
Setelah menikmati liburan di Kanada, kini Rayn dan Lusia telah kembali ke negaranya. Kanada bukan hanya sekedar menjadi tempat untuk mereka berlibur, tetapi juga menjadi saksi biksu janji suci Rayn dan Lusia yang telah mengikat keduanya menjadi pasangan suami istri.
Meskipun telah resmi secara hukum dan agama, Rayn masih harus menanggung siksaan rencana malam pertamanya di Vancouver yang gagal. Bahkan ia masih harus setia menunggu sampai Lusia mengakhiri masa merahnya.
Sepulang dari Kanada, keduanya mulai kembali ke rutinitas mereka masing-masing. Namun yang berbeda, jika sebelumnya hubungan keduanya dalam Villa adalah Bos dan pegawainya, saat ini mereka adalah pasangan suami & istri. Hal itu membuat Lusia selalu menyibukkan diri dapur menyiapkan makan malam untuk dirinya dan Rayn. Sementara Rayn sendiri pun juga mulai kembali sibuk bergelut dengan alat lukisnya diruang melukis seperti saat ini.
Rayn telah menyelesaikan pekerjaannya dan ia kembali pergi ke kamar pribadinya yang kini telah menjadi kamar utama untuk mereka berdua. Rayn membuka pintu sembari memanggil nama Lusia, namun sayangnya Lusia tidak ada didalam kamar.
Rayn pun pergi ke lantai bawah untuk mencari istrinya, langkah demi langka ia menuruni anak tangga dan mulai mencium aroma yang begitu harum dan terasa nikmat. Rayn mulai menghentikan langkahnya saat melihat sosok sang istri yang tampak sibuk didapur.
Rayn mengurai senyum saat melihat Lusia memasak dengan raut wajah yang berseri-seri. Rayn menyandarkan tubuhnya pada dinding dengan tangan bersila, ia tidak melepaskan tatapan matanya dari Lusia.
Lusia terenyum sendiri setelah mencium aroma masakannya, ia menari dan juga berbicara sendiri seolah sedang latihan mengucapkan sesuatu yang akan ia ucapkan pada suaminya.
Lusia duduk dimeja makan dan bersikap seolah Rayn duduk didepannya. "Bagaimana, apa masakanku terasa lezat?" tanyanya berbicara sendiri. Ia lalu menjawab sendiri pertanyaan yang baru saja ia ucapkan seolah dirinya adalah Rayn. "Sungguh lezat, kau memang istri yang luar biasa" ucap Lusia lalu tersenyum malu dan bahagia.
Rayn pun ikut tersenyum melihat tingkah istrinya yang begitu sangat menggemaskan. Lusia sama sekali tidak menyadari kehadiran Rayn yang sudah dari tadi berdiri disana dan melihat semua yang dilakukannya.
Semua masakan telah selesai dan tersaji di meja, Lusia pun lanjut membersihkan dapur yang berantakan karena ulahnya. Ditengah kesibukannya ia tampak sibuk menyingkirkan helaian rambut yang mengganggu pandangannya. Ia bahkan mulai kesal sendiri lalu menggulung rambut dan mengikatnya simpul. Ikatan rambut Lusia membuat leher jenjangnya terpampang jelas dan menggoda.
Rayn menelan salivanya melihat pemandangan yang terlihat sensual sehingga membuat dirinya ingin melahapnya. Rayn berbalik membuang muka, ia mengambil nafas dalam lalu menghelanya kasar. Rayn berusaha untuk mengendalikan dirinya. Tapi tunggu, kenapa ia harus menahannya disaat dirinya dan Lusia sudah resmi menjadi suami istri, bukankah ia berhak atas tubuh istrinya?. Inilah yang dipikirkan Rayn tiba-tiba.
Rayn lalu kembali memandang ke arah sang istri, ia memantapkan dirinya lau perlahan berjalan mendekat hingga sampai tepat dibelakang Lusia. Rayn langsung memeluk dan menyandarkan kepalanya pada bahu Lusia.
"Bahkan disaat memasak pun kau sangat cantik." ucap Rayn merayu.
"Rayn, kau mengejutkanku" sahut Lusia menoleh, ia terkejut dengan kehadiran Ryan yang tiba-tiba muncul dan memeluknya.
"Apa aku sungguh masih secantik itu bahkan tanpa riasanku?" lanjut tanya Lusia memandang wajah Rayn yang masih melingkarkan kedua tangannya.
Rayn menjawab dengan anggukan dan senyuman untuk membenarkannya. Ia lalu meraih rambut Lusia, melepaskan simpul ikatannya dan mengurainya. Mata Lusia membulat, ia tidak mengerti kenapa Rayn membuka simpul rambut yang baru saja ia ikat.
"Kenapa kau mengikatnya? Membuatku ingin memakanmu" ucap Rayn.
"Lalu kenapa kau menahannya?" tanya Lusia sembari menatap Rayn yang sibuk merapikan rambutnya setelah terurai.
Rayn berpura-pura memasang wajah seolah sedang berpikir keras sejenak lalu tersenyum. Ia memeluk Lusia dan mengayunkan tubuh mungil itu dalam pelukannya. "Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku dan menginginkan lebih" sahut Rayn.
Masih dalam pelukan Rayn, Lusia tersenyum. "Jika begitu lakukan Rayn, lakukan sesuatu yang kau inginkan lebih itu" bisik Lusia lirih, suaranya terdengar bak dawai merdu ditelinga Rayn.
Mata Rayn membulat, ia melepaskan pelukannya dan menatap lekat wajah Lusia. "Apa kau sudah mengakhiri masa merahmu?" tanyanya.
Lusia pun mengangguk di ikuti senyum yang begitu menggemaskan. Ia sangat tahu apa yang diinginkan Rayn, suaminya.
"Apa hari ini kita sudah bisa melakukannya?" tanya Rayn memastikan.
"Eemm..." gumam Lusia. "Tapi setelah kita selesaikan makan bersama, aku sudah memasak untukmu" lanjut ucap Lusia berjalan ke meja makan.
Rayn menahan tangan Lusia dan menarik tubuhnya untuk kembali ke posisi semula, kembali berdiri tepat didepannya. "Kita bisa makan nanti setelahnya. Aku rasa Mickey benar, aku tidak boleh menundanya lagi" ucap Rayn.
__ADS_1
"Sepertinya aku sudah membuatmu lama menunggu" ucap Lusia lalu menyibak rambutnya kesamping dan semakin memperlihatkan jenjang lehernya. "Jika begitu kau bebas memakanku sepuasnya" ucapnya.
Rayn tersenyum, satu tangannya dengan cepat meraih tubuh Lusia dan menariknya untuk lebih dekat sehingga menempel dengan tubuhnya. Rayn menatap lekat manik mata indah Lusia yang bersinar. Kedua mata mereka bertemu, mengurai senyuman manis disertai sebuah tatapan mendamba penuh cinta dan hasrat yang tertahan.
Tanpa kata Rayn menarik tengkuk Lusia, mencondongkan wajahnya lalu memiringkan bibirnya dan langsung memangut ranum bibir Lusia. Sebuah ciuman manis yang langsung disambut mesra Lusia. Tanpa memberi kesempatan untuk Lusia bernafas, Rayn terus menghujaninya dengan ciuman panas yang sensual tanpa jedah.
Rayn mengakat tubuh Lusia dan mendudukannya pada meja dapur, ia bahkan melakukannya tanpa melepaskan ciumannya. Lusia melingkarkan kedua tangannya pada jejang leher Rayn, ia pun membalas ciuman itu dan sangat menikmatinya. Nafasnya yang memburu mengiringi luma*tan manis bibir sensual Rayn.
Perlahan Rayn melepaskan ciumannya dan mereka saling memandang, hanya mata mereka yang kini berbicara. Lusia membelai dan memainkan alis Rayn lalu tersenyum, membuat Rayn semakin tidak bisa menahan hasratnya. Ia kembali memangut bibir Lusia dan keduanya pun kembali saling menautkan bibir mereka.
Ciuman Rayn mulai turun pada jenjang leher Lusia dan meninggalkan jejak kepemilikannya disana. Tangan Rayn pun mulai merayap mengusap punggung Lusia tanpa melepaskan ciumannya. Namun, gairah itu harus berakhir seketika karena ponsel Lusia yang ada pada meja makan berbunyi.
Lusia segera melepas ciumannya dan hendak turun dari meja dapur. Namun Ryan menahannya, Lusia menatap tatapan Ryan yang seolah ingin mengatakan untuk tidak menjawab teleponnya. Lusia pun kembali merangkulkan tangannya pada jenjang leher Rayn dan kembali menerima ciuman Rayn. Namun lagi-kagi ponsel berbunyi terus tanpa henti.
"Sebentar Rayn" ucap Lusia melepaskan pelukan Rayn lalu turun dari meja dibantu Rayn. Lusia segera meraih ponselnya.
"Bibi Nia??" tanya Lusia melihat adanya panggilan tak terjawab dari Bibi Nia
Lusia segera melakukan panggilan kembali dan Bibi Nia langsung menjawab panggilannya. Lusia terkejut saat mendengar kabar dari Bibi Nia jika ibunya masuk Rumah Sakit. Lusia menjadi panik dan meminta izin kepada Rayn untuk pergi pulang menemui ibunya.
Sebagai seorang suami, tentu saja ia mengizinkan istrinya pergi meskipun itu artinya dia harus menundanya lagi. Rayn mengatakan jika dia juga akan ikut pergi bersama dengan Lusia, namun Lusia melarangnya dan mengatakan jika dirinya akan pergi sendiri. Lusia tidak ingin membuat Rayn lelah karena harus berkendara jauh.
"Lalu bagaimana denganmu? Apa aku akan membiarkanmu berkendara sendiri? Tidak, aku akan mengantarmu" ucap Rayn sembari meraih tangan Lusia untuk naik ke kamar untuk berganti pakaian.
Baru beberapa langkah, Lusia menghentikan Rayn. "Aku akan naik Bus, itu tidak akan membuatku lelah. Rayn, maafkan aku. Tapi aku pasti akan sangat sibuk mengurus ibuku dan aku harus menjaganya dirumah sakit. Aku hanya akan mengabaikanmu lagi nantinya. Kau tidak akan mungkin ikut ke Rumah Sakit dan aku juga tidak akan mungkin bisa meninggalkanmu dirumah bersama nenek dan Lukas. Rayn..." belum sampai Lusia menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong Rayn.
"Aku mengerti, aku hampir lupa jika dengan phobiaku aku tidak bisa melakukan banyak hal" potong Rayn.
Satu tangan Rayn mendekap pipi Lusia. "Kenapa kau meminta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf karena aku tidak bisa menjenguk ibu mertuaku disaat seperti ini. Aku bahkan harus membiarkanmu seorang diri merawatnya.
Rayn memutuskan jika dirinya akan menuruti permintaan Lusia, ia tidak ikut pergi. Tapi Rayn meminta Lusia untuk berangkat esok hari, ia akan meminta Arka yang saat ini cuti untuk segera datang ke Villa dan mengantarnya. Namun, Lusia menolak dan tetap akan pergi dengan Bus sekarang. Lusia tidak mau menggangu waktu cuti Arka meskipun tahu Arka pasti tidak akan menolak perintah Rayn.
Tidak ada pilihan lain, akhirnya Rayn membiarkan Lusia tetap pergi seorang diri. Rayn membantu Lusia menyiapkan pakaian dan segala kebutuhan yang akan dibawanya. Ia juga mengantar Lusia sampai ke Terminal Bus. Rayn memeluk erat lalu memberikan kecupan pada kening istrinya.
"Hati-hati, hubungi aku jika terjadi sesuatu dan sudah sampai" pesan Rayn.
Lusia mengangguk lalu pamit pergi naik bus yang ia tumpangi.
...***...
Mickey datang ke Villa dan sudah lama dia berada disana menunggu. Rayn yang sudah kembali melempar kunci mobil ke sofa dan duduk menyandarkan tubuhnya sembari meletakkan lengannya menutupi kedua matanya.
"Jadi kau menundanya lagi?" tanya Mickey terkejut mendengar cerita Rayn tentang apa yang terjadi dan alasan kenapa Lusia mendadak harus pulang tepat disaat mereka sedang memadu kasih.
"Lalu, kenapa kau tidak ikut pergi dengannya? Jika sulit tinggal dirumahnya kau bisa menginap di Hotel. Setidaknya kau masih akan ada kesempatan nanti untuk melanjutkannya" lanjut ucap Mikcey.
"Apa kau sudah gila, dia pulang karena ibunya sedang sakit. Menurutmu, apa aku akan seegois itu masih memikirkan hal konyol itu? Bocah gila" sahut Rayn.
Rayn menghela nafas lalu duduk dengan tegak. "Aku tidak ingin menjadi beban hanya karena egoku. Pasti akan melelahkan jika harus mengurus 2 orang sekaligus. Aku tidak ingin menyulitkannya, karena itu aku memutuskan untuk tidak memaksa pergi" lanjut ucap Rayn.
Mickey yang duduk tepat disofa depan Rayn menatap ke arah Rayn dengan tatapan aneh dan membuat Rayn risih.
__ADS_1
"Ada apa dengan tatapanmu? Aku sungguh peduli dengannya dan tidak peduli dengan malam pertama yang harus tertunda lagi" tegas Rayn.
"Aku mengerti perasaanmu, tapi apa dia juga akan mengerti? Aku sangat kasihan kepadanya yang harus kembali bersabar menanti dambaanya" ucap Mickey menatap ke arah yang ada dibawah sana.
Rayn pun ikut memandang arah dari tatapan Mickey. "Hei.... kau sudah gila yah. Sejak kapan kau jadi mesum!!!" Rayn melempar bantal yang ada disofa sekuat tenaga ke arah Mickey setelah dirinya baru menyadari maksud dari ucapan Mickey.
Mickey menangkap lemparan bantal Rayn dan tertawa keras, ia terlihat puas mengolok Rayn. Bahkan tanpa dosa ia menunjukkan betapa bahagia dirinya diatas penderitaan Rayn. "Aku tidak menyangka jika kau akan semenyedihkan ini" lanjut ucapnya membuat Rayn semakin geram.
"Kau terus mendorongku seoalah kau sudah pernah melakukannya. Apa jangan-jangan kau dan Leona suuudaaahhh....??" tanya Rayn tertahan membalas bullyan Mickey.
"Apa kau gila????" teriak Mickey berdiri.
"Pulanglah...berhenti menggangguku sebelum aku menghubungi Leona untuk menanyakan langsung padanya" ucap Rayn berdiri dari duduknya lalu berjalan dengan langkah lelah menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.
"Aku dan Leona sungguh tidak memiliki hubungan apapun yang mengharuskan kita melakukan hal itu..." jelas Mickey berusaha menepis dugaan Rayn. Ia masih belum mau beranjak pergi sebelum Rayn mencabut ucapannya.
"Kau benar-benar ingin aku menghubunginya??" tanya Rayn berbalik sembari mengacungkan ponsel ditangannya. Sebuah ancaman untuk membuat Mickey pergi.
"Ok... Ok... aku akan kembali. OK, aku pergi sekarang" ucap Mickey dengan kedua tanganya terangkat menunjukkan jika dia menyerah dan akan pergi.
l
Rayn pun langsung lanjut kembali naik ke kamarnya dengan pakain yang masih rapi usai mengantar Lusia ke Terimanl Bus. Ia duduk di sudut sofa yang ada didalam kamar. Dengan raut wajah yang diselimuti kesedihan, Rayn menatap foto pernikahannya dengan Lusia yang mereka pajang didalam kamar
Seperti yang dikatakannya kepada Mickey, ia tidak peduli dengan malam pertama yang lagi-lagi tertunda. Tapi kesedihan yang kini menghujam ulu hatinya adalah disaat ia tidak bisa berada disisi Lusia disaat seperti ini. Ia seperti seorang suami yang lemah dan tidak bisa diandalkan.
Rayn lalu mengeluarkan ponsel pada kantong jaketnya, ia berusaha menghubungi Dr. Leona. Rayn menghhubunginya bukan untuk menanyakan apa dia pernah melakukan kegiatan itu dengan Mickey, tapi dia menghubungi Dr. Leona untuk urusan yang lain.
"Hallo Rayn..." jawab Dr. Leona dalam panggilan.
"Kau mengatakan jika sudah menemukan pemicunya kan, jika begitu tidak akan sulit bagimu untuk menentukan metode pengobatannya. Lalu katakan kepadaku, apa aku bisa sembuh?" tanya Rayn dengan nada suara serius.
"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal ini, apa kau..." tanya Dr. Leona.
"Jawab saja pertanyaanku!" potong Rayn.
"Aku masih melakukan analisis lebih dalam dengan Dr. Daniel agar tidak salah dan menemukan metode yang tidak memiliki resiko tinggi. Tapi yang pasti, kami sangat yakin kau bisa sembuh Rayn" jawab Dr. Leona.
"Aku akan melakukannya, apapun itu. Meskipun harus dengan resiko tinggi, aku akan melakukannya" ucap Rayn dengan tegas.
Dr. Leona mengatakan jika dia akan berusaha melakukan yang terbaik untuk kesembuhan Rayn. Rayn menutup telepon lalu kembali memandang foto pernikahaanya dengan Lusia.
"Tetaplah bersamaku dan bersabarlah menungguku sampai waktunya tiba dimana aku bisa menjadi seorang suami yang sempurna untukmu."
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***