Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 124 - Malam Yang Tertunda


__ADS_3

Hari ini telah menjadi hari spesial Rayn dan Lusia, namun sayangnya Rayn tidak bisa bercengkerama dengan mereka yang hadir dalam upacara pernikahannya. Meskipun begitu, mereka semua sangat memahami kondisi Rayn, cukup bagi mereka melihat Rayn dan Lusia bahagia maka semuanya baik-baik saja.


"Selamat Rayn" ucap Tuan Charles memberi selamat kepada putranya. "Sebelum kau kembali, pastikan kau datang menemui ayah" lanjut ucapnya.


Rayn mengangguk dengan tersenyum. "Terima kasih ayah sudah datang" ucap Rayn.


"Jika kau sangat berterima kasih, maka kau harus mentraktir ayahmu ini secangkir teh" sahut Tuan Charles tersenyum lalu berpamitan untuk pergi karena ada jadual bisnis yang tidak bisa ia tinggalkan.


Mickey pun berpamitan kepada Rayn untuk mengantarkan Tuan Charles menuju mobilnya. Sebelum masuk kedalam mobil, Tuan Charles berbincang sebentar dengan Mickey. Ia meminta Mickey untuk tidak terlalu khawatir dan membiarkan Rayn menetap di Kanada sampai kapanpun dia mau. Tuan Charles juga memperingatkan Mickey untuk tetap merahasiakan dari Rayn tentang ayahnya yang masih hidup.


"Aku akan mengawasi ayahmu, kau cukup menjaga Rayn dan istrinya" perintah Tuan Charles kepada Mickey.


Mickey menunduk menerima titah itu, ia meyakinkan Tuan Charles mempercayakan keselamatan Rayn dan Lusia kepadanya. Tentu saja Tuan Charles menaruh kepercayaan penuh kepada Mickey. Jika tidak, sudah sedari dulu ia tidak akan membiarkan Mickey berada dekat Rayn.


Mickey mempersilahkan Tuan Charles masuk mobil lalu supir mulai menjalankan kendaraannya. Mickey masih berdiri menatap mobil Tuan Charles yang mulai menghilang dari pandangannya meninggalkan Church.


"Aku tidak membiarkan ayahku menyentuh Rayn, tidak akan pernah. Akulah orang yang akan membuatnya membayar semua apa yang sudah ia lakukan."


Mickey mengepalkan tangannya berbicara lirih seorang diri dengan raut wajah penuh kebencian dan amarah mengingat semua kejahatan yang sudah dilakukan ayahnya.


Melihat Tuan Charles sudah pergi, Dr. Leona yang sedari tadi memperhatikan mereka mulai berjalan menghampiri Mickey. "Apa kau yakin semua akan baik-baik saja ?" tanyanya kepada Mickey.


Mickey terdiam sejenak ia sangat tahu apa yang saat ini sedang dikhawatirkan Dr. Leona. Dengan yakin Mickey berkata kepada Dr. Leona jika dirinya sekarang sudah bukan lagi Mickey kecil yang lemah dan mudah ditindas begitu saja oleh ayahnya. Sekarang ia hanya perlu menjaga Rayn dan mengamati setiap pergerakan ayahnya. Meskipun ayahnya saat ini berada di dalam penjara, namun ayahnya masih bisa menjadi ancaman bagi Rayn.


Mickey sangat yakin jika semua kejahatan yang dilakukan ayahnya tidak mungkin dilakukannya seorang diri. Ayah Mickey pasti mempunyai koneksi atau siapapun itu yang akan menjalankan perintahnya untuk semua tindak kejahatan diluar penjara.


Mickey menghela nafas lalu meminta Dr. Leona berhenti khawatir. Dirinya masih belum memiliki rencana apapun sekarang. Namun, yang pasti ingin Mickey lakukan saat ini adalah memastikan Rayn menikmati momen berharga dalam hidupnya, tanpa beban dan rasa cemas selama berada di Kanada.


"Lalu, bagaimana denganmu?" potong tanya Dr. Leona.


"Aku? Tentu saja aku akan menjaga dan mengawasinya" sahut Mickey.


"Aku tidak bertanya tentang Rayn, tapi dirimu. Bagaimana dengan kebahagiaanmu? Apa kau tidak ingin mengejar dan mendapatkan kebahagiaan itu? Bukankah...." tanya Dr. Leona dengan tatapan iba.


"Apa menurutmu aku terlihat membutuhkannya saat ini?" potong tanya Mickey.


Dr. Leona tercengang sesaat, ia tidak percaya apa hanya dirinya saja seorang diri yang mengkhawatirkan pria yang berdiri tepat didepannya sekarang. Bahkan pria itu terlihat tidak perduli dengan dirinya sendiri.


"Baiklah, baiklah, tidak ada gunanya aku mengkhawatirkanmu" sahut Dr. Leona.


Dr. Leona berjalan pamit meninggalkannya dengan wajah pasrah, ia baru sadar jika seharusnya dirinya tidak perlu repot bertanya karena sudah faham memang seperti itulah Mickey yang ia kenal. Dalam kamus hidup Mickey, kebahagiaan dirinya sendiri bukalah prioritas, bahkan hanya dengan kebahagiaan Rayn sudah cukup membuatnya bahagia dan mampu mengurangi beban serta rasa bersalahnya.


...***...


Di hotel...


Semua sesi acara telah selesai termasuk jamuan makan bersama. Lusia menemani sang ibu yang terlihat lelah, bahkan ia juga baru saja menemani Lucas untuk bisa tidur. Lucas memang bukan anak kecil lagi, namun Lucas ingin sang kakak menemaninya dan berada disisinya sampai ia tertidur. Lucas sangat merindukan Lusia, itu sebabnya ia selalu menjadi manja setiap kali bertemu dengan kakak tercintanya itu.


Rayn yang sedari tadi menemani mereka pun pamit untuk kembali ke kamarnya. Ia mempersilahkan Lusia dan Ibunya untuk istirahat.


Ibu Lusia tiba-tiba meminta Rayn menghentikan langkah kakinya yang hendak membuka pintu untuk keluar. Ibu Lusia meminta Lusia untuk ikut pindah ke kamar hotel Rayn karena mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri sekarang.


Dengan penuh pertimbangan sebelumnya, Lusia menolak hal itu karena sekarang ia hanya ingin lebih banyak waktu untuk ibu dan adiknya yang sudah sangat ia rindukan. Rayn juga sudah mengizinkannya, dirinya dan Rayn masih akan memiliki lebih banyak waktu nantinya dibandingkan waktu singkat yang ia miliki dengan sang ibu dan Lucas.

__ADS_1


"Tapi, kalian adalah pengantin baru. Bagaimana bisa kalian sudah berpisah kamar dimalam pertama kalian" ucap ibu Lusia.


Rayn tersenyum, ia mengatakan kepada ibu mertuanya jika dirinya tidak keberatan dengan hal itu. Semua yang sudah menjadi pilihan dan keputusan Lusia, selama itu tidak bertentangan dengan norma, maka ia akan setuju dan mengikutinya karena kebahagiaan Lusia adalah yang paling penting baginya dari segalanya. Termasuk meski dirinya harus melewatkan malam pertama pengantin, ia baik-baik saja.


Tidak ingin terlalu lama membuat ibu Lusia cemas, Rayn pun lalu lanjut pamit kembali ke kamar hotelnya. Ibu Lusia tidak bisa berkata apapun lagi dan tidak bisa memaksa keduanya. Ia hanya pasrah mengikuti keinginan dan keputusan Lusia meskipun sedikit merasa tidak enak dengan menantunya.


Rayn pun keluar, saat ia sedang berjalan kembali ke kamar hotelnya, Rayn bertemu dengan Mickey yang memang sedang mencarinya. Mickey hendak memberikan kunci kamar hotel yang sudah ia siapkan sebagai hadiah pernikahan Rayn dan Lusia. Mickey sudah memesan sebuah kamar pengantin yang didesain cantik dan penuh dengan keromantisan untuk mereka berdua menikmati malam pertamanya.


Tapi sayangnya Mickey harus dibuat kecewa karena semua sia-sia. "Kau yakin akan melewatkannya begitu saja?" tanya Mickey masih tidak percaya jika malam ini Rayn dan Lusia akan pisah kamar.


"Yaaaa...!! Rayn, ini malam pertama kalian, kau tahu itu kan" lanjut ucap Mickey.


"Apa masalahnya jika aku melewatkan ma....lam...." sahut Rayn tertahan karena malu mengucapkannya.


Rayn menelan saliva nya lalu melanjutkan ucapannya. "Yang penting, tidak peduli meskipun ini sudah menjadi tradisi yang harus dilakukan dimalam pertama atau apa, aku hanya ingin memberinya waktu bersama keluarganya. Besok Lusa Ibu dan Lucas akan pulang, sementara Lusia terlihat masih sangat merindukan mereka dan ingin bersama. Bagaimana mungkin aku tidak peduli, aku baik-baik saja, tidak perlu terburu-buru dan pelan-pelan" ucapnya.


Dengan penuh percaya diri Rayn mengatakan hal itu sambil tetap berjalan lurus ke depan. Tanpa memandang Mickey yang juga berjalan dibelakangnya dengan jarak satu meter darinya.


"Wooowww.... kau sangat perhatian sekali dengan istrimu" sahut Mickey.


Rayn seketika tiba-tiba berhenti dan sontak membuat Mickey juga harus menghentikan langkahnya untuk tetap bisa menjaga jarak dari Rayn. Rayn berbalik lalu melempar senyum kepada Mickey, wajahnya terllihat menggemaskan bercampur senyum malu tetapi juga sangat bahagia.


"Kenapa dengan reaksimu itu? Apa kau sudah sesenang itu hanya dengan pujianku baru saja?" tanya Mickey heran lalu mengacungkan jempolnya. "Ya, kau memang suami yang keren" lanjutnya semakin memuji Rayn.


Rayn masih tersenyum lalu berusaha membuang reaksi wajahnya yang juga dirasa cukup menggelikan.


"Bukan karena kau bilang aku terlihat keren. Tapi..., istriku...? Kau benar, dia sudah menjadi istriku sekarang. Aku hanya senang karena kau sudah mulai terbiasa menyebutnya seperti itu, pertahankan itu Mickey" perintah Rayn lalu berbalik kembali melanjutkan langkahnya untuk kembali ke kamar.


"Waaah, seperti inikah perasaan dan tingkah para pengantin baru" gerutu Mikcey lirih lalu tersenyum.


Wanita itu tiba-tiba panik dan berusaha merapikan rambutnya. Sementara suaminya sibuk mencari kartu kunci dan berkata "Maafkan aku sayang yang terlalu bersemangat karena ini perayaan 100 hari malam pertama kita" ucapnya sembari membuka pintu kamar hotelnya lalu masuk.


Rayn terdiam menelan salivanya melihat kemesraan pasangan itu. Mickey sontak kembali mengacungkan kartu kunci kamar hotel yang sudah ia pesan kepada Rayn.


"Mereka saja sampai harus merayakan 100 hari malam pertama meraka, lalu bagaimana dengan malam pertamamu? Apa kau yakin bisa menahannya dan menolak ini?" tanya Mickey memainkan kartu kunci kamar hotel semakin menggoda untuk membuat goyah Rayn akan keputusannya.


Rayn mengulurkan tangannya, ia membalikkan telapak tangannya memberi isyarat kepada Mickey untuk melempar kartu kunci itu kepadanya.


"Haha, ini baru pilihan yang benar. Aku yakin kau memang tidak akan bisa menahannya Rayn" ucap Mickey tersenyum penuh kemenangan sembari melempar kartu kunci ditangannya kepada Rayn.


Rayn menerimanya lalu berdiri di depan pintu kamar sepasang suami istri tadi lalu mengetuk pintu kamar hotel itu. Seorang pria keluar dan Rayn segera mengambil langkah mundur.


"Ada apa?" tanya pria itu.


Rayn mengacungkan kartu kunci kamar hotel kepada pria itu dengan raut wajah seperti seorang jutawan yang ingin membuang-buang uang. "Hadiah 100 hari malam pertama kalian, sekaligus menjadi hadiah 100 hari pernikahan kalian" ucap Rayn dengan tersenyum.


Pria itu tampak bingung melihat kartu kunci sebuah kamar Presidential Suite yang ditawarkan Rayn kepadanya. Rayn melempar kembali kartu kunci itu kepada Mickey.


"Berikan kepadanya sebagai hadiah" ucap Rayn yang meminta Mickey menyerahkan kunci kamar kepada pria itu karena dirinya tidak bisa melakukannya.


"Semoga hadiah ini menambah kenangan indah malam kalian" ucap Rayn lalu sedikit menggeser kepalanya melihat ke dalam kamar hotel pasangan itu.


Rayn melihat pasangan wanita pria itu berdiri memandang keluar dengan piyama yang terpakai tidak rapi dan sedikit terbuka. Rayn lalu kembali memandang pria itu. "Dan selamat menikmati kegiatan malam kalian berdua" lanjut ucapnya kepada pria itu.

__ADS_1


Rayn lalu pamit pergi begitu saja, senyum diwajahnya seketika berubah kembali menjadi raut wajah datar dan ia meninggalkan Mickey begitu saja yang masih harus tersenyum canggung kepada pria di depannya.


"Aissttt, dasar bocah itu" keluh Mickey dalam hati melihat punggung Rayn yang menghilang di koridor.


Mickey memberikan kunci kamar hotel yang seharusnya menjadi hadiah pernikahan Rayn dan Lusia kepada pasangan suami istri itu. Mickey mengatakan jika mereka bisa pindah ke kamar hotel yang lebih besar, mewah dan juga sangat romantis secara gratis. Meskipun awalnya mereka tidak mengerti kenapa mendapatkan hadiah itu, tapi pasangan suami istri muda itu menerimanya dengan senang hati dan sangat berterima kasih.


...***...


Sesampai dikamar hotelnya, Rayn membuka ponselnya setelah mendengar notifikasi pesan masuk. Terlihat sebuah pesan dari Lusia dan Rayn segera membukanya.


- Lusia [ Maafkan aku dan terima kasih Rayn ]


Perlahan-lahan seulas senyum mulai tersungging di bibir Rayn saat membaca pesan Lusia, Lusia memberikan emoji mata berkaca-kaca dan diakhiri dengan emoji sebuah kecupan. Rayn lalu menatap 2 tiket pesawat yang ada dimeja. Ia memotret dan mengirimnya kepada Lusia.


- Rayn [Jangan meminta maaf dan jangan khawatirkan aku, aku sudah menyiapkan 2 tiket untuk kita berlibur ke Vancouver sebelum kembali pulang ]


Rayn sudah memiliki rencana sendiri, ia mengatur jadual liburan khusus dengan Lusia ke Vancouver selama 4 hari. Keberangkatan mereka di hari yang sama dengan kepulangan ibu dan adik Lusia, artinya meraka akan memilliki penerbangan berbeda dengan tujuan yang juga berbeda.


Lusia terkejut melihat tiket yang Rayn kirim kepadanya. Lusia tadinya mengira jika mereka akan kembali pulang bersama dengan ibu dan adiknya, tapi ternyata Rayn memiliki rencananya sendiri.


- Rayn [ Apa kau setuju? Aku bisa membatalkannya jika kau ingin kita kembali pulang besama ibumu ]


- Lusia [ Kenapa aku tidak setuju disaat kau sudah menyiapkannya. Tentu saja aku juga akan mengikuti setiap keputusan suamiku ]


Rayn kembali tersenyum tersipu malu. "Su....a....mi....?" ucap Rayn berbicara sendiri. "Suami, ya suami" lanjut ucapnya dengan senyum-senyum malu sendiri.


Rayn tampak sangat bahagia melihat Lusia memanggilnya dengan sebutan suami. Ia lalu kembali memandang 2 tiket yang sudah ia siapkan.


"Akan sulit bagiku menahannya jika dia terus memancingku seperti ini. Wahhhh ini adalah ujian yang sangan sulit" ucap Rayn merasakan hatinya yang tak berdaya.


Rayn menepuk kedua pipinya untuk sadar. "Tidak Rayn, kau bisa melakukannya. Malam pertama tidak harus selalu benar-benar dimalam pertama" lanjut ucapnya sambil menggeleng berulang kali.


Rayn lalu pergi membuka kulkas. Ia meraih sebotol air mineral dan meneguknya tanpa henti layaknya seorang pria yang benar-benar sedang kehausan. "Ya, tentu saja aku bisa menahannya."


Malam semakin larut, diluar hujan gerimis turun mengguyur kota Quebeq. Rayn masih terjaga, sepertinya ia mungkin tidak akan bisa tidur malam ini.


"Tidak hanya Lusia, alam pun sepertinya juga sedang menguji dan memancingku. Kenapa harus turun hujan malam ini ? Membuatku semakin sulit bertahan" ucap Rayn bertopang sembari merebahkan tubuhnya di sofa, dengan wajah setengah kesal ia menatap ke arah kaca jendela dimana tirai jendela masih ia buka.


Sungguh ironis, ia tampak seperti pengantin pria yang ditinggalkan oleh pengantin wanita di malam pertamanya.



Tidak hanya Rayn, Lusia ternyata juga masih belum tidur. Ia berdiri memandang gerimis hujan dari balik kaca jendela. Lusia pun tampaknya juga masih belum bisa memejamkan matanya. Takdir benar-benar telah mengikat keduanya hingga terjaga bersama.



"Apakah ini wujud dari cinta ? Bagaimana bisa aku sudah sangat merindukannya sementara belum satu hari aku berpisah dengannya" batin Lusia dalam hati.


.


.


.

__ADS_1


*** To Be Continued ***


__ADS_2