Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 54 - Cemburu?


__ADS_3

Lusia dan rekan kerjanya dalam 1 shift sudah bersiap untuk menutup Cafe. Kelvin sudah dari sore meninggalkan Cafe karena ada urusan penting mendadak. Ia mengatakan akan segera kembali sebelum Cafe tutup.


“Lusia, ponselmu dari tadi bunyi ada panggilan masuk” ucap Grace yang baru saja keluar dari ruang ganti. Ia melihat panggilan berulang kali di ponsel Lusia yang sedang diisi daya.


Sudah lebih dari 10x panggilan tidak terjawab dari nomor tidak dikenal. Panggilan itu kembali masuk saat Lusia sedang memeriksa nomornya. Dengan perasaan sedikit ragu Lusia menjawab panggilan.


“Halo...” sapa Lusia dalam panggilan telepon.


“Kak Lusia, akhirnya kau menjawab panggilanku. Kak Lusia aku Nara. Kak Lusia, tolong bantu Dave kak. Aku sudah tidak tahu harus bagaimana ini kak. Aku tidak berani menghubungi ibu Dave, jadi aku menghubungi kak Lusia” ucap seorang gadis dengan menangis terisak.


“Halo, tenanglah dulu. Siapa kamu tadi, Nara? dan Dave, apa yang terjadi dengannya? Tolong bicara pelan-pelan agar aku bisa mengerti” jawab Lusia mencoba untuk tetep tenang.


“Aku Nara kak, dan saat ini aku dan Dave sedang berada di kantor polisi.”


“Nara…? Kantor Polisi...?” tanya Lusia sembari berusaha menganali nama gadis itu. Lusia berpikir sejenak, kemudian ia mulai teringat jika Nara adalah gadis yang berada satu sekolah dengan Dave. Ia juga gadis yang selalu datang ke Cafe hanya untuk memperhatikan Dave.


Setelah dengar penjelasan singkat dari Nara, Lusia langsung pamit pergi meninggalkan Cafe lebih dahulu. Ia menitipkan tanggung jawab tutup Cafe kepada Vhia.


Lusia segera mencari keluar taxi. Ia tidak menyadari jika di seberang Cafe sudah ada Arka dengan mobil miliknya baru saja sampai untuk menjemputnya.


Melihat Lusia hendak masuk taxi, Arka langsung keluar mobil berusaha memanggilnya. Namun Lusia tidak mendengar dan sudah masuk dalam taxi. Arka sontak langsung kembali masuk mobil dan mengikuti taxi yang ditumpangi Lusia.


Lusia sampai di sebuah kantor polisi. Arka segera memarkirkan mobil dan menyusul Lusia. “Nona Lusia…” panggil Arka.


“Kau…” sahut Lusia, belum sampai ia menyelasikan ucapanya sudah Arka sudah memotong.


“Maaf Nona. Saya ada disini karena sesuai perintah Tuan Muda Rayn untuk pergi menjemput anda ke Cafe, tapi saya melihat anda keluar Cafe dan langsung pergi dengan taxi, jadi saya mengikuti anda hingga kemari” potong Arka yang langsung memberikan penjelasan yang komplit.


“Oh… OK. Tapi aku sedang ada urusan mendesak, kau bisa kembali dahulu atau menungguku” sahut Lusia sambil berjalan dengan langkah tergesa-gesa masuk kantor polisi.


Lusia langsung menuju ke sebuah ruangan penyelidik tindak pidana ditemani Arka. Disana sudah ada Dave, Nara dan 3 orang pria dewasa yang duduk di depan seorang petugas kepolisian.


Terlihat wajah 3 pria itu penuh dengan lebam dan memar. Tidak hanya mereka, wajah Dave juga terluka namun tidak separah mereka. Dave hanya memiliki luka ringan di pelipis mata dan bibirnya.


Melihat kedatangan Lusia, Nara langsung menghampiri dan memeluknya dengan menangis. Mata ke 3 pria itu langsung menatap tajam Lusia dan bangkit dari duduknya. “Jadi kau wali mereka?” Apa dia adikmu?” tanyanya dengan penuh kekesalan menghampiri Lusia. Arka langsung pasang badan berdiri di depan Lusia yang masih memeluk Nara.


“Apa kau didik dia untuk menjadi preman?” teriak pria lain.


Teriakan dan cacian tiada henti-hentinya di lontarkan pria-pria itu dengan terus menyerang dan menyalahkan Dave. Mendengar mereka terus mencemoh Lusia, membuat darah Dave semakin mendidih.


“Tutup mulutmu pria bedebah” teriak Dave berdiri dari duduknya dengan tangan yang siap dilayangkan untuk memukul mereka lagi.


“Hentikan Dave…!!!”

__ADS_1


Lusia langsung mendekat menahan Dave untuk tidak memukul mereka, bahkan petugas sampai kwalahan dan geram karena mereka sulit diatur dari tadi, hingga akhirnya terpaksa 2 dari pria itu dibawa keruangan lain. Lusia berusaha menenangkan Dave dan menanyakan duduk perkaranya kepada petugas.


Kejadian itu bermula saat Nara hendak mengunjungi rumah Dave. Ia ingin memberikan buku catatan usai pulang dari kursus malam. Siapa sangka, jika kedatangannya saat itu diwaktu yang tidak pas. Dimana ia dihadang oleh 3 orang yang mencoba melakukan tindakan pelecehan terhadapnya.


Nara berusaha kabur namun mereka kembali menghadang dan menangkapnya. Di waktu yang pas Dave lewat usai dari latihan taekwondo. Ia berusaha membantu Nara. Perkelahian tidak dapat dihindarkan sehingga akhirnya mereka berakhir di kantor polisi.


Tidak ada bukti dan saksi mata yang menguatkan tindakan tidak pantas ketiga pria itu kepada Nara selain kesaksian Dave dan Nara sendiri. Pria itu mengelak dan menyalahkan Dave yang sudah menyalagunakan kemampuan bela dirinya.


Meskipun mereka sempat memperlakukan Nara dengan kasar sebelum Dave datang menolongnya, namun Nara meyakinkan Lusia jika ia baik-baik saja dan tidak terluka.


Nara memberi kesaksian jika pria-pria itu yang lebih dahulu memancing perkelahian dengan memukul Dave lebih dulu. Dave tidak ingin melawan atau memiliki niatan untuk meladeni mereka, bahkan ia memutuskan untuk pergi dengan Nara. Tapi pria itu justru marah karena Davd mengabaikannya, sehingga tiba-tiba mereka kembali memukul Dave hingga akhirnya Dave melakukan perlawanan untuk membela diri.


Meskipun yang dilakukannya adalah sebuah pembelaan diri, namun perkelahian 3 lawan 1 itu justru Dave yang tidak memiliki banyak luka dibandingkan 3 orang lawannya. Ketiga pria itu mau jalan damai asalkan Dave mengganti rugi atas luka fisik yang diterimanya.


Lusia bingung, ia tidak ingin membiarkan pria-pria itu lolos tetapi ia juga tidak bisa memperpanjang urusan ini. Hal ini karena Dave saat ini sedang dalam pelatihan dimana dirinya terpilih sebagai perwakilan dalam pertandingan taekwondo tingkat nasional. Lusia tidak ingin masalah ini justru menghalangi impian dan masa depan Dave.


“Baiklah, saya sebagai walinya akan menanggung ganti rugi itu” ucap Lusia mengejutkan Dave.


“Apa yang kak Lusia lakukan, kenapa kak Lusia justru memberikan kompensansi kepada pria-pria itu?” tanya Dave.


“Dave..., aku tahu kau marah dan merasa ini tidak adil. Aku pun juga sangat marah dan tidak bisa membenarkan sikap mereka. Tapi Dave…, kita tidak memiliki bukti kuat dan lihat apa yang terjadi dengan mereka!” jawab Lusia menunjuk wajah babak belur pria-pria itu karena perlawanan Dave.


"Itu karena mereka yang memulainya” jawab Dave.


“Lalu kak Lusia ingin aku menerima uang yang sudah susah payah kakak kumpulkan untuk urusan keluarga kakak? Aku tidak akan melakukannya. Bagaiamana aku bisa menerimanya setelah melihat perjuangan dan jeri payah kak Lusia selama ini” tegas Dave.


“Dave, aku tahu itu. Tapi, saat ini bukan waktu yang tepat untuk memperdebatkannya. Masalah ini jikapun kita berusaha perjuangkan dan memperpanjang masalah ini, aku tidak tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan Dave. Tapi, yang sudah pasti kau tidak akan bisa melakukan pertadingan itu dengan statusmu saat ini. Dave pikirkan masa depanmu” ucap Lusia.


Dave terdiam, ia membuang nafas kasar karena tidak bisa menerima semua yang terjadi. Ia sama sekali tidak menyesali perbuatannya. Tapi ia merasa sangat bersalah kepada Lusia karena sudah menyeretnya apalagi harus membantunya membayar uang kompensasi. Terlihat wajah Dave yang tertekan dan bimbang.


“Lusia…” panggil seorang pria yang memasuki ruangan.


“Kelvin...?” sapa Lusia penuh tanya melihat kedatangan Kelvin. “Bagaimana kau ada disini?” tanya Lusia.


Dave memotong. “Aku yang memanggilnya sebelum kak Lusia datang. Aku tidak tahu jika ternyata Nara juga memanggil kak Lusia” sahutnya.


Lusia menceritakan situasinya kepada Kelvin. Kelvin setuju dengan keputusan Lusia dan ia yang akan menjamin dan membayar biasa kompensasinya. Kasus itu akhirnya ditutup dengan jalan damai.


Usai menyelesaikan urusan di kantor polisi, Lusia berencana mengantar keduanya kembali. Lusia memutuskan pergi bersama Arka.


Kelvin menahan tangan Lusia yang hendak masuk mobil. “Tidak bisakah kau ikut dengan mobilku? Aku akan ikut mengantar mereka” ucap Kelvin.


“Tidak apa, ada Arka. Bukankah kau ada urusan yang lebih mendesak. Aku tidak ingin merepotkanmu lagi” jawab Lusia.

__ADS_1


Kelvin sedikit kecewa dengan keputusan Lusia. Kelvin menarik tubuh Lusia dan mendekat seolah akan memeluk Lusia.


“Kelvin …” ucap Lusia menyadari Kelvin semakin mendekat.


“Kenapa setiap panik kau selalu jadi lupa segalanya?” tanya Kelvin dengan melingkarkan tanganya di pinggang Lusia untuk melepas apron Cafe yang masih dikenakan Lusia.


“Ehemm… ada yang mencoba mencari kesempatan” celetuk Dave menggoda keduanya.


“Aku bisa melakukannya sendiri” sahut Lusia. Namun ia sudah tidak bisa bergerak karena Kelvin sudah mulai melepas ikatan apronnya.


“Lusia….” Panggil seorang pria.


Tidak hanya Lusia, tapi Kelvin, Dave, Nara dan Arka langsung menoleh ke arah suara itu berasal. Terlihat seorang pria mengenakan piyama dilapisi cardigan dan beralaskakikan sandal kamar. Dengan nafas terengah-engah ia menatap Lusia.


“Rayn…” sahut Lusia.


Melihat kedatangan Ryan, Lusia sontak mengambil langkah mundur dari Kelvin. Ia meminta Kelvin untuk berhenti karena ia akan melanjutkan melepas apronnya sendiri.


Perasaan cemas yang bercampur kesal terlihat jelas di raut wajah Ryan yang berdiri menatap Lusia dan Kelvin. Ia sengaja datang ke kantor polisi setelah mendapat laporan dari Arka jika mereka akan pulang terlambat karena sedang berada di kantor polisi.


Mendengar laporan Arka, tanpa pikir panjang dan bertanya, Rayn langsung pergi dengan mengendarai mobilnya untuk menemui Lusia. Ia bahkan sampai lupa membawa posel usai meletakkannya saat memakai cardigan. Hal itu membuatnya tidak mengetahui jika Arka menguhunginya berulang kali untuk melaporkan situai di kantor polisi.


Rayn sangat khawatir jika terjadi sesuatu dengan Lusia, bahkan usai menerima laporan dari Arka, ia langsung pergi hanya dengan mengenakan piyama dan cardigan rajut serta beralakaki sandal yang ia pakai di kamarnya. Suatu hal yang tidak ia sangka disaat dirinya sangat mencemaskannya, justru melihat Lusia bersama Kelvin dengan posisi yang membuatnya kesal.


Usai melepaskan apronnya, Lusia menghampiri Rayn. Namun Rayn mengambil satu langkah mundur saat Lusia hendak berjalan mendekatinya.


“Rayn… “ panggil Lusia penuh tanya, ia bingung akan reaksi Rayn. Lusia menghentikan langkahnya menatap Rayn yang juga menatapnya.


"Ada apa dengannya?" gumam Lusia dalam hati.


"Sepertinya ini akan menjadi semakin rumit, ketika seorang pria yang belum sadar akan perasaannya, tapi sudah merasa cemburu" gumam Dave melihat sikap Rayn.


.


.


*** To Be Continued***


Buat kalian yang ingin lihat Visual dari Dave ^^.


Author pilihkan yang fresh.. haha


Yuk yang kenal boleh absen 🤭

__ADS_1



__ADS_2