan ia membuka matanya. Ia melihat nanar tatapan Lusia yang menunggunya sadar dengan perasaan cemas. Perlahan Lusia mengulurkan tangannya meraih pipi Rayn. Manik mata Rayn mengikuti pergerakan tangan Lusia yang hendak menyentuhnya.


Rayn sebelumnya menolak hipnoterapi ini karena ia merasa takut jika dirinya tidak akan bisa lagi mendapat sentuhan dari Lusia setelah hipnoterapi. Tapi akhirnya ia masih bisa merasakan hangat sentuhan tangan Lusia yang mendekap pipinya. Itu artinya semua masih baik-baik saja. Rayn menghela nafas lega lalu menjatuhkan bulir air matanya.


"Semuanya akan baik-baik saja Rayn" ucap Lusia menghapus air mata Rayn lalu memeluknya. Rayn kembali menjatuhkan air matanya dalam pelukan Lusia dan ia pun membalas pelukan Lusia dengan memeluknya.


Dr. Leona meminta Lusia untuk membiarkan Rayn istirahat. Ia menyuntikkan Rayn obat agar Rayn bisa tidur.


"Lalu apa yang akan kita lakukan setelah ini?" tanya Lusia kepada Dr. Leona saat mengantar Dr. Leona ke mobilnya.


"Jangan khawatir, aku percaya jika dia akan segera sembuh. Tunggulah sebentar lagi" ucap Dr. Leona.


"Aku tidak masalah jika harus menunggunya sampai kapanpun. Asalkan tidak menyakitinya dan membuatnya terluka lagi... apapun itu, aku tidak keberatan" sahut Lusia.


Dr. Leona tersenyum mendengarnya. "Dia sangat beruntung memiliki orang sepertimu disisinya" puji Dr. Leona yang ikut merasa bahagia akan kehadiran Lusia dalam hidup Rayn.


Dr. Leona pamit dan meninggalkan Villa, dalam perjalanan ia segera menghubungi Mickey. Sayangnya Mickey tidak menjawab panggilannya sehingga Dr. Leona memutuskan untuk meninggalkan pesan suara.


"Kau bilang jika kau ingin mempercayaiku bukan? Aku harap kali ini kita bisa sejalan. Aku sudah memutuskan metode yang akan aku lakukan untuk menyembuhkan phobia Rayn. Aku akan menggunakan teknik Flooding dan kali ini akan melibatkan Lusia dalam metode ini."


- Pesan suara terkirim.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2