Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 20 - Kesepakatan


__ADS_3

Rayn memulai paginya dengan berolahraga jogging, ia menikmati sejuknya udara pagi yang disuguhkan keindahan hutan pinus disepanjang jalan. Tidak sampai jauh tiba-tiba ia melihat sebuah kendaraan bermotor berjalan kearahnya. Rayn menghentikan larinya, menatap motor yang sudah semakin dekat dengan dirinya. Semakin dekat terlihat dengan jelas kendaraan itu dikendarai oleh seorang gadis yang tak asing baginya.


“Morning… " sapa Lusia setelah menghentikan kendaraannya dalam jarak 2 meter dari Rayn.


Rayn hanya diam dan tampak heran dengan kedatangan gadis itu. Ia hanya menatap tanpa kata, seolah dirinya tidak ingin banyak tanya dan berharap Lusia sadar dengan sendirinya untuk menjelaskan alasannya datang kemari pagi-pagi.


“Sepertinya kau sedang jogging, kau mau aku menemanimu? Aku merasakan udara segar yang luar biasa selama memasuki kawasan ini” ucap Lusia mencoba memulai percakapan diantara mereka.


“Jadi kau sungguh menerimanya?” tanya Rayn akhirnya membuka suara karena mendengar ocehan yang bukan ia ingin dengar dari Lusia.


Lusia langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat. “Oh tentu, apa kau ingin aku meresmikannya dengan memperkenalkan diri?” tanya Lusia dengan mengulurkan tangannya, namun Rayn mengabaikan uluran tangan Lusia.


“Kau masih tidak ingin menyambutku? Baiklah, toh bagaimanapun juga yang kutahu aku bekerja dengan Mickey, karena dia yang membayarku. Anggap saja tugasku adalah merawat bayi yang saaaangaatttt besar” ledek Lusia tersenyum lebar dengan menarik kembali tangannya. Kemudian ia kembali menjalankan kendaraannya pergi meninggalkan Rayn menuju Villa lebih dulu.


“Apa yang ada dalam pikiran gadis itu dengan menerimanya?” tanya Rayn dalam hati dengan menatap Lusia yang sudah semakin jauh meninggalkannya.


Rayn masih tidak habis fikir jika Mickey benar-benar telah membawa gadis itu masuk dalam kehidupannya. Rayn sesungguhnya sudah tahu kesepakatan Mickey dan Lusia melalui pesan yang dikirimkan Mickey semalam. Namun saat itu Rayn hanya menganggapnya angin lalu.


‘Aku dan Lusia sudah menyepakatinya, dia akan memulainya besok. Aku harap dia benar-benar datang dan kontrak akan dibuat setalah 2 hari dia mencoba. Jangan terlalu kejam padanya, aku mohon padamu’ - pesan Mickey.


Rayn kembali ke Villa, dilihatnya Lusia duduk didepan pintu menunggunya. Jujur Lusia sudah mangetahui sandi Villa Rayn dari Mickey, namun ia tidak ingin menggunakannya sebelum benar-benar mendapatkan kesepakatan dengan Rayn langsung. Rayn hanya melewatinya lalu menekan sandi mambuka pintu.


“Masuklah.” Ajak Rayn setelah membuka pintu.


Lusia bergegas bangkit dan mengikuti Rayn masuk. Rayn mempersilahkan Lusia untuk duduk, ia ingin berbicara langsung tentang semua situasinya saat ini.


"Apa artinya dia menerimaku ?" tanya Lusia dalam hati.


Mereka berdua duduk disofa berhadapan. Rayn meraih ponselnya lalu melakukan panggilan dengan mengaktifkan loudspeaker. Ia meletakkan ponsel dimeja dengan sengaja agar Lusia juga mendengar percakapan mereka.


Lusia merasakan jika jantungnya kini sangat memahami kekhawatirannya dengan berdeguk kencang. Bertanya dalam hati apakah pria didepannya ini akan tetap menolak kehadirannya. Lusia semakin tegang setelah mendengar suara pria diseberang telepon menjawab panggillan Rayn.


“Kau menghubungiku pagi-pagi begini apakah itu artinya dia benar-benar datang?” tanya pria dengan suara yang sangat tidak asing dengan nama kontak Perisai Mickey.


"Meskipun kotrak belum dibuat tetapi aku akan tetap membuatnya tidak bisa diihindari. Kalian berdua benar-benar mengejutkanku” ucap Rayn dengan tersenyum sinis.


“Aku yang akan mengurus semua dengannya, semua hal yang harus dia lakukan dan apa yang tidak boleh dia lakukan. Jangan khawatir, kau cukup tidak menentang ini” jawab Mickey penuh percaya diri.


“Tapi sepertinya ada sesuatu yang salah, bagaimana bisa dia bekerja untukmu ketika gaji yang kau bayarkan untuknya dengan uangku. Aaa..., satu hal lagi, katakan padanya jika dia harus berhati-hati karena yang ia rawat bukan hanya seorang bayi besar” Tegas Rayn dalam panggilan dengan menatap tajam kearah Lusia. Lusia membelalak kaget jika Rayn akan menyinggung hal itu dengan Mickey.

__ADS_1


“Ba… ba… bayi besar? Apa maksudmu dengan Bayi Besar?“ Mickey tidak mengerti dengan perkataan Rayn, bahkan dia tidak mengetahui jika Lusia ada disana dan sedang mendengar panggilan itu.


“Tunggu, apa baru saja artinya kau menerimanya bekerja denganmu?” tanya Mickey.


“Selesaikan urusanmu dengannya dan minta dia untuk tidak menggangguku hari ini.” Tegas Rayn mengakhiri panggilannya kemudian beranjak berdiri untuk meninggalkan Lusia.


“Apa dia benar-benar kesal hanya dengan ledekanku ?” gerutu Lusia lirih dalam hati.


Rayn menghentikan langkah kakinya menoleh kearah Lusia. Hal itu sontak membuatnya panik dan langsung menunduk. Padahal dirinya hanya bergumam dalam hati tapi seolah Ryan mendengarnya.


“Ah…, itu” ucap Lusia gugup.


“Kau tidak dengar apa yang baru saja kukatakan kepada Mickey? Tidak ada yang bisa kau lakukan hari ini” ucap Rayn menunjuk kearah pintu. Memberi kode kepada Lusia untuk meninggalkan Villa.


“Oh, kau benar. Kau tidak ingin diganggu hari ini. Baiklah, aku akan pergi sekarang. Sampai bertemu besok” ucap Lusia dengan bergegas keluar.


Belum sampai dipintu Lusia sudah kembali lagi. “Maaf, aku lupa helmku” ucapnya perlahan dengan senyum polos meraih helm yang tadinya diletakkan disamping kursi.


“Aku beneran pamit sekarang” lanjut Lusia pergi meninggalkan Rayn. Rayn hanya menghela nafas melihat kelakuan Lusia.


“Apa dia benar-benar menerimaku begitu saja? Jika semudah itu kenapa dia tidak langsung setuju dari kemarin-kemarin” gerutu Lusia berdiri diluar depan pintu dengan mendekap helmnya.


Tidak ingin terlalu memikirkannya, ia pun akhirnya pergi dengan mengendarai motornya. Rayn hanya menatap kepergian Lusia dari balkon lantai dua.


***


“Katakan padaku apa yang terjadi sampai kau harus berhenti di Toko Bunga?” tanyanya lantang kepada Lusia.


Lusia hanya tertunduk, ia tidak tahu harus memulainya dari mana. “Itu… aku…” ucapnya terputus-putus tidak jelas.


“Aku senang jika kau berhenti, karena dengan begitu kau tidak akan terlalu lelah karena terus berkerja, tapi tanpa mengatakan apapun denganku, itu menyakitiku.” Reisa merasa terkhianati sebagai sahabatnya karena tidak tahu apa-apa.


“Reisa…” rengek Lusia melentangkan kedua tangannya memberi isyarat ingin dipeluk oleh sahabatnya itu.


Reisa langsung menghampiri memeluk Lusia. “Lusia…, jadi benar-benar telah terjadi sesuatu? katakan, katakan padaku ada apa? Apa ini ada hubungannya dengan masalah keluargamu ?” tanya Resia memeluk Lusia melupakan amarahnya.


“Karena aku memiliki perkerjaan baru.” Ucapan Lusia sontak membuat Reisa melepaskan pelukkannya, ia menatap Lusia bingung.


"Pekerjaan baru?" tanya Reisa.

__ADS_1


“Aku berkerja dengan Si Pria Horor itu“ ucapnya dengan kembali merengek memeluk Reisa.


“Apa kau sudah gila ?” tanya Reisa.


Perlahan Lusia menjelaskan semua kepada sahabatnya itu penuh dengan perasaan mengiba. Seperti yang sudah ia duga, Reisa menentang keputusannya dan terus menasehatinya. Reisa berulang kali meminta Lusia untuk hati-hati dan tidak gegebah dalam mengambil keputusan. Tiada hentinya Resia berjalan modar-mandir didepan Lusia dengan terus berkicau tanpa henti.


Banyak hal yang seharusnya dipertimbangkan Lusia sebelum memutuskannya. Salah satunya kendaraan yang harus dia gunakan ketika pulang dimalam hari dari bekerja di Cafe. Reisa tidak mengizinkannya mengendarai skuter mininya sepanjang melewati kawasan hutan pinus yang gelap.


“Kawasan itu ternyata tidak semengerikan sebelumnya, saat itu karena aku yang terlalu berfikir parno. Jangan khawatir” tegas Lusia meyakinkan Reisa.


“Bagaimana aku tidak khawatir? Bagaimana jika aku ambil mobil dengan menyicil?” Reisa mencoba mencari jalan keluar untuk Lusia.


“Apa kau sudah gila…!!” ucap Lusia.


Reisa tetap bersikeras untuk kredit mobil agar bisa digunakan Lusia pulang pergi. Pikirnya, setidaknya akan lebih aman daripada menggunakan motor. Reisa yang akan menjamin membayar semua biayanya dan ia tidak akan membebankan tagihan kepada Lusia.


Tidak hanya Reisa, Lusia juga bersikeras menolak dan ia akan tetap akan menggunakan motor kesayangannya. Malam itu menjadi perdebatan keduanya, tidak ada yang mau mengalah. Perdebatan yang selalu didasari oleh kepedulian satu sama lain. Reisa tidak pernah perhitungan terhadap Lusia, begitu juga sebaliknya dengan Lusia.


Bagi Reisa, Lusia adalah satu-satunya sahabat terbaik yang ia miliki semenjak mereka bertemu di Sekolah Elit terbaik dengan beasiswa. Meskipun perjalanan karir dan percintaan Lusia tidak semulus Reisa, mereka tetap selalu mendukung satu-sama lain.


Reisa kali ini dengan berat hati melepas dan menghormati Lusia untuk memilih keputusannya sendiri. Reisa tahu jika ini juga keputusan yang berat bagi Lusia, namun ia percaya jika Lusia pasti memikirkannya dengan baik dan bisa menjaga diri. Reisa meminta Lusia untuk menunda pindah ke Villa Rayn selama 2 hari. Ia butuh waktu bersama sebelum mereka akan menjadi jarang bertemu nanti.


“Aku hanya meminta 2 harimu untuk bersamaku. Tidak boleh bekarta tidak jika kau ingin mendapatkan izin dariku !” perintah Reisa dengan memeluk Lusia.


“Baiklah…” ucap Lusia menepuk bahu Reisa yang memelukknya.


 


*** To Be Continued***


 


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Silahkan klik FAVORITE untuk terus update BAB selanjutnya yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)

__ADS_1


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2