
Lusia sudah siap untuk memulai pekerjaan barunya di Villa Rayn. Meskipun ia masih tidak tahu secara detail perkerjaan seperti apa yang akan dilakukannya, namun ia tetap semangat dan yakin jika semua sudah jalan
Tuhan untuknya.
Awalnya Lusia bertekat menerima pekerjaan ini agar ia bisa segera mengumpulkan uang untuk menebus kembali rumah neneknya yang dijadikan jaminan hutang ayah tirinya oleh sang ibu. Ia sebelumnya berencana meminta gaji dimuka selama kontrak, namun setelah mendengar perdebatan antara Rayn dan Mickey membuatnya sadar, jika tidak seharusnya dia memanfaatkan situasi orang lain. Masalah hutang keluarganya Lusia memutuskan akan mencari jalan lain.
Lusia sudah sampai di Villa, ia yang sudah mengetehui sandi rumah Rayn langsung menekan screen sandi dan masuk. Sesampainya didalam, matanya tebelalak melihat meja ruang utama penuh dengan beberapa botol minuman keras yang sudah kosong. Lusia meletakkan tasnya dengan menghela nafas kasar. Pemandangan tak terduga dihari pertamanya bekerja. Tanpa banyak berfikir ia bergegas mencari kantong sampah plastik untuk membersihkannya.
“Sebanyak ini, apa dia usai mengadakan pesta minum-minum” dumel Lusia sambil memasukkan satu persatu botol minuman ke kantong plastik.
“Setelah menghabiskan semua ini aku yakin dia pasti sudah terkapar tidak bisa bergerak dikamarnya. Sepertinya tugas pertamaku disini membuatkan sup pereda mabuk untuknya” ucapnya menatap tangga lantai 2 lalu pergi menuju ke dapur.
Lusia membuka Kulkas untuk menyiapkan bahan namun ia harus dikejutkan dengan isi kulkas yang kosong dan hanya ada beberapa botol minuman keras saja. Lusia langsung menghubungi Mickey untuk mengkonfirmasi apa yang ia lihat saat ini.
"Mickey, kau mengatakan jika kau orang yang mengurus semua kebutuhannya, tetapi apa kau tahu apa yang aku temukan didalam lemari es ?” tanya Lusia dalam panggilan dengan menurunkan satu-persatu botol minuman dari kulkas.
“Apa penuh dengan minuman keras lagi?” jawab Miceky terdengar sedang menghela nafas kasar.
“Lagi ?” tanya Lusia.
“Aku adalah orang yang sangat peduli dengan gizinya, karena itu aku sudah mengatur secara rutin jika dia akan menerima semua kebutuhan buah dan sayuran. Tetapi tampaknya dia membuatnya terbuang lagi.”
“Terbuang?” tanya Lusia.
Mickey sudah tidak terkejut dengan hal ini, itu sebabnya kini ia memberitahu Lusia setiap pagi memeriksa lemari yang ada diluar Villa. Mickey sudah menyiapkan tempat untuk para kurir yang mengantar bahan makanan, makanan siap saji, paket dan yang lainnya disana. Hal ini dilakukannya karena kondisi Rayn yang tidak memungkinkan menerima kontak fisik dengan para kurir.
Meski Mickey sudah mengatur semuanya untuk Rayn, namun tidak jarang Rayn mengabaikannya dan tetap membiarkan semua yang ada di dalam box tetap ada disana hingga pelayan yang bertugas membersihkan rumah datang memeriksanya.
“Jangan khawatir, aku tidak akan membuatnya kekurangan gizi meskipun dia orang yang mengabaikannya. Sudah ada catering hotel yang secara rutin mengantar makan untuknya. Seharusnya sebentar lagi mereka akan datang mengurus sarapan paginya. Bahan makanan itu aku siapkan hanya jika dia bosan dan ingin memasak sendiri yang lain” ucap Mickey.
“Wahh..., kau sudah terdengar seperti istrinya" celetuk Lusia mendengar Mickey benar-benar mengatur semuanya untuk Rayn.
“Haha… Selebihnya akan aku jelaskan nanti karena saat ini aku sedang meeting” ucap Mickey lalu menutup telepon.
“Apa ini kulkas sebuah bar? Tidak ada apapun yang bisa diolah kecuali botol-botol minuman. Lusia akhirnya memutuskan membuat bubur dan akan berencana pergi belanja setelahnya.
Seusai membuat bubur, Lusia mengirim pesan kepada Mickey menanyakan dimana posisi kamar Rayn.
Lusia [ Katakan padaku dimana kamarnya ! ]
Mickey [ Naik lantai 2, saat melihat ke sisih kiri ada 2 pintu jalan lurus, pintu yang sebelah kanan itu kamarnya ]
Lusia bergegas mengantar bubur ke kamar Rayn. Namun saat ia akan menapaki tangga, tiba-tiba mendengar suara seseorang membunyikan Bell dan berteriak “Saya dari hotel sudah meletakkan sarapan anda dilemari" ucap seorang pria yang terdengar sangat lantang.
__ADS_1
Lusia meletakkan kembali bubur yang sudah ia buat dan pergi untuk memeriksa paket makanan yang datang. Saat membuka pintu kurir sudah pergi. Dilihatnya didalam lemari sekotak Rice Box dari salah satu hotel ternama.
“Wah, apa dia selalu sarapan dari hotel ini? Aku tidak akan mampu bersaing dengan Chef dari hotel ternama” ucap Lusia lesu merasa masakannya tidak akan sehebat itu.
Rayn yang sudah bangun perlahan menuruni anak tangga pergi kedapur. Ia meraih satu botol minumam yang ada dimeja dan meneguknya. Namun botol itu hanya menyisahkan seteguk saja. Rayn meletakkan kembali lalu berjalan menuju kulkas untuk mengambil satu yang baru.
Rayn menghelas nafas kasar mengerutkan keningnya setalah mendapati kulkas yang kosong tanpa ada satupun botol minuman yang sebelumnya banyak ia simpan. Lusia masuk kedalam rumah dengan membawa Rice Box milik Rayn. Mendengar ada suara orang yang masuk, Rayn menutup kembali kulkas dan pergi menghampiri.
“Mickey, apa yang kau lakukan dengan minumanku?” teriak Rayn berjalan ke ruang tamu, namun ia dikejutkan oleh kehadiran Lusia yang juga sedang berjalan mengarah kedapur.
“Kau sudah bangun, aku membuatkan bubur dan berniat mengantarnya ke kamarmu tapi ada paket makanan ini datang” ucap Lusia Rice Box milik Rayn.
“Jadi itu kau” ucap rayn dengan mengehela nafas kasar melihat Lusia.
“Mickey bilang dia sedang ada urusan, jadi hari ini dia tidak datang” ucap Lusia.
“Aku tanya itu kau yang melakukannya?“ tanya Rayn menunjuk kearah kulkas.
“Oh, minuman itu. Bagaimana bisa kau hanya menyimpan minuman keras dikulkasmu. Kau tahu jika itu tidak baik untuk kesehatanmu” jawab Lusia.
Rayn sejenak memejamkan matanya mendengar jawaban Lusia, seolah menahan amarah dan kembali menghelas nafas kasar.
"Aku mengizinkanmu tinggal tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu mencampuri hidupku. Apa hakmu melakukannya?“ tanya Ryan.
“Aku memang tidak memiliki hak, tetapi apa kau tahu jika perlahan kau sedang berusaha merusak tubuhmu?. Kenapa kau hanya mengkonsumsi minum-minuman keras itu?” tanya Lusia.
“Apa pedulimu?. Ini hari pertamamu, tapi jika kau sudah merasa muak melihatnya kau bisa pergi, aku tidak membutuhkanmu dan kau boleh keluar dengan sendirinya. Aku tidak pernah memintamu untuk datang” ucap Rayn meninggalkan Lusia.
Lusia meraih lengan Ryan untuk menahannya. Ia terpancing dan mulai marah dengan ucapan Rayn.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Rayn melepaskan tangan Lusia dengan menghampasnya.
“Bagaimana bisa kau berbicara sekasar itu?” tanya Lusia.
“Kenapa? apa kau marah? atau kau ingin mengatakan jika kau sedang mengasihaniku. Why? Apa karena yang Mickey katakan padamu tentang kondisiku?. Jika itu yang kau pikirkan sebaiknya kau pergi sekarang” ucap Rayn menunjuk pintu.
“Kau benar, mungkin aku terlihat sedang mengasihanimu. Tapi…, bukan itu. Kau harus membuang pikiran kasihan itu dari orang yang benar-benar tulus dan peduli padamu.
Rayn mengabaikannya dan kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Lusia.
“Kau menyentuh minum-minuman itu bukan karena kau ingin meminumnya bukan? Karena kau terlalu pengecut” ucap Lusia membuat Rayn menghentikan langkahnya.
“Kau… .” Lusia mengehela nafas dan melanjutkan ucapanya kembali. ”Kau hanya menjadikannya pelampiasan untuk menutupi rasa takutmu. Sesulit apapun itu bagaimana bisa kau memilih merusak tubuhmu” lanjutnya.
__ADS_1
“Hentikan omong kosongmu, kau tidak mengerti apa-apa.” Potong Rayn menoleh ke arah Lusia.
“Lalu, apa mereka yang mengerti dirimu? Apa minuman-minuman itu yang akan memberimu jalan untuk mendapatkan keberanian?” Teriak Lusia menunjuk ke arah kulkas tempat dimana Rayn menyimpan botol-botol minuman keras.
Lusia mulai mengulurkan tangannya kepada Rayn. Rayn hanya diam menatap tajam kearah Lusia.
“Aku hanya ingin membantumu bukan karena aku mengasihanimu. Tidak bisakah kau memilih uluran tanganku daripada mereka? Aku bisa selalu menggenggam tanganmu, membawamu kemanapun. Aku bisa mendengarkan semua keluhanmu, aku bisa menjadi teman bagimu. Bisakah kau menerimanya dengan meraih tanganku?” tanya Lusia masih mengulurkan tangan berharap Rayn menerimanya.
“Apa kau sadar dengan apa yang kau ucapkan? Apa kau tahu alasan kenapa aku menolak kesepakatan itu? Apa kau tau artinya jika aku menerima uluran tanganmu?” tanya Ryan dengan wajah serius.
"Sepertinya kau sudah memikirkan banyak hal” jawab Lusia.
“Artinya kau sudah menyerahkan seumur hidupmu untukku. Karena tidak akan ada yang berubah padaku, sehingga aku akan terus bergantung padamu dan mengandalkanmu seumur hidupku” ucap Rayn membuat Lusia terdiam.
Rayn sangat sadar diri dan berkata dalam hati. “Bagaimana bisa aku menyeret orang lain lagi untuk hancur bersamaku. Bagaimana mungkin aku egois dengan menyia-nyiakan hidupmu hanya untuk menjadi pertahananku” ucapnya dalam hati.
“Kau… ” ucap Lusia menatap Rayn sendu.
“Baiklah, jika kau sudah mengerti, maka aku yang akan mengulurkan tanganku. Apa kau akan meraihnya dan masih ingin melanjutkannya?" tanya Rayn dengan balik mengulurkan tangan kepada Lusia. Ia berharap Lusia akan mundur.
Melihat Lusia hanya diam menatapnya, Rayn sudah mengetahui jawaban Lusia. “Sepertinya kini kau sudah paham maksudku, jangan membuang waktumu seperti apa yang dilakukan Mickey” ucap Rayn menarik kembali tangannya dan berbalik untuk meninggalkan Lusia.
Keputusan tak terduga Lusia menggetarkan hati Rayn saat Lusia meraih lengannya kemudian perlahan menggenggam tangannya.
“Kau bisa terus mengandalkanku, bergantung padaku dan memintaku terus berada disisihmu. Aku tidak peduli entah kapan kau akan sembuh atau mungkin hal itu tidak akan pernah terjadi seperti yang kau katakan. Aku tidak peduli. Aku akan tetap ada disisihmu, menjadi perisai untukmu dan menggengam tanganmu seperti ini” ucap Lusia menatap tangannya yang menggenggam tangan Rayn lalu memandang wajah Rayn.
“Akan kupastikan selalu berada disisihmu, mari kita lakukan semuanya bersama” lanjutnya dengan tersenyum memberi semangat.
“Ibu, apa kau yang mengirim dia padaku? Apa yang harus kulakukkan sekarang?" ucapnya dalam hati menatap Lusia yang menggenggam tangannya dengan tersenyum.
*** To Be Continued***
Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃
✅ Silahkan klik FAVORITE untuk terus update BAB selanjutnya yah..
❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍
📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)
🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.
Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆
__ADS_1