
Lusia duduk termenung diatas kursi roda menatap cahaya matahari yang menembus sela-sela tirai ruang rawat inap tempatnya di rawat saat ini. Suara pintu terbuka diikuti suara Reisa yang menyapa membuat Lusia menoleh dan berbalik. Reisa datang dengan membawakan bunga baru nan cantik dan segar untuknya. Reisa meraih vas bunga yang masih berisi bunga layu hendak menggantinya dengan bunga yang baru ia bawa.
"Biarkan bunga itu tetap disana" ucap Lusia.
Bunga yang telah layu itu adalah bunga terakhir yang dibawakan Rayn untuknya. Reisa mengeluh, ia merasa jika dirinya harus menggantinya dengan bunga yang segar namun Lusia tetap menolak. Lusia mendekatkan kursi rodanya pada vas bunga itu, ia memotretnya lalu mengirimnya kepada Rayn.
📷... Mengirim Gambar
📨... [ Dia sangat tahu bagaimana perasaanku yang masih menunggumu ] - pesan untuk Ryan.
Lusia tahu jika pesan itu tidak akan terkirim kepada Rayn karena nomor Rayn sudah nonaktikan. Meskipun begitu, Lusia tidak pernah berhenti atau pun menyerah, ia terus mengirim pesan tentang semua yang ada dipikiran dan ingin ia sampaikan kepada Rayn. Semua aktivitas yang ia lakukan, semua yang ia rasakan dan setiap perkembangan pemulihannya ia laporkan kepada Rayn.
Tidak hanya sampai disitu, masih seperti pasangan kekasih yang menjalin kasih, Lusia juga menanyakan bagaimana kabar Rayn dan tentang apa yang sedang dilakukan Rayn disana. Namun yang berbeda dari pasangan lain, semua itu hanya dilakukan sebelah pihak dimana pesan-pesan itu tidak sampai pada Rayn.
Melihat apa yang dilakukan Lusia membuat hati Reisa ikut bersedih. Ia memeluk Lusia dari belakang dan memberinya semangat. Reisa meminta Lusia untuk selalu berpikir positif dan fokus dengan pemulihan lukanya.
Tidak selang lama Kelvin datang memasuki ruang rawat inap Lusia. Ia membawakan Lusia bubur buatannya sendiri. Kelvin membantu Lusia untuk kembali duduk diatas ranjang dan menyiapkan sarapan untuk Lusia. Kelvin membantu Lusia untuk menyelesaikan sarapannya dengan hendak menyuapinya.
"Aku bisa melakukannya sendiri" tolak Lusia meraih sendok yang sudah berisi bubur dari tangan Kelvin.
"Aku bisa membantumu, jangan sungkan" sahut Kelvin.
"Mungkin aku lemah tapi aku masih bisa melakukaknnya dan aku tidak ingin merepotkanmu" jawab Lusia.
"Itu tidak merepot.." sahut Kelvin, namun belum sampai ia menyelesaikan ucapannya sudah di potong Lusia.
"Tapi itu menjadi beban untukku" potong Lusia. "Perlakukan aku seperti biasanya, aku mohon" lanjut ucap Lusia lirih.
Lusia sangat menghargai setiap perhatian Kelvin untukknya. Namun mengingat semua itu didasari oleh perasaan Kelvin terhadapnya, Lusia tidak ingin perasaan itu menjadi semakin dalam. Lusia yakin jika dirinya tidak akan pernah goyah, tapi akan tetap berkahir menjadi luka bagi Kelvin.
Kelvin terdiam, ia menyadari sikap Lusia yang terlihat menjaga jarak dengannya. Kelvin mengakui, bagaimanapun juga dirinya tidak akan pernah mendapatkan tempat spesial ataupun bisa menggantikan posisi Rayn di hati Lusia.
Reisa pun hanya bisa diam, ia tidak bisa berbuat banyak jika sudah menyangkut soal perasaan. Reisa memberi kode kepada Kelvin untuk tidak melanjukannya dan mengikuti kemauan Lusia.
Saat ini Lusia sedang dalam kondisi tidak labil karena Rayn yang tiba-tiba menghilang begitu saja. Bagi Reisa, kesembuhan Lusia adalah yang terpenting dari segalanya.
Hal itu membuat Kelvin kembali sadar dengan apa yang dikatakan Rayn terhadapnya waktu itu.
"Bahkan dia masih berjuang di dalam sana untuk tetap bisa bertahan hidup, apakah penting untukmu membahas hal ini?"
Mengingat perkataan Rayn waktu itu membuat Kelvin semakin merasa dirinya begitu buruk dan egois.
Usai menyelesaikan sarapannya, Reisa pamit pergi karena harus bekerja, ia menitipkan Lusia kepada Kelvin. Kelvin mengajak Lusia untuk menikmati cahaya pagi di taman Rumah Sakit. Kelvin membantu mendorong kursi roda Lusia pergi ke luar ruangan. Sampai di taman Rumah Sakit, ia duduk disalah satu bangku taman sementara Lusia tetep berada di kursi rodanya.
"Tentang ucapanku tadi, aku minta maaf" ucap Lusia.
__ADS_1
"Kau tidak perlu meminta maaf karena aku yang seharusnya meminta maaf. Aku hanya mengkhawatirkanmu" sahut Kelvin.
"Aku mengerti dan aku harap kedepannya kau juga akan selalu mengerti jika aku... " ucap Lusia tertahan.
"Lusia, apa yang kau khawatirkan? Aku baik-baik saja dan jangan khawatirkan perasaanku, aku akan mengaturnya sendiri. Saat ini fokuslah dengan pengobatanmu" ucap Kelvin tersnyum.
Lusia membalasnya dengan senyuman dan mengangguk. Meskipun Kelvin merasakan kehancuran dalam hatinya, namun ia berusahan menahan itu di balik senyumnya. Keduanya lalu saling berbincang dan memiliki obrolan kecil.
.
.
.
Memasuki jam istirahannya, Reisa dan David pergi makan bersama di sebuah Cafe. Reisa sama sekali tidak menyentuh makanan yang sudah dipesankan David untuknya. Ia hanya terus menyeruput Jus Alpukat tanpa henti dan sesekali melamun.
David meraih makanan yang sedang terabaikan itu, ia menyendoknya lalu meminta Reisa untuk membuka mulutnya. Reisa seketika sadar dari lamunananya dan membuka mulutnya menerima suapan dari David.
"Aku tidak ingin jika kau juga menjadi sakit, jadi jangan mengabaikan makananmu" perintah David.
Reisa sangat khawatir dengan hubungan Lusia dan Rayn. Ia ingin berbuat seuatu tapi tidak tahu harus berbuat apa untuk bisa membantu Lusia. Selama ini Rayn adalah orang yang selalu bersama dengan Lusia, ia juga orang yang sudah berhasil menyentuh hati sahabatnya itu.
"Apa yang harus aku lakukan untuk Lusia. Apa kita perlu pergi ke Canada untuk mencari Rayn?" tanya Reisa dengan tatapan serius.
Reisa mengeluh kepada David jika ia tidak mengerti dengan keputusan Rayn. Selama Lusia masih dalam keadaan koma, Rayn tidak pernah sekalipun meninggalkan Lusia, ia selalu menjaga Lusia bahkan sampai tidak peduli dengan kesehatannya sendiri. Kini, disaat Lusia sudah membuka matanya tapi Rayn malah menghilang dan meninggalkan Lusia begitu saja.
"Untuk kondisinya, aku bisa memahaminya" sahut David.
"Apa maksudmu kau setuju dengan keputusan dan sikapnya?" tanya Reisa kesal. "Jika itu diriku, apa kau juga akan melakukan hal yang sama?" lanjut tanyanya.
"Jangan selalu menempatkan orang lain dalam posisimu, tapi cobalah untuk menempatkan dirimu pada posisi mereka. Situasi yang dihadapi Rayn saat ini seperti dirinya sedang diminta untuk memimpin perang tanpa memiliki senjata" jelas David.
"Aku tidak mengerti" sahut Reisa bingung apa hubungan perumpaan itu dengan kondisi Rayn.
David menjelaskan bukan untuk membela Rayn. Ia menegaskan maksud dari perumpamaan itu jika saat ini Rayn pun juga berada dalam posisi yang sulit untuk memilih. Akan menjadi egois jika dia tetap mengambil posisi pemimpin perang sementara tahu tidak memiliki senjata untuk melindungi anak buahnya. Namun akan akan lebih egois lagi jika dia langsung menolak dan meninggalkan anak buahnya begitu saja untuk berjuang sendiri disaat mereka dalam keputusasaan.
"Apa maksudmu ini ada hubungan dengan phobianya? Ia meninggalkan Lusia karena merasa tidak mampu melindunginya?" ujar Reisa yang mulai paham dengan ucapan David. "Tapi tetap saja dia tidak bisa pergi begitu saja tanpa mengkonfirmasi apapun" lanjut keluh Reisa.
"Apa menurutmu Lusia akan menerima alasan itu, tidak akan Reisa" sahut David.
Keputusan Rayn mungkin akan dianggap egois, tapi mereka perlu memikirkan dan menempatkan dirinya pada posisi itu. Pasti juga akan sulit untuk mengambil keputusan, hanya pillihan yang dianggap tidak akan merugikanlah yang akan dipilih meskipun itu bukan yang terbaik.
.
.
__ADS_1
.
Sinar matahari mulai meredup dilangit barat, Lusia kembali termenung menatap warna langit yang berubah menjadi merah jingga. Kini sinar matahari itu perlahan beranjak menghilang berganti dengan redupnya malam di bawah sinar rembulan.
Lusia menatap tumpukan buku dongeng yang ditinggalkan Rayn di Rumah Sakit. Ia meraihnya lalu tersenyum saat membaca judul dari buku-buku dongeng itu, mengingat betapa menggemaskannya pria yang ia cintai sangat hobby membaca buku dongeng layaknya anak kecil. Mata Lusia tertarik pada satu buku berjudul Little Mermaid.
Lusia membalik halaman demi halaman buku itu dan membacanya, sesekali senyum kecil terurai dibibirnya pada setiap bagian yang dirasanya memiliki momen begitu manis. Namun tiba-tiba senyum itu berubah, ia pun mengerutkan kening melihat coretan tulisan Rayn. Rayn menulisnya saat ia menjaga Lusia yang sedang koma saat itu.
📝... [ Aku tidak mengerti kenapa buku ini sangat diminati. Aku tidak pernah menyukainya karena itu aku tidak membacanya. Tapi, tidak kusangka jika kini aku sudah sampai pada halamat ini ]
Usai membacanya, Lusia dengan cepat membalik ke halaman berikutnya dan ia kembali menemukan coretan tulisan Rayn.
📝... [ Inilah kenapa aku tidak menyukainya, berbeda dengan dongeng lain, mereka tidak memiliki akhir yang bahagia ]
Lusia membalik lagi dan lagi hingga ia berakhir pada halaman dimana terdapat coretan tulisan tangan Rayn paling terakhir. Halaman itu juga menjadi halaman terakhir dari buku Little Mermaid. Lusia lanjut membacanya dengan gugup.
Sebuah bagian yang menceritakan tentang pengorbanan yang dilakukan Little Mermaid. Pengorbanannya yang memilih untuk melindungi Pangeran yang sangat dicintainya dengan menghilang menjadi buih di lautan. Sebuah kisah tragis dan penuh haru dimana Little Mermaid dan Pangeran tidak berakhir bersama, mereka tidak memiliki akhir bahagia.
Lusia mulai menitihkan air matanya, air mata itu jatuh membasahi lembaran buku dongeng ketika ia sampai pada tulisan Rayn.
📝... [ Apa ini juga akan menjadi akhir dari kisah kita? Seperti kisah Little Mermaid. Tapi aku tidak ingin dan tidak akan rela jika kau yang berkahir menjadi buih. Aku orang yang sangat mencintaimu, maka akulah orang yang layak menghilang dan menjadi buih]
Tangis Lusia pecah saat ia membaca kalimat terakhir itu, rasanya bagai pisau yang menghujam ke hatinya. Tubuh Lusia semakin lemas dan ia menangis tersedu-sedu sembari memeluk buku dongeng berjudul Little Mermaid itu.
.
.
.
*** To Be Continued ***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆
__ADS_1