
Ditengah kesibukan Rayn menjahili Lusia, ponsel Lusia terus berdering adanya panggilan video masuk dari Reisa. Lusia menjawabnya lalu berdiri pergi ke rak buku, ia sedikit menjauh dari Rayn.
“Hya…Lusia !!” Teriak Reisa dalam panggilan. “Kenapa kau tidak memberitahuku tentang apa yang terjadi di Cafe?” tanya Reisa dengan wajah kesal.
Lusia hanya bisa meminta maaf kepada Reisa karena sudah membuatnya khawatir. “Maafkan aku” jawabnya.
“Biarkan aku melihatnya” perintah Reisa yang ingin melihat luka Lusia. Itu sebabnya ia melakukan panggilan video.
“Sungguh, aku baik-baik saja. Jangan khawatir” sahut Lusia menunjukkan sekilas tangannya yang diperban.
"Apa separah itu?" tanya Reisa melihat perban yang membalut tangan Lusia. "Itu pasti sangat sakit. Rasanya ingin aku cabik-cabik wanita yang menyerangmu itu" ucap Reisa dengan menunjukkan wajah geramnya.
"Aku tahu kau kadang bar-bar, tapi jangan buang waktumu untuk orang seperti itu. Aku baik-baik saja dan kita tidak usah membahas kejadian itu lagi" sahut Lusia.
“Maafkan aku. Dave bilang, kau sedang ambil cuti. Bagaimana jika selama cuti kau tinggal di rumah kost, aku akan merawatmu. Dan selagi kau libur, bagaimana jika kita jalan-jalan ke pantai? Jangan khwatir, aku tidak akan membuatmu lelah. Kau cukup membawa diri, biarkan aku dan David yang menyiapkan semua” ajak Reisa. Ia ingin menghibur Lusia dan membawanya untuk refreshing, melupakan semua yang terjadi di Cafe.
“Pantai?” tanya Rayn melirik Luisa yang masih dalam panggilan video dengan Reisa. “Pantai, tidak boleh” lanjut ucap Rayn melarang Lusia menerima tawaran itu. Tapa dosa ia kembali fokus membalik buku dongengnya saat Lusia meliriknya karena asal sahut saja.
“Siapa barusan itu?” tanya Reisa.
“Ahhh… tidak apa. Tidak usah didengar. Soal tinggal di rumah kost selama cuti, maafkan aku, aku tidak bisa. Dan soal jalan-jalan ke pantai akan aku pertimbangkan” sahut Lusia dengan kembali milirik Rayn.
Lusia membahas banyak hal dengan Reisa, sahabat baiknya itu. Reisa sangat merindukan Lusia, hal itu terlihat dari sikap dan bahasanya yang penuh manja kepada Lusia. Lusia tidak bisa menuruti permintaan Reisa untuk tinggal di rumah kost selama cuti dari Cafe, karena ia masih punya tanggung jawab bekerja untuk Rayn.
“Kenapa kau ikut menjawab?” tanya Lusia menghampiri Rayn usai menyelesaikan panggilannya dengan Reisa.
“Apa kau lupa? Kau sedang terluka dan itu sebabnya kau ambil cuti dari Cafe untuk istirahat. Untuk is... ti… rahat! Tapi kini kau justru akan pergi ke pantai?” tanya balik Rayn dengan menutup bukunya.
Lusia memasang wajah serius, ia merasa ada yang salah. “Sepertinya ada yang perlu diluruskan. Kenapa bicaramu seolah aku mengambil kesempatan dari cutiku. Pertama, aku sudah mengatakan kepada Kelvin jika aku menolak cuti dengan alasan luka ini, dan aku memutuskan ambil cuti yang memang sudah menjadi hak ku. Karena aku tidak mau dianggap sebagai alasan atau manja. Jadi, akan aku gunakan untuk apa dan kemana itu sudah bukan urusan perusahaan” jawab Lusia.
“Aku tetap tidak akan mengizinkanmu pergi dengan kondisimu sekarang” sahut Rayn.
“Hyaaa...." sahut Lusia merengek bercampur kesal. "Aku sangat berterima kasih tapi ini terlalu berlebihan. Aku hanya memiliki cedera ditangan dan itu bukan patah tulang. Aku tidak terluka pada kaki, kepala atau yang lain. Ini bukan luka yang membuatku tidak bisa jalan atau sampai tidak bisa bergerak. Yang terpenting lagi, aku juga masih bisa bernafas. Kenapa semua bersikap seolah aku sudah tidak akan bisa melakukan banyak hal karena luka ini. Aku juga bingung kenapa kau membalut perbannya harus sampai selebar ini?” tanya Lusia dengan menyodorkan tangannya. “Jika orang melihat ini, mereka berpikir aku sedang mengalami luka yang parah” lanjutnya.
“Apa kau sudah selesai?” tanya Rayn usai mendengar ucapan panjang Lusia yang isinya semua hanya keluhan.
“Perjalanan ke pantai terlalu jauh, itu akan melelahkan. Jika hanya ingin pesta BBQ, kenapa tidak mengadakannya di halaman Villa, aku rasa itu tidak terlalu buruk.” Rayn memberi saran dengan alasan pribadi, jika di Villa akan lebih mudah baginya melakukan pengawasan kepada Lusia.
“Di Villa ini? Kau yakin? Kita bisa melakukannya di Villa ini?” tanya Lusia yang tidak percaya dengan apa yang baru saja Rayn katakan.
Rayn menjawab dengan mengangguk. "Why not" ucapnya.
Lusia masih meyakinkan kembali tentang apa yang baru saja Rayn putuskan. “Aku akan melakukannya dengan banyak orang, ada Raisa, David, Dave, Nara dan tentunya aku juga akan mengundang Kelvin. Mereka semua akan datang kemari, ke Villamu ini. Apa kau bercanda? mengizinkan aku membawa orang lain ke Villa ini?” tanya Lusia memastikan lagi jika Rayn bukan hanya asal bicara.
“Apa menurutmu para petugas kebersihan di bawah adalah keluargaku?” tanya Rayn yang artinya jika para petugas kebersihan juga orang asing baginya. Namun tetap ia bawa masuk ke dalam Villa.
“Ahh, kau benar. Menurutku itu juga ide yang bagus, tapi bagaimana denganmu?” tanya Lusia.
“Jangan khawatirkan aku, ada lukisan yang harus aku selesaikan. Jadi, kau bisa fokus dengan temanmu. Karena aku tidak bisa bergabung, sebagai gantinya aku akan membantumu menyiapkan semuanya. Kalian cukup tinggal menikmatinya saja” ujar Rayn.
Lusia akhirnya setuju dengan saran Rayn, ia memutuskan untuk melakukan pesta bbq bersama dengan sahabatnya Reisa dan beberapa orang terdekatnya. Reisa awalnya juga tidak percaya dengan apa yang dikatakan Lusia jika Rayn yang mengizinkannya dengan sukarela.
Reisa akhirnya langsung setuju, karena ia juga sangat penasaran dengan sosok Rayn dan Villa yang ditinggali Lusia. Mereka akhirnya memutuskan untuk melakukan malam bbq di akhir pekan, lebih tepatnya esok hari.
.
__ADS_1
.
Pagi-pagi Lusia sudah dikejutkan dengan Arka yang sibuk dengan beberapa orang di halaman Villa. Arka diberi tanggung jawab oleh Rayn untuk mengatur penerangan tambahan, termasuk tempat api unggun dan semua yang dibutuhkan termasuk seorang chef yang akan membantu mereka.
“Chef?” tanya Lusia kepada Arka.
“Benar, Tuan Muda Rayn menunjuk salah sstu chef dari restoran bbq terbaik. Jadi Nona Lusia tidak perlu khawatir karena mereka yang akan menyiapkannya untuk Nona Lusia dan yang lain” jawab Arka.
“Apa menariknya jika pada akhirnya kita hanya tinggal makan saja” gerutu Lusia.
Hari sudah semakin sore, terlihat seorang kurir datang mengantar paket untuk Lusia. Ia melihat jika paket itu di pesan oleh Mickey. Usai paket terkonfirmasi diterima, tidak lama Mickey mengirim pesan kepada Lusia.
[Aku dengar kalian mengadakan pesta BBQ, maaf jika aku tidak bisa ikut. Aku harap paketku bisa mewakili dan meramaikan suasana malam kalian. Selamat bersenang-besenang -Mickey]
Mickey mengirimkan paket berisi kembang api yang diharapkan bisa lebih menambah indah suasana.
Tidak selang lama terlihat mobil David datang. Tidak hanya David dan Reisa, tapi juga ada Dave dan Nara yang ikut datang bersama mereka. Kelvin tidak bisa hadir karena ia sedang berada diluar kota untuk urusan bisnis. Lusia sengaja tidak mengundang rekan yang lain karena ia hanya ingin bersama dengan orang-orang terdekatnya. Ia juga hanya memilih orang-orang yang ia percaya untuk datang ke Villa, karena itu akan menyangkut soal keberadaan Rayn.
Lusia sengaja meminta Nara untuk datang, karena ia percaya Nara adalah gadis baik. Selain itu ia juga ingin membantu hubungan Dave dan Nara.
"Waaah… ini luar biasa. Apa kita sedang berada di negeri dongeng?” ucap Reisa saat turun dari mobil. Ia dibuat takjub dengan Villa Rayn yang besar dan halaman yang Luas. Bahkan kini halaman itu sudah dipenuhi dengan segala persiapan bbq termasuk api unggun.
Lusia segera menyambut kedatangan mereka. Ia menerima bingkisan cake yang dibawakan Resia untuknya. “Kau tidak perlu repot-repot” ucap Lusia.
“Selama ini kak Lusia tinggal disini?” potong Dave.
“Aku hanya bekerja disini, apa yang kalian lihat dan semua yang sedang disiapkan, milik dari pemiliki Villa ini yang tidak lain adalah bos ku saat ini. Haha” tawa Lusia.
“Tapi, bukannya itu terlalu berlebihan? Semua itu hanya untuk kita berlima? Apa dia juga sampai mendatangkan chef yang disana?” tanya Nara menunjuk seorang Chef yang sedang sibuk persiapan.
Mereka semua tampak kagum dengan kemewahan Villa Rayn yang besar. “Lalu dimana dia?” tanya Reisa mengikuti Lusia yang pergi ke dapur.
“Dia sedang sibuk melukis, di lantai atas” jawab Lusia dengan mengeluarkan cake dari Reisa.
“Jadi, dia tidak akan bergabung dengan kita?” tanya Reisa yang sudah sangat penasaran dengan sosok Rayn. Lusia hanya mengangguk sembari sibuk memotong cake.
“Apa dia tidak keterlaluan, bahkan dia tidak menyambut kedatangan kita. Setidaknya untuk menyapa” celetuk Reisa.
Lusia menghentikan potongannya. “Reisa, kau tahu alasannya kan kenapa ia tidak melakukannya” jawab Lusia.
“Ahh, kau benar. Maafkan aku, aku melupakan itu” sahut Reisa yang sudah tahu kondisi Rayn.
Mereka akhirnya memulai acara bbq dengan penuh suka cita di halaman Villa. Lampu penerangan yang terhias ditambah dengan hangatnya api unggun semakin menambah keindahan malam mereka.
Lusia sesekali menoleh ke balkon lantai 2, ia merasa bahwa malam ini masih belum lengkap tanpa Rayn. Ia juga tidak tega harus membiarkan Rayn seorang diri ketika dirinya dan teman-temannya melaksanakan sebuah pesta yang disiapkan Rayn. Lusia meletakkan capit ditangannya, ia akhirnya memutuskan untuk menemui Rayn. Lusia pamit kepada Resia masuk Villa sebentar, ia mencoba membujuk Rayn untuk bergabung.
Lusia telah sampai di depan ruang melukis. “Rayn, kau yakin tidak ingin bergabung dengan kita?” tanya Lusia usai mengetuk pintu.
Rayn membuka pintu. “Jangan khawatirkan aku, bersenang-senanglah bersama mereka” jawab Rayn.
Lusia mengulurkan tangannya kepada Rayn. “Kau bisa menggenggamnya selama disana” ucap Lusia.
Rayn menatap uluran tangan Lusia lalu tersenyum. “Aku baik-baik saja. Lagi pula itu akan membuat mereka salah paham dan akan membuatmu tidak nyaman” ucap Rayn.
“Hya… jika kau membahas waktu di Cafe, saat itu karena sangat ramai. Tapi kini aku serius, kau bisa menggenggam tanganku dan kita bisa pergi bersama” sahut Lusia.
__ADS_1
“Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan. Jangan khawatir dan kembalilah, mereka pasti menunggumu” tolak Rayn.
“Baiklah…” jawab Lusia lirih lalu pergi kembali.
Lusia akhirnya kembali menikmati pesta bbq tanpa Rayn. Meskipun pesta sederhana itu hanya dilakukan dengan beberapa teman-teman terdekatnya, tapi mereka tampak sangat bahagia dan sangat menikmatinya.
Banyak hal yang mereka lakukan, bernyanyi bersama, bermain game sederhana, bahkan berbagi cerita masa lalu. Dave & Nara tak lepas dari bullying Reisa dan Lusia yang sangat mengharapkan keduanya menjalin hubungan nantinya.
Acara malam itu diakhiri dengan menyalakan kembang api yang Lusia dapat dari Mickey. Kembang api sudah siap dinyalakan oleh Dave. Lusia meminta Dave menunda, lalu ia meraih ponselnya untuk menghubungi Rayn. Meskipun Rayn tidak bisa bergabung dengan mereka, namun setidaknya Rayn bisa menikmati kembang apinya.
Lusia melakukan panggilan dengan Rayn.
“Kenapa?” tanya Rayn menjawab panggilan Lusia.
“Kau bisa keluar?” tanya Lusia.
“Sudah aku katakan, aku baik-baik saja” sahut Rayn.
“Tidak, kau tidak perlu ke bawah, cukup kau pergi ke balkon ruang baca sekarang” perintah Lusia dalam panggilan telepon.
Lusia menunggu Rayn dan memberi aba-aba kepada Dave untuk menyalakannya tepat saat Rayn keluar dan terlihat di balkon.
“Sekarang?” tanya Rayn.
“Eeemm, sekarang” jawab Lusia.
Rayn akhirnya meletakkan kuasnya dan pergi keluar menuju balkon dengan tetap membiarkan panggilan telepon tetap menyala. “Memangnya apa yang akan kau lakukan?” tanya Rayn sembari membuka pintu kaca balkon.
Daarrr.....!!! Darr....!
Rayn dikejutkan dengan kembang api yang menyala. Kemilau keindahan yang dihasilkannya, telah menyihir mata mereka semua. Suara yang menggema dilangit, diikuti oleh indahnya percikan cahaya warni-warni yang pecah dan bertambur menambah suasana romantis malam itu.
“Indah bukan?" tanya Lusia dengan menatap Rayn yang berdiri di atas balkon. "Meski kau ada disana, tapi kita tetap bisa menikmatinya bersama” ucap Lusia yang masih dalam panggilan telepon dengan Rayn. Ia tersenyum kepada Rayn dengan melambaikan tangannya.
“Hentikan..!! Bisakah aku menghentikannya” perintah Rayn dengan nada suara lirih.
Rayn yang awalnya sempat menikmati, tiba-tiba berubah. Suara dan gemerlap kembang api mulai mengusik isi kepala rayn. Membuka ingatan yang membawanya kembali pada malam itu. Sebuah potongan-potongan klip masa lalu yang terjadi pada malam kecelakaan maut itu tiada henti muncul seiring kilaunya kembang api.
Pikiran Rayn menjadi kacau, tubuhnya langsung lemas. Ia yang mulai tak berdaya berusaha meraih pagar kaca di depannya untuk bertahan menopang tubuhnya yang saat ia merasa seperti akan roboh.
“Rayn, kau baik-baik saja?” tanya Lusia melihat Rayn seperti sedang kesakitan dengan sesekali meremas kepalanya. Tidak lama Rayn pergi masuk ke dalam.
Lusia segera berlari masuk Villa disaat yang lain sangat menikmati kembang api yang terus dinyalakan Dave.
"Rayn … Rayn…." Lusia berusaha menekan sandi pintu dengan terus memanggil Rayn yang sudah tidak lagi menjawabnya dalam panggilan telepon yang masih aktif.
.
.
*** To Be Continued***
Apa yang terjadi dengan Rayn? Potongan klip apa yang muncul dalam ingatan Rayn?
Nantikan BAB selanjutnya yah... ^^
__ADS_1