Mr. Haphephobia

Mr. Haphephobia
BAB 22 - Panggilan untuk Bos baru


__ADS_3

Lusia secara resmi sudah menandatangani kontrak kerja dengan Mickey. Ia kini tidak lagi bekerja di toko bunga Mey Flowers. Bahkan, hari ini menjadi hari terakhir Lusia tinggal di rumah kost dengan Reisa.


Mickey mengirim Lusia file berisi denah Villa dan list tentang semua hal yang harus ia perhatikan selama tinggal di Villa. Semua terangkum secara detail dan tertulis sangat jelas. Mickey meminta Lusia mempelajarinya sendiri dahulu. Selebihnya, akan ia jelaskan besok saat kembali dari Luar kota.


“Lusia, apa kau sudah harus pergi pagi begini?” tanya Reisa yang masih belum sepenuhnya sadar dari tidurnya. Ia meraih tangan Lusia yang sudah bersiap pergi.


Lusia menghampiri Reisa dan memeluknya. “Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu” ucapnya dengan tersenyum.


Ponsel Reisa terus berdering adanya panggilan masuk dari David. Reisa yang masih memeluk manja Lusia enggan menjawab panggilan kekasihnya itu.


“Bagaimana dengan besok?. Kau sudah tidak tinggal disini. Jadi, siapa yang akan menyiapkan sarapan untukku?.  Lusia..., tidak bisakah kau menundanya lagi?” rengek Reisa.


Melihat Reisa tidak melepas pelukannya, Lusia berusaha meraih ponsel Reisa. Tanpa dosa, ia langsung menjawab panggilan David.


“Aku yang akan menyiapkan sarapan untukmu“ ucap David dalam panggilan Video. Lusia mengarahkan camera ponselnya memperlihatkan kepada David jika Reisa sudah seperti anak koala yang tidak mau lepas dari induknya.


“Tidak hanya sarapan, tapi aku akan kehilangan teman bercerita soal keluh kesah, teman tidur, dan kehilangan… ” ucap kesal Reisa mendengar David mengatakannya dengan begitu mudah.


“Kemarilah, aku bisa menggantikannya dan melakukan semua untukmu termasuk teman... .“ Potong David sontak membuat Lusia dan Reisa membelalak menatap wajah David dilayar ponsel mengingat Reisa membahas perihal kehilangan teman tidur. Tatapan keduanya membuat David merasa geli.


“Kemarilah, aku siap memelukmu. Apa kau tidak lihat, dia sudah tak berdaya melepaskan diri dari pelukanmu” ucap David.


“Apa yang kalian pikirkan dengan tatapan tadi? haha” lanjut David tertawa.


Lusia kembali menenangkan Reisa. “Kau masih bisa menghubungiku jika butuh teman curhat. Meskipun aku sangat yakin jika kau hanya akan mencariku untuk mengeluhkan dia” ucap Lusia melirik David. David hanya tertawa mendengar sindiran Lusia.


“Kau juga bisa menemuiku di Cafe” lanjut Lusia.


"Bagaimana jika kita mengadakan pesta makan malam bersama sepulang Lusia dari Cafe?. Bukan sebuah pesta perpisahan, tapi hanya sekedar menikmati kebersamaan sebelum Lusia pindah?” tanya David. Ia terfikirkan hal itu karena saat ini dirinya lebih mengkhawatirkan perasaan Reisa.


“Ide bagus, bagaimana Reisa ?” tanya Lusia.


“OK, tidak perlu menunggu jawaban darinya. Aku saja yang putuskan. Mungkin lebih baik kita mengadakan pesta di Cafe Kelvin. Aku akan mengurusnya dengan Kelvin. Reisa, kau bisa melepaskannya sekarang dan luapkan saja semuanya lagi nanti” perintah David.


Merasa tertolong oleh David, Lusia langsung menyerahkan ponsel kepada Reisa dan pamit pergi. Reisa melanjutkan panggilan Video dengan David selepas Lusia meninggalkannya.


***


Sesampainya di Villa, Lusia memeriksa lemari yang sudah dipenuhi dengan beberapa sayuran dan buah-buahan segar yang sudah di letakkan oleh para kurir. Ia juga memeriksa catatan yang dikirimkan Mickey kepadanya semalam melalui email.


Di dalam catatan, tertulis jelas jadwal kapan saja kurir hotel, toko buah, toko sayuran, dan yang lainnya datang untuk mengirimkan paket. Mereka sudah tahu harus meletakkannya di dalam lemari yang sudah disiapkan.


Biasanya Rayn akan mengambilnya beberapa waktu kemudian setelah kurir pergi meninggalkan Villa. Kedepannya, Rayn tidak perlu melakukannya lagi karena sudah ada Lusia yang bisa menerimanya langsung dari para kurir.

__ADS_1


Seperti sebuah misi untuknya, Mickey meminta Lusia dalam beberapa waktu ini membawa Rayn pergi ke supermarket untuk belanja bersama. Sesuatu yang sulit dilakukan, namun Lusia akan mencobanya.


"Ini baru namanya lemari es" ucap Lusia dengan meletakkan satu persatu buah dan sayuran. Ia merasa lega karena kedepannya kulkas itu tidak akan lagi terisi oleh minuman alkohol. Lusia melanjutkan membaca catatan dan memeriksa seisi Villa Rayn yang sudah dibuat secara virtual oleh Mickey.


Lusia pergi ke sebuah ruangan di lantai satu yang tertulis jika itu akan menjadi kamarnya. Sebuah kamar dengan ukuran yang cukup besar, bersih, dan dilapisi cat dengan motif dadu.


Mickey mengatakan, jika funiture akan didatangkan hari ini untuk mengisi kamar Lusia. Sehingga dapat dipastikan jika Lusia sudah bisa menempatinya mulai besok. Ia juga memberitahu Ryan akan hal itu. Sehingga, Rayn hanya akan tetap berada di lantai dua sampai mereka menyelesaikan kamar untuk Lusia.


Lusia melanjutkan touringnya perlahan menapakan kaki menaiki satu persatu anak tangga. Lusia merasa takjub saat sampai di lantai dua, ia langsung disuguhkan ruangan terbuka yang berdindingkan kaca dengan pintu sleding dan balkon. Barisan-barisan rak-rak buku membuat raungan itu menyerupai sebuah perpustakaan pribadi dengan 1 set meja kerja besar dan sebuah sofa untuk bersantai.


“Wah… “ Decak kagum Lusia membuka pintu kaca lalu keluar menuju balkon. Ia memandang halaman Villa yang dikelilingi indahnya pohon pinus. Lusia menutup kembali pintu kaca, lalu ia melanjutkan kembali memeriksa beberapa ruangan lain.


Dalam catatan dari Mickey, tertulis semua kegiatan sehari-hari Rayn. Rayn biasa mengawali paginya dengan pergi olahraga, lalu ia akan melanjutkan aktifitasnya membaca buku diruang baca atau berkerja di ruang privasinya. Lusia berjalan menuju kamar Rayn dan sebuah ruangan disebelahnya yang disebut sebagai ruang pribadi Rayn.


“Ruangan pribadi?. Apa yang dilakukannya di ruangan ini sehingga dikatakan area privasi dan tidak boleh masuk tanpa seizinnya?” bisik Lusia seorang diri di depan pintu yang terdapat papan gantung bertuliskan (GET OUT…!!!) Membaca itu Lusia langsung pergi meninggalkannya dengan mengelengkan kepala.


“Aku tidak melihatnya joging sepanjang jalan kemari tadi. Apa dia masih tidur?” tanya Lusia dalam hati berniat mengetuk pintu. Namun, ia mengurungkan niatnya lalu pergi ke dapur untuk memasak.


Mengetahui Rayn selama ini hanya makan-makanan yang secara rutin dipesankan Mickey dari hotel, membuat Lusia ragu apakah Rayn akan suka dengan masakannya.


Ditengah perjuangannya memasak di dapur, tiba-tiba terdengar suara seseorang sedang menekan sandi pintu untuk masuk.


“Apa Mickey yang datang?” tanya Lusia pergi memastikan siapa yang datang.


Pintu terbuka, dilihatnya Rayn masuk dengan baju dan rambut yang sudah dibuat basah oleh keringatnya. Lusia tertegun melihat pesona lain dari Rayn. Perlahan Rayn melangkah mendekatinya, jantung Lusia tiba-tiba berdeguk kencang tak berdaya mendapati Ryan semakin dekat dengannya.


“Bisakah kau minggir?. Kau menghalangi jalanku” ucap Rayn dengan tatapan sinis membuyarkan lamunan Lusia. Lusia dengan cepat menyingkirkan tubuhnya dengan mempersilahkan Rayn masuk. Rayn hanya melewatinya begitu saja.


“Lusia sadarkan dirimu… !” ucap Lusia mengedipkan mata lalu menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri dari pesona Rayn.


“Apa kau ingin membakar dapurku? “ teriak Rayn melihat makanan yang sudah gosong dipenggorengan disertai kepulan asap.


Lusia sontak berlari dan mematikan kompor. “Hampir saja” ucapnya dengan nafas terengah-engah.


“Kau datang untuk melindungiku atau berencana membakarku hidup-hidup?" tanya Rayn lalu pergi bergitu saja meninggalkan Lusia tanpa memberinya kesempatan untuk menjawab.


Tidak sampai 3 langkah Rayn kembali lagi. “Ingat, aku hanya sarapan pagi dengan salad dan susu. Jadi, lupakan saja jika kau masak hanya untuk menyiapkan sarapan untukku” ucapnya lanjut naik ke lantai dua.


“Tunggu, Mickey mengatakan jika kau kadang bosan dengan makanan yang ia pesan untukmu. Dia sangat peduli dengan kesehatanmu. Jadi, katakan padaku jika kau ingin masakan lain selain hanya salad dan susu“ teriak Lusia kepada Rayn.


“Kau berkerja untukku atau untuknya?” tanya Rayn dengan tatapan tajam karena Lusia lebih mendengarkan Mickey daripada dirinya.


“OK…, salad dan susu. Aku akan mengingatnya” ucap Lusia mengangguk dengan senyum yang dipaksakan, lalu memasang wajah lesuh setelah Rayn benar-benar lenyap dari pandangannya.

__ADS_1


“Lalu, untuk siapa aku menyiapkan ini semua“ gumamnya lemas membereskan perlatan masak.


Lusia pergi ke kamar Rayn membawakan salad dan susu. Lusia mengetuk pintu, terdengar teriakan Ryan meminta Lusia untuk masuk. Saat ini Rayn sedang berada di kamar mandi. Lusia perlahan melangkahkan kakinya masuk dan meletakkan nampan makanan di meja. Dilihatnya sebuah foto seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun, duduk dipangkuan seorang wanita cantik.


“Sepertinya ini saat dia masih kecil bersama ibunya” ucap Lusia tersenyum.


Tidak lama Rayn keluar dari kamar mandi. “Kau masih disini?” tanyanya.


“Aku sudah mau keluar. Oh yah, apa kau tadi benar-benar baru dari jogging?” tanya Lusia.


“Menurutmu?” tanya balik Rayn.


“Hanya saja aku tidak melihatmu sepanjang jalan datang ke Villa. Jadi, tadinya aku mengira jika kau masih tidur.


“Lalu?” tanya Rayn.


“Eemm... tidak ada, hanya bertanya saja. Lupakan, tidak penting juga" jawab Lusia.


"Oh ya, karena aku sudah resmi berkerja denganmu. Lalu, bagaimana aku harus memanggilmu?" tanya Lusia yang sudah terlanjur membuka pintu setengah. “Pak Rayn? Bos? Bos Ryan? Tuan Muda Ra..y…n?” tanyanya ragu menunggu jawaban Ryan.


"Bukankah sepertinya kau sudah terbiasa dengan berteriak padaku mengucapkan Kau, Hei, Yah, Rayn !.  Apa yang membuatmu tiba-tiba menanyakan hal itu. Apa pria yang sudah seperti psikopat dimatamu perlu gelar untuk dipanggil?” tanya Rayn menyindir Lusia. Mengingat beberapa waktu terakhir Lusia selalu bersikap kasar dan tidak sopan padanya.


“Psikopat?. Apa dia sedang membicarakan malam itu? Apa dia benar-benar bisa membaca pikirkanku, bagaimana dia tahu penilaian pertamaku terhadapnya adalah psikopat” celetuk Lusia dalam hati.


Rayn mendekat dan menyentuh bahu Lusia dengan tatapan menggoda. Ia menggerakan tangannya turun hingga kelengan dan mendarat ditangan Lusia yang masih memegang gagang pintu. Perilaku Rayn membuat Luisa gugup.


“Aku tidak membutuhkan gelar apapun, bahkan aku tidak peduli jika kau tidak menghormatiku” ucap Rayn dengan melepaskan tangan Lusia dari gagang pintu lalu perlahan mendorongnya untuk keluar dari kamarnya.


“Cemaskan saja bagaimana aku akan memperlakukanmu kedepannya” lanjut ucap Rayn lalu menutup pintu.


“Wah, wah… . Apa dia seorang pemain?” tanya Lusia merinding melihat bagaimana cara Rayn mengusirya seolah sedang menggodanya.


***To Be Continued***


 


Hallo para pembaca setia Rayn & Lusia 👋😃


✅ Silahkan klik FAVORITE untuk terus update BAB selanjutnya yah..


❤ Berikan Like kalian hanya dengan klik Like pada symbol Love, GRATIS 😍


📝Lengkapi kehaluan Author dengan KOMENTAR kalian di setiap BAB nya ya…. ( saran dari kalian juga bisa menjadi inspirasi cerita Author)

__ADS_1


🎀 PLEASE BERIKAN VOTE pada karya ini agar semakin di Up Up Up dan Up lagi oleh platform.


Terima Kasih atas semua dukungannya 🙆


__ADS_2