
Setelah mengatakan kata yang sangat keterlaluan, Rara selalu mengandalkan wajah polosnya dengan mengatakan jika dia hanya bercanda. Meskipun memiliki wajah bak malaikat, lugu dan polos, tetapi dia juga terkenal memiliki pisau di mulutnya.
Bahkan dengan tidak tahu malu nya dia sama sekali tidak merasa bersalah. Ia selalu berkata pedas seolah tidak punya filter di mulutnya. Meskipun begitu, sebagaian teman dekat Rara sudah terbiasa dengan hal itu. Mereka semua bukan memaklumi sikap buruh Rara itu, tetapi mereka hanya tidak ingin ribut dengan wanita itu.
Lusia sudah tidak tahan, tidak ada gunanya ia melawan atau membalas mereka semua. Apapun yang Lusia lakukan tidak akan mengubah apapun. Itu sudah menjadi sifat mereka yang tidak akan dapat diubah dengan pandangan apapun. Berurusan dengan mereka adalah hal yang sangat membuang waktu, karena itu Lusia merasa jika dirinya tidak perlu lagi berada disana.
"Lusia, kenapa kau sangat sibuk sekali dengan ponselmu. Apa kau mencemaskan sesuatu?" Tanya salah satu dari mereka.
Rara tampak puas melihat Lusia yang tak berkata apapun lagi. "Oh ya Lusia, jika kau mencemaskan soal biaya acara ini, jangan khawatir. Aku sudah meminta Reisa untuk memberitahu dirimu jika kau tidak perlu memikirkannya. Disini kau adalah tamu kami, jadi biarkan kami yang mengurusnya. Asal kau mau hadir kami sudah sangat senang, benar kan teman-teman? Aku takut kau menolak datang karena masalah biaya" ucap Rara.
"Rara benar, dan juga karena aku sangat senang hari ini, kali ini kalian tidak perlu mengggunakan dana kita secara penuh. Reisa aku akan menanggung 50% tagihannya" sahut Eric.
Reisa yang kesal, langsung main gas. "50%? Jika kau hanya bermulut besar kenapa tidak kau keluarkan saja semua uangmu untuk membayar penuh. Kenapa? Apa kau takut karena masih mengandalkan uang orang tuamu? Atau jangan-jangan hingga sekarang kau masih minta uang saku mereka?" teriak Reisa kepada Eric.
Kini Reisa berbalik menyerang Rara. "Lagi pula apa katamu tadi Rara, tamu? Dia adalah bagian dari kita, kenapa kalian memperlakukannya seperti dia bukan teman kita? Kau sangat keterlaluan" lanjutnya dengan sinis kepada Rara.
Disaat Reisa membela Lusia dengan wajah kesalnya, namun mereka sama sekali tidak mendengarkan Reisa. Mereka justru sibuk memperhatikan pria yang sudah mencuri perhatian mereka sedari tadi.
"Hei, hei, hei... apa kau tidak merasa pria disana selalu menatap kemari? Apa dia sedang menatapmu Rara? Kecantikanmu memang selalu memikat setiap pria yang melihatmu. "Andai saja aku belum punya pacar pasti sudah kudatangi dia" gumam Rara.
Sungguh diluar dugaan jika pria itu berjalan ke arah mereka, semakin dekat, dekat dan mendekat sehingga membuat mereka semua panik dan salah tingkah.
"Permisi, maaf jika mengganggu" ucap pria itu menyapa mereka.
Lusia membulatkan mata, mendengar suara yang terdengat tidak asing ditelinganya. "Rayn.." batin Lusia langsung menoleh menatap pria yang kini berdiri tepat disampingnya.
"Istriku sepertinya sangat tidak nyaman dengan obrolan ini, aku akan membawanya pergi. Ayo sayang..." ucap Rayn mengulurkan tangan.
Lusia masih tidak percaya bagaimana bisa Rayn berada disana. Lusia baru saja mengirim pesan kepada Rayn tetapi seperti sihir, Rayn muncul tepat didepan matanya.
"Sayang...? iss...istri ?" ucap mereka saling berbisik.
__ADS_1
Lusia meraih tangan Rayn, ia bisa merasakan tangan Rayn yang sangat dingin. Itu menujukkan jika saat ini Rayn sedang menahan phobianya untuk bisa berada dekat dengan mereka. Lusia segera menggengam erat tangan Rayn untuk membuatnya bisa lebih nyaman.
Rayn berusaha untuk tetap tenang dan mengurai senyum. "Perkenalkan saya Rayn, suami wanita yang paling cantik dimataku, Lusia" ucapnya menoleh menatap Lusia.
"Saya tidak mengerti kenapa kalian sangat terarik sekali dengan kehidupan istri saya. Apa kalian semua seorang penggemar? Dan juga tentang pernikahan yang kalian pertanyakan, saya rasa saya tidak perlu membuktikan apapun. Saya tidak peduli, kalian akan mempercayainya atau hanya akan menganggapnya sebagai gosip belaka. Saya sungguh tidak peduli karena saya juga tidak membutuhkan pengakuan darian kalian semua" ucap Rayn.
Lusia berdiri dari duduknya. "Maaf jika aku tidak bisa lanjut bersama kalian hingga selesai" ucapnya kepada teman-temannya. "Reisa, maafkan aku, aku akan kembali dulu" lanjut pamit Lusia kepada Reisa.
Rayn menggandeng tangan Lusia, merangkul bahunya lalu beranjak untuk meninggalkan tempat itu. Namun, baru melangkah satu langkah, Rayn menghentikan langkah kakihnya. Ia berbalik kembali memandang mereka. "Saya hampir lupa" ucapnya.
Rayn menatap Eric yang duduk di sana. "Terima kasih atas kebaikan anda yang sudah berniat baik membayar 50%. Tapi sayangnya anda tidak perlu melakukannya, karena saya sudah membayarnya penuh 100%. Saya sudah meminta Reisa memilih tempat yang paling terbaik untuk acara ini, tetapi saya tidak menyangka jika dia terlalu sungkan dan memilih tempat yang sederhana ini. Karena itu, silakan jika kalian ingin memesan sesuatu lagi, jangan sungkan. Saya harap kalian bisa tetap menikmatinya, karena saya hanya ingin menjamu kalian sebagai teman-teman istri saya." ucap Rayn.
Rayn mengerluarkan ponselnya lalu menghubungi seseorang. "Masuklah" ucapnya dalam panggilan.
Tidak lama Arka masuk ke dalam ruangan itu. "Arka, mereka semua adalah tamu Nyonya Lusia. Pastikan mereka mendapat pelayanan terbaik dari restoran ini" perintah Rayn kepada Arka.
"Baik, Tuan Muda" jawab Arka siap menjalankan perintah.
Kepergian Rayn dan Lusia yang meninggalkan tempat itu dengan gebrakan yang mengejutkan membuat mereka tidak bisa berkata apa-apa. Mereka langsung memberondong Reisa dengan pertanyaan-pertanyaan yang melelahkan. Mereka semua ingin mendapatkan keyakian lagi dari Reisa, apa benar jika pria yang menawan tadi adalah adalah suami Lusia.
Mereka semua bertanya tentang status sosial, perkerjaan, lulusan sekolah mana, seberapa kaya pria itu, bagaimana dia bisa bertemu dengan Lusia dan apakah mereka dijodokan serta pertanyaan konyol lainnya.
"Reisa, apa benar yang dia katakan jika sudah membayar semua tagihan ini secara penuh? Semuaaaanyaaa ?" tanya salah satu dari mereka.
"Bukankah aku sama sekali belum ada meminta dana khas kita untuk acara ini, itu karena sudah dibayar penuh oleh suaminya.
"Apa dia benar-benar suaminya? Sungguh? Atau jangan-jangan dia hanya pria bayaran? Kenapa Lusia tidak mengundang kita jika dia sudah menikah" sahut Rara.
Reisa bangkit dari duduknya menatap kesal Rara. "Apa katamu, pria bayaran?" tanyanya kepada Rara lalu bergumam mengumpatnya. "Dasar wanita gila" gumamnya lirih. "Apa kalian yakin akan hadir jika diundang? Mereka mengadakan momen sakral itu di luar negeri" lanjutnya.
"Apa kau sedang membual? Kau juga bagian dari drama ini?" sahut Rara.
__ADS_1
Reisa dapat menjamin hal itu melalui David karena ia dan David juga hadir dalam pernikahan Lusia. Bahkan suami Lusia menawarkan biaya akomodasi secara penuh, namun di tolek oleh David. David menolak karena ia ingin menunjukkan ketulusan dan do'a nya kepada Rayn dan Lusia.
"Jika kalian tidak percaya, kalian bisa bertanya kepada David. Kalian pun tahu jika dia bukan pria yang suka membual" sahut Lusia.
Tiba-tiba terdengar sahutan suara seorang pria yang berjalan ke arah mereka. "Ya... aku benci membual dan aku sangat benci jika ada orang yang berani mengatakan kekasihku membual" ucap David yang kini sudah hadir bersama mereka.
"Aku baru saja melihat Lusia dan suaminya dilobi, apa mereka yang baru saja kalian bicarakan?" lanjut tanya David.
David meraih ponsel Reisa lalu membuka galeri photo yang ada di ponsel kekasihnya itu. David tampak mencari sebuah photo dan ia menemukannya. David menunjuan sebuah photo, dimana dalam foto itu terliha David dan Reisa selca bersama Lusia dan Rayn dihari pernikahan mereka.
"Apa ini yang ingin kalian lihat?" tanya David menunjukkan foto itu.
Eric kembali bertanya kepada David karena tahu David adalah pria yang tidak suka berbohong. "Lalu, apa dia sekaya itu?" tanyanya.
"Aku pun tidak berani memikirkan seberapa kaya sumianya karena apa yang kumiliki sangat jauh tak sebanding. Namun, yang aku tahu pasti jika ayahnya memiliki beberapa penthouse mewah di beberapa negara hanya untuk rumah singgah disaat melakukan perjalanan bisnis dibeberapa cabang bisnis ayahnya." jelas David.
David menggandeng tangan Reisa, ia mengatakan jika dirinya datang bukan untuk mengikuti acara reuni itu, tetapi dia datang hanya untuk menjemput kekasinya.
"Ah, satu hal lagi Eric. Apa ayahmu masih menjalankan bisnisnya dengan baik? Sebagai seorang teman, aku sedang berbaik hati memberitahu hal ini. Aku pikir kau akan menyesali apa yang sudah kau lakukan terhadap Lusia baru saja. Itu seperti kau sedang menggali kuburmu sendiri. Sekedar saran dariku, jika kau masih peduli dengan bisnis ayahmu, lebih baik kau meminta maaf kepada Lusia sebelum suaminya menjadi murka"
Eric pun berdiri dari duduknya dengan wajah mulai gelisah. "Apa maksudmu?" tanyanya.
"Untuk pria sepertimu, bukankah kau sudah sangat faham maksudku. Harus selalu kau ingat jika aku benci membual, jadi kau harus menanggapinya dengan serius sebelum bisnis ayahmu hancur karena ulah putranya" jawab David lalu bersama Reisa pergi meninggalkan tempat itu.
.
.
.
*** To Be Continued ***
__ADS_1