
"Rayn, apa kau juga tahu jika Lotus akan hadir?" tanya Lusia dengan polosnya.
Rayn menatap Lusia dengan tatapan penuh arti. Tatapan yang menunjukkan kebahagian sederhana yang ia rasakan."Apa kau sungguh sangat ingin bertemu dengannya?" tanyanya kepada Lusia.
Lusia pun kembali duduk, dengan jujur ia mengatakan jika dirinya juga sangat ingin bertemu dengan penulis ternama dengan nama pena Lotus itu. Bertemu dengan seseorang yang berbakat dan juga terkenal adalah momen yang paling berharga. Meskipun hanya sekali seumur hidup setidaknya Lusia bisa merasakan keberuntungan itu.
Rayn lalu bertanya apa yang akan dilakukan Lusia saat bertemu dengan Lotus.
"Aku? Tentu aku akan mengucapkan selamat kepadanya, meminta tanda tangannya dan juga mendapatkan foto bersama" jawab Lusia.
"Baiklah, aku akan menantikannya" sahut Rayn lalu mengulurkan tangannya. "Mari kita bertemu dengannya" lanjut Rayn berdiri dari duduknya.
Arka masuk ke dalam ruangan, ia mempersilahkan keduanya untuk pergi ke ruang pameran. Dengan pengawalan ketat, Rayn dan Lusia pun pergi meninggalkan ruangan itu.
Bersamaan di ruang pameran, David meminta para tamu undangan untuk kembali fokus. Ia akan membacakan Yayasan yang akan menerima hasil lelang. David membuka amplop ditangannya, ia mengerutkan keningnya tampak tertegun sesaat ketika melihat nama Yayasan yang tertulis. David diam sejenak lalu kembali bersikap profesional. David menyebutkan jika Yayasan X yang berpusat di Kanada akan menerima secara penuh hasil penjualan lukisan Lotus.
Pengumuman itu disambut tepuk tangan meriah dari para tamu. Bahkan salah seorang tamu merasa lebih antusias setelah mengetahui jika hasil penjualan akan didonasikan untuk sebuah Yayasan yang menaungi anak-anak. Berbeda dengan David yang masih tidak percaya, dia sangat tahu jika Yayasan itu adalah Yayasan yang didirikan oleh seorang pelukis ternama bernama Dervilia. Dervilia tidak lain tidak bukan adalah nama pena Ibu Rayn.
"Apa mungkin Rayn....?" gumam David dalam hati.
David kembali fokus melanjutkan acara, sudah saatnya para tamu undangan lebih dekat mengenal seperti apa sosok Lotus sebelum dia hadir bersama mereka. David mendekat pada lukisan misterius yang tertutup kain disampingnya. David mengatakan jika lukisan itu adalah karya yang sangat disukai oleh Lotus. Lotus dedikasikan lukisan itu sebagai hadiah untuk orang yang sangat spesial dalam hidupnya.
"Bukankah itu artinya Lotus adalah sosok yang romantis?" celetuk David.
David menerima isyarat dari staf jika Lotus sudah ada bersama mereka. David melihat ke sekitar, tatapannya langsung tertuju pada Rayn dan Lusia yang baru saja memasuki ruangan.
"Apa kalian sudah siap menyambut pelukis kita, Lotus?" tanya David kepada para tamu, namun tatapannya masih tertuju pada Rayn. "Jika begitu kita akan membukanya bersama dengan orang yang telah membuat lukisan ini dengan sepenuh hati" lanjut ucap David.
Lusia pun ikut penasaran siapakah sebenarnya sosok Lotus. Di tengah rasa penasarannya, Rayn tiba-tiba semakin erat menggenggam tangan Lusia. Lusia merasakan tangan Rayn yang begitu dingin tiba-tiba.
__ADS_1
"Rayn, apa kau baik-baik saja?" tanya Lusia cemas.
Melihat seluruh ruangan yang dipenuhi tamu undangan, Lusia merasa jika sudah seharusnya ia menyadari kesulitan Rayn. Hal itu pasti yang membuat Rayn mulai merasa gugup dan tegang. "Rayn, jangan memaksakan diri, lebih baik kita kembali ke ruangan. Kita bisa melihat kelangsungan acara ini dari sana" ajak Lusia.
Rayn menahan tangan Lusia. "Aku bisa melakukannya, bukankah kau sangat ingin bertemu dengannya" sahut Rayn.
Rayn memberi isyarat kepada Arka untuk mempersilahkan David membuka lukisan misterius itu. David pun perlahan membuka kain yang menutupi lukisan. Kain terbuka, terlihat sebuah karya indah Lotus. Sebuah lukisan seorang gadis berkuncir kuda mengenakan seragam pelajar. Terlihat sudut yang diambil dari belakang dan gadis itu menoleh dengan senyum yang begitu polos.
"Rayn... ini" ucap Lusia menutup mulut dengan tangannya karena tidak percaya, bagaimana lukisan itu ada disana.
David nampak tercengang melihat lukisan itu, ia sangat tahu siapa gadis dalam lukisan itu. David pun sontak menoleh menatap ke arah Rayn dan Lusia.
"Lusia, apa kau sudah siap? Mari kita tunjukkan pada dunia" ucap Rayn seraya mengajak Lusia berjalan ke arah podium. Lusia terlihat bingung dan tidak bisa memahami situasinya. Dengan pangawalan Arka dan pengawal lain, Rayn dan Lusia berjalan ke arah podium, tepat dimana lukisan itu dipamerkan.
Rayn dan Lusia kini berdiri diatas podium bersama dengan David. Meskipun Rayn tampak sangat tenang, tetapi Lusia merasakan tangannya yang sangat dingin. Lusia menatap lekap sang suami yang berdiri tepat disinya sembari menggenggam tanganya kuat. Lusia tidak percaya, apa mungkin Rayn adalah Lotus. Rayn pun menoleh menatap Lusia dengan tersenyum.
"Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada Gelery Psithurism Art dan juga para tamu undangan yang sudah hadir. Mungkin semuanya bertanya-tanya kenapa pria ini berdiri disini. Saya akan memperkenalkan diri saya. Saya adalah pelukis yang menggunakan nama Lotus" ucap Rayn menundukan kepala memberi salam hormat kepada semua tamu yang datang.
Lusia sontak menatap ke arah Rayn. ia sangat terkejut mendengar pengakuan suaminya yang mengatakan jika dia adalah sosok penulis terkenal dibalik nama pena Lotus. Lusia masih sulit percaya, bagaimana mungkin dirinya tidak pernah menyadari hal itu selama ini.
Rayn menatap ke arah Lusia. "Lukisan ini adalah karya yang saya buat untuk wanita yang sangat saya cintai. Hanya untuk wanita yang saat ini hadir bersama saya, dia adalah istri saya. Gadis dalam lukisan ini selalu ada dan mengusik pikiran saya, sungguh terlalu banyak mengisi kepala saya sehingga saya bisa membuat lukisan ini hanya dari ingatan itu. Gadis ini adalah sosok istri saya saat pertama kali kami bertemu" ujar Rayn.
Semua tamu undangan pun terkejut, mereka tidak menduga jika sosok pelukis profesional dengan karya-karya luar biasa itu masih sangat muda. Tidak hanya itu, Lotus ternyata juga adalah sosok pria yang romantis. Semua kini mulai saling berbisik mengagumi wajah Lotus yang rupawan dan menawan. Tidak hanya Lotus, mereka juga memuji kecantikan Lusia. Seorang istri yang sangat anggun dan cantik.
Rayn menjelaskan jika dua lukisan tersisa yang akan dilelang dipilih langsung oleh istrinya. Lusia diberikan dua pita gold untuk diletakkan pada dua lukisan yang ia pilih untuk dilelang. Lusia menatap Rayn, ia tentu saja tidak menduga hal ini. Rayn mengangguk, mempersilahkan istrinya untuk meletakan pita itu..
Lusia berjalan perlahan menuju lukisan yang sudah mencuri hatinya saat tiba tadi. Sebuah lukisan cahaya lampu temaram dari rumah yang sama-samar tertutup kabut. Lusia meletakkan pita gold itu disana. Lusia lalu berjalan ke arah lukisan bunga blueble dengan jalan setapak, ia juga meletakkan pita gold disana.
Lusia mengatakan alasan kenapa ia memilih dua lukisan itu karena lukisan itu telah mencuri hatinya tanpa tahu jika itu adalah goresan maha karya suaminya. Lusia melihat ketulusan yang ingin disampaikan dan juga perasaan tersembunyi yang ingin dicurahkannya pada lukisan itu.
__ADS_1
Saat kembali, Lusia berhenti sejenak berbicara dengan Arka yang berdiri tidak jauh dari Rayn. "Arka apa kau tentang semua ini? Bagaimana dengan Rayn? Apa yang harus kita lakukan jika tamu undangan ingin menyapanya langsung?" tanya Lusia khawatir.
"Anda tidak perlu khawatir Nyonya, semua sudah diatur oleh Tuan Mickey. Tuan Mickey yang akan menyelesaikan acara ini" jawab Arka.
"Mickey? Aaa.. seharusnya aku sudah bisa menebaknya. Apa itu alasan kenapa Mickey kembali?" tanya Lusia.
Arka tidak menjawab, ia memberi kode kepada Lusia akan kedatangan Mickey. "Anda bisa mempercayakan semuanya kepada Tuan Mickey" ucap Arka menunduk.
Seperti hantu, Mickey sungguh muncul tepat saat dirinya sedang dibicarakan. Mickey langsung menghampir dan menyapa David. Usai memiliki pembicaraan yang singkat dengan David, Mickey lalu naik podium. Ia memperkenalkan diri sebagai asisten Lotus dan juga orang yang akan mewakili Lotus dalam acara hari ini. Dengan sangat menyesal, Mickey menyampaikan rasa maaf nya karena Lotus tidak bisa hadir bersama mereka hingga akhir acara.
Mickey menjelaskan jika Lotus tepatnya hari ini, Lotus memiliki jadual perjalanan ke luar negeri yang tidak bisa ditunda. Meskipun begitu, Lotus tetap ingin dan berusaha menyempatkan waktunya meskipun sangat singkat ini untuk menyapa tamu undangan semua. Sebagai permintaan maaf akan hal ini, Lotus sudah menyiapkan hadiah kecil tanda mata untuk semua tamu undangan yang nanti akan diberikan diakhir acara.
Rayn pun memberi isyarat kepada Mickey jika ada yang ingin ia sampaikan sebelum meninggalkan acara, Mickey pun mempersilahkan Rayn. "Saya sangat berterima kasih atas dukungan anda semua. Kepada siapa pun yang nantinya akan memenangkan lelang hari ini, saya mengucapkan selamat. Meskipun saya tidak bisa menemani anda semua hingga acara ini berakhir, namun saya berjanji jika kita semua akan segera bertemu kembali di acara lain nantinya. Sekali lagi, saya sangat berterima kasih" ucap Rayn lalu menundukkan kepalnya memberi salam.
Para tamu undangan menghargai itu dengan memberikan tepuk tangan kepada Lotus. Rayn dan Lusia lalu pamit meninggalkan acara. Mickey sungguh telah mempersiapkan semuanya, tentu saja dia tidak akan membiarkan Rayn lama berada disana karena itu bisa memicu phobia Rayn. Meskipun Rayn sudah mengungkap identitasnya sebagai Lotus, namun dunia tetap tidak boleh mengetahui jika Lotus memiliki Haphephobia.
Dalam perjalanan kembali ke mobil Lusia merasa jika Mickey sungguh pandai dalam membuat skenario yang luar biasa. "Kenapa ia harus membuat cerita ke luar Negeri" gumam Lusia.
"Ini semua bukan hanya sekedar sekenario, kita memang akan melakukan perjalanan ke Kanada 6 jam lagi" sahut Rayn seraya memnatap jam ditangannya.
"Kanada...? 6 jam lagi??" tanya Lusia seolah tidak percaya. Entah kejutan apa lagi yang akan ditunjukkan Rayn kepadanya.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1