
Hari ini Lusia dijadwalkan pergi ke Rumah sakit untuk melakukan kontrol di temani Reisa. Usai mendapat pemeriksaan, Reisa pergi mengantri untuk mengambil obat yang sudah diresepkan dokter. Saat menunggu, Lusia melihat seorang wanita tua yang juga sama-sama menjadi pasien di Rumah Sakit itu. Lusia pernah beberapa kali bertemu bertegur sapa dengannya di taman sewaktu dirinya masih dirawat.
"Nenek..." panggil Lusia.
Nenek itu langsung menghampiri Lusia saat ia mendengar dan melihat Lusia memanggilnya.
"Kita bertemu lagi" sapa si nenek dengan tersenyum. "Apa sekarang kondisimu sudah semakin membaik?" lanjut tanyanya.
"Semua semakin membaik, ini juga berkat Do'a anda. Apa anda juga sudah tidak dirawat lagi?" tanya Lusia melihat nenek itu sudah tidak memakai pakaian pasien lagi.
"Benar, nenek baru diperbolehkan pulang hari ini dan mendapat rawat jalan, nenek sedang menunggu cucu nenek yang mengurus administrasi" sahutnya.
Lusia mempersilahkan wanita yang sudah lanjut usia itu untuk duduk bersamanya selagi mereka sama-sama sedang menunggu. Keduanya mulai memiliki perbincangan kecil menanyakan kondisi kesehatan masing-masing. Layaknya seorang cucu dangan neneknya, keduanya tampak akrab dan berbicara begitu hangat. Namun, disela-sela perbincangan mereka, tiba-tiba nenek itu menanyakan pertanyaan yang membingungkan Lusia.
"Apa kau sudah bertemu dengan pemuda itu?" tanya nenek dengan raut wajah penasaran.
"Pemuda siapa yang anda maksud?" tanya Lusia yang tidak memiliki gambaran siapa orang yang dimaksud.
Sang nenek seketika memasang raut wajah sedih dan sedikit kecewa. Ia lalu mulai bercerita kepada Lusia jika 2 hari setelah Lusia keluar dari Rumah Sakit, datang seorang pria berdiri didepan ruang rawat inap yang pernah ditempati Lusia.
Pria itu tidak tahu jika Lusia sudah keluar dari Rumah Sakit. Si nenek memberitahunya dan sempat menanyakan kenapa pria itu tidak tahu jika orang yang dikunjunginya sudah keluar dari Rumah Sakit, tapi pria itu hanya menjawab dengan senyum dan berterima kasih atas informasi yang ia terima.
Tidak hanya sampai disitu, si nenek juga memberitahu Lusia jika pria itu tidak hanya datang satu atau dua kali. Ia melihat pria itu selalu datang setiap hari di waktu menjelang akhir jam besuk. Pria itu selalu hanya berdiri didepan pintu menatap ke arah dalam ruangan dengan tatapan penuh kesedihan.
"Sebelum kau keluar Rumah Sakit, nenek tidak terlalu memperhatikan apakah dia datang atau tidak, tapi 2 hari setelah kau keluar dia datang dan melakukan hal yang sama. Tapi sayangnya kau sudah pulang dan nenek mengira kalian sudah saling bertemu" ujar nenek.
Mendengar hal itu, Lusia segera mengeluarkan ponselnya dan memeriksa galeri di ponselnya. Ia menunjukkan kepada si nenek foto Rayn bersama dirinya, sebuah foto yang mereka ambil bersama sebelum Rayn melukisnya waktu itu.
"Apa pria ini yang anda maksud?" tanya Lusia menunjukkan foto Rayn.
"Aaahhh benar, dia adalah pria itu" sahut si nenek dengan tersenyum karena mengenali wajah Rayn.
Lusia terdiam, ia terlihat berpikir sejenak lalu mengucapkan terima kasih kepada nenek atas informasi yang ia terima. Lusia meminta maaf karena dirinya harus segera pergi, dengan sopan ia pamit lalu meninggalkan si nenek.
Lusia bergegas pergi menemui Reisa yang sedang mengantri obat. "Reisa" panggil Lusia.
"Oh tunggu sebentar, tinggal 1 nomor antrian lagi" sahut Reisa.
"Berikan aku kunci mobilmu!" perintah Lusia mengulurkan tangannya.
Reisa seketika bingung dan bertanya. "Untuk apa kau membutuhkan kunci mobil? Apa ada yang tertinggal didalam mobil?" tanya Reisa sembari membuka tas mengambil kunci mobil dan menyerahkannya kepada Lusia.
"Maafkan aku, aku harus pergi sekarang. Kau bisa memanggil taksi atau meminta David datang menjemputmu. Maafkan aku Reisa" ucap Lusia sambil melangkah pergi meninggalkan Reisa dengan terburu-buru.
__ADS_1
"Ta... ta... tapi Lusia, kau tidak boleh mengemudi, lukamu masih belum pulih" teriak Reisa bangkit dari duduknya hendak mengejar Lusia.
"Nona Lusia Alkeysha" panggil seorang petugas menyebut nama Lusia. Seketika panggilan itu menghentikan langkah Reisa dan membuatnya bingung.
"Lusia... !" teriak Reisa memutuskan menghentikan langkahnya karena harus mengambil obat Lusia.
Teriakan Reisa membuat semua orang yang mendengarnya menatap dirinya. Mereka tampak penasaran dan bertanya-tanya apa kiranya yang terjadi diantara keduanya.
Reisa segera menghubungi David dan memintanya memeriksa GPS kendaraannya dan mengikuti kemana Lusia pergi. Sementara dirinya akan segera pergi menyusul dengan taksi usai menyelesaikan urusan di Rumah Sakit.
Lusia tidak pernah tahu, jika ternyata selama dirinya dipindahkan ke ruang rawat inap, ternyata Rayn selalu datang berkunjung secara diam-diam. Tidak hanya sampai disitu, tanpa sepengetahuan Lusia, Rayn bahkan mengutus beberapa pengawal untuk berjaga disekitar apartemen Reisa. Meski pelaku sudah di jebloskan ke penjara namun Rayn masih mengkhawatir akan keselamatan Lusia.
Lusia mengendarai kendaraan Reisa dengan kecepatan tinggi, ia bahkan hampir menerobos lampu merah. Nasib baik masih berpihak pada Lusia, untung ia segera menginjak rem hingga tidak sampai menabrak barisan kendaraan yang ada didepannya. Namun meskipun begitu, ia harus merasakan kesakitan saat tubuhnya tertahan sabuk pengaman dan terpental kembali karena rem mendadak.
"Aawhh..." desis Lusia
Lusia kembali melajukan kendaraannya meskipun sudah melukai lukanya, ia menahan rasa sakit yang mendera dengan terus berkendara menuju Villa Rayn.
Sesampai di Villa Rayn, Lusia bergegas turun untuk masuk Villa. Ia mencoba menekan sandi pintu yang terakhir ia gunakan, namun karena gugup sandi selalu salah. Lusia menggedor-gedor pintu dan memanggil nama Rayn, ia memintanya untuk membuka pintu.
Di dalam Villa, di ruang melukisnya terbaring tubuh seorang pria di lantai dengan mata terpejam dan masih menggenggam botol minuman ditangannya. Ya, pria itu tentu saja adalah Rayn. Ternyata benar Rayn masih berada di negara ini, ia tidak pernah meninggalkan negara ini apalagi kembali ke Canada.
"Rayn... Rayn... buka pintunya !!"
"Rayn..."
Teriakan itu terdengar lagi dan semakin nyata. Rayn berusaha membuka mata perlahan. Ia berusaha bangkit menggunakan kedua tangannya untuk menyanggah tubuhnya yang terasa berat. Terlihat jelas raut wajahnya seperti usai mabuk berat, meskipun begitu tidak menutupi ketampanannya yang masih mempesona dibalik penampilannya yang kacau.
Dengan gontai Rayn melangkah berjalan untuk keluar. Didepan pintu ruang melukis sudah berdiri Arka yang hendak mengetuk pintu untuk memanggilnya. "Tuan Rayn, dibawah ada..." ucap Arka tertahan.
Seperti sudah tahu apa yang akan disampaikan Arka, Rayn hanya melewatinya begitu saja meninggalkan ruangan menuruni anak tangga untuk pergi ke lantai bawah. Terdengar suara sandi yang berulang kali salah, namun tiba-tiba valid dan pintu terbuka. Lusia salah menekan sandi karena ia terlalu gugup.
Pintu terbuka, Lusia pun bergegas masuk hendak pergi ke lantai 2 yang merupakan wilayah Rayn di Villa itu. Namun langkah kaki itu terhenti bersamaan dengan langkah kaki Rayn yang juga berhenti setelah melihat kehadiran Lusia.
Lusia menatap wajah Rayn dengan tatapan kesedihan beradu dengan kekecewaan. Sulit di percaya jika selama ini Rayn sengaja menghindarinya dan berbohong telah meninggalkan negara ini.
Lusia bahkan semakin menjadi kesal melihat seisi ruangan itu kini dipenuhi dengan botol-botol minuman yang berserakan. Semua berantakan, menyakiti diri sendiri seperti hidup sudah tidak ada gunanya. Sebuah pemandangan yang sama persis saat pertama kali ia dulu datang bekerja untuk Rayn.
Rayn pun masih saja berdiam diri menatap Lusia, ia berusaha meyakinkan dirinya jika yang berdiri dihadapannya saat ini benar-benar sosok wanita yang sangat ia cintai dan ia rindukan. Ia semakin menatap lekat Lusia yang berjalan dengan langkah kaki cepat menghampiri dirinya.
Tanpa kata Lusia langsung memukul dada Rayn berulang kali dengan tangisan yang mulai pecah. "Apa kau bodoh, kenapa kau lakukan ini kepadaku?" tanyanya dengan menangis. Air mata itu sudah tidak lagi tertahan di pelupuk matanya, namun sudah membanjiri wajahnya.
Tanpa menghindar ataupun melawan, Rayn membiarkan Lusia melampiaskan kemarahannya. Ia hanya menatap wajah wanita yang sangat dicintainya kini akhirnya hadir didepan matanya. Wanita yang ia rindukan dan hampir membuatnya putus asa.
__ADS_1
"Kenapa kau lakukan ini kepadaku, kenapa Rayn?" teriak Lusia menghentikan pukulannya dengan tangan yang masih tertahan di tubuh Rayn.
"Mungkin kau sudah mengerti kenapa aku melakukannya" sahut Rayn mulai membuka suara.
"Demi apa? Kebahagiaan kita? Apa kau tahu betapa menderitanya diriku tanpamu? Dan lihatlah dirimu, minuman ini... apa ini yang kau maksud dengan bahagia?" tanya Lusia dengan nada tegas.
"Aku sudah berusaha keras, aku selalu berpikir tentang hari-hari indah yang bisa aku ciptakan untukmu. Aku berusaha menutupi hati nurani ku yang terus menjerit dan memaki diriku jika itu tidak akan mungkin bagiku. Aku menutup telingaku, aku menutup mataku dari pandangan orang tentang kelemahanku yang hanya akan membebanimu. Aku pikir itu sudah cukup untuk memaksakan kelayakanku bersamamu, tapi ternyata aku salah. Ketika aku pikir aku sudah melakukan yang terbaik, tapi sakit rasanya saat tahu jika ternyata itu masih tidak cukup" ucap Rayn dengan tatapan sendu memandang Lusia.
Tatapan sepasang netra teduh Rayn mulai menggoyahkan pertahanan Lusia. Mendengar Rayn mengungkapkan apa yang sudah ia coba lakukan untuk bisa bersanding dengan dirinya, membuat Lusia seketika terdiam. Ia tidak menyangka jika selama ini Rayn telah melewati masa itu seorang diri.
Bagi Lusia, selama bukan Rayn yang menyerah maka ia masih bisa bertahan dan memperjuangkan perasaannya. Namun, ia tidak tahu apa yang harus ia kulakukan jika Rayn menjadi orang yang menyerah dalam hubungan mereka.
"Ini bukan tentang kebahagian Lusia, tapi tentang keselamatanmu. Mungkin dengan bersama aku bisa memberimu kebahagian tapi...tapi satu hal yang tidak bisa kita hindari adalah kenyataan bahwa aku tidak akan pernah bisa melindungimu" lanjut ucap Rayn.
Lusia mengerti dan memahami apa yang di katakan Rayn. Namun, saling melindungi bukanlah satu-satunya yang harus diperjuangkan dalam sebuah hubungan. Kelemahan Rayn bukanlah salahnya dan bukan berarti ia tidak layak mencintai dan dicintai.
"Apa itu yang kau takutkan?" tanya Lusia.
"Lebih dari rasa takut, tapi itu sungguh menyiksaku" sahut Rayn. "Aku tidak bisa mengendalikan phobia ku, aku tidak bisa melakukan apapun, aku hanya menelan rasa takut saat kau datang untuk melindungiku, bahkan saat kau terluka didepan mataku. Itu sangat sulit, itu sangat menyiksa" jawab Rayn.
"Wahhh... aku sungguh tidak bisa berkata apa-apa Rayn" sahut Lusia.
Lusia mengambil satu langkah mundur, ia mengusap air matanya dan berusaha untuk tetap tegar. "Lalu kau ingin aku hidup bersama orang seperti apa? Bersama seorang Polisi? Tentara? Ahli bela diri? atau orang seperti Arka?" lanjut tanya Lusia yang merasa jika alasan Rayn tidak bisa ia terima.
"Setidaknya bersama dengan orang normal yang bisa memberimu kencan penuh romansa seperti yang kau impikan. Sebuah kencan yang sesungguhnya" sahut Rayn.
"Rayn....!!!!" teriak Lusia.
Air mata Lusia semakin mengalir, ia tidak menyangkan jika Rayn telah salah menilai dirinya. "Apa hanya itu yang kau pikirkan tentangku? Apa menurutmu selama ini itu yang aku inginkan? Bahkan kita belum saling menanyakan alasan kenapa kita saling memilih. Bagaimana bisa kau menilai semuanya hanya sebatas itu Rayn" ucap Lusia dengan kata yang terputus-putus karena isakan tangisannya.
"Kamu tahu aku mencintaimu, aku juga tahu kau mencintaiku. Aku pun ingin bertanya dan ingin tahu. Aku hanyalah pria tidak normal yang berbeda dengan orang lain. Aku tidak mengerti apa yang membuatmu pada akhirnya menjatuhkan pilihanmu padaku. Aku bahkan tidak mengerti apa yang kau lihat padaku. Meski tanpa tahu alasan itu, kau sudah membuat diriku merasa menjadi orang spesial, merasa bahwa hanya ada aku satu-satunya yang kau inginkan. Lebih dari itu, aku adalah orang yang paling menginginkanmu untuk bisa bersanding bersamaku seumur hidupku."
Kata-kata itu hanya tertahan dihati Rayn. Dibalik cintanya yang begitu tulus kepada Lusia, Rayn memilih berhenti dari rasa ingin memiliki Lusia sepenuhnya. Melepas wanita yang sudah menjadi bagian dari rencana masa depannya.
.
.
Apakah Rayn akan tetap pada keputusannya? Mampukah Lusia meyakinkan Rayn untuk kembali bersama?
.....
*** To Be Continued***
__ADS_1
Yuk kasih dukungan buat keduanya, mana nih team Lusia & Rayn... Raise hand 🖐