Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 46 - Yang Tidak Mickey Ingat


__ADS_3

Ryan dan Mickey menghargai ibu Lusia dengan menyantap Sup Kerang yang sudah disiapkan untuk mereka. Ia juga meminta Arka untuk ikut makan bersamanya. Perlahan Rayn mencicipi sesuap, ia merasa terharu. Setelah sekian tahun, ini pertama kali ia bisa merasakan kembali sentuhan masakan seorang ibu. Masakan ibu Lusia membuat Rayn kembali merindukan ibunya. Ia menarik nafas panjang dan menghelanya perlahan lalu kembali melanjutkan menyantap dan menghabiskannya.


“Saya sangat berterima kasih dengan bantuan anda Nak Rayn. Maafkan saya jika sudah lancang meminta bertemu dan merepotkan anda sehingga harus jauh-jauh datang kemari. Saya mengira jika Lusia akan ikut dengan anda untuk datang” ucap ibu Lusia usai membereskan meja dan duduk berbincang dengan Rayn dan Mickey.


Ibu Lusia masih tidak tahu jika Lusia memiliki 2 pekerjaan di kota. Ia hanya tahu jika Lusia bekerja di Cafe dan Rayn adalah Bos dari Cafe tempat putrinya bekerja. Rayn hanya mengatakan jika Lusia tidak bisa datang karena ada yang ia harus ia kerjakan.


“Bibi tidak harus berterima kasih. Putri Bibi, Lusia… dia adalah gadis yang sangat baik. Dan dia melakukan pekerjaannya dengan baik. Anda tidak perlu khawatir, saya akan pastikan jika dia akan selalu baik-baik saja” jawab Rayn.


Ibu Lusia mengungkapkan rasa bersalahnya kepada Lusia putrinya, karena ia belum bisa menjadi ibu yang baik. Ia merasa hanya selalu memberi beban kepada Lusia sehingga Lusia tidak bisa memiliki waktu untuk memanjakan dirinya sendiri. Bahkan ia salut dengan putrinya yang tidak pernah mengeluh dengan kondisi keluarga mereka.


Ibu Lusia mulai menangis mengingat perjuangan Lusia selama ini yang sampai harus merelakan kehidupan masa muda dan mimpinya demi keluarga. Ia berharap suatu saat nanti putrinya bisa bertemu dengan pria baik yang bisa membahagiakannya.


Ibu Lusia mengatakan jika dirinya sedang berencana untuk menjodohkan Lusia dengan putra dari sahabat baiknya. Hanya saja Lusia masih menolak dengan berbagai alasan dan belum ada waktu untuk janji temu. Ia melakukan perjodohan itu karena tidak ingin jika Lusia salah dalam memilih pasangan. Ia takut jika putrinya akan terluka dan ditinggalkan.


Mendengar itu membuat Rayn mulai angkat bicara. “Saya rasa, Bibi tidak harus melalukannya. Seperti yang Bibi percayai selama ini jika Lusia bisa menjaga dirinya dengan baik. Maka, Bibi juga barus bisa mempercayai jika dia bisa dengan bijak menentukan pilihan pendamping hidupnya. Pilihan yang terbaik bagi Bibi belum tentu terbaik baginya. Maafkan saya, jika saya lancang mengatakannya. Tapi, saya percaya dia bisa menemukan sendiri pria yang dicintainya dan tulus mencintainya” ucap Rayn.


Ryan menatap kembali photo Lusia yang tergantung di dinding. “Dia akan menemukan seorang pria yang akan selalu membahagiakannya dan menjaganya” lanjut ucap Rayn lirih.


Mickey hanya ternganga mendengar apa yang baru saja diucapkan Rayn. Ia tidak tahu apakah pria yang sudah ia kenal bertahun-tahun ini benar-benar mengatakannya dengan tulus atau hanya untuk menyenangkan hati ibu Lusia. Jujur ia tersanjung, untuk seseorang yang tidak pernah menjalin hubungan dan bahkan tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain seperti Rayn mampu mengatakan hal itu.


Perbincangan mereka telah usai, ibu Lusia menitipkan Sup Kerang yang selalu menjadi kesukaan Lusia. Ia tahu Lusia pasti sangat merindukan Sup Kerang buatannya. Ia meminta Rayn dan Mickey untuk menunggunya yang sedang menyiapkan.

__ADS_1


Mickey bangkit dari duduknya, Ia kembali menatap photo Lusia. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Rayn.


“Aku hanya salut dengannya, dia tumbuh menjadi gadis yang luar biasa meskipun ditengah kehidupannya yang berat” ucap Mickey masih memandang photo Lusia. Apa menurutmu aku harus menawarkan diri masuk dalam barisan perjodohan itu? Daripada ia harus jatuh ke tangan pria yang belum jelas pilihan ibunya” tanya Mickey menoleh memandang Rayn.


“Tutup mulutmu!” perintah Rayn dengan nada kasar.


Mickey tertawa geli mendengar reaksi Rayn. Ia sengaja mengatakannya untuk menggoda Rayn. “Kalau begitu, kenapa tidak kau saja yang menjadi seorang pria yang akan selalu membahagiakannya dan menjaganya” sahut Mickey dengan nada sok puitis mengcopy perkataan Rayn kepada ibu Lusia tadi.


“Kenapa lama-lama sikapmu semakin kurang ajar” jawab Rayn. Mickey hanya tertawa.


“Baiklah jika kau menolak” sahut Mickey. “Arka… bagaimana denganmu?” tanya Mickey memandang Arka.


“Kenapa anda harus melibatkan saya Tuan Mickey?” tanya Arka. Pertanyaan Arka membuat Mickey menciutkan bibirnya. “Kau tidak punya selera humor sama sekali” gerutu Mickey.


“Start?” tanya Mickey kepada Arka. “Apa maksudmu Rayn sudah jatuh hati dengannya?” lanjut tanyanya dengan menunjuk Rayn yang masih duduk.


"Katakan kepadaku, apa yang terjadi di Villa selama ini tanpa sepengetahuanku” perintah Mickey dengan curiga.


Arka hanya tersenyum menatap photo Lusia. “Tidak ada apapun yang terjadi di Villa” jawab Arka.


Mickey menjadi lebih penasaran melihat Arka juga tampak serius memandang photo Lusia. “Ada apa dengan kalian berdua” tanyanya.

__ADS_1


Belum sampai Rayn menyambung pembicaraan Mickey, ibu Lusia sudah kembali dengan bekal sup kerang yang ia letakkan di atas meja, ia sadar jika tidak bisa menyerahkan langsung kepada Rayn.


Mickey yang berpikir jika Ryan tidak akan mengambilnya, maka ia melangkah maju untuk meraihnya. Namun, langkah itu kalah dengan Rayn yang  sudah duluan meraih bekal itu. "Saya akan memberikan ini kepada putri anda dan memastikan dia akan menghabiskannya" ucap Rayn berdiri lalu membungkukkan badan. “Terima kasih, kami akan pamit” lanjutnya.


Mickey melongo tidak percaya dengan apa yang baru saja Rayn lakukan. Ia menatap kosong Rayn menyingkir dan memberi jalan untuknya keluar. “Tutup mulutmu itu” perintah Rayn melewati Mickey yang masih bengong tak percaya.


Sepanjang perjalanan Rayn menatap bekal dari ibu Lusia yang di letakkan disebelahnya duduk. Mickey yang duduk di kursi depan berbalik menatap Rayn. “Aku masih penasaran dengan apa yang kau tanyakan di sana, sesuatu yang tidak aku ingat? Apa maksudmu?” tanya Mickey kepada Rayn.


“Sungguh tidak ada yang bisa kuharapkan darimu. Lupakanlah, lagian tidak penting bagimu” jawab Ryan.


Mickey masih berpikir keras. “Artinya sesuatu yang harus aku ingat tentang photo itu. Sesuatu…, apa itu?” gumamnya berbicara sendiri dengan menyilangkan tangannya.


Arka yang mendengarnya tersenyum. “Saya sangat yakin jika dia adalah gadis itu, apa saya benar Tuan Rayn?” tanya Arka dengan tetap mengemudi fokus ke depan.


“Kau juga mengingatnya ternyata” jawab Rayn tersenyum.


Mickey menjadi kesal, ia seperti orang bodoh yang tidak paham dengan apa yang sedang dibicarakan Rayn dan Arka. Ia kembali fokus ke depan dan berusaha keras mengingat apa yang ia tidak ingat.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued***


__ADS_2