
Mereka mengatakan jika di area pertokoan souvenir di ujung jalan sana sedang terjadi perkelahian antara dua pria. Bahkan seorang pria yang berkelahi tampak dihajar habis-habisan hingga tidak bisa melawan. Tidak ada yang berani melerai karena salah satu dari mereka seperti sedang menggila. Dia memukul semua orang yang hendak melerainya.
"Tidak mungkin!" sahut Lusia.
Dengan tubuh gementar Lusia berusaha mencari gambar yang pada ponselnya. Namun karena panik, Lusia tidak segera menemukan foto yang ia cari untuk ditunjukkan kepada mereka. Melihat Lusia yang terus saja gemetar, Arka langsung meraih ponsel Lusia dan membantunya mencari. Setelah mendapatkannya, Arka segera menunjukkan pada mereka.
"Apa salah satu dari pria itu adalah orang ini?" tanya Arka usai menemukan foto Rayn pada galeri ponsel Lusia.
Mereka mengangguk membenarkannya, salah satu dari pria yang berkelahi adalah benar pria yang ada pada foto itu. Tubuh Lusia pun hampir jatuh lemas mendengarnya, namun Arka dengan sigap menopang tubuh Lusia dengan kedua tangannya. "Nyonya Lusia, biarkan saya yang pergi menemukan Tuan Muda Rayn" ucap Arka.
Lusia berusaha untuk kembali berdiri, ia langsung pergi ke tempat yang mereka katakan dengan langkah kaki yang memburu lalu berlari. Lusia langsung pergi begitu saja mengabaikan dan meninggalkan Arka, ia bahkan sampai tidak sempat mengucapkan terima kasih kepada mereka yang sudah memberinya informasi. Arka mewakili Lusia mengucapkan terima kasih dan meminta detail pasti tempat kejadiannya.
"Rayn..., tidak mungkin. Aku mohon bertahanlah Rayn" ucap Lusia dalam hati dengan terus berlari.
Sampai diarea pertokoan, langkah Lusia terhenti saat melihat begitu banyak orang yang berkumpul. Mereka semua tampak sedang mengerumuni sesuatu. Lusia segera menghampiri dan meminta minggir orang-orang yang menghalangi jalannya.
Lusia melihat Rayn dengan wajah pucat memegang dadanya menahan rasa sakit yang menyiksa. Dengan nafas yang tersengal, Rayn menyandarkan tubunya pada dinding salah satu toko. Terlihat tangan Rayn yang berdarah serta luka gores dipelipis matanya. Tepat di depan Rayn, seorang pria yang baru saja tersungkur berusaha berdiri dan berteriak mengumpat kepada Rayn.
"Jarry...?" ucap Lusia setelah melihat dengan jelas jika pria itu adalah Jarry.
Jarry mengusap darah yang ada pada bibirnya. "Pria sialan..!!' ucap Jarry berjalan ke arah Rayn dengan tangan mengepal siap untuk memukul.
"Rayn...!!!" teriak Lusia berlari menghampiri Rayn untuk melindunginya dari pukulan Jarry.
Lusia berdiri tepat didepan Rayn, ia merentangkan kedua tangannya untuk melindungi suaminya. Lusia menghadang pria itu sembari memejamkan kedua matanya.
Belum sampai pukulan itu mendarat pada tubuh Lusia, Arka yang datang dan melihatnya langsung berlari menghampiri mereka. Sembari menaikkan penutup hoodie yang ia kenakan, Arka tanpa memberi ampun langsung menghajar Jarry dengan tendangan memutar yang mendarat tepat ditubuhnya. Tendangan Arka membuat pria itu langsung kembali jatuh tersungkur.
"Maafkan saya terlambat, apa anda baik-baik saja?" tanyanya kepada Lusia. Dengan jantung yang terus berdetak dengan cepat, Lusia mengangguk.
Dengan keahlian bela diri yang dimiliki, Arka bersiap melindungi Rayn dan Lusia. Sepertinya Jarry tidak sendiri, tiba-tiba temannya berdatangan dan membantunya bangun. Mereka semua langsung menghampiri Arka yang berdiri sorang diri. Dengan wajah garang mereka bersiap untuk menghajar Arka. Dengan senyum menyungging Arka sama sekali tidak takut, ia sudah siap untuk berkelahi.
Saat teman-teman Jarry baru melangkah maju, tiba-tiba berdatangan para pria bertubuh kekar berpakaian jas hitam berbaris berdiri dengan sigap didepan Arka untuk menghadang teman-teman Jarry. Pria-pria yang datang itu adalah para bodyguard yang berkerja untuk Rayn dibawah perintah Mickey. Salah satu dari bodyguard menoleh menunduk kepada Arka, ia meminta Arka untuk memberinya wewenang melawan mereka. Arka pun mengangguk seolah memberi kode kepada mereka untuk melakukannya.
Lusia segera menghampiri Rayn. "Rayn..." panggilnya melihat tubuh suaminya yang tidak berdaya
Lusia mengulurkan tangannya untuk menanyakan kondisi Rayn. Lusia mendekap wajah Rayn yang terlihat sangat pucat dengan bulir keringat yang bercucuran. Tetapi Rayn justru menghampas tangan Lusia dan berteriak untuk tidak menyentuhnya. Lusia pun terkejut akan reaksi Rayn terhadapnya.
__ADS_1
"Rayn, ini aku Lusia, ada apa denganmu?" tanya Lusia panik dengan mata yang berkaca-kaca melihat Rayn yang tiba-tiba tidak bisa menerima sentuhan darinya.
Rayn menatap Lusia dengan tatapan sayu. "Lusia..." panggil Rayn dengan suara lemah, lalu ia jatuh tidak sadarkan diri dalam pelukan Lusia.
"Rayn ..." panggil Lusia dengan menangis. "Rayn, ada apa denganmu, Rayn sadarlah" lanjut panggil Lusia dengan menangis.
"Lusia...!!!!" Teriak Jarry.
Jarry berteriak dengan keras kepada Lusia. "Pria itu harus mempertanggung jawabkan perbuatannya kepadaku, dia sudah melakukan kekerasan dengan manghajarku hingga seperti ini. Bagaimana mungkin aku bisa membiarkan kalian pergi begitu saja. Kau pikir aku akan menerimanya begitu saja?" tanyanya kepada Lusia sembari berjalan ke arah Lusia.
Arka segera menghadang Jarry dan memukulnya dan membuatnya jatuh terduduk. Jarry berusaha untuk kembali bangkit namun urung saat Arka mengulurkan tangannya mengarah pada wajah Jarry. Jarry membulatkan matanya dan ketakutan saat melihat Arka menodongkan pistol yang tersembunyi tertutupi panjang lengan jaketnya.
Arka melepas masker yang ia kenakan sembari masih menodongkan pistol kepada Jarry. "Ingatlah wajah ini dengan baik! Jika kau masih sayang nyawamu, berhentilah bicara omong kosong. Berhenti mengusik Tuanku, karena aku akan menjadi satu-satunya orang yang mematik timah panas ini ke kepalamu!" ancam Arka dengan tatapan menakutkan membuat Jarry tak berkutik.
"Dasar bajingan gila" sahut Jarry. Ia mencoba berteriak untuk memberitahu semua orang jika pria didepannya itu mencoba untuk membunuhnya. "Selamat aku orang ini akan..."belum sampai Jarry menyelesaikan ucapnya sudah kembali diancam Arka.
"Teruskanlah, coba beritahu mereka. Maka saat itu juga akan menjadi akhir hidupmu. Kau pikir aku tidak berani melakukannya disini? Masih banyak hal yang bisa dilakukan orang yang masih hidup, tapi tidak untuk orang yang sudah mati"
Takut Arka akan mematik pistolnya, Jarry langsung bersujut dan memohon ampun kepada Arka. Jarry meminta Arka untuk mengasihani dan membiarkannya untuk tetap hidup. Dia bernjanji akan menjauh dan menghilang dari hadapan Lusia selamanya.
Arka membantu Lusia untuk membawa Rayn pergi meninggalkan tempat itu. Arka meninggalkan para bodyguard yang sedang berkelahi menghajar pria-pria itu.
.
.
Lusia tidak membawa Rayn ke Rumah Sakit, ia membawanya kembali pulang ke Villa. Di halaman Villa sudah ada para dokter pribadi Rayn yang menunggu kedatangan Rayn. Rayn langsung mendapatkan penangan medis dan obat penenang untuk phobianya. Lusia berdiri dibalik pintu menunggu para dokter yang sedang merawat suaminya.
Arka datang menghampiri Lusia dan memberikan ponsel ditangannya yang terlihat sedang berada dalam panggilan telepon dengan seseorang. "Tuan Mickey ingin berbicara dengan anda." ucap Arka sembari menyerahkan ponselnya.
Dalam panggilan telepon, dengan nada suara yang terdengar panik, Mickey memberondong Lusia begitu banyak pertanyaan. "Apa yang terjadi? Bagaimana Rayn bisa berada di taman, bahkan bagaimana mungkin dia sampai terlibat perkelahian? Apa itu mungkin? Bagaiamana dia bisa mengahajar orang hingga babak belur seperti itu? Ini akan menjadi serius jika Rayn terlibat hukum karena telah melakukan penyerangan." ucapnya.
Dari suaranya, Mickey lebih terdengar panik dibandingkan dengan Lusia. Tidak ada satupun pertanyaan Mickey yang dijawab Lusia, ia hanya mengatakan. "Aku percaya kepada Rayn" sahut Lusia.
Lusia membela Rayn, suaminya. "Dia melakukannya dengan berusaha menahan phobianya, tidak ! Bukan menahannya, tapi dia mengabaikan. Apa kau pikir Rayn akan melakukan itu hanya karena ingin menyakiti orang lain? Kau harusnya tahu karena kau yang lebih mengenal Rayn dari siapapun. Bagaimana bisa kau bertanya seolah dia seorang penjahat. Dia pasti punya alasan kenapa dia melakukannya dan mereka pasti orang yang memulai keributan itu." ucap Lusia.
Mickey menurunkan nada suaranya. "Kau benar, aku mengenal Rayn lebih dari siapapun. Tapi anggapan itu hanya sampai sebelum dia mengenal seseorang. Rayn telah berubah, dia banyak melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan selama aku mengenalnya. Dan kau pun juga sangat tahu hal itu. Bahkan, seperti yang kalian lakukan hari dengan piknik. Kau harusnya lebih tahu jika hal seperti ini bisa terjadi bukan hanya karena adanya seseorang yang memancingnya, tapi adanya kesalapahaman yang diawali oleh phobia yang dimiliki Rayn" jawab Mickey.
__ADS_1
"Lusia, aku tidak bermaksud untuk menyalahkanmu, tapi aku harap kau mengerti. Aku tahu, jika sekarang aku tidak memiliki hak untuk memerintahmu, meminta sesuatu darimu atau melarangmu melakukan apapun yang kau mau bersama Rayn. Kau adalah istrinya dan kau berhak atas segalanya. Tapi, aku masih memiliki wewenang jika itu tentang keselamatannya. Karena itu aku mohon padamu untuk tidak melonggarkan pengawalan sedikitpun saat kalian berada diluar Villa. Meskipun kau tertanggu atau sangat tidak nyaman akan hal itu, aku harap kau tetap tidak mengabaikannya" lanjut jelas Mickey.
Lusia terdiam, ia meminta maaf atas semua yang terjadi kepada Mickey lalu mengakhiri panggilannya. Melihat Lusia sudah mengakhiri panggilannya, Arka kembali menghampiri Lusia.
Melihat kecemasan diwajah Lusia, Arka meminta Lusia untuk tidak khawatir karena Tuannya pasti akan baik-baik saja. Pria yang terluka dan dihajar habis-habisnya adalah mereka bukan Rayn. Rayn saat ini hanya perlu pengobatan karena menahan phobianya karena sudah melakukan hal besar itu.
Arka juga meminta Lusia untuk tidak menyalahkan diri, karena semua itu adalah kesalahan dirinya yang telah lalai melindungi Rayn sebagai pengawal pribadinya. Arka sangat berterima kasih kepada Lusia atas semua perhatian dan waktu yang diberikan Lusia untuknya bisa lebih bersantai.
Namun, Arka merasa jika kini sudah saatnya dia kembali ke dirinya yang dulu. Menjadi Arka yang tidak akan pernah melepaskan pengawasannya sebagai pengawal pribadi Rayn. Selain itu, sudah seharusnya dirinya berpakaian dan bersikap selayaknya seperti seorang pengawal, bukan seperti keluarga atau teman.
"Saya rasa berpakaian seperti ini tidak cocok untuk saya, meskipun saya merasa nyaman, tapi ini membuat saya terbawa suasana dan menjadi terlalu santai" ucap Arka setelah mengingat bagaimana dia tadi menodongkan pistol dengan penampilan seperti itu.
Lusia mengembalikan ponsel Arka. "Kini aku sangat mengerti maksud dari ucapan Mickey. Meskipun yang dia lakukan dan kau lakukan membuat Rayn menjadi orang yang terlihat berbeda. Tapi, seperti itulah cara kalian melindungi Rayn selama ini. Aku yang terlalu memaksakan diri membawanya untuk melihat indahnya dunia luar."
"Anda benar, memang seperti ini cara Tuan Mickey dan saya melindungi Tuan Muda Rayn. Tapi, kami juga tidak ingin itu akan menghalangi kebahagiannya. Rencana piknik ini, bukankah Tuan Muda Rayn sendiri yang mengusulkannya. Saya menghargai semua upaya anda karena Tuan Muda juga menginginkannya. Jadi, tetaplah anda melakukan apapun yang ingin anda lakukan untuk membahagiakan Tuan Muda dan kami juga akan melakukan tugas kami untuk melindunginya." jelas Arka lalu menunduk pamit untuk pergi.
"Arka..." panggil Lusia. "Terima kasih..., aku belum sempat mengucapkannya. Terima kasih untuk hari ini" lanjut ucap Lusia.
Arka membungkukkan badannya, ia mengatakan jika Lusia tidak harus berterima kasih kepadanya karena itu sudah menjadi tugasnya.
"Jika itu karena sudah melindungi Tuan Muda, maka saya akan memberitahu hal ini agar anda tidak terbebani atau perlu berterima kasih kepada saya. Saya yang akan selalu berterima kasih kepada Tuan Muda, karena jika bukan karena Tuan Muda, mungkin saya tidak akan ada di dunia ini hingga sekarang. Karena itu saya akan terus melindunginya meskipun harus mempertaruhkan nyawa saya" ucap Arka
Lusia tidak menyangka jika Arka juga memiliki kisah tersendiri dengan Rayn. Arka bukan hanya sekedar pengawal pribadi yang paling dipercaya untuk melindungi Rayn dengan selalu berada disisi Rayn. Tapi, Arka memiliki kesetiaan sejati hingga rela bertaruh nyawa untuk Rayn.
Mengetahui hal itu, Lusia merasa jika Rayn selalu menjadi orang tidak terduga. Lusia mesih belum tahu sepenuhnya, kehidupan seperti apa yang dimiliki Rayn sebenarnya. Meskipun Rayn hidup terasingkan, tapi begitu banyak orang yang menyayanginya, bahkan mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya. Seperti yang dilakukan Mickey dan Arka.
Arka pun kembali membungkuk untuk pamit meninggalkan Lusia yang masih berdiri didepan kamar menunggu kabar dokter. Arka berjalan menuruni anak tangga, ia kembali teringat bagaimana dirinya menodongkan pistol kepada Jarry tadi. Jika Arka tidak bisa menahan amaranya, mungkin dia sudah mematik pistol itu dan membunuh Jarry.
"Jikapun pada akhirnya aku menghancurkan hidupku karena telah mengotori tanganku untuk melindunginya, aku akan tetap melakukannya tanpa ada penyesalan." ucap Arka dalam hati.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1