
Kini Rayn merasakan kelegaan lebih dari apa yang dirasakan Lusia. Lusia tidak lagi harus menyimpan beban akan perasaan Kelvin terhadapnya. Keduanya telah menyelesaikannya dengan baik dan sebagai orang yang selalu ada untuk Lusia dan selalu banyak membantu hidupnya, Lusia akan terus berterima kasih dan tidak akan melupakan semua kebaikan Kelvin.
"Apa kau tidak lapar? Bagaimana kalau kita makan sesuatu sebelum kembali ke Villa?" tanya Lusia ketika hendak menuju mobil.
Rayn menoleh menatap ke arah perut Lusia sembari mengangkat alis dan berbicara dalam hati, bagaimana Lusia membahas makanan ketika mereka baru saja keluar dari sebuah restoran. Rayn dapat menerima jika itu adalah dirinya yang merasa lapar, tapi apa mungkin jika itu adalah Lusia.
Rayn pun lalu bertanya apakah Lusia tidak makan apapun selama berada di dalam sana saat bersama Kelvin dan tapa ragu Lusia mengangguk membenarkannya. Dengan ekspresi manja sembari menyentuh perutnya Lusia berkata jika ia sangat lapar.
Rayn menghentikan langkahnya lalu menghadang langkah Lusia dengan berdiri tepat di depannya. "Apa yang kalian lakukan dan bicarakan selama itu sampai kau tidak mengisi perutmu?" tanya Rayn. "Membuatku semakin gelisah saja" lanjut ucapnya.
Lusia tertawa. "Gelisah? Tapi kenapa yang aku lihat jika kau lebih terlihat kesal" sahut Lusia.
Lusia mengabaikan kekesalan Rayn dan meminta Rayn untuk membawanya ke suatu tempat. Lusia mengajak Rayn untuk makan Corndog Mozarella favorit nya. Jajanan yang biasa dijual dipinggiran jalan. Dengan raut wajah menggemaskan dan tingkah penuh manja, Lusia memohon kepada Rayn.
"Wahh... apa yang harus ku lakukan dengan wajah yang menggemaskan ini" sahut Rayn menatap Lusia dengan tersenyum.
Rayn hendak mencubit pipi Lusia tapi ia menahannya, Rayn meraih tangan Lusia dan menggandengnya. Rayn tentu saja dia tidak akan menolak permintaan Lusia dan berkata jika tidak peduli kemanapun itu ia akan pergi selama untuk dan bersama dengan istri tercintanya.
Langit tiba-tiba menjadi gelap dengan awan yang berwarna kelabu. Seketika awan mendung menyulitkan cahaya Matahari untuk menembus awan yang seperti kapas tebal. Angin bertiup menghembuskan udara dingin, tetesan air dari langit perlahan jatuh membasahi bumi. Lusia tampak menikmati gerimis dibalik kaca mobil yang sedang dikemudikan Rayn.
Tidak butuh waktu lama berkendara, keduanya telah sampai disebuah jalanan yang selalu ramai dipenuhi penjual berbagai jenis makanan pinggiran. Gerimis telah reda saat mereka sampai di sana, meski begitu Rayn meminta Lusia memakai coat dan syal karena udara yang dingin. Rayn lebih dulu turun dari mobil lalu membukakan pintu mobil untuk Lusia. Rayn menggandeng tangan Lusia dengan genggaman yang begitu manis. Mereka berjalan bersama dengan langkah yang seirama, menikmati aroma khas petrichor yang ditinggalkan hujan hingga mereka sampai dan berdiri tepat di depan foodtruck.
Lusia tampak sibuk memesan, namun tiba-tiba tangan Rayn meraih bahu Lusia lalu dengan perlahan ia menggeser tubuh Lusia. Ia menggeser tubuh sang istri untuk lebih dekat dengannya saat pasangan pelajar berseragam tiba-tiba asal berdiri begitu dekat tepat disebelah Lusia.
Seolah Rayn tidak ingin pelajar itu menyentuh wanitanya saat melihat para pelajar tampak asik bercanda dengan heboh dan tidak bisa diam. Lusia menoleh dan tersenyum ke arah Rayn, sikap manis yang begitu sederhana tetapi membuatnya begitu bahagia. Pandangan Rayn beralih kembali fokus menatap ke depan ketika menyadari Lusia menatapnya, ia lalu tersenyum sendiri.
Corndog yang mereka pesan telah jadi. Rayn lebih dulu meraih Corndog Mozarella milik Lusia dari tangan Bibi penjual. Lusia menatap lekat ke arah Corndog miliknya yang diambil Rayn seolah menegaskan jika itu milikku. Tanpa memperdulikan tatapan Lusia, Rayn meniup perlahan Corndog yang masih mengeluarkan asap panas. Ia terus meniupnya sebelum diberikan kepada Lusia. "Hati-hati membakar bibirmu" ucap Rayn lalu memberikannya kepada Lusia.
Lusia meraihnya dengan wajah memerah, sikap Rayn semakin membuat dirinya tersipu malu. Rayn lalu meraih Corndog miliknya. Keduanya mulai menikmati jajanan sederhana itu dengan tetap saling bergandengan tangan layaknya pasangan muda penuh romansa yang bakal membuat iri siapapun yang melihatnya. Lusia tersenyum, dengan wajah rakus ia langsung menyantap gigitan pertamanya yang begitu nikmat.
"Waaa.. ini sangat enak. Cocok sekali menikmatinya di cuaca dingin seperti ini" ucap Lusia menoleh ke arah Rayn sambil terus mengunyah.
Lusia sungguh saat menikmatinya sampai tidak sadar saus tomat dari gigitannya masih tersisa dibibir. Rayn tersenyum melihat betapa menggemaskan istrinya. Rayn menatap wajah Lusia dengan tatapan mempesona dan senyum yang begitu manis.
"Kenapa kau berhenti makan dan menatapku seperti itu?" tanya Lusia mengurangi kecepatan mengunyahnya.
"Apa kau sebegitu menyukainya? Bahkan sampai menyisakan saus di bibirmu" ucap Rayn.
Lusia pun panik dan merasa jika itu sangat memalukan, ia segera melepas genggaman tangan Rayn untuk membersihkannya. Namun sayangnya Rayn menahan genggaman tangannya, ia tidak mau melepasnya saat Lusia hendak melepasnya. Rayn semakin lekat menatap kedua manik mata Lusia, satu tangannya masih menggenggam tangan Lusia dan satu tangannya memegang Corndog miliknya.
Lusia meminta Rayn melepaskan tangannya. "Rayn, aku harus membersihkan bi..." ucap Lusia yang terhenti saat merasakan sesuatu yang membuatnya terdiam.
Rayn mendekatkan wajahnya, tanpa aba-aba ia mengecup singkat bibir Lusia dan mengecap saus yang ada dibibir Lusia hingga bersih. Kecupan singkat Rayn membuat Lusia tak berkutik dengan kedua mata membulat, kedua pipinya merah merona, ia merasakan panas diwajahnya karena tersipu malu. "Rayn, apa yang kau lakukan?" tanya Lusia sembari menggerakkan matanya berkedip, melirik kiri-kanan
"Sudah ku katakan, aku tidak ingin melepaskan genggaman tanganku." sahut Rayn lalu tanpa dosa ia kembali menyantap Corndog miliknya dan mengabaikan Lusia yang masih saja terdiam.
Lusia benar-benar tak berdaya dengan serangan Rayn, ia tersihir kecupan manis yang baru saja didapatnya. Lusia hanya bisa berkedip berulang kali dengan jantung yang terus berdegup kencang. Lusia mulai menggerutu setelah mendapatkan kembali kesadarannya, ini sudah kedua kalinya untuk hari ini Rayn mengecupnya ditempat umum.
"Kenapa kau terus menyerangku bahkan tanpa memberiku pertanda" gerutu Lusia memukul halus bahu Rayn.
Rayn menoleh. "Pertanda?" tanyanya.
"Mata..." lanjut ucap Rayn singkat seolah memberi tanda jika ia akan kembali menyerang mata Lusia.
Lusia segera menutup matanya setelah mendengar Rayn menyebut kata mata. Namun sayangnya Rayn kali ini mendaratkan kecupannya pada pipi Lusia.
__ADS_1
"Aku akan mengecup matamu setelah melahap pipihmu yang sedari tadi terus merah merona seperti kepiting rebus" ucap Rayn lalu perlahan beralih mendaratkan kecupannya dikedua mata Lusia.
"Kau curang...!" sahut Lusia setelah menang banyak.
Rayn tersenyum. "Kau tahu, jika ini bukan soal tanda, tapi bagaimana membuat jantungmu terus berdebar" ucap Rayn lalu kembali melahap makanan nya.
Bibi penjual Corndog yang melihat tingkah mereka pun tertawa dan meminta Lusia untuk tidak perlu malu. "Kalian pasti pasangan pengantin baru. Kau tidak perlu malu dan lakukan apa yang ingin kalian lakukan selama kalian masih muda dan memiliki kesempatan untuk saling manja dan saling berbagi kemanisan. Saat tua nanti kalian pasti enggan melakukannya karena sudah malu dengan usia atau buruknya mungkin sudah tidak bersama dengan pasangan kalian lagi. Saat itu kalian baru akan menyesalinya karena melewatkan setiap momen indah dan manis paska menikah. Setidaknya kalian sudah menikah dan sah-sah saja melakukannya. Daripada anak muda sekarang yang bahkan bertindak melebihi seorang pasangan yang sudah benar-benar menikah, mengerikan" ucapnya menatap pasangan pelajar yang terus saling menempel.
"Bibi, apa anda sedang menyindir kami? bagaimana anda bisa melakukan itu kepada pelanggan yang sudah membeli" sahut seorang pelajar wanita lalu meminta teman lelakinya pergi setelah membayar dan mengumpat jika tempat itu akan sepi, bahkan mengatakan jika mereka tidak akan pernah kembali membeli ditempat itu lagi.
"Aduh... lihatlah lihatlah, jika mereka tidak merasa salah kenapa harus marah" sahut Bibi penjual seolah tidak peduli jika mereka meninggalkan foodtruck miliknya dengan umpatan dan perasaan kesal.
"Apa kalian sudah memiliki seorang anak?" tanya Bibi penjual kepada Rayn dan Lusia.
"Anak...?" tanya Lusia.
Rayn merangkul Lusia dengan lantang ia menjawab. "Tentu saja kami akan memilikinya, bahkan aku ingin membentuk team kesebelasan" sahut Rayn.
Bibi penjual pun tersenyum bahagia dan memberikan doa nya agar Lusia dan Rayn selalu diberikan kebahagiaan dan bersama dengan anak cucu mereka hingga tutup usia. Lusia membalas dengan mendoakan Bibi penjual sehat selalu dan terus bahagia bersama suami dan anak-anaknya. Lusia sangat berterima kasih dan mereka pun pamit.
Bibi penjual sangat berterima kasih akan doa Lusia, ia lalu menatap foto dirinya dan suaminya yang terlihat saat mereka masih berusia muda, sebuah foto yang ada disudut meja dalam foodtruck. "Suamiku, jika saja saat itu aku tidak bersikeras mengejar impianku dan meminta menunda untuk seorang anak, mungkin aku tidak akan hidup sendiri dan merasakan sesal yang mencekik seperti ini setelah kau pergi untuk selamanya" ucap nya lalu memandang Lusia dan Rayn yang pergi meninggalkan foodtruck miliknya.
.
.
Dalam perjalanan kembali pulang ke Villa, Lusia terus menatap ke arah Rayn yang fokus mengemudi. Rayn yang sedari tadi menyadari hal itu lalu bertanya kepada Lusia. Ia bertanya kenapa Lusia terus menatap dirinya.
"Kenapa? Kau tidak mau?" tanya Rayn.
"Ini bukan soal aku mau atau tidak, tapi apa aku sanggup memberikan 11 anak? Ah tidak, tapi 12 karena tidak butuh pemain cadangan." tanya Lusia lalu berpikir sendiri dan kembali menghadap ke depan. Rayn pun tidak bisa menahan senyumnya akan sikap polos sang istri.
Tepat saat Rayn hendak menjawab pertanyaan itu, tiba-tiba Lusia meminta Rayn menghentikan mobilnya. Lusia melihat sosok ibunya yang sedang berdiri di halte dengan arah yang berlawanan. Rayn menepikan mobilnya, Lusia lalu menolah dan memastikan lagi jika wanita parubaya yang berdiri di halte seberang itu benar adalah ibunya.
Lusia lekas turun dari mobil sembari mencoba menghubungi ibunya. Lusia dengan terburu-buru berjalan untuk menemui ibunya sembari terus melakukan panggilan. Langkah cepat Lusia seketika melambat dan berhenti. Ia melihat ibunya yang menatap ponsel ditangannya tampak sengaja tidak menjawab panggilannya.
Rayn pun ikut turun dan menghampiri Lusia. Rayn menawarkan diri pergi menyeberang untuk memanggil ibu Lusia karena kendaraan yang terlalu ramai lalu lalang. Lusia menahan tangan Rayn dan memintanya berhenti. Rayn menaikkan alis matanya menunjukkan rasa ingin tahunya kenapa Lusia melarangnya.
"Why ?" tanya Rayn.
Bersamaan dengan pertanyaan itu, ibu Lusia menjawab panggilannya. "Oh Lusia, ada apa? Maaf, ibu tidak mendengar panggilanmu. Ibu terburu-buru mau jemput Lucas dirumah Bibi Gina, kendaraan sangat ramai jadi tidak dengar.
"Bibi Gina ?" tanya Lusia.
Bibi Gina adalah sepupu ibunya yang tinggal tidak jauh dari kedai sang ibu di perkampungan nelayan. Jelas ibunya mengatakan hal yang tidak sebenarnya.
"Ada apa Lusia?" tanya sang ibu.
"Oh bukan hal penting, aku hanya merindukan kalian. Apa ibu ada rencana untuk mengunjungiku ke kota? Aku ingin pulang tapi Rayn melarangku pergi jika seorang diri" ucap Lusia dalam panggilan.
"Maafkan ibu, untuk minggu ini ibu masih sibuk karena menerima banyak pesanan, tapi ibu pastikan akan segera mengunjungimu jika pesanan sudah terselesaikan" jawab Ibu Lusia.
"Baiklah, ibu tidak perlu minta maaf. Tidak apa bu, jika begitu aku matikan teleponnya" ucap Lusia lalu mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Rayn tampak bingung melihat Lusia membiarkan ibunya yang sudah akan naik ke dalam bus. Lusia meminta Rayn kembali ke mobil dan mengemudikan kendaraannya berputar mengikuti arah rute bus yang baru saja ditumpangi ibunya.
Kendaraan Rayn dan Lusia berhasil mengejar Bus yang ditumpangi ibu Lusia. Ibu Lusia turun di sebuah terminal lalu melanjutkan perjalanan dengan sebuah taksi. Rayn dan Lusia kembali mengikuti taksi itu.
"Kenapa kita mengikutinya, apa yang terjadi?" tanya Rayn sambil tetap mengemudi.
Tatapan Lusia tetap fokus ke depan, bahkan ia tidak menjawab pertanyaan Rayn. Lusia terlihat gelisah seperti memiliki banyak pikiran dikepalanya. Raut wajah tidak tenang yang membuat Rayn semakin khawatir. "Bukankah ini seperti kau sedang tidak mempercayai ibumu" ucap Rayn.
"Aku sangat mempercayainya dan ingin selalu mempercayainya, tapi... kali ini ibu jelas sedang berbohong kepadaku Rayn. Apa aku harus membiarkan diriku tetap mempercayai kebohongan itu?" tanya Lusia.
Satu tangan Rayn meraih tangan Lusia dan menggenggamnya. "Aku hanya tidak ingin jika terjadi salah paham antara kau dan ibumu. Seperti aku yang selalu percaya padamu, aku juga akan selalu ada di pihak dan sisimu. Tapi, aku akan mengambil satu langkah berdiri didepan mu saat kau merasa bingung dan kehilangan arah" ucap Rayn berharap bisa mengurangi kegelisahan Lusia saat ini.
Sebagai seorang suami, Rayn tentu saja akan selalu memberikan kepercayaan penuh dan berada di pihak istrinya. Tetapi Rayn juga akan menjadi suami yang bijaksana dan menjadi pembimbing ketika Lusia mulai bingung ataupun kehilangan arah. Ia akan melangkah bersama dengan arah yang sejalan, ia akan berada satu langkah didepan ketika harus menjadi seorang pemimpin dan akan mengambil satu langkah dibelakang ketika dirinya dalam hati yang buruk.
"Maafkan aku Rayn" sahut Lusia yang sadar telah membuat Rayn khawatir, ia mengerti maksud dan perhatian suaminya.
Setelah hampir 30 menit berkendara, taksi yang ditumpangi ibu Lusia berhenti disebuah halaman bangunan yang begitu besar. "Tempat ini... kenapa ibu kemari" ucap Lusia.
"Kau tahu tempat ini?" tanya Rayn.
"Apa kau lupa? Kau juga pernah datang kemari menjemputku saat aku dan Kelvin melakukan kegiatan amal Cafe" sahut Lusia lalu membuka pintu untuk turun dan bergegas masuk dengan terburu-buru.
Saat melewati ruang informasi, seorang petugas wanita menyapanya. "Maaf nona, anda ingin kemana?" tanya seorang wanita dibalik meja informasi.
Lusia tampak gugup dengan nafas yang memburu. "Saya datang dengan ibu saya, wanita parubaya yang baru saja masuk" jawab Lusia. "Dan dia suami saya" lanjut jelas Lusia saat petugas wanita itu berganti menatap ke arah Rayn.
"Oh Ny. Alenia. Jadi anda putri Ny. Alenia" sahut petugas wanita itu.
Lusia tersenyum mengangguk lalu memasang wajah seolah bingung sambil menunjuk ke arah lorong kiri atau kanan. Wanita itu langsung memberitahu Lusia. " Lorong kiri, kamar 503" ucapnya mempersilahkan Lusia.
Lusia dan Rayn pun melanjutkan langkahnya mencari kamar 503. Ya, kamar 503. Kini keduanya sudah berdiri di depan kamar 503 yang merupakan sebuah kamar pasien.
Lusia mengintip ke dalam melalui kaca kecil pada pintu. Lusia sangat terkejut melihat siapa yang berada didalam, ia ibunya sedang membersihkan lengan seorang pria yang sedang duduk di kursi roda. Seorang pria yang sangat tidak asing duduk dengan kondisi yang memprihatinkan. Pria itu adalah seorang pasian yang tidak hanya mengalami masalah mental tetapi juga struk yang hampir melumpuhkan 80% bagian tubuhnya. Tubuh Lusia pun langsung lemas dan hampir terjatuh. Kedua tangan Rayn segera meraih kedua bahu Lusia.
"Tidak mungkin, apa yang sebenarnya terjadi...?" tanya Lusia dengan bibir bergetar dan mata yang mulai menjatuhkan buliran air mata.
Dengan tangan yang gemetar dan tubuh yang semakin lemas, Lusia berusaha menggenggam gagang pintu hendak membukanya. Namun, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki seorang pria yang memanggil namanya.
"Lusia...."
Pria itu berjalan mendekat ke arah Lusia, ia lalu menahan tangan Lusia yang memegang handel pintu hendak membuka. Lusia menoleh, menatap jelas wajah pria yang menahan tangannya.
"Kelvin....?" sahut Lusia dengan tatapan penuh tanya kenapa ia ada disini.
"Bisakah kita bicara dahulu sebelum kau menemuinya" ucap Kelvin.
"Bagaimana kau bisa mengenalnya?" tanya Lusia.
Bagaimana Kelvin bisa ada di sana dan melarangnya untuk masuk. Apa yang Kelvin ketahui tentang situasi ini yang tidak Lusia ketahui. Apa yang sedang terjadi, rahasia apa yang dia sembunyikan dan kenapa dia melakukannya. Pertanyaan-pertanyaan ini yang ada dipikiran Lusia dan tersirat jelas dibalik sorot tajam matanya yang berlinang air mata.
.
.
.
__ADS_1
*** To Be Continued ***