Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 115 - Bersamamu Seperti Ini


__ADS_3

Lusia kembali lanjut untuk mencari Rayn, satu tempat yang belum ia tuju adalah ruang melukis Rayn. Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Lusia langsung menekan sandi untuk masuk.


Sandi terverifikasi dan pintu pun ia buka. Lusia berdiri terdiam diambang pintu setelah membukanya. Dengan nafas yang tidak beraturan, mata yang masih berkaca-kaca, ia mulai merasa lega setelah melihat sosok pria yang ia cintai duduk di sana dengan kuas lukis ditangannya.


Rayn menghentikan aktivitasnya saat mendengar adanya seseorang yang menekan sandi ruangannya. Ia pun menolah dan terkejut melihat kehadiran Lusia yang terlihat sangat kacau.


"Ada apa denganmu Lusia?" tanya Rayn.


Rayn segera meletakkan alat lukis ditangannya, ia bangkit dari duduknya menghampiri Lusia. Kini Rayn yang menjadi lebih cemas setelah melihat Lusia masuk dalam kondisi basah kuyup, nafas terengah-engah dengan tatapan penuh kecemasan.


Tanpa menjawab pertanyaan Rayn, Lusia langsung berlari menghampiri Rayn dan memeluk erat tubuh pria itu. Ia menyandarkan kepalanya di dada Rayn dan tangisnya pun kembali pecah.


"Syukurlah..." ucapnya terbata-bata.


Rayn tampak terkejut dengan sikap Lusia yang tiba-tiba memeluk dirinya sambil menangis. Ia pun perlahan membalas pelukan Lusia dan mencoba untuk menenangkannya.


"Apa kau tahu betapa khawatirnya diriku? Aku sangat takut tidak bisa melihatmu lagi, aku takut kau...." ucap Lusia terhenti karena isakannya.


Lusia masih menangis dan berbicara tanpa memandang wajah Rayn. Ia masih memeluk tubuh kekasihnya begitu erat. Lusia sangat bersyukur karena Rayn terlihat baik-baik saja.


Rayn perlahan mecoba melepaskan pelukan Lusia, namun Lusia enggan melepasnya. Rayn masih tidak mengerti apa yang terjadi dengan Lusia tapi ia takut jika Lusia akan masuk angin karena tubuh Lusia yang basah kuyup. Dengan terpaksa Rayn membiarkan Lusia memeluknya sebentar lagi sampai dia bisa lebih tenang.


Setelah Lusia lebih tenang, Rayn pergi ke kamarnya untuk mengambil handuk. Ia lalu kembali dan perlahan menyeka wajah dan rambut Lusia yang basah.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau basah kuyup?" tanya Rayn cemas. Tangannya masih sambil menyeka dengan lembut.


"Kau baik-baik saja?" tanya Lusia.


"Aku baik-baik saja" jawab Rayn. "Pergilah membersihkan diri dengan air hangat sebelum kau masuk angin. Aku akan membuatkan minuman hangat untukmu" ucap Ryan penuh perhatian.


Lusia mengangguk lalu pergi untuk membersihkan diri, ia juga meminta Rayn mengganti pakaiannya yang terlanjur kena basah karena pelukannya tadi. Rayn meminta Lusia untuk tidak mengkhawatirkan dirinya, ia akan mengurus dirinya sendiri.


Selagi Lusia mandi, Rayn menyiapkan secangkir coklat hangat untuk Lusia. Secangkir coklat hangat yang nikmat telah Rayn siapkan, Ia lalu berdiri di depan pintu kamar Lusia tepat saat Lusia hendak membuka pintu kamarnya.


Rayn melempar senyum lalu meraih tangan Lusia dan memintanya untuk duduk di sofa yang berada dikamar Lusia. Rayn meletakkan secangkir coklat itu di tangan Lusia lalu meraih satu tangan Lusia yang lain dan membimbingnya untuk memegang cangkir itu dengan kedua tangannya.


Rayn kemudian jongkok dengan satu lutut menopang tubuhnya didepan Lusia. Ia lalu mendekap tangan Lusia yang mendekap cangkir hangat itu dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Hangatkan tanganmu seperti ini" ucap Rayn lalu menoleh dan meraih kotak P3.


Tanpa banyak kata Rayn meraih kaki Lusia, hal itu sontak membuat Lusia terkejut. Lusia bahkan mendesah sakit saat Rayn menyentuh lutut Lusia yang memiliki goresan memerah. Dengan wajah teduhnya ia perlahan mengobati luka itu dengan hati-hati dan penuh kelembutan.


"Sepertinya aku benar-benar sudah membuatmu sangat khawatir sampai kau tidak menyadari kakimu terluka" ucap Rayn masih sembari mengobati luka Lusia, ia meniupnya dengan tiupan lembut usai mengoleskan obat.


"Apa kau sudah tahu kenapa aku sekhawatir ini?" tanya Lusia.


Rayn mengangguk, ia sudah mengetahuinya saat dirinya memeriksa panggilan masuk di ponselnya. Sembari menyiapkan minuman hangat untuk Lusia tadi, Rayn menghubungi Mickey untuk mendapat penjelasan dari Mickey. Rayn menyadari jika semua ini adalah kesalahannya karena sudah meninggalkan ponselnya di kamar sehingga tidak tahu jika Lusia dan Mickey menghubunginya berulang kali.


Rayn mendongak menatap Lusia dengan tatapan penuh rasa bersalah. "Maafkan aku jika sudah membuatmu panik setelah mendapat panggilan dari Mickey. Aku tidak mengenal mereka dan aku tidak tahu siapa mereka. Dengan begitu aku sudah pasti tidak akan memiliki urusan apapun dengan mereka. Jadi, aku hanya perlu membiarkan mereka begitu saja sampai mereka pergi dengan sendirinya. Mereka mungkin hanyalah orang-orang yang tersesat dan salah arah." jelas Rayn.


Rayn meminta Lusia untuk tidak perlu khawatir lagi kedepannya karena dirinya yang memiliki phobia tidak akan sebodoh itu membukakan pintu untuk orang asing disaat dirinya seorang diri. Rayn juga menjelaskan alasan kenapa mereka tidak bisa menghubungi Arka karena tanpa sengaja Arka telah merusak ponselnya. Rayn meminta Arka pergi untuk mendapatkan ponsel baru.


Setelah mendengar penjelasan Rayn, Lusia hanya mengembuskan nafas kesal lalu menyesap coklat hangat ditangannya. "Sepertinya aku menghawatirkan orang yang salah" gumamnya berbicara sendiri.


Dibalik reaksi Lusia yang terlihat kesal, dalam lubuk hati yang paling dalam ia merasa lega. Ia telah salah, tidak  seharusnya dia menganggap Ryan akan ceroboh dan sepayah itu dalam menghadapi situasi genting.


Rayn mengatakan jika setelah kejadian ini mungkin dirinya akan lebih khawatir akan hal lain. Tentang apa yang terjadi hari ini, Rayn yakin jika Mickey akan kembali melakukan penjagaan tambahan ketat di Villa sampai mengetahui siapa orang-orang itu.


Dengan adanya penjagaan itu artinya akan membuat Rayn semakin tidak nyaman berada di Villa. Rayn tidak akan nyaman karena semakin banyak orang disekitarnya, baginya sudah cukup dengan adannya Lusia dan Arka.


Rayn tersenyum, ia bangkit dan duduk tepat disebelah Lusia lalu membaringkan tubuhnya, menyandarkan kepalanya dipangkuan Lusia sembari menyilangkan kedua tangannya. Lusia hanya bisa membiarkan pria manja itu melakukannya dan bersandar di pangkuannya.


"Aku bisa saja melarang Mickey melakukannya, tapi itu hanya akan membuat Mickey semakin cemas. Aku mungkin bisa menjaga diriku sendiri, tapi... aku tidak bisa membuatnya berhenti untuk mengkhawatirkanku. Tidak hanya diriku, aku juga berharap dia bisa tidur dengan tenang tanpa memikirkan apapun, tanpa mencemaskanku. Aku ingin dia melakukan banyak hal untuk dirinya sendiri, untuk hidupnya sendiri, bukan hanya untukku dan selalu untuk diriku" jelas Rayn.


Lusia menatap wajah Rayn, sebuah tatapan kagum kepada Rayn yang secara tidak langsung mengatakan semua kepeduliannya kepada Mickey.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Rayn melihat Lusia yang terus menatapnya.


Lusia tersenyum, ia meletakkan cangkir coklat ditangannya lalu mendekap kedua pipi Rayn. Tanpa aba-aba dia mengecup lembut bibir manis Rayn. Kecupan singkat itu membuat Rayn membulatkan matanya. Tiba-tiba? Itu yang dipikirkan Rayn setelah mendapat sentuhan manis itu.


Lusia kembali tersenyum. "Aku mulai mendapatkan jawaban akan pertanyaanku. Selama ini aku selalu bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apa yang membuatku mencintaimu. Tadinya aku pikir tidak perlu alasan untuk jatuh cinta, tapi aku yakin pasti ada sesuatu yang menggerakkan hati kita untuk membuat cinta itu ada dihati kita. Dan salah satu jawaban yang aku dapatkan saat ini adalah ketulusan hatimu yang peduli terhadap semua orang yang ada di sekitarmu" ucapnya.


"Tapi...." lanjut ucap Lusia mengerutkan keningnya.


Rayn ikut mengerutkan keningnya. "Tapi...? Masih ada kata tapi? Apa kau ingin melemparku jatuh setelah membuatku melambung tinggi dengan ucapanmu baru saja?" tanya Rayn.

__ADS_1


"Tapi....saat ini, kenapa kau tidak peduli denganku?" tanya Lusia. "Kau baru saja mengobati luka dilututku tapi setelah itu membuatnya harus menopang kepalamu" keluh Lusia.


Rayn pun tertawa, ia enggan mengangkat kepalanya. Rayn justru semakin merapatkan silang kedua tangannya dan mulai memejamkan kedua matanya. Ia semakin menyamankan posisi tubuhnya.


"Hanya sebentar saja, biarkan aku melakukannya sebentar saja. Apa kau tahu berapa banyak buku dongeng yang sudah ku baca hanya untuk bisa menunggumu pulang? Berapa banyak goresan kuas ku yang gagal hanya karena aku terus memikirkan dirimu saat tidak ada disisiku? Aku sampai mengulang membacanya dan membuang begitu banyak kertas karena coretan payahku. Jadi, kau harus bertanggung jawab dengan membiarkanku sebentar saja bersamamu... seperti ini" ucap Rayn masih dengan memejamkan matanya.


"Ah iya.... berbicara soal buku dongeng. Benar, aku melupakannya" sahut Lusia dengan wajah lesu.


Rayn membuka matanya seketika mendengar respon Lusia yang justru membahas hal lain setelah dirinya mengungkapkan perasaannya begitu panjang lebar. Lusia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, ia tidak ingin memberitahu Rayn perihal buku dongeng yang ingin ia beli untuk Rayn. Rayn hanya menghela nafas lalu menatap lekat wajah Lusia yang masih mengurai senyum kepadanya.


"Terima kasih..." ucap Rayn tiba-tiba.


"Terima kasih? Untuk... ?" tanya Lusia bingung.


"Semuanya.... " sahut Rayn mengurai senyum.


Meski Lusia tidak paham mengapa Rayn mengucapkan terima kasih terhadapnya, namun Lusia merasa senang. Begitupun yang di rasakan Rayn, ia merasa bersalah telah membuat Lusia khwatir, namun Rayn juga merasa senang karena kekhawatiran itu menunjukkan jika dirinya ada dihati dan pikiran Lusia.


"Dunia memang bisa menjadi tempat yang sulit dan membingungkan. Tapi masih ada tempat yang paling indah untukku adalah berada di dalam pikiranmu. Dan apa kau tahu, ketika aku telah menemukanmu sebagai seseorang yang spesial bagiku, hanya dengan melihatmu tersenyum pun terasa begitu nyaman. Aku pun menyadari jika kebahagiaan yang paling sempurna adalah kebahagiaan bersama orang yang sederhana, tapi memperlakukanku dengan cara istimewa. Aku bisa melihat itu dari setiap ketulusan hatimu, Lusia"


.


.


.


*** To Be Continued ***


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Silahkan klik FAVORITE untuk terus update BAB selanjutnya yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.

__ADS_1


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2