
Menyadari adanya seseorang telah berdiri didepannya, Lusia mendongakkan kepalanya melihat siapa yang datang.
“Kelvin… ” ucap Lusia dengan mengusap air matanya segera.
“Kenapa kau ada diluar? Apa kau baik-baik saja?” tanya Kelvin dengan nada cemas.
“Tidak apa, aku hanya membutuhkan udara segar. Bagaimana kau bisa sampai disini?” Lusia segera mengalihkan pembicaraan dengan cepat.
“Apa yang membuatmu menangis?” tanya Kelvin mengabaikan pertanyaan Lusia saat melihat mata Lusia yang memerah dan lebam.
“Aku baik-baik saja, jangan khawatir” jawab Lusia menundukkan kepalanya sejenak kemudian kembali memandang kearah Kelvin dengan senyum kecil.
“Kali ini kau juga tidak ingin mengatakannya kepadaku?” tanya Kelvin merasa kecewa karena Lusia tidak pernah sekalipun mengandalkan dirinya.
“Bukan seperti itu, tetapi aku, a... aku…” jawab Lusia terbata-bata dengan mata yang kembali berkaca-kaca. Perlahan air matanya jatuh membasahi kedua pipinya. Ia pun langsung menunduk berusaha menahan dan menyembunyikan tangisanya dari hadapan Kelvin.
Tanpa kata Kelvin melangkahkan kakinya berjalan menghampiri Lusia dan memeluknya. Pelukan Kelvin yang secara tiba-tiba membuat tangisannya semakin pecah. Ia tidak menolak pelukan Kelvin. Lusia yang masih dalam posisi duduk, membuatnya menyandarkan kepalanya tepat diperut Kelvin yang berdiri didepannya. Ia pun menangis terisak dalam pelukan Kelvin.
“Menangislah… jangan pernah menahannya. Kau tidak harus selalu menjadi kuat. Ada saat kau berhak menunjukan sisih lemahmu“ ucap Kelvin perlahan menepuk bahu Lusia, berharap bisa membantu menenangkannya.
Tidak lama kemudian Lusia melepaskan pelukan Kelvin dan mengusap air matanya. Kelvin mulai duduk tepat disamping Lusia. Ia hanya menatap gadis yang berulang kali menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan disebelahnya.
“Apa kini perasaanmu sudah mulai membaik ?” tanya Kelvin dengan nada lirih.
“Terima kasih“ jawab Lusia singkat masih tidak ingin banyak bicara karena sesak yang dirasakan karena terlalu lama menangis.
Kelvin merasa lega dan baginya seperti sudah bisa bernafas kembali membuang kekhawatirannya. Ia selalu mengharapkan Lusia bisa selalu terbuka dengannya. Namun Lusia lebih memilih mengatakan jika semua baik-baik saja meskipun kenyataannya sebaliknya.
Hari semakin malam, angin semakin bertiup kencang dan menghembuskan udara dinginya yang menembus tulang. Kelvin melepaskan jacket jeansnya lalu mengenakannya kepada Lusia.
“Aku baik-baik saja” ucap Lusia menolak.
“Sssttt… tidak bisakah kau hanya diam membiarkan aku melakukannya” ucap Kelvin tetap memeberikan Jacketnya menutupi punggung Lusia.
“Kau bisa masuk angin dan aku tidak ingin jika kau sakit karenaku” sahut Lusia.
"Aku baik-baik saja, justru aku merasa sangat gerah. Kau tahu kenapa ? karena perjuanganku untuk bisa datang kemari setelah berjalan sejaaaauuuuhhh itu” ujar Kelvin menunjukkan sejauh apa dia sudah berjalan kaki melalui gambaran dari tanganya yang menunjuk ke sekitar.
“Sungguh ?” tanya Lusia tersenyum.
“Haha, karena aku tidak bisa membawa mobilku hingga tepat depan rumahmu” jawab Kelvin tertawa.
Kelvin sudah berjuang melewati beberapa jalan yang menanjak, menurun, memasuki banyak belokan diantara rumah-rumah pemukiman yang padat karena mobilnya sudah tidak bisa melewatinya. Ia terpaksa harus memarkirkan mobilnya didepan sebuah Minimarket yang berada dijalan utama dan melanjutkannya dengan berjalan kaki.
Lusia tertawa kecil mendengarnya. Kelvin mengerutkan keningnya dan bertanya. “Apa yang kau tertawakan, kau senang dengan penderitaanku ?“ tanyanya.
“haha, tidak apa. Oh ya apa Reisa yang memberitahu dan memintamu datang kemari ?” tanya Lusia masih merasa geli.
“Bukankah itu dirimu sendiri yang melakukannya ? kau yang mengirimku pesan” jawab Kelvin.
“Aku tidak mengirim pesan memintamu datang" jawab Lusia menggelengkan kepala dengan cepat.
__ADS_1
"Ahh… pesan itu” celetuk Lusia menganggukan kepalanya. Ia teringat dengan pesan yang dikirimkannya ketika tidak bisa menghubungi Kelvin untuk meminta izin meninggalkan Cafe.
“Aku tidak bisa menghubungimu setelah membaca pesanmu. Jadi aku meminta alamat rumahmu ini kepada Reisa” ucap Kelvin.
“Aku tidak memperhatikan ponselku hingga tanpa sadar kehabisan daya. Maafkan aku sudah membuatmu khawaritr dengan kecerobohanku” ucap Lusia menundukkan kepala merasa tidak enak hati kepada Kelvin.
"Aku yang minta maaf karena baru tahu hari ini. Aku kemarin teralalu disibukkan dengan pekerjaanku sehingga tidak meperhatikan ponselku." ucap Kelvin menjelaskan kenapa ia baru datang hari ini.
"Apa yang kau bicarakan ? kenapa harus meminta maaf. Ini bukan kewajibanmu" sahut Lusia. Kelvin hanya tersenyum kecil.
"Tapi itu adalah kebodohan bagiku" ucap Kelvin dalam hati karena dirinya tidak ada untuk Lusia saat itu.
Mereka mulai memiliki obrolan kecil, tidak banyak yang lusia katakan kepada Kelvin tentang apa yang terjadi dengan keluarganya. Lusia hanya mengatakan jika semua urusannya sudah selesai dan bisa kembali berkerja besok.
Kelvin memberi Lusia libur satu hari lagi. Meski begitu Lusia tetap harus bekerja di Toko Bunga esok hari. Kelvin memutuskan akan membawa kembali Lusia ke kota malam ini juga. Ia tidak ingin Lusia lelah karena harus langsung bekerja setelah perjalanan pulang jika mereka kembali besok. Kelvin rela meski harus kembali mengemudi.
Kelvin secara singkat memperkenalkan diri kepada keluarga kecil Lusia sebagai temannya bukan sebagai Bos ditempat Lusia bekerja. Ia kemudian berpamitan kepada ibu, nenek dan adik Lusia.
“Maafkan jika merepotkanmu nak, hati-hati dijalan” ucap sang nenek dengan mengelus tangan Kelvin dan tidak melepaskannya.
“Ibu… biarkan mereka kembali sekarang, agar tidak terlalu larut malam dijalan” ucap Ibu Lusia meminta nenek Lusia mengakhiri genggaman tangannya.
“jangan khawatir, saya akan membawa kembali Lusia dengan selamat dan saya pastikan Lusia akan menghubungi nenek segera saat kami sudah sampai” ucap Kelvin menundukan bahunya pamit.
Mereka meninggalkan rumah. Sejenak Lusia menatap ibu, nenek dan Lukas adiknya yang mengantarnya hingga depan halaman rumah. Lusia melambaikan tangannya dengan terseyum.
Mereka melanjukan perjalanan dengan berjalan kaki menuju minimarket tempat mobil Kelvin terpakir. Sepanjang perjalanan Lusia terus bercanda menggoda Kelvin.
Melihat mobilnya, Kelvin langsung melangkahkan kakinya semakin cepat menghampiri. “Apa ini benar mobilku ?” tanyanya dengan melirik kiri dan kanan.
Kelvin tercengang kenapa mereka sudah sampai di depan minimarket secepat itu. Bahkan hanya dengan menuruni jalan lurus tanpa harus berbelok naik turun seperti yang dilalui sebelumnya.
"Apa mungkin ada minimarket seperti ini ditempat lain ?" tanya Kelvin menunjuk minimarket didepannya. Ia masih mengira jika mungkin saja mereka salah tempat.
"Apa yang kau tanyakan sementara jelas ini plat nomor mobilmu” jawab Lusia dengan berdecak diikuti senyum kecil.
“Jangan-jangan ada yang memindah mobilku kemari.”
“Apa menurutmu kita sedang berada dinegeri dongeng ?. Sudahlah, tidak ada orang berkekuatan super disini yang bisa memindahkan mobilmu tanpa mengemudikannya. Dan hanya ada satu minimarket ini disini” jawab Lusia meminta Kelvin melupankannya.
“Haha, ha… haha, sepertinya aku salah mengingatnya. Ahh.. tidak, itu pasti karena kita sambil mengobrol jadi tidak terasa jauh” ucap Kelvin menahan malu dengan berpura-pura polos.
“Jujur saja jika tadi kau sempat tersesat dan berputar-putar kesana kemari sebelum sampai dirumahku” celetuk Lusia tanpa basa-basi membuatnya merasa geli sendiri.
“Ini salah mereka, kenapa membangun rumah dengan model yang sama semua membuatku sulit membedakan jalan” gerutu Kelvin melirik rumah-rumah disekelilingnya setelah mendapat tembakan maut dari Lusia.
“Iya, baik, baik, tidak apa ini salah mereka" sahut Lusia tertawa.
"Biarkan aku yang mengemudi” lanjut ucap Lusia meminta kunci mobil.
“Bagaimana bisa aku mengizinkan wanita mengemudi untukku, No…!. Masuklah" perintah Kelvin membukakan pintu untuk Lusia.
__ADS_1
Lusia menahan pintu yang dibukakan kelvin. “Tapi kau baru saja mengemudi, kau akan lelah nantinya.”
“Baiklah, kau tutup pintumu sendiri dan tetap aku yang akan mengemudi” ucap Kelvin tersenyum lalu meninggalkan Lusia pergi masuk mobil dan duduk dibangku kemudi.
Lusia hanya menghela nafas pendek lalu masuk kedalam mobil.
***
Mereka sudah sampai dirumah kost. Lusia berpamintan dan langsung pergi, sementara Kelvin masih menatap dan memastikan Lusia sudah masuk baru ia akan pergi.
“Reisa yang mengetahui Lusia akan pulang, sudah menyiapkan banyak makanan untuk Lusia.
“Wahhh… sungguh kau menyiapkan ini semua ?” tanya Lusia melihat banyak hidangan dimeja.
“Tentu saja” jawab Reisa membanggakan diri.
“Ya, menyiapkan semua bukan berarti kau yang memasaknya. Jika suatu saat nanti kau ingin melakukan ini untuk mendapat pujian David, pastikan kau membuang dahulu kantongan plastik dari restaurant ini ditempat sampah luar” ucap Lusia memasukkan kantongan plastik restaurant yang masih terlihat di tempat sampah. Ia sangat tahu jika Reisa tidak pandai memasak.
“Hahaha, kau benar. Aku akan mengingatnya. Mandilah dan kita akan menaikan berat badan bersama” sahut Reisa mengalihkan rasa malunya.
Seusai mereka menikmati makan malam bersama, Reisa dan Lusia membaringkan diri bercengkrama ditempat tidur dengan masker yang menutupi wajah keduanya.
"Aku tidak menyangka jika Kelvin benar-benar pergi menjemputmu kesana” ucap Reisa dengan memijit-mijit ringan masker diwajahnya.
“Eemm…” jawab Lusia singkat.
“Soal Kelvin, apa kau akan terus mengabaikkan perasaannya?. Dia adalah orang kedua yang ada untukmu setiap kau mengalami kesulitan, orang kedua setelah aku pastinya."
“Apa maksudmu dengan mengabaikkannya ? apa saat ini jiwa mak comblangmu sedang bergejolak ?” goda Lusia.
“Ayolah Lusia, kau sangat mengerti maksudku dan kau juga tahu bagaimana perasaan Kelvin terhadapmu, bukankah kau sudah mendengarnya sendiri saat itu” jawab Reisa serius membalikkan badannya mengadap Lusia.
Kali ini bukan jiwa mak comblangnya yang bergejolak, tatapi jiwa keponya yang sedang membara. Ucapan Reisa membuat Lusia mengingat kembali kejadian malam itu.
Teringat hari dimana saat mereka sedang merayakan ulang tahun David. Tidak hanya ada Reisa dan Lusia, tetapi Kelvin sebagai teman baik David juga ada disana ikut merayakan bersama. Malam itu adalah malam dimana Lusia mendapat pengakuan mengejutkan dari Kelvin yang sedang mabuk saat itu.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Terus Dukung Karya ini dengan menjadikan FAVORITE yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
__ADS_1
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆