
Hingga saat ini, Kelvin sendiri pun tidak tahu kebenaran seperti apa yang sebenarnya terjadi. Namun, saat ia mencoba menyelidiki kasus ini, ia yakin jika almarhum pamannya juga terlibat. Ia banyak menemukan kejanggalan yang mengarah jika pamannya adalah orang yang seharusnya bertanggung jawab atas peristiwa itu.
Untuk mengungkap kebenaran, Kelvin hanya bisa mengharapkan bukti yang dimiliki Ayah Lusia. Meskipun hingga saat ini belum ada petunjuk bukti seperti apa yang dimiliki ayah Lusia, bahkan apakah bukti itu benat-benar ada atau hanya omong kosong belaka. Kelvin akan terus mempercayai apa yang ingin ia percayai jika ayah Lusia hanyalah korban.
Kasus ini tidaklah mudah karena kondisi ayah Lusia yang tidak stabil serta sang paman yang ia duga pelaku utama telah meninggal dunia. Ia akan terus berusaha mencari dan menemukan kebenarannya, demi orang-orang yang telah tersakiti dan menjadi korban atas peristiwa mengerikan itu.
Saat ini Lusia telah tahu apa yang terjadi dengan ayahnya. Kelvin mengambil nafas dalam dan menghela nya perhalan. Hari ini telah menjadi hari yang sulit untuk semua. Hari ini pasti akan tiba dan ia masih tidak tahu bagaimana dirinya harus menghadapi Lusia. Kelvin sadar jika dirinya juga menjadi bagian dari orang yang telah melukai Lusia. Menutupi kebenaran yang sebenarnya dan berbohong sepanjang tahun bukanlah hal yang mudah dimaafkan.
Setelah mendapat perawatan, Lusia akhirnya mendapatkan kesadarannya kembali. Rayn sudah berencana akan membawa Lusia pulang untuk mendapatkan perawatan lebih dari dokter pribadinya. Namun, Lusia menolak untuk langsung pulang karena ia merasa masih harus kembali bertemu dengan Kelvin untuk mendapatkan jawabannya.
"Aku mencemaskanmu, tunggu kondisimu sampai benar membaik lalu kita akan membahasnya lagi" pinta Rayn yang sangat megkhawatirkan Lusia.
Dengan tubuh yang masih lemah, Lusia berusaha bangun dari ranjang. "Aku harus menemui Kelvin dan juga harus menemui ayahku. Aku tidak bisa pergi begitu saja Rayn" ucap Lusia dengan suara yang masih terdengar lemah.
Ditengah upayanya untuk menemui Kelvin, Kelvin sudah lebih dulu datang menemuinya. Kelvin berdiri tepat didepan pintu menatap ke arah Lusia. Kelvin sangat mengkhawatirkan kondisi Lusia. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya.
__ADS_1
Kelvin tidak mengambil langkah untuk lebih dekat karena disana ada Rayn. Lusia meminta Kelvin untuk duduk diranjang tepat disebelahnya. Lusia tahu jika itu tentu saja akan membuat Rayn merasa tidak nyaman, karena itu Lusia mempersilahkan Rayn untuk mencari udara di luar.
Rayn sadar akan kelemahannya dan ia tidak bisa berbuat apa-apa dengan itu. Dengan berat hati ia memberi Lusia waktu untuk berbicara dengan Kelvin. "Aku tidak akan pergi kemana-mana, aku akan menunggumu diluar" ucap Rayn lalu pamit keluar meninggalkan mereka.
Lusia menatap punggung Rayn dengan perasaan penuh rasa bersalah. Lusia sadar jika saat ini dirinya telah egois kepada Rayn, ia telah mengabaikan perasaan Rayn yang sangat mengkhawatirkan dirinya. Lusia ingin mengucap maaf tapi ia menahannya karena dirinya tidak ingin jika maaf itu hanya akan berakhir sebagai kata saja.
Kelvin pun masuk dan ia duduk diranjang tepat disamping Lusia. "Bagaimana kondisimu? Apa kau baik-baik saja?" tanya Kelvin untuk yang kedua kalinya. Lusia menjawab dengan gumaman yang lalu diikuti perasaan lega Kelvin.
"Jika kau mengenalnya semenjak ayahku masih bekerja di Perusahaan ayahmu, apa itu artinya kau juga sudah mengenalku saat itu ?" tanya Lusia yang tidak ingin membuang waktu hanya untuk berbasa-basi saja.
Tidak bisa dipungkiri jika apa yang dikatakan Lusia benar, Kelvin sudah mengenal Lusia jauh sebelum Lusia menyadari dan mengakui keberadaan dirinya. Kelvin hanya berguman dan menunduk yang sama artinya dengan memberi jawaban jika itu benar adanya.
"Saat itu aku terlalu kecil dan masih belum mengerti apapun, tapi aku selalu mempercayai ayahmu sejak aku mengenalnya dan juga sampai saat ini." ucap Kelvin.
Kelvin mulai menceritakan apa yang ia ketahui, termasuk pertemuan pertamanya dengan ayah Lusia. Ayah Lusia selalu memperlakukan dirinya dengan baik setiap kali bertemu. Meskipun mereka bertemu setiap kali ayah Lusia memiliki urusan bisnis dengan ayahnya, namun ayah Lusia selalu menyempatkan diri bertemu Kelvin. Ayah Lusia banyak menghibur dirinya dan memberinya nasihat setiap kali berbuat salah.
__ADS_1
Kelvin tidak pernah bertemu lagi semenjak peristawa runtuh itu terjadi. Terakhir kali ia hanya tahu jika ayah Lusia menguhungi ayahnya. Kelvin berusaha mendapatkan informasi tentang ayah Lusia disetiap permbicaraan ayahnya bersama para tamu yang datang menemui ayahnya. Hingga akhirnya ia tahu ayah Lusia dirawat disebuah panti.
Kelvin meminta ayahnya untuk membawa dirinya saat sang ayah berkunjung ke panti. Sungguh menyakitkan hatinya saat melihat ayah Lusia duduk di kursi roda dengan kondisi yang memprihatinkan. Saat Kelvin bertemu ayah Lusia tampak begitu tenang namun ia kesulitan mengingat kejadian itu karena trauma berat yang ia miliki.
"Saat aku bertemu dengan ayahmu lagi, dia berkata kepadaku dengan menagis jika ia sangat merindukan keluarga kecilnya. Bahkan ia berkata ingin memperkenalkanmu denganku, tapi masalah itu terjadi dan bahkam ia sendiri tidak bisa menemui putrinya. Ayahmu bahkan menunjukkan kepadaku fotomu yang ia simpan dibalik bantalnya. Aku ingin berbicara lebih tapi sayangnya kondis mental ayahmu tiba-tiba memburuk karena emosional yang berlebihan." jelas Kelvin.
"Lalu, bagaimana dan kapan kali pertama kita bertemu? Aku yakin kau orang yang bisa menjawabnnya." tanya Lusia.
Kelvin menoleh menatap lekat Lusia. Tentu saja, bahkan Kelvin masih mengingat jelas apa yang diucapkan Lusia kali pertama mereka bertemu. Saat itu Lusia menanyakan apa yang juga ingin Kelvin tanyakan kepada Lusia.
"Apa kau baik-baik saja?" jawab Kelvin dalam hati. "Itulah pertanyaan yang pertama kali aku dengar darimu" lanjut ucapnya dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
*** To Be Continued ***