
Rayn sangat terkejut dan terdiam melihat apa yang terjadi didepan matanya, seketika membuat semua serasa menjadi hening. Tidak ada suara apapun yang terdengar olehnya kecuali suara dirinya sendiri dengan terbata sedang memanggil nama istrinya.
"Lu...si..a...." Nama ini yang diucapkan Rayn disertai raut wajah panik.
Tidak ingin mempercayainya namun peristiwa itu nyata terjadi. Dengan langkah kaki yang berat, Rayn berjalan menghampiri mobil yang sudah berada dalam posisi terbalik itu. Sebuah mobil sedan merah dimana istrinya masih berada didalam.
Semua hanyalah mimpi, itulah yang ingin Rayn. Peristiwa itu terjadi saat rayn tengah berbicara dalam panggilan telepon dengan istrinya. Bahkan dengan jelas istrinya meminta Rayn untuk menunggunya. Bahkan panggilan itu pun masih terhubung. Akan tetapi, Rayn sudah tidak lagi bisa mendengar suara istrinya setelah suara riuh yang memecahkan telinga.
Orang-orang mulai berdatangan memastikan apa yang sedang terjadi. Semua mata tertuju pada dua korban yang masih terjebak didalam mobil. Kejadian itu membuat semua mata yang ada di sana menjadi tercengang.
"Apa wanita itu masih hidup?"
"Cepat cari pertolongan, panggil ambulans..!!"
"Kasihan sekali, wanita yang malang"
Suara-suara itu memenuhi isi kepala Rayn. Melihat begitu banyak orang berkerumun membuat Rayn merasa sulit untuk bernafas. Rayn meremas dadanya yang mulai merasakan sesak yang menyiksa. Keringat Rayn mulai bercucuran, ia menjadi lemas kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya.
"Lusia.." ucap Rayn lalu tidak bisa menahan tubuhnya dan jatuh terduduk.
Dengan sekuat tenaga Rayn berusaha untuk kembali bangkit, ia harus menyelamatkan istrinya. Rayn kembali berjalan mendekat pada mobil. Rayn melihatnya, dibalik kaca mobil itu Rayn melihat istrinya tidak sadar. Dengan panik, Rayn meraih handle pintu mobil mencoba untuk membukanya. Berulang kali Rayn berusaha mendobrak memukul kaca mobil.
"Lusia bertahanlah, aku mohon bertahanlah Lusia, aku mohon" teriak Rayn dengan terus mencoba menyelematkan istrinya.
"Ibu..., ibu buka matamu ibu. Ibu...." suara jerit tangis dirinya dimasa lalu itu muncul mempengaruhi pikirannya. Tubuh Rayn seketika tidak mau bergerak sesuai intruksinya.
"Ada apa denganku?" tanya Rayn tiba-tiba kembali mengingat malam dimana kecelakaan yang dialaminya dengan sang ibu.
__ADS_1
Rayn berusaha untuk mendapatkan kesadarannya kembali. "Lusia, aku mohon" ucap Rayn berusaha kembali membuka pintu mobil. Namun lagi-lagi ingatan tragis kematian ibunya kembali mengusik dan melemahkannya. Apa yang terjadi saat ini dengan Lusia sama persis seperti apa yang terjadi dengan ibunya belasan tahun lalu.
Tubuh Rayn tiba-tiba gemetar ia merasa seperti tercekik dan sesak. Rayn berusaha menahan tubuhnya dengan menopang pada body mobil.
"Ibu... Ibu,,,," Rayn kembali mendengar suara kecil dirinya lebih nyata.
Rayn bahkan melihat sosok dirinya sewaktu kecil saat ini sedang memukul kaca mobil Lusia dengan menangis. Anak kecil itu berjalan ke sana kemari meminta kepada semua orang yang berdiri di sana untuk menyelematkan ibunya. Anak itu menarik jaket Rayn dan meminta nya untuk menyelamatkan ibunya.
"Tuan, selamatkan ibuku didalam Tuan." Air mata Rayn mengalir melihat halusinasi yang hanya dirinya seorang diri melihatnya.
Semua ingatan seolah meledak bercampur menjadi satu dalam kepala Rayn. Kenangan malam itu melemahkan dirinya, sementara sosok Lusia didalam sana mendorong dirinya untuk melawan phobia nya. Memory indah dengan istrinya membuat Rayn bisa lebih kuat.
Kenangan dimana Lusia mengatakan cinta kepadanya. "Aku sangat mencintaimumu Rayn"
Kenangan dimana Lusia memeluknya dirinya saat terpuruk "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu"
Kenangan dimana Lusia menyerahkan dirinya seutuhnya kepada dirinya "Aku hanya satu milikmu"
"Rayn terimalah uluran tanganku"
"Hai, ada apa denganmu?" Terdengar suara seorang pria mendorong Rayn menyingkir karena menghalanginya yang hendak menyelamatkan Lusia.
Rayn berusaha melawan phobia yang menyerang, menyiksanya dan mengacaukan pikiran. Dirinya harus menyelamatkan Lusia, istrinya. Rayn tidak akan membiarkan Lusia berakhir seperti ibunya.
Rayn bangun, ia melihat diantara kerumunan seorang pelajar membawa gitar di punggungnya. Rayn menghampirinya dan meminta pelajar itu untuk memberikan gitarnya kepada dirinya. Pelajar itu segera melepas tas gitarnya dan memberikan kepada Rayn.
Rayn menyingkirkan pria tadi lalu menghantamkan gitar pelajar itu pada kaca mobil untuk memecahkannya. "Lusia, aku mohon bertahanlah" ucap Rayn memukulkan gitar itu berulang kali hingga akhirnya kaca mobil pecah.
__ADS_1
Rayn segera membuka pintu mobil dengan memasukkan tangannya. Pintu mobil terbuka, Rayn dibantu orang-orang yang ada di sana mengeluarkan tubuh Lusia dari dalam mobil. Mereka juga mengeluarkan pengemudi yang sadar meskipun memiliki luka dibeberapa tubuhnya.
"Lusia... " panggil Rayn memeluk tubuh istrinya dengan menangis.
Mobil Arka datang bersamaan dengan mobil ambulans di tempat kejadian. Petugas medis segera mengangkat tubuh Lusia ke dalam mobil memberikan pertolongan pertama lalu membawanya ke rumah sakit.
Mengingat kondisi phobia Rayn, Arka meminta Rayn untuk masuk ke dalam mobilnya mengikuti ambulans. Tanpa kata Rayn mengabaikan Arka dan langsung ikut masuk ke dalam ambulans. Arka pun sontak meninggalkan mobilnya dan ikut Rayn masuk ke dalam ambulans.
Di dalam mobil Rayn terus menggenggam tangan istrinya. Rayn meminta petugas medis untuk menyelamatkan istrinya. Arka terkejut melihat Rayn yang selama ini tidak bisa menerima sentuhan tampak baik-baik saja berada diantara mereka.
Sesampai di rumah sakit, seorang pada dokter sudah menunggu mereka. Lusia langsung di bawa ke unit gawat darurat untuk mendapat penanganan medis. Rayn meraih jubah salah seorang dokter dan memohon kepadanya. "Saya mohon selamatkan istri saya" pinta Rayn.
Dokter menepuk bahu Rayn, ia meminta Rayn untuk menunggu dan berdoa. Rayn menyandarkan tubuhnya pada dinding menunggu para dokter yang sedang melakukan pertolongan pada istrinya.
Rayn melangkah dengan langkah kaki yang berat, menatap pintu ruang medis dengan tatapan kosong. Di balik pintu itu, para Dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan istrinya tercinta. Ryan memejamkan matanya bersamaan dengan ia menjatuhkan air matanya kembali.
"Rayn..."
Panggil Leona yang datang bersama dengan Mickey. Rayn membuka matanya menoleh memandang mereka yang berjalan ke arahnya. "Selamatkan dia" ucap Rayn dengan nada suara lemah lalu jatuh tidak sadarkan diri.
Mickey segera berlari menghampiri Rayn, Leona meminta bantuan untuk membawa Rayn ke ruang perawatan. Rayn telah mencapai batas kemampuannya untuk bertahan.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***